NovelToon NovelToon
Duda Menikahi Gadis Polos

Duda Menikahi Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Duda
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.

***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DMGP bab 15

Rajendra masuk ke dalam rumah dengan napas yang masih belum beraturan.

“Rajendra, kamu kenapa, Nak?” tanya Pak Adit yang sedang memeriksa berkas-berkas untuk perjalanannya ke Singapura.

Di sampingnya, Bu Diana yang sejak tadi memijat lengan suaminya ikut menoleh.

Tatapannya langsung tertuju pada wajah dan baju Rajendra yang tampak kotor.

“Lho, itu baju sama muka kamu kenapa? Ulahnya Cya lagi?” tanya Bu Diana curiga.

Rajendra refleks menunduk, menatap bajunya yang terkena noda.

“Enggak, Mi. Tadi es krim Cya meleleh, terus jatuh ke baju aku,” jelasnya cepat, tak ingin terjadi kesalahpahaman.

“Oh… Mami kira dia sengaja ngerjain kamu.”

“Enggak kok, Mi. Justru tadi aku yang mau ngerjain Cya… tapi gak jadi.”

Ia menggaruk ujung alisnya, sedikit canggung.

Lebih tepatnya—bukan tidak jadi.

Melainkan ia sendiri yang kena akibatnya.

Bu Diana terkekeh pelan. “Kok bisa?”

Rajendra terdiam sejenak.

Tidak mungkin ia menceritakan kejadian di belakang tadi secara detail.

“Cya terlalu… cerdik, Mi,” jawabnya akhirnya.

“Wah, hebat juga ya anak Mami,” balas Bu Diana sambil tertawa ringan.

Rajendra hanya tersenyum tipis. “Aku ke kamar dulu ya, Mi, Pi.”

“Iya, Nak,” sahut Pak Adit dan Bu Diana bersamaan.

Rajendra pun segera berlalu—berusaha menenangkan dirinya sendiri, yang entah kenapa sejak tadi terasa… tidak biasa.

***

Setelah Rajendra pergi, Cya masih duduk di taman belakang.

Rasa suntuk mulai menghampiri.

Ia sempat ingin mengambil es krim lagi ke dapur, tapi urung.

“Cya…” Suara itu membuatnya menoleh.

Bu Diana berjalan mendekat dengan senyum lembut di wajahnya.

Cya langsung mengatupkan bibirnya rapat, enggan menyahut. Hingga akhirnya Bu Diana sudah berdiri tepat di sampingnya.

“Kamu masih ngambek sama Mami?” tanyanya pelan.

“Aku kesel sama Mami,” jawab Cya akhirnya, jujur.

Bu Diana meraih tangan putrinya. “Mami minta maaf ya, Sayang. Mami gak bermaksud nyakitin kamu. Lagi pula biasanya kamu gak pernah marah kalau Mami ngomong begitu…”

Cya menatap lurus ke depan. “Aku gak pernah marah karena… memang aku bego, Mi.”

Suaranya datar.

Namun justru itu yang membuat hati Bu Diana terasa tertusuk.

“Jangan ngomong begitu,” ucap Bu Diana cepat. “Kamu gak bego. Buktinya nilai kamu meningkat dibanding semester lalu.”

Cya menggeleng pelan. “Tetap aja aku gak bisa jadi juara kelas seperti yang Mami sama Papi mau… sampai aku lulus.”

Tangan Bu Diana berpindah ke puncak kepala Cya, mengusapnya lembut. “Gapapa, Sayang. Siapa tau nanti waktu kuliah kamu bisa lulus dengan predikat cumlaude.”

Cya tersenyum kecil—tipis dan ragu. “Mustahil.”

“Nggak ada yang mustahil kalau kamu mau berjuang,” balas Bu Diana lembut. “Apalagi suami kamu… selain CEO, dia juga dosen.”

“Iya, Mami sudah bilang.”

Cya menarik napas pelan. “Sebenernya aku marah bukan cuma karena Mami ngomong begitu.”

Bu Diana menatapnya penuh perhatian. “Terus karena apa?”

Cya menunduk sedikit. “Aku malu sama suami aku, Mi…”

Suasana mendadak hening. “Kalau dia gak ada, Mami mau bilang apa juga ke aku gapapa. Tapi tadi… dia ada di sana.”

Bu Diana terdiam sejenak. “Oh… jadi itu yang bikin kamu sakit hati?”

Cya mengangguk pelan.

Bu Diana langsung memeluk putrinya dari samping. “Mami minta maaf ya, Sayang. Mami janji… gak akan ngomong seperti itu lagi kalau ada suami kamu.”

Cya terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. “Iya…”

Perasaannya perlahan membaik.

Ia memang tidak pernah bisa lama marah pada ibunya.

Apalagi… kebersamaan mereka selalu singkat.

Orang tuanya terlalu sering pergi.

Dan setiap kali pulang—waktu yang mereka miliki terasa begitu cepat berlalu.

***

Begitu Cya memasuki kamar, ia mendapati Rajendra sudah berganti pakaian dari yang sebelumnya kotor karena ulahnya.

“Serius amat, Om…” gumamnya santai.

Rajendra yang sejak tadi fokus menatap layar tablet di tangannya akhirnya menoleh.

“Saya lagi kerja.”

“Oh…” Cya mendekat tanpa ragu. Ia duduk di samping Rajendra, lalu mencondongkan tubuhnya, berusaha mengintip apa yang sedang dikerjakan.

Namun belum sempat melihat dengan jelas—Rajendra sudah lebih dulu bergeser ke sofa di sebelah.

“Ganti baju dulu. Celana kamu kotor.”

Cya langsung mengerucutkan bibirnya. Ia menunduk, menatap celananya yang memang kotor karena es krim tadi. “Pelit amat… saya cuma mau lihat kerjaan Om,” gerutunya.

Rajendra menghela napas. “Ini bukan kerjaan anak kecil. Anak kecil seperti kamu gak usah kerja.”

Cya makin manyun.

Belum lama tadi ia memaksa Rajendra mengakui sesuatu tentang dirinya—sekarang malah dibilang anak kecil lagi.

“Perlu saya buka baju di sini biar Om yakin kalau dada saya gak kecil?” ketusnya kesal.

Rajendra langsung menatapnya, kali ini dengan ekspresi benar-benar kaget dengan mulut yang menganga. “Hah…?”

Alih-alih menjawab, Cya justru mengambil camilan di atas meja—lalu dengan jahil menyumpalkannya ke mulut Rajendra.

“Hahaha!” Ia langsung tertawa puas.

Kesalnya hilang seketika.

Rajendra hanya bisa diam, mengunyah camilan itu dengan wajah datar yang menahan kesal.

Sementara itu, tanpa menunggu omelan keluar—Cya langsung berdiri dan berlari ke arah lemari, mengambil baju ganti.

Secepat kilat, ia masuk ke kamar mandi.

BRAK!

Pintu kamar mandi ditutup cukup keras.

“CYA!” Suara Rajendra menggema di dalam kamar.

Namun tentu saja—tidak ada jawaban.

Rajendra hanya bisa menggelengkan kepala sambil menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat. “Anak itu… benar-benar ajaib.”

***

Setelah Cya keluar dari kamar mandi, Rajendra langsung mengajaknya pergi ke rumah mamanya—Kiran.

Di dalam mobil, suasana sempat hening.

Hingga akhirnya— “Kenapa kamu suka sekali pakai rok mini?” tanya Rajendra tiba-tiba.

Untung saja kali ini ia tidak menyuruh Cya mengganti pakaiannya lagi.

Cya menoleh, lalu tersenyum kecil. “Karena kalau pakai rok seperti ini, kita kelihatan anggun, Om,” jelasnya sambil mengelus rambutnya yang tergerai di depan dada.

Rajendra melirik sekilas. “Tanpa pakai rok mini pun, kamu tetap kelihatan anggun.”

Ucapan itu keluar begitu saja tanpa ia sadari.

Cya langsung menatapnya dengan mata berbinar. “Yang benar, Om? Saya tetap kelihatan anggun walaupun pakai celana sama baju kebesaran?” tanyanya antusias.

Maklum, selama ini Rajendra lebih sering menyuruhnya memakai pakaian longgar.

“Iya,” jawab Rajendra singkat. “Sebenarnya kamu pakai rok seperti itu juga bagus… tapi lebih baik dipakai di rumah saja.”

Cya mengernyit.“Kenapa?”

Rajendra berpikir cepat. “Supaya kamu gak kepanasan. Di rumah kan lebih adem.”

“Oh…” Cya langsung mengangguk-angguk, percaya begitu saja.

Ia tersenyum kecil, tampak puas dengan jawaban itu—tanpa menyadari alasan lain yang sebenarnya disembunyikan Rajendra.

***

“Eh, menantu Mama sudah datang!”

Bu Kiran langsung menyambut Cya dengan pelukan hangat begitu gadis itu menginjakkan kaki di dalam rumah.

“Iya, Ma…” Cya membalas pelukan itu dengan canggung namun hangat.

Ini memang baru kedua kalinya ia datang ke rumah mewah itu. Sebelumnya, ia hanya berada di lantai bawah dan belum sempat melihat bagian lain rumah tersebut.

Perlakuan Bu Kiran membuatnya nyaman—tidak seperti bayangannya tentang mertua yang biasanya terasa canggung.

“Kamu sudah makan siang?” tanya Bu Kiran lembut.

“Belum, Ma. Tadi di rumah mau makan siang, tapi Om Rajendra langsung ngajak aku ke sini.”

Bu Kiran tersenyum tipis. “Sayang, kamu masih manggil suami kamu ‘Om’? Coba panggil ‘Mas’ atau ‘Sayang’.”

Cya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Nanti ya, Ma… aku belum terbiasa.”

“Iya, gapapa.”

Tanpa menunggu lagi, Bu Kiran menggandeng tangan Cya menuju dapur—seolah melupakan keberadaan Rajendra yang berdiri di belakang.

Rajendra hanya bisa menghela napas pelan dan mengikuti mereka.

Di dapur, berbagai hidangan sudah tersaji rapi di atas meja.

“Duduk, Sayang,” ujar Bu Kiran sambil menarikkan kursi untuk Cya.

“Makasih, Ma…” Cya tersenyum manis.

“Cantik sekali…”

Tanpa sadar, Rajendra mengucapkannya pelan.

Cya dan Bu Kiran langsung menoleh bersamaan.

“Istri kamu memang cantik,” goda Bu Kiran.

Pipi Cya langsung merona.

Rajendra tersadar dan segera mengalihkan pandangannya. “Maksud aku… makanannya yang cantik, Ma.”

Bu Kiran tersenyum geli. “Nggak apa-apa, kok. Suami muji istri itu wajar.”

“Ah, enggak…”

“Dia malu. Emang gengsi,” bisik Bu Kiran pada Cya.

Rajendra menyipitkan mata curiga. “Mama ngomong apa sih?”

“Rahasia…”

Bu Kiran tertawa kecil.

Rajendra beralih ke Cya. “Mama bilang apa?”

“Jangan kasih tau, Cya,” sela Bu Kiran cepat.

“Iya, Ma,” jawab Cya patuh.

Rajendra akhirnya menyerah, lalu duduk di hadapan Cya dan mulai mengambil nasi.

“Rajendra, kamu gak mau makan satu piring sama istri kamu?” tanya Bu Kiran lagi.

Rajendra dan Cya saling pandang.

Cya diam-diam menggeleng, memberi kode.

“Enggak, Ma,” jawab Rajendra.

“Padahal pengantin baru itu biasanya makan satu piring biar makin romantis.”

“Nanti saja, Ma.”

“Ya sudah, terserah kalian.”

Cya mulai makan. “Enak…” pujinya tulus. “Ini Mama yang masak?”

“Dibantu asisten, tapi bumbunya Mama sendiri yang buat."

“Enak banget…”

“Kalau ngomong, makanannya ditelan dulu,” tegur Rajendra.

“Iya—uhuk!” Cya tiba-tiba tersedak.

Rajendra dan Bu Kiran sama-sama menyodorkan air.

Namun Cya mengambil yang dari Bu Kiran.

Rajendra menarik tangannya kembali perlahan. “Makanya, habiskan dulu baru bicara,” ucapnya agak tegas.

Cya langsung menunduk.

Hatinya terasa sedikit perih.

“Jendra,” tegur Bu Kiran, “Mama tau kamu khawatir, tapi nggak usah sekeras itu.”

Ia mengusap pundak Cya lembut. “Jangan dimasukin ke hati, ya. Dia begitu karena peduli.”

Cya hanya mengangguk pelan.

Ia memilih diam.

“Papa mana, Ma?” tanya Rajendra, mencoba mengalihkan suasana.

“Ke kantor. Banyak kerjaan, apalagi kamu beberapa hari ini nggak masuk.”

Rajendra menghela napas. “Besok aku masuk.”

“Jangan dulu. Temani istri kamu. Kalau bisa, sekalian bulan madu.”

Rajendra melirik Cya. “Kamu mau?”

Cya langsung menggeleng. “Enggak.”

Jawaban itu cepat dan tanpa ragu.

Rajendra mengangkat bahu, tapi raut wajahnya berubah—sedikit kecewa.

“Kenapa gak mau, Sayang?” tanya Bu Kiran. “Kalau bulan madu kan bagus… biar cepat isi.”

Cya refleks menyentuh perutnya. “Perut aku sudah ada isinya, Ma… ada lambung, usus—”

“Bukan itu maksud Mama,” potong Rajendra cepat. “Mama maksudnya… anak,” jelas Bu Kiran.

Tujuan ia menyuruh Rajendra membawa cya ke rumahnya sebenarnya adalah untuk meminta cucu pada anak dan menantunya itu. Bu Kiran sudah tidak sabar ingin menimang cucu.

"Hah?" Cya menganga. Cya benar-benar belum kepikiran untuk punya anak. Ia tidak tau bagaimana cara merawat bayi.

"Kamu harus makan makanan bergizi supaya kamu subur dan cepat-cepat hamil." Saran bu Kiran.

Cya memilin ujung roknya. "Tapi aku belum siap hamil ma."

"Kenapa sayang?" Tentu saja wanita paruh baya itu merasa kecewa.

"Aku gak tau bagaimana cara merawat dan mengurus bayi ma."

"Kamu tenang aja. Nanti mama sama mami kamu pasti akan membantu kamu merawatnya yang penting kamu hamil dulu."

Cya diam, ia tidak tau harus berkata apa lagi.

Bu kiran kemudian menatap putranya. "Kamu juga sering-sering minum jamu supaya kamu perkasa"

"Jangan bilang mama suruh aku dan cya cepat-cepat kesini karena mama mau minta cucu." Kelakar Rajendra.

"Memang seperti itu." Bu kiran mengakuinya.

Rajendra melihat pangkal hidungnya. "Mama kan tau aku belum bisa melupakan Aurel."

Suasana mendadak berubah.

Cya yang sejak tadi diam, kini merasakan sesuatu di dadanya.

Sesak.

Ia tau itu cemburu.

Namun ia segera menepisnya.

Untuk apa cemburu…?

Bu Kiran menatap Rajendra tajam. “Jendra… jaga perasaan istri kamu.” Nada suaranya tegas.

Ia tidak ingin Cya terluka—meskipun tanpa sadar, luka itu sudah mulai muncul.

***

Setelah pembicaraan di meja makan tadi, Cya menjadi jauh lebih pendiam.

Hingga akhirnya Rajendra mengajaknya pulang ke rumah Pak Adit, setelah mendapat telepon bahwa mereka akan segera berangkat ke bandara.

“Kamu sering-sering bawa istri kamu ke sini ya,” pesan Bu Kiran saat mengantar mereka ke depan.

“Iya, Ma,” jawab Rajendra singkat.

Bu Kiran melambaikan tangan saat mobil mereka perlahan menjauh.

Di dalam mobil, suasana terasa berbeda.

Sepanjang perjalanan, beberapa kali Rajendra melirik ke arah Cya.

Ia heran.

Gadis itu diam.

Sangat diam.

Padahal biasanya—Cya tidak pernah bisa berhenti bicara.

“Kamu lagi sakit gigi?” tanya Rajendra asal, mencoba mencairkan suasana.

Cya hanya menggeleng.

Tanpa suara.

“Kamu mau makan sesuatu?”

Geleng lagi.

“Mau es krim?”

Masih geleng.

Rajendra mulai kehabisan ide. “Mau beli baju, tas, atau sepatu?”

Setaunya, Cya cukup suka hal-hal seperti itu.

Akhirnya— “Saya bisa beli sendiri kalau saya mau, Om.”

Suara Cya terdengar sedikit lebih keras dari biasanya.

Rajendra sampai tersentak.

Ia menoleh penuh heran.

“Kamu marah sama saya?”

“Enggak.” Jawabannya cepat.

Terlalu cepat.

Dan terdengar ketus.

“Terus kenapa kamu tiba-tiba kayak gitu?”

Rajendra menepikan mobilnya. Ia tidak ingin berdebat saat sedang menyetir—takut kehilangan fokus.

“Kayak gitu gimana?” Cya tetap enggan menatapnya. Ia memilih memalingkan wajah ke arah jendela.

Rajendra menghela napas, lalu tangannya terulur, mengapit dagu Cya dengan lembut, memaksanya menoleh. “Saya di sini, bukan di luar sana.”

Ia tidak suka diabaikan seperti itu.

Namun, Cya langsung menepis tangan Rajendra dengan kasar. “Apaan sih, Om? Ayo jalan lagi. Papi sama Mami pasti udah nungguin kita.”

“Saya gak bisa fokus nyetir kalau kamu kayak gini, Cya.”

“Jadi saya harus gimana?” sentak Cya.

“Kalau saya ada salah, bilang! Jangan diamin saya kayak gini.”

“Enggak. Kamu gak salah.” Jawabannya cepat—dan tetap menghindar.

“Tatap saya, Cya.” Suara Rajendra mulai menegang. “Kalau kamu nggak mau…” ia menahan jeda, “…saya akan cium kamu.”

Ancaman yang setengah serius, setengah putus asa.

Cya akhirnya menatap Rajendra.

Namun hanya beberapa detik—sebelum air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Rajendra langsung panik. “Cya… jangan kayak gini.”

Kedua tangannya menangkup wajah gadis itu, berusaha menenangkan.

“Aku mau pulang…”

Suaranya pelan. Nyaris berbisik.

Dan hancur.

Melihat Cya menangis seperti itu, Rajendra tak punya pilihan lain.

“Oke… kita pulang sekarang.”

Ia mengusap air mata Cya dengan lembut, lalu kembali menyalakan mobil dan melajukannya—kali ini tanpa satu kata pun.

Suasana di antara mereka terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.

***

Sesampainya Rajendra dan Cya di rumah, Bu Diana dan Pak Adit sudah berada di luar, membawa koper dan bersiap memasukkannya ke dalam mobil.

“Kalian kok lama banget?” tanya Bu Diana. “Mami sama Papi hampir aja berangkat duluan.”

“Maaf, Mi. Tadi agak macet,” jawab Rajendra cepat, berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi di antara dirinya dan Cya.

“Ya sudah, sekarang kalian cepat masuk ke mobil,” ujar Pak Adit, nada suaranya sedikit terburu-buru. Ia khawatir mereka akan terlambat ke bandara.

Rajendra mengangguk, lalu berjalan menuju mobil.

Sementara itu, Cya hanya diam dan mengikuti dari belakang.

Mobil Alphard itu sudah siap—mobil yang nanti akan Rajendra bawa pulang setelah mengantar mertuanya ke bandara.

Suasana masih terasa canggung.

Terutama bagi Cya—yang sejak tadi belum juga benar-benar memulihkan perasaannya.

***

Setelah sampai di bandara, suasana berubah menjadi haru.

Orang tua Cya mulai berpamitan.

Bu Diana memeluk putrinya erat. “Jaga diri baik-baik ya, sayang,” pesannya lembut, penuh kekhawatiran seorang ibu.

Cya mengangguk pelan dalam pelukan itu. Ia berusaha menahan air matanya.

Pak Adit kemudian ikut mendekat. Ia menatap Cya dengan sorot mata yang lebih tegas, namun tetap penuh kasih. “Kamu sekarang sudah jadi istri orang,” ucapnya. “Jadi istri yang baik, berbakti sama suami. Jangan membangkang.”

Cya kembali mengangguk. “Iya, Pi…” suaranya lirih.

Meski hatinya masih dipenuhi perasaan campur aduk—sedih, canggung, dan juga sisa pertengkarannya dengan Rajendra—ia tetap berusaha terlihat kuat di hadapan kedua orang tuanya.

“Kalian kapan pulang? Mami sama Papi lama ya?” tanya Cya, suaranya mulai terdengar khawatir.

“Sepertinya begitu, Nak,” jawab Pak Adit pelan. “Perusahaan Papi di sana sedang kacau, jadi Papi harus menetap sementara waktu untuk mengawasinya langsung.”

Cya terdiam sejenak. “Kenapa Papi baru bilang sekarang?”

Ada nada kecewa dalam suaranya.

Ia merasa… tidak dianggap.

Seolah-olah dirinya tidak cukup penting untuk mengetahui hal sebesar itu.

“Papi gak mau kamu kepikiran, Nak,” ujar Pak Adit lembut. “Mami kamu saja baru tau tadi, sebelum kita berangkat dari rumah.”

Cya menunduk pelan.

Perasaannya makin campur aduk.

Orang tuanya akan pergi dalam waktu yang tidak sebentar dan di saat yang sama, hubungannya dengan Rajendra juga sedang tidak baik-baik saja.

Pak Adit mengelus puncak kepala Cya dengan lembut. “Jangan sedih ya, Sayang. Di sini kan ada suami kamu yang akan menemani dan menjaga kamu selama kami pergi.”

Cya menggeleng pelan. “Tetap aja beda kalau bukan Papi sama Mami yang ada di sini…”

Suaranya lirih, penuh kejujuran.

Bu Diana tersenyum tipis, lalu menggenggam tangan putrinya. “Kamu bilang begitu karena kamu belum mencintai suami kamu,” ucapnya lembut. “Kalau nanti kamu sudah benar-benar mencintai suami kamu… Mami yakin kamu malah nggak mau jauh-jauh dari dia.”

Cya terdiam.

Ucapan itu… entah kenapa terasa mengusik hatinya.

“Iya, betul kata Mami kamu, Nak,” tambah Pak Adit, mengangguk pelan.

Suasana sejenak hening, sebelum akhirnya Pak Adit beralih menatap Rajendra.

Sorot matanya berubah lebih serius.

“Rajendra…”

“Iya, Pi,” jawab Rajendra hormat.

“Saya titip Cya. Tolong jaga dia baik-baik.”

Rajendra mengangguk mantap. “Iya, Pi.”

“Dia itu belum dewasa, kadang keras kepala juga. Kamu harus banyak sabar.”

Rajendra hanya tersenyum tipis, memahami maksud mertuanya.

“Dan satu lagi…”

Pak Adit melirik sekilas ke arah Cya yang masih berdiri di samping mereka. “Dia itu manja. Jadi jangan kaget kalau tiba-tiba dia bersikap seperti anak kecil.”

Cya langsung mengerucutkan bibirnya, sedikit kesal mendengar itu. “Papi…” protesnya pelan.

Cya melambaikan tangannya, menatap kepergian kedua orang tuanya yang perlahan menghilang di balik keramaian bandara.

Air matanya masih terus mengalir.

Ia tidak berusaha menyembunyikannya.

Sementara itu, Rajendra sama sekali tidak memperhatikan ke arah mertuanya.

Tatapannya justru tertuju penuh pada Cya.

Perlahan, ia mengangkat tangannya dan mengusap air mata yang membasahi pipi gadis itu.

Gerakannya lembut—tanpa banyak kata.

Namun cukup untuk membuat Cya tertegun sejenak.

Di tengah keramaian bandara, momen itu terlihat begitu hangat. Tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata memperhatikan keduanya.

Beberapa orang bahkan diam-diam mengabadikan momen tersebut.

Tak butuh waktu lama—foto dan video kebersamaan Rajendra dan Cya mulai tersebar di media sosial.

Dalam hitungan jam, unggahan itu menjadi viral.

Banyak komentar bermunculan—kebanyakan memuji, menganggap keduanya sebagai pasangan yang serasi dan romantis.

Di tempat lain…

Seorang wanita paruh baya menatap layar ponselnya dengan sorot mata yang menegang.

Ia adalah Bu Riska—ibu dari Aurel.

Baru saja ia melihat sebuah unggahan yang tengah viral.

Foto Rajendra… bersama wanita lain di bandara.

Tangannya sedikit gemetar saat memperbesar gambar itu.

Tatapannya berubah tajam.

“Sammy!” panggilnya dengan nada tinggi.

Tak lama, Pak Sammy datang menghampiri.

“Ada apa?”

“Lihat ini.”

Bu Riska menyerahkan ponselnya.

Pak Sammy menatap layar tersebut, memperhatikan dengan seksama.

Rahangnya langsung mengeras. “Itu… Rajendra?”

“Iya. Dan perempuan di sebelahnya itu pasti istrinya sekarang.”

Suasana langsung berubah tegang.

Mereka saling berpandangan.

Tak percaya.

Tak terima.

“Baru dua bulan…” gumam Bu Riska pelan, namun penuh amarah.

“Baru dua bulan Aurel pergi… dan dia sudah menikah lagi.”

Pak Sammy mengepalkan tangannya. “Cepat sekali dia melupakan anak kita.”

Kekecewaan, kemarahan, dan luka yang belum sembuh bercampur menjadi satu. “Seolah-olah Aurel nggak pernah ada…” lanjut Bu Riska dengan suara bergetar.

Hening sejenak—sebelum akhirnya berubah menjadi keputusan.

“Kita harus temui dia.”

Pak Sammy menatap istrinya. “Dan perempuan itu juga.”

Tatapan Bu Riska mengeras.

Ia tidak akan tinggal diam.

“Ya,” jawab Pak Sammy tegas. “Kita tidak bisa membiarkan ini begitu saja.”

Dan saat itu juga—tanpa sepengetahuan Rajendra dan Cya—sebuah rencana mulai disusun.

Rencana yang akan membawa mereka pada pertemuan yang… tidak akan mudah.

1
Aidil Kenzie Zie
ibunya Jendra mana sih kok nggak nongol-nongol🤔🤔
Fegajon: sabar. bentar lagi😛
total 1 replies
aku
plot twist cya udh nyiapin bukti cctv dr awal ortu aurel pindah buat jd pisah sm jendra. mampusss 🙏🙏
Nifatul Masruro Hikari Masaru
cya kok gak mau sih diajak pindah
Aidil Kenzie Zie
ngapain pulang sih Cya biar Jendra pusing nyari kamu
Aidil Kenzie Zie
Cya minggat aja kerumah ortumu dari pada nggak dianggap
Nifatul Masruro Hikari Masaru
di rekam aja cya biar ada bukti
Adinda
pergi cya buat apa juga bertahan kalau gak dihargai
Fegajon
tenang... masih ada bu kiran, mertuanya cya. tunggu aja 😍
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh. pulang aja kerumah sendiri cya daripada sakit hati
Aidil Kenzie Zie
jangan dikasih dulu Cya sampai bisa terima pernikahan ini tanpa bayangan masa lalunya lagi
Aidil Kenzie Zie
betul nggak sih kalo Bela itu Aurel
Fegajon: bener gak yaaa😛
total 1 replies
anakkeren
jujur,lebih suka kalo authornya buat cerita bertema pesantren.tapi cerita ini bagus juga kok
Aidil Kenzie Zie
kok kamar yang ditempati sama Aurel tor bukannya mereka belum pernah tinggal disana
Fegajon: iya. itu rencana saat masih proses pengerjaan rumah Rajendra.
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si mama egois
apa Bela itu sebenarnya Aurel
Aidil Kenzie Zie
ngapa nggak delivery aja Cya
Aidil Kenzie Zie
Rajendra udah tua masak nggak bisa hargai perasaan Cya dikit-dikit Aurel
Buddy Aprilianto
kedepannya bisa lebih menarik alur cerita nya 🙏
Fegajon: iya kak terimakasih masukannya🙂
total 1 replies
just a grandma
aku ska karakter cya
cutegirl
semangat berkarya
Anak manis
lucu ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!