NovelToon NovelToon
Bisikan Batu Nisan

Bisikan Batu Nisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:301
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang dipisahkan kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai.

Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.

PS: Mengandung Catatan Horor Yang Tinggi & Dapat Mempengaruhi Sisi Psikologis..!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Hawa panas begitu mencekik ketika Laura dan tiga sahabatnya melangkahkan kaki keluar dari gerbang kedatangan bandara. Bukan sekadar panas biasa, melainkan panas yang membawa aroma lapuk, campuran rempah kering yang pekat dan sesuatu yang terasa lebih tajam, seolah udara itu sendiri mencabik dan menyesaki perasaan mereka. Langit, meskipun cerah, terasa berat, seperti kanvas kusam yang akan segera robek.

"Ugh, panas sekali," desah Amelia, mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah, bibirnya sudah sedikit pucat. Ariana hanya mengangguk, sorot matanya yang biasanya ceria kini tampak lebih waspada, menelusuri setiap sudut yang dilewati. Roni, yang biasanya sibuk dengan kameranya, kali ini membiarkan kamera itu tergantung lesu di lehernya, pandangannya kosong menerawang, seolah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya jauh di balik keramaian bandara. Laura sendiri merasakan denyut tak nyaman di pelipisnya, sensasi asing yang terasa seperti pijatan-pijatan tak terlihat.

Perjalanan dengan taksi menuju hotel terasa aneh. Sopir taksi itu, seorang pria paruh baya dengan sorot mata dingin, nyaris tak bicara. Setiap kali Laura mencoba melihat keluar jendela, ia merasa adanya deretan sepasang mata yang tak ramah, meskipun ia sebenarnya tak melihat siapa pun. Rumah-rumah dan pertokoan di tepi jalan dan sungai kecil tampak memagari banyaknya kisah, jembatan-jembatan melengkung juga terasa seperti punggung makhluk raksasa yang tertidur, dan sungai yang seharusnya indah justru memancarkan pantulan cahaya yang keruh, seolah menyimpan kegelapan di dasarnya.

Hotel yang mereka tuju, entah mengapa, terasa lebih menakutkan daripada yang mereka bayangkan dari foto. Bangunannya megah, namun dengan sentuhan arsitektur lama yang kusam, seolah kemegahannya adalah topeng bagi sesuatu yang rapuh di dalamnya. Lobinya luas, namun terlalu sepi. Tidak ada aroma wangi yang menenangkan, melainkan bau apek yang samar, bercampur dengan semerbak dupa yang terlalu kuat, membuat udara terasa pengap dan berat.

Proses check-in di meja resepsionis terasa seperti interogasi. Pegawai di balik meja, seorang wanita paruh baya berambut digelung rapi, menatap mereka dengan tatapan datar yang sulit diartikan. Senyumnya tipis setipis kulit bawang putih, nyaris tak terlihat tetapi mengeluarkan sebuah aroma yang tercium di benak bahwa ini adalah bentuk penyambutan yang tak tulus. Setiap gerakannya terasa kaku, seperti robot, atau seperti ditekan oleh paksaan. Ia menyerahkan kunci kartu dengan tangan yang dingin, tatapannya tak pernah lepas dari mata Laura.

"Kamar Anda di lantai tiga, kamar 303 dan 305," katanya, suaranya pelan dan serak, "Semoga Anda menikmati masa inap Anda." Namun, nada suaranya lebih terdengar seperti peringatan daripada ucapan selamat datang.

Saat lift melaju naik, terasa sensasi melayang yang tidak biasa, seolah lift itu membawa mereka bukan hanya ke lantai atas, tetapi ke dimensi lain. Koridor lantai tiga redup, hanya diterangi oleh lampu-lampu kuningan yang memancarkan cahaya kekuningan yang menyedihkan. Dinding-dindingnya dilapisi wallpaper usang dengan motif bunga-bunga yang pudar, dan setiap langkah kaki mereka terasa bergema tak wajar di kesunyian yang mencekam.

Laura membuka pintu kamar 303 dengan tergesa-gesa. Begitu pintu terbuka, bau lembap menyeruak. Kamar itu luas, namun terasa dingin meskipun AC belum dinyalakan. Jendela besar menghadap ke pemandangan kota yang mulai diselimuti senja, namun pemandangan itu justru terasa menambah muram, siluet-siluet bangunan yang menjulang tampak seperti bayangan pengintai. Ranjang king size yang seharusnya empuk terlihat kaku, seolah tak pernah disentuh kehangatan manusia. Di sudut, ada sebuah kursi tua yang menghadap ke jendela, tampak seperti menunggu seseorang untuk duduk di sana.

"Astaga, kamarnya... terasa aneh," bisik Amelia ka arah Laura, suara pelannya seakan menyentak.

Roni, yang baru saja membuka pintu kamar 305 di seberang, tampaknya merasakan hal yang sama. Roni, dengan raut wajah pucat, hanya menggelengkan kepala. "Ada sesuatu yang tidak benar di sini," gumamnya, tatapannya menyapu setiap sudut kamar yang remang.

Laura hanya bisa menelan ludah. Perasaannya semakin tidak enak. Bisikan-bisikan yang mengganggu hatinya, seolah berputar-putar di sekitar dahinya. Ini bukan sekadar lelah setelah perjalanan. Ini adalah firasat buruk, sensasi dingin yang merayapi tulang belakangnya, ada dan terus hinggap.

Setelah mandi air hangat, Laura membaringkan diri di ranjang yang sedikit lembab. Amelia dan Ariana sudah terlelap di ranjang sebelah, napas di antara mereka terdengar teratur. Laura mulai mencoba memejamkan mata, berharap bisa menemukan kedamaian dalam tidur, namun pikirannya terus menerawang, bayangan kejadian di penerbangan itu seolah menyelinap diam-diam di pelupuk matanya. Ia merasa seperti ada yang mengawasinya, bahkan di dalam kamar yang terkunci.

Akhirnya, setelah perjuangan panjang, dan rasa lelah yang menguras, Laura jatuh tertidur.

Dalam tidurnya, Laura tidak lagi melihat koridor hotel yang gelap atau suasana gerah jalanan yang berdebu. Ia menemukan dirinya di sebuah tempat yang sangat akrab, sebuah taman bunga yang penuh dengan mawar merah merekah. Udara terasa nikmat dan harum, dan sinar matahari teduh yang lembut menyentuh kulitnya.

Di tengah taman mimpi itu, berdiri sosok yang sangat ia rindukan. Doni. Kekasihnya yang telah pergi meninggalkannya, kini berdiri di sana, tersenyum lembut ke arahnya. Wajahnya tampan seperti yang Laura ingat, matanya memancarkan kehangatan yang dulu selalu meneduhkannya. Ia mengenakan kemeja putih yang dulu sering ia pakai.

Dalam mimpinya itu, Laura merasakan gelombang rindu yang teramat sangat membanjiri hatinya. Ia berlari menghampiri Doni, air mata mengalir di pipinya, namun ini adalah air mata kebahagiaan. Doni menyambutnya, memeluknya begitu erat, dekapannya terasa begitu nyata dan menghanyutkan, seolah waktu tidak pernah berlalu.

"Aku merindukanmu," bisik Laura di tengah pelukan mereka.

"Aku juga merindukanmu, sayang," balas Doni, suaranya yang lembut terasa seperti melodi yang hilang dan kini ditemukan kembali.

Kemudian, sosok itu menarik Laura ke sebuah gazebo yang dihiasi bunga-bunga mawar. Di sana, mereka saling menatap, membiarkan rindu yang membuncah mengambil alih. Doni mengusap pipi Laura dengan lembut, sentuhan jemarinya yang sangat khas. Dalam mimpi itu, tidak ada ketakutan, tidak ada kengerian, hanya ada mereka berdua, tenggelam dalam lautan kerinduan yang berombak Suara bisikan cinta Doni yang memanggil namanya, sentuhan kepekaan yang hangat, napasnya yang berpadu dengan napasnya, semuanya terasa begitu hidup.

Di tengah taman mawar itu, di bawah langit senja yang damai. Setiap tatapan dan setiap belaian terasa begitu nyata, seolah Doni benar-benar ada di sana, di hadapannya, mengisi kekosongan yang sebelumnya Laura rasakan. Ini adalah sebuah pelepas dahaga, sebuah momen kebersamaan yang sebenarnya ia dambakan.

Puncak perjumpaan itu terasa begitu nyata, begitu membahagiakan, hingga Laura merasa seolah ia tidak ingin pernah bangun dari mimpi. Ia ingin tetap berada di sana, setia menjadi pendamping arwah Doni, jauh dari semua kengerian, kesedihan dan ketakutan yang ia rasakan di dunia nyata.

Namun, seperti semua mimpi indah, momen itu pun harus berakhir. Perlahan kehangatan itu memudar, sentuhan Doni mulai terasa samar, dan wajahnya mulai menghilang seperti kabut yang tertiup angin.

Laura terbangun......

Napasnya terengah-engah, tubuhnya terasa lemas, namun ada sisa kehangatan dan keintiman yang masih membekas. Udara kamar yang dingin terasa begitu kontras dengan kehangatan mimpi yang baru saja ia alami. Amelia dan Ariana masih terlelap dan tak menyadari apa yang baru saja dirinya alami.

Laura diam dan merenung sembari menatap langit-langit kamar yang gelap, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Mimpi itu terasa begitu kuat, begitu hidup, begitu membekas, hingga ia sulit membedakan antara mimpi dan kenyataan. Sebuah kesedihan penuh penyesalan tiba-tiba menyergapnya, kesedihan karena harus terbangun dari kebersamaan bersama Doni.

Namun, di tengah kegundahan itu, muncul sebuah pertanyaan yang mengusik. Mengapa ia bermimpi Doni setelah semua kengerian yang ia alami? Apakah itu hanya rindu yang membuncah, atau ada pesan lain di balik mimpi itu?

Laura memeluk lututnya, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Malam masih panjang, dan ia tahu, tidur tidak akan lagi datang dengan mudah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!