NovelToon NovelToon
Cincin Di Balik Almamater

Cincin Di Balik Almamater

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
​Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
​Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hangat di Balik Jendela Kaca Manhattan

​​Salju turun semakin lebat di luar jendela apartemen studio kecil milik Ziva di kawasan Brooklyn. Di dalam, suasana kontras menyelimuti ruangan. Aroma kayu manis dari lilin aromaterapi bercampur dengan wangi cokelat panas yang baru saja diseduh. Ruangan itu sempit, hanya ada satu tempat tidur, meja belajar yang penuh tumpukan buku jurnalistik, dan sebuah sofa kecil yang menghadap ke arah gedung-gedung pencakar langit Manhattan di kejauhan.

​Arkan duduk di sofa tersebut, menarik Ziva ke dalam pelukannya. Ziva menyandarkan kepalanya di dada bidang Arkan, mendengarkan detak jantung suaminya yang ritmis dan menenangkan—suara yang selama enam bulan ini hanya bisa ia bayangkan lewat sambungan telepon yang sering terputus.

​"Ar," bisik Ziva, jemarinya memainkan kancing cardigan yang dipakai Arkan. "Lo beneran di sini. Gue masih ngerasa ini kayak mimpi."

​Arkan mengeratkan pelukannya, mencium puncak kepala Ziva lama, menghirup aroma stroberi yang selalu ia rindukan. "Kalau ini mimpi, aku nggak mau bangun, Ziv. Aku lebih milih terjebak di sini sama kamu daripada harus balik ke London yang dingin itu sendirian."

​Kehangatan yang Dirindukan

​Arkan meraih tangan Ziva, menautkan jemari mereka. Ia memperhatikan telapak tangan Ziva yang sedikit kasar karena sering memegang kamera di cuaca ekstrem New York. Dengan lembut, Arkan mengecup punggung tangan istrinya satu per satu.

​"Tangan ini udah kerja keras ya di sini?" tanya Arkan lembut.

​Ziva terkekeh, wajahnya merona merah. "Ya gitu deh. New York nggak ramah sama pendatang, Ar. Tapi setiap kali gue capek, gue cuma liat kalung pemberian lo kemarin. Itu yang bikin gue tetep berdiri."

​Ziva mendongak, menatap mata Arkan yang kini memancarkan binar sayang yang begitu tulus. Tanpa aba-aba, Ziva melingkarkan lengannya di leher Arkan, menarik laki-laki itu mendekat. Jarak di antara mereka terkikis. Arkan bisa merasakan napas hangat Ziva di bibirnya.

​"Makasih ya udah dateng pake uang sendiri. Itu kado paling romantis yang pernah gue terima," gumam Ziva sebelum akhirnya ia mengecup bibir Arkan dengan lembut.

​Ciuman itu awalnya ragu, namun perlahan berubah menjadi luapan rindu yang tertahan selama berbulan-bulan. Di tengah heningnya malam New York, hanya ada mereka berdua. Tidak ada poin pelanggaran, tidak ada aturan sekolah, dan tidak ada bayang-bayang Pak Wijaya. Hanya dua orang yang saling memiliki, mencoba menghapus jarak ribuan kilometer dalam satu dekapan.

​Janji di Bawah Selimut

​Malam semakin larut. Mereka berdua berbaring di tempat tidur kecil milik Ziva, berbagi satu selimut tebal. Arkan memeluk Ziva dari belakang, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ziva.

​"Ziv, janji sama aku satu hal," suara Arkan terdengar berat karena kantuk.

​"Apa?"

​"Jangan pernah ngerasa sendirian lagi. Kalau ada apa-apa, sekecil apa pun, kasih tahu aku. Aku mungkin jauh secara fisik, tapi aku selalu ada buat kamu. Aku bakal kerja lebih keras lagi biar bisa sering-sering terbang ke sini."

​Ziva berbalik, menghadap Arkan. Ia mengusap pipi Arkan yang kini mulai ditumbuhi rambut-rambut halus tipis. "Gue juga janji. Gue bakal jaga diri baik-baik di sini. Gue bakal jadi jurnalis paling hebat biar lo bangga punya istri kayak gue."

​Arkan tersenyum, menarik hidung Ziva gemas. "Aku udah bangga dari dulu, Ziva Clarissa."

​Sisi Lain: Mata-Mata di Kegelapan

​Di luar gedung apartemen, pria berjas abu-abu yang dikirim Pak Wijaya masih berdiri di dekat mobilnya. Ia melihat lampu apartemen Ziva padam. Ia mengambil satu foto gedung itu sebelum mengirimkan pesan singkat.

​Pesan: "Subjek tampak sangat dekat. Hubungan mereka justru menguat karena jarak. Apakah saya tetap harus diam?"

​Beberapa saat kemudian, balasan masuk dari Jakarta.

​Pak Wijaya: "Biarkan. Tapi awasi pemuda bernama Revan di Australia. Dia baru saja menandatangani kontrak besar dan aku dengar dia masih sering menanyakan kabar Ziva lewat temannya di New York. Jangan sampai ada celah yang merusak rencana jangka panjangku untuk Arkan."

​Pak Wijaya rupanya tidak hanya mengawasi Arkan, tapi juga menutup semua kemungkinan yang bisa mengganggu "investasi" emosional putranya.

​Pagi yang Manis

​Cahaya matahari pagi yang pucat menembus celah gorden, menyinari wajah Arkan yang masih terlelap. Ziva sudah bangun lebih dulu, ia hanya diam menatap wajah suaminya. Ia mengagumi betapa damainya wajah Arkan saat tidur—jauh dari kesan tegas dan kaku yang selalu ia tunjukkan pada dunia.

​Ziva mengecup pipi Arkan pelan. "Bangun, Pak Ketos. Waktu kita di New York nggak banyak. Gue mau ajak lo makan bagel paling enak di Brooklyn."

​Arkan membuka matanya perlahan, tersenyum melihat wajah Ziva yang menjadi hal pertama yang ia lihat saat bangun. Ia menarik Ziva kembali ke dalam pelukannya, menggulingkan tubuh mereka hingga Ziva tertawa kegirangan.

​"Lima menit lagi, Ziv. Kasih aku lima menit lagi buat ngerasain kalau ini nyata," bisik Arkan sambil mencium kening Ziva.

​Di luar, New York mulai terbangun dengan klakson taksinya yang bising. Tapi di dalam studio kecil itu, waktu seolah berhenti. Mereka tahu, beberapa hari lagi mereka akan kembali dipisahkan oleh samudra. Namun, untuk saat ini, kehangatan ini sudah lebih dari cukup untuk membekali mereka menghadapi musim dingin yang paling panjang sekalipun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!