sequel: terpaksa menikah adik tiri × bayi rahasia idola kampus
Axelle Aididev Atharic adalah definisi masalah berjalan di SMA Galaksi. Nakal, keras kepala, dan anti diatur. Hidupnya yang bebas mendadak jungkir balik saat sebuah kecelakaan konyol memaksanya terjebak dalam nikah kilat dengan Rea Zelene Xavandra, cewek paling ambisius dan kaku di sekolah.
Dua kutub utara dan selatan harus tinggal di bawah satu atap yang sama. Bagi Axelle Aididev Atharic, ini adalah penjara. Tapi bagi sang istri, Rea Zelene Xavandra, Axelle adalah rahasia terbesar yang harus ia sembunyikan rapat-rapat demi reputasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
...
...
Bunyi smart lock apartemen kali ini terdengar sangat pelan, seolah orang yang membukanya tidak punya sisa tenaga bahkan hanya untuk menekan gagang pintu. Rea melangkah masuk, masih dengan paperbag berisi buku paket di tangannya.
Langkah kakinya terseret. Dia tidak menatap sekeliling. Wajahnya? Masih sama. Kaku, dingin, dan tajam seperti silet. Tapi, siapa pun yang melihat matanya, akan tahu ada badai yang baru saja meluluhlantakkan isinya. Matanya merah, tatapan nya tetap tajam seolah tak terjadi apa apa tapi jauh dari pandangan nya menyisakan kepedihan yang dia coba tutupi
Axelle yang sedari tadi duduk di sofa sambil melempar-lempar bola kasti ke dinding, langsung terhenti. Dia melihat siluet Rea yang berdiri mematung di dekat rak sepatu.
"Re?" panggil Axelle pelan.
Rea tidak menjawab. Dia hanya menunduk, dia tak mampu bicara makanya dia diam saja . Bayangan pertengkaran Mama dan Papa —tentang perjodohan gila mereka, tentang dirinya yang hanya dianggap beban atau alat pencitraan—terus berputar di kepalanya. Dia tidak perlu dengar detailnya untuk tahu bahwa dia hanyalah 'produk gagal' dari sebuah hubungan tanpa cinta.
Axelle bangkit. dia menghampiri Rea, menatap mata gadis itu. entah kenapa axelle mengerti perasaan Rea hanya karena melihat paperbag di tangan rea
Axelle melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Begitu sampai di depan Rea, dia bisa mencium aroma sisa hujan dan kesedihan yang pekat dari tubuh gadis itu.
Tanpa aba-aba, Axelle menarik paperbag dari tangan Rea dan meletakkannya asal di lantai. Detik berikutnya, tangan kekar Axelle melingkar di pinggang Rea, menarik tubuh kecil itu masuk ke dalam pelukannya yang hangat dan luas.
Grep.
Rea membeku. Kepalanya bersandar tepat di dada bidang Axelle. Dia bisa mendengar detak jantung Axelle yang tenang, sangat kontras dengan jantungnya yang sedang balapan dengan rasa sakit.
"Diem. Jangan ngomong apa-apa," bisik Axelle berat. Tangannya yang satu lagi menekan kepala Rea agar semakin terbenam di dadanya, sementara tangan lainnya mengusap punggung Rea dengan gerakan protektif.
Axelle tidak tahu apa yang terjadi di rumah Xavandra. Dia tidak tahu Rea sesedih ini seolah sistem robot nya sedang mati. Tapi, Axelle bisa merasakan sesak yang sama. Dia tahu rasanya menjadi 'pajangan' di rumah megah yang dingin. Dia tahu rasanya tidak punya tempat pulang.
"Keluarin aja, Re. Di sini nggak ada Papa lo, nggak ada OSIS, nggak ada robot," gumam Axelle lagi.
Pertahanan Rea runtuh total. Kacamata yang menjadi tamengnya mulai berembun. Tangannya yang tadi terkulai lemas, kini meremas kemeja belakang Axelle dengan sangat erat, seolah Axelle adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang mau menenggelamkannya.
Rea menangis tanpa suara. Hanya bahunya yang naik turun dengan hebat. Isakan yang dia tahan selama belasan tahun akhirnya tumpah di dekapan cowok yang dulu paling dia benci.
Axelle memejamkan mata, mempererat pelukannya sampai tidak ada lagi celah udara di antara mereka. Dia mencium puncak kepala Rea berkali-kali, menyalurkan kekuatan yang dia sendiri sebenarnya hampir kehabisan.
"Lo punya gue, Re. Selembar kertas itu mungkin paksaan, tapi pelukan ini... ini nyata," batin Axelle sambil terus mengusap rambut Rea.
Malam itu, di tengah sunyinya apartemen, dua jiwa yang selama ini dipaksa jadi "alat" pajangan oleh orang tua masing-masing, akhirnya menemukan satu hal yang selama ini tidak mereka miliki di rumah mereka yang asli
...----------------...
Sinar matahari subuh yang masih malu-malu menyelinap lewat celah gorden, menyinari dua manusia yang terlelap dengan posisi yang sangat jauh dari kata "musuh".
Rea mengerjap. Kesadarannya kembali secara perlahan. Hal pertama yang dia rasakan adalah kehangatan yang luar biasa nyaman. Tapi, hal kedua yang dia sadari bikin sistem di otaknya langsung loading parah.
Dia tidak sedang memeluk guling.
Wajah Rea tepat berada di depan dada bidang yang hanya terbalut kaos tipis. Tangan kanannya melingkar erat di pinggang Axelle, sementara kaki kirinya... oh Tuhan, kaki kirinya menindih kaki panjang cowok itu. Rea benar-benar menjadikan Axelle sebagai bantal peluk manusia semalaman penuh.
"Mampus..." bisik Rea hampir tanpa suara.
Dia buru-buru menarik tangannya, tapi gerakan itu malah membuat Axelle mengerang rendah dalam tidurnya. Axelle justru semakin merapatkan pelukannya, menarik pinggang Rea hingga wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti. Aroma parfum wood-musky yang bercampur bau sabun khas Axelle langsung menginvasi indra penciuman Rea.
Wajah Rea langsung berubah jadi merah padam—lebih merah dari sirup marjan pas lebaran. Dia menahan napas, takut kalau detak jantungnya yang kayak suara bedug itu bakal ngebangunin Axelle.
"Lepas... lepas... lepas..." batin Rea merapalkan doa.
Dengan gerakan super pelan yang butuh konsentrasi lebih tinggi dari ngerjain soal Kalkulus, Rea berhasil melepaskan diri. Dia loncat dari kasur, membetulkan letak kacamatanya yang sempat miring, dan langsung lari ke kamar mandi.
Di depan cermin, Rea menangkup wajahnya yang panas. "Sadar, Rea! Lo itu Robot! Lo itu Ketos! Semalam itu cuma... cuma eror teknis gara-gara lo lagi lemes!"
Dia menyalakan keran air dingin, mencuci wajahnya berkali-kali buat ngembaliin mode 'dingin' dan 'tegasnya'. Begitu keluar dari kamar mandi, Rea sudah kembali ke setelan pabrik: seragam OSIS licin sempurna, kacamata tegak, dan wajah sedatar aspal sirkuit.
Namun, saat dia melangkah ke dapur untuk membuat sarapan, dia melihat Axelle sudah duduk di meja bar dengan rambut acak-acakan khas bangun tidur dan seringai tengil yang sudah aktif.
"Pagi, Koala," sapa Axelle santai sambil menyesap air putih.
Rea membeku di tempat. "A-apa? Apa lo bilang?"
Axelle berdiri, berjalan mendekati Rea yang mendadak kaku lagi. "Pulas banget ya tidurnya semalam? Sampe-sampe gue nggak bisa napas gara-gara lo peluk kenceng banget. Kayaknya lo beneran butuh gue sebagai 'pelampung' ya, Xavandra?"
"Gak usah ngaco! Itu... itu gerakan bawah sadar karena gue kedinginan! AC-nya bocor!" bela Rea dengan suara yang sengaja dikerasin buat nutupin rasa malu.
Axelle tertawa pendek, tawa yang terdengar sangat puas. Dia mencondongkan badan, menatap mata Rea di balik kacamata. "Oh ya? Kedinginan atau emang lo udah mulai nyaman di sini?" Axelle menunjuk dadanya sendiri.
Rea membuang muka, sibuk ngerapihin tasnya padahal udah rapi. "Gue berangkat duluan. Lo jangan telat latihan Pensi sore nanti. Dan inget... di sekolah, kita tetap orang asing."
"Orang asing yang tidur satu kasur dan pelukan? Menarik," gumam Axelle sambil nyengir, membiarkan Rea lari keluar apartemen dengan langkah seribu.
yang ANYA dan EL saja belom move on thorrr, muncul lah si tengil ell, makin cintaaa thor🤗🤗
😍😍
takut gula darah naik🤭
terlalu manis soalnya🥰🥰
akhir nya rea menyerah kan diri ooohh , sweet nya axelle bahagia. banget ya yg udh dapet jatah🤣🤣🤣🤣
nyari es batu lahhh🤭
love bagt sama Valerie 🥰🥰
meleleh adek bang🤣🤣🤣🤣
terimakasih Thor
love sekebonnnnn🥳🥳🥳
nangis bombay gak tu si vanya gimna hati vanya masih aman 🤣🤣
pengen ngegaplok si ziro deh sok sotoy banget terherman² aku nya🤣🤣
gedhek bgtsss sama Vanya n the geng, ziro harata apalah itu🤭
tapi saling berharap ,
di depan entar nemu bawang apa nemu krupuk thor , semankin penasaran sama kehidupan rea kedepanya , gimna nasib hubungan axelle sama rea nanti
cepet buntingin rea nya xel,
biar kelar hidup ziro.
wkwkwkwkkw