💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.
------------- 💫
Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.
Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.
"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.
Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 : Jantung yang berdebar.
"Paman aku ingin minta maaf untuk kejadian tadi pagi, dan ingin bilang terimakasih karena tadi Paman sudah menjemput kami. Maaf jika sikap dan kata-kataku kurang sopan terhadap Paman."
Arsen berdiri diam, menatap Viona yang kini berdiri di depannya, senyuman pada wajah gadis itu membuatnya terpana sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Ambil ini," Arsen menyodorkan paperbag ditangannya pada Viona.
Viona menatap paperbag itu sejenak dengan tatapan bingung, lalu kembali menatap Arsen, "Apa ini, Paman?"
"Ini hadiah untukmu, ambillah." ucap Arsen, memberikan anggukan kepala kecil supaya Viona mau menerimanya.
Viona menerima paperbag itu dengan ragu-ragu, ujung bibirnya membentuk senyuman lembut. "Terima kasih, Paman."
Arsen mengangguk, lalu melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam, "Sekarang kembalilah ke kamarmu dan istirahat, ini sudah malam."
"Baiklah, Paman. Sekali lagi terimakasih untuk hadiahnya," ucap Viona dengan suara lembut, dia berbalik dan mulai melangkah menuju pintu kamarnya, tapi kemudian berhenti dan menoleh kembali ke arah Arsen. "Selamat malam, Paman."
Arsen mengangguk dan memberikan senyuman tipis. "Selamat malam,"
Setelah melihat Viona masuk kedalam kamar, Arsen menghela napas panjang. Dia menatap pintu kamar Viona yang sudah kembali tertutup rapat, sebelum akhirnya melangkah kembali menuju kamarnya dengan langkah yang tenang.
-
-
-
Setelah selesai mandi dan mengenakan piyama pendek berwarna ungu, Viona menghampiri meja sisi tempat tidur yang di atasnya terpampang paperbag dari Arsen. Dia duduk di tepi tempat tidur, tangan kanannya menyentuh permukaan paperbag tersebut dan membawanya ke pangkuannya.
"Apa ya yang ada di dalamnya?" bisiknya pelan, kemudian membuka bagian atas paperbag itu dengan hati-hati dan mulai mengeluarkan barang-barang dari dalamnya.
Sebuah boneka beruang kecil berbulu putih membuat mata Viona semakin melebar penuh kagum. Di bawah boneka ada sebuah dress pendek berwarna merah, dan yang terakhir ada kotak coklat berbentuk hati dengan tali sutra emas melilitinya.
"Kenapa paman tiba-tiba memberiku hadiah sampai sebanyak ini?" pikirnya bingung. Dia berdiri dan melangkah ke depan cermin, mengangkat dress itu dan menempelkannya di depan tubuhnya. Matanya terpaku melihat bayangannya didalam cermin.
"Warnanya sangat cocok untukku. Rupanya dia pandai juga memilih barang," gumamnya, dia menurunkan dress itu kembali dan menoleh pada jam yang terpasang di dinding. "Sudah jam sebelas lewat, dia sudah tidur belum ya?"
Viona meletakkan dress itu diatas ranjang, lalu dia bergerak mendekati pintu kamarnya. Dengan hati-hati dia memutar gagang pintu secara perlahan supaya tidak mengeluarkan suara berisik.
Setelah pintu terbuka sedikit, dia mengeluarkan sedikit kepalanya dan keluar setelah memastikan aman. Pintu kembali ditutup dengan gerakan yang hati-hati, kaki kirinya melangkah lebih dulu, lalu diikuti kaki kanannya.
Langkahnya pelan dan penuh kehati-hatian supaya tidak menimbulkan suara berisik. Dia tidak ingin Farel terbangun dan memergokinya pergi ke kamar paman Arsen, karena tadi pagi Farel sudah mengingatkannya untuk tidak terlalu dekat dengan pamannya itu.
Ketika semakin mendekati kamar Arsen, detak jantungnya mulai berdebar lebih cepat. Dia berhenti tepat di depan pintu kamar itu dan menarik napas panjang. Tangan kanannya terangkat untuk mengetuk, namun tiba-tiba keraguan menyelimuti dirinya.
"Apa yang sedang kamu lakukan di depan kamarku?" tanya Arsen yang tiba-tiba sudah berada di belakang Viona dengan memegang sebuah buku ditangannya.
"Ah!"
Viona terkejut dengan mata melebar, kakinya mundur selangkah dan berbalik dengan cepat. Kepalanya tanpa sengaja menyentuh bagian dada Arsen yang sedikit terbuka karena jubah tidurnya yang terbuka sedikit di bagian depan. Dia mengangkat wajahnya cepat, lalu segera menarik diri dengan wajah yang memerah dan debaran jantung yang berdetak kencang.
"P-paman darimana saja? Aku datang untuk bilang terimakasih atas hadiah yang Paman berikan tadi," ucap Viona dengan gugup.
Arsen sedikit mengerutkan kening, ujung bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis. "Kamu sudah bilang terimakasih tadi, apa perlu datang tengah malam seperti ini hanya untuk mengatakannya lagi?"
Viona mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk, matanya bertemu dengan tatapan Arsen. "A-Aku hanya merasa hadiah yang Paman berikan terlalu banyak, jadi kupikir ingin mengucapkan terimakasih lagi."
Arsen terdengar sedikit menarik napas, kemudian mengangguk perlahan. "Apa ada hal lain lagi yang ingin kamu sampaikan?"
Viona menggeleng dengan cepat, "Tidak! Aku akan kembali ke kamarku sekarang. Sampai jumpa besok, Paman,"
Viona mulai melangkah, namun karena tergesa-gesa dan gugup, kakinya tak sengaja tergelincir dan dia berteriak kecil. Tubuhnya terhuyung ke depan dan tanpa sengaja tangan kanannya menyentuh bagian dada Arsen. Tangan Arsen terangkat cepat dan melingkari pinggang Viona untuk menahan Viona agar tidak jatuh ke lantai.
"Hati-hati!" ucapnya dengan nada yang sedikit meninggi karena khawatir.
"Ma-maaf Paman, aku tidak senga---"
Kalimatnya menggantung di udara saat tatapannya bertemu dengan mata Arsen yang sedang menatapnya dengan tatapan khawatir. Detak jantungnya berdetak lebih kencang lagi, pandangannya terpaku pada wajah pria itu. Beberapa detik yang berlalu terasa seperti berjam-jam. Viona bisa merasakan pandangan Arsen yang begitu dalam, membuat tubuhnya seolah tidak bisa bergerak.
"Kamu baik-baik saja?"
Suara Arsen membuat Viona tersadar dari lamunan singkatnya, dia menurunkan pandangannya dengan cepat dan mengangguk kecil. "Aku baik-baik saja, Paman. Kalau begitu aku akan pergi ke kamarku sekarang."
Segera dia menarik diri dan melangkah dengan cepat menuju kamar, langkahnya sedikit tergesa-gesa namun tetap berusaha untuk tidak membuat suara berisik. Setiap langkahnya membuat jantungnya berdebar semakin kencang, tangan kanannya masih terasa hangat karena sentuhan tadi. Dia tidak berani melihat ke belakang lagi dan cepat-cepat membuka pintu kamarnya.
Viona bersandar pada pintu yang baru saja tertutup. Dia menutup mata sebentar, mencoba menenangkan napas yang masih sedikit tersengal-sengal.
"Kenapa tanganku selalu menyentuh ditempat yang salah," gumamnya penuh frustasi.
Setelah merasa sedikit lebih tenang, dia berjalan menuju ranjang dan mengambil boneka beruang putih yang ada di atasnya. Dia memeluknya erat, kemudian berbaring menyamping sambil menatap ke arah jendela yang gelap. Pikirannya masih penuh dengan tatapan Arsen yang tadi menyentuh hatinya, membuatnya sulit untuk segera tidur meskipun tubuhnya sudah merasa lelah.
"Mengapa jantungku berdebar seperti tadi saat didekatnya? Padahal saat bersama Farel aku tidak merasakan apa-apa," gumamnya pelan, perasaannya mulai bingung karena merasakan sesuatu yang berbeda saat berada dekat dengan Arsen.
-
-
-
Bersambung...