NovelToon NovelToon
ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: Endiya Winter

ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi


- - -

Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.

Bunuh diri.

Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.

Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.

Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.

Drama.

Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.

Act Zero.




- - -

Endiya Winter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ACT IV

   Satu jam lalu, Kean menerima tamu untuk bergabung di mejanya. Kebetulan kala itu dia sedang memeriksa berkas catatan milik kliennya yang sebelumnya ia membuat janji temu di sebuah restoran dekat kantornya. Setelah berbincang-bincang sebentar, klien itu dimintanya untuk pergi ke suatu tempat—terkait urusannya—dengan diantar oleh seorang rekannya yang juga menjabat sebagai asisten pribadinya. Tak lama berselang ia duduk sendirian di sana, seorang wanita datang menghampirinya. 

   “Apa kau menunggu cukup lama, Pak Kean?” 

   “Ah, tidak. Silakan duduk.” Kean buru-buru menutup laptopnya, lalu merapikan berkas-berkasnya yang menumpuk tak tertata dan menyingkirkannya dari atas meja. Dia menyita waktu pekerjaannya sebentar karena sebelumnya juga sudah membuat janji temu dengan seseorang. 

   “Ada banyak kegiatan di sekolah, jadi para guru dibuat sibuk belakangan ini.” Bu Kaila tertawa tipis, berbasa-basi selayaknya wanita di luar profesinya sebagai guru. 

   “Aku mengerti. Permainan Kelompok Asrama, kan?”

   Bu Kaila mengangguk, tersenyum. Kemudian, dia mengangkat tangannya setinggi kepala, isyarat memanggil pelayan. Dia menyebutkan pesanannya berupa sandwich salad tuna dan americano hangat—menu sarapannya hari ini. “Apa kau bertemu dengan klien wanita, Pak Kean?” tanyanya sembari mengecek ponselnya, barangkali ada pesan masuk dari grup obrolan guru. 

   “Kenapa tiba-tiba kau bertanya tentang itu, bu?”

   “Di sini..” Bu Kaila merogoh tas tangannya, mencari sesuatu. “..aku mencium wangi parfum yang sama seperti milikku.” Ia menunjukkan botol kaca berwarna merah dengan model transparan, lalu menyemprotkannya sedikit ke pergelangan tangannya, baunya sama persis. “Dulu aku sering memakainya, tapi sekarang tidak lagi. Aku membenci aromanya, namun entah kenapa aku juga tidak bisa membuangnya.”

   Kean masih bereaksi bingung, entah bagaimana harus menggubrisnya, dia memilih diam. Walau perasaannya sedikit tak nyaman karena privasinya disinggung, ia yakin Bu Kaila tak lebih dari orang asing yang kebetulan juga memakai parfum serupa. Pikirnya itu bukanlah hal yang akan menyebabkan masalah, jadi ia tidak perlu memperpanjang dengan meributkan kekhawatirannya. 

   “Mengenai kedatanganku ke sini, hal apa yang kau ingin bicarakan padaku, Pak Kean?” 

   Kean mengaitkan kelima jari tangan kanannya ke tangan kirinya, segera ia menyesuaikan dirinya dengan topik yang dibahas saat Bu Kaila bertanya langsung ke intinya. “Baiklah, langsung saja, ya. Begini, aku hanya ingin tahu, apakah benar perundungan kembali terjadi di sekolah?”

   Atmosfer ketegangan berembus pelan di sekitar meja, menciptakan keheningan sesaat. Bu Kaila langsung mengerti bahwa sepertinya ini topik yang cukup serius, jadi ia tidak langsung menjawab dan malah balik bertanya, “Apa yang membuatmu berpikir begitu, pak?”

   “Putriku bercerita padaku kalau dia melihatnya. Tepatnya, kejadian itu terjadi di kelas 11-2. Dan pelakunya ... adalah Giselle. Putrimu, bukan?” 

   Gumpalan awan bergerak menghalangi panasnya cahaya matahari, membawa udara sejuk dari bukit bersama angin sepoi yang menenangkan, menggoyangkan helai rambut cokelat keemasan Karinn. Dia menopang dagunya di meja, mendecak sebal beberapa kali. Betapa ia tidak mengerti alasan lawan bicaranya di telepon menghubunginya lebih dulu, tetapi saat panggilannya diterima dia malah lebih banyak diam daripada bicara. “Ayah, kau yakin Bu Kaila hanya bertanya soal kabarku?”

   Bahu Kean tersentak, lamunannya buyar sesaat fokusnya telah kembali. “...Tentu, kami juga mengobrol sedikit tentang kondisi sekolahmu baru-baru ini.”

   “Sungguh? Tidak ada yang lain?”

   Kali ini benar-benar tidak ada balasan terdengar. Bukan Kean tidak menggubrisnya atau sengaja tidak mendengarnya, tetapi dia memilih untuk menjawabnya dengan monolog, “Rinn, rahasiamu ... telah diketahui orang lain.”

   “Ayah?!”

   Kean terlonjak kaget. Kalau saja dia tidak punya keahlian menangkap ponselnya, mungkin benda mahal itu sudah terjun bebas di udara dan hancur. “Ah, Ayah sulit merangkai kata. Sepertinya ini bukan hal besar. Kau tidak perlu mencemaskan yang tidak-tidak. Itu hanya obrolan orang dewasa tentang anak mereka. Kau berhati-hatilah di sana, ya. Ayah akan menghubungimu lagi lain kali. Sampai nanti!” Setelah nada panjang, panggilan pun terputus dan obrolan berakhir tanpa kesimpulan. 

   Kean menatap lamat-lamat ponsel yang masih digenggamnya. Sekarang sudah pukul dua belas siang lewat sepuluh menit, dia ada jadwal menghadiri persidangan satu jam lagi. Kliennya sudah beberapa kali menghubunginya dan menanyakan kedatangannya, cemas jika pengacara yang sudah dibayar mahal ini menghilang tanpa kabar. Mereka harus berbincang-bincang setidaknya setengah jam sebelum persidangan dimulai. Tetapi Kean yang bahkan jasnya masih tersampir di bahunya pun tidak merasa panik sedikit pun. Dia mencemaskan hal lain. 

   “Apa kau terkejut, Bu Kaila?” Sepasang mata mereka bertemu, saling beradu. “Aku sudah mengetahui fakta itu sejak lama. Tepatnya saat hari kelulusan SMP putriku dua tahun lalu. Kau datang dan berfoto bersamanya.”

   Bu Kaila tersenyum tipis. Raut wajahnya yang tidak acuh seakan menunjukkan dia sama sekali tidak keberatan menanggapi lawan bicaranya yang baru saja menyinggungnya. “Aku tidak terkejut. Aku akui, itu benar. Tapi kau kurang tepat, Pak Kean.”

   “Baiklah, ada hal lain yang mau kau sampaikan, bu?”

   “Karinn bercerita padamu tentang perundungan di kelas 11-2, itu karena baginya adalah suatu kenangan buruk. Dia punya trauma sejak SD di mana ketika itu para siswi pendatang dari luar kota membawa pengaruh tidak baik berupa aksi untuk menciptakan lingkaran yang memisahkan kubu ini dan itu. Maka mustahil hatinya tidak terluka melihat perundungan yang terjadi di depan matanya sendiri.” Bu Kaila mengakhiri tiga bait ucapannya. Menatap wajah Kean lamat-lamat sembari menunjukkan senyum. “Oh, aku harus memberitahumu sesuatu, pak. Giselle dan aku hanyalah sepasang ibu dan anak yang tidak sengaja ditakdirkan oleh tuhan untuk bertemu.”

...• • • • •...

   Anak-anak muda semakin ramai berdatangan, barisan baru kedua pun dibentuk lagi di sebelah barisan yang telah memanjang sampai tiga meter. Suara gemuruh percakapan dan tawa memenuhi udara, berpadu dengan aroma bakpao hangat yang baru keluar dari oven. Di dalam kedai, empat karyawan sibuk membuat pesanan—membungkus bakpao kemudian menyegelnya dengan rapat agar tetap hangat. Nomor antrean terus bertambah, tapi kerumunan tak juga surut sedari dua jam lalu. 

   Sekarang pukul empat sore. Pada jam-jam inilah anak-anak muda memakai waktu yang tersisa untuk mencari jajanan sembari menikmati udara segar. Itu semacam rutinitas yang wajib dilakukan setelah seharian menghabiskan liburan bersama, sekaligus sebagai penutup jumpa untuk bertemu dan main lagi di esok hari. Ada yang melakukannya dengan berjalan kaki, bersepeda, bahkan sampai kebut-kebutan di jalur sirkuit belakang distrik pertokoan—bertaruh demi sebuah traktiran. 

   “Wah, sepertinya hari ini kau akan terlambat kembali ke asrama, ya.” Rebecca menyandarkan badannya ke meja, mencibir Chloe yang sedang sibuk memasukkan pesanan bakpao ke dalam kotak. 

   Beberapa tahun lalu, mereka adalah teman sekelas semasa SMP, tapi kini tidak lagi karena Chloe sering absen. Ketidakhadirannya membuat tingkat kelasnya turun dan ia pun berpisah dengan teman-teman lamanya. Kini, ia bekerja paruh waktu di kedai bakpao demi mendapatkan uang tambahan untuk membayar tagihan rumah sakit ibunya. Setiap hari, dia berdiri di belakang meja uap panas, tangannya sibuk melayani pelanggan sementara pikirannya melayang jauh. Hatinya terluka melihat teman-teman sebayanya dapat dengan mudah menikmati waktu senggang—tertawa riang di kafe atau berbagi cerita tentang film terbaru—sementara di sini ia bersimbah keringat dan bau matahari. Kadang-kadang, rasa iri itu berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap. 

   Di kepalanya, ia menanamkan perasaan bahwa jika orang-orang tahu perjuangannya, mereka pasti akan mengerti dan membenarkan sikapnya. Bahwa kelelahan ini cukup jadi alasan ... bahwa pengorbanannya layak dibalas dengan pengertian. Sedikit demi sedikit, pekerjaan dan tekanan yang ditanggungnya berubah menjadi tameng—pembenaran atas alasan ia ingin mendapatkan sorot cahaya dengan membungkam pertanyaan, menuntut pengertian, dan menjustifikasi kemarahannya pada dunia.

   “Pergilah jika cuma mau beromong kosong.” Chloe membalas dengan nada sinis. Salah seorang rekannya—wanita yang kelihatannya lebih tua darinya—langsung menyikut lengannya sebagai teguran halus atas sikap kurang sopannya terhadap pelanggan. Chloe tidak meminta maaf ataupun mencoba menjelaskan; hanya kembali fokus pada pekerjaannya sambil menahan desakan amarah di dada.

   “Kenapa kau bereaksi begitu? Bukankah selama ini kau selalu menginginkan satelit mengorbitmu? Dunia kami sudah bukan tentangmu lagi, jadi buat apa kau protes? Wah, dia benar-benar gila, kan?” Rebecca membalikkan setengah badannya, menghadap Amber yang kebetulan berada tepat di sebelahnya. “Aku jadi penasaran siapa yang mengorbitmu kali ini.”

   Salah seorang karyawan lain menumpahkan bakpao yang baru selesai di panggang ke atas wadah, memberikan pekerjaan kepada Chloe. Amber memperhatikan asap yang mengepul itu, mengendusnya sedikit. “Hmm, sepertinya bukan cuma aroma bakpao yang ada di sini. Ada aroma nostalgia ... saat kau selalu merasa ada lampu yang menyorotmu dari atas.” Dia mengangkat kepalanya, tersenyum tipis saat berhasil menangkap sepasang mata si lawan bicara. 

   “Oi, gadis gila, kusarankan padamu untuk belajar berjalan mulai sekarang. Gunakan kakimu. Ya?” Rebecca menepuk-nepuk kakinya, menyelaraskan ucapannya dengan bahasa tubuhnya. “Jangan gunakan kaki orang lain. Atau kau akan terbiasa sampai lupa caranya menjadi manusia.”

   Keempat temannya yang berkumpul di satu meja, kompak menundukkan kepala sambil memainkan ponsel—memilih untuk tidak ikut campur. Karena tak ada aksi dari kawan se-gengnya, para pelanggan yang tersebar di beberapa meja pun juga tak ada kuasa untuk menghentikan ketegangan ini. Jadilah sesama rekan Chloe bersungut-sungut dan mengutuk dirinya dalam hati. 

   Seperti pepatah; Waktu terus berjalan, namun beberapa orang masih tetap berada di tempat.

   Ada sejarah cukup panjang di antara mereka bertiga—Chloe, Rebecca, dan Amber. Mereka pernah menjadi trio tak terpisahkan semasa SMP dan hubungan itu tumbuh begitu saja, murni tanpa paksaan seolah dunia memang menyatukan mereka agar tak merasa sendirian. Mereka bercanda ria, bersenang-senang, dan melakukan segalanya hampir bersama. Mereka adalah sahabat sejati—atau setidaknya itulah yang mereka pikirkan saat itu. 

   Seiring berjalannya waktu, retakan kecil mulai muncul dalam hubungan mereka, menjadikan pembatas ketika Rebecca dan Amber menyadari bahwa persahabatan mereka tidaklah pernah benar-benar setara. 

   “Lucu, ya,” Rebecca melanjutkan lagi, nada bicaranya masih sarkastik seperti sebelumnya. “Kita menghabiskan banyak waktu hanya untuk hubungan yang sia-sia. Perlu kuingatkan, hu? Kita sering membual dan membuat lelucon lalu tertawa bersama sampai perut terasa sakit. Bila ada waktu kita juga bepergian bersama, makan bersama, berfoto bersama, pokoknya melakukan semuanya bersama.”

   Amber ikut menyahut, “Berapa kali dipikir pun memang tidak masuk akal. Orang gila sepertimu ... Ck,”

   Chloe tetap tidak menggubris, tangannya sibuk memasukkan bakpao ke dalam kotak lalu menyerahkannya kepada kurir pengantar makanan. Dalam hatinya, ia terus mengulang kalimat pembelaan yang sama. Ia bekerja demi ibunya yang sakit. Ia telah kehilangan banyak hal terutama waktu untuk bersenang-senang. Bukankah itu alasan yang cukup untuk bersikap seperti ini? Untuk meminta pengertian? Sedikit pengorbanan, pikirnya seharusnya layak dibalas simpati.

   Yang diinginkannya juga bukan hal besar. Ia hanya menuntut sedikit pada dunia untuk memberikan kesempatan baginya bersinar. Saat ia bersedih, sudah seharusnya teman-temannya hadir dan menghiburnya. Saat ia kesal, mereka harus menjadi pendengar tanpa cela. Dan saat ia senang, mereka pun harus memberikan respons serupa. Reaksi yang tidak sesuai harapannya dianggap sebagai penolakan. Juga semakin teman-temannya mencoba menjaga jarak, semakin keras pula Chloe menarik tali kendali, menciptakan drama demi drama seperti panggung yang selalu membutuhkan sorot lampu. Hingga pada akhirnya, Rebecca dan Amber mengerti. Alasan Chloe tak punya teman di kelas bukan karena dunia terlalu kejam, bukan karena orang-orang tidak peduli, bukan karena mereka terlalu sibuk atau tak punya waktu, melainkan karena dirinya sendirilah yang tak pernah memberi ruang bagi siapa pun selain dirinya untuk bersinar.

   “Bagaimana?” Serena, karyawan tertua sekaligus anak dari pemilik kedai bakpao ini tiba-tiba muncul di belakang tubuh Camilia. Dia mengajukan pertanyaan begitu ia melihat lagi rekannya yang masih pelajar itu memegang ponsel di sela-sela tangannya bekerja. 

   “Nihil, ini yang kesebelas kalinya,” jawabnya. 

   Di layar ponselnya, tertera nama Maudy dengan ikon telepon berwarna hijau. Bunyi notifikasinya sudah cukup lama berdering, namun tak ada respons apa-apa dari pihak terkait selain kalimat khas; Panggilan Anda tidak terhubung. Silakan tinggalkan pesan di kontak suara atau— Tuut... Camilia mematikannya lagi, perasaannya makin jengkel setiap kali ia kembali memeriksa laman obrolan dan tak mendapatkan balasan apa-apa dari nomor tersebut.

   Uap panas mengembun di dinding, bercampur dengan suara desis kukusan yang mengeluarkan asap tebal. Ruangan terasa makin sempit—bukan hanya karena padatnya pesanan, tapi karena satu tenaga telah hilang dari barisan. Maudy, anak magang yang baru mulai bekerja dua minggu lalu, memang agak lamban, mudah panik, dan sulit memahami instruksi. Namun tetap saja, ketidakhadirannya tanpa pemberitahuan di saat seperti ini menjadi puncak dari segala kekesalan.

   “Astaga, bukan main memang anak itu!” Karyawan lain yang juga merupakan teman satu sekolah Camilia menyahut dengan nada setengah berteriak. Wajahnya memerah oleh panas dan kesal yang bercampur jadi satu. 

   “Bisa-bisanya dia tidak datang sampai jam segini? Benar-benar keterlaluan!”

   “Lebih lagi dia tidak meminta izin cuti! Tahu-tahu hilang tanpa kabar! Benar-benar merepotkan!”

   Serena menepuk-nepuk lengan ketiga rekannya itu, isyarat supaya tidak berlarut-larut dalam emosi dan kembali bekerja. Ia pun juga kembali ke tempatnya, menerima panggilan dan membalas pesan pelanggan. Sesaat jemarinya sibuk menekan papan keyboard, manik matanya melirik kepada Chloe. Dari sekali lihat, ia langsung tahu bahwa Chloe tampak tidak tertarik dengan rekan-rekannya yang sedang meributkan ketidakhadiran Maudy.

    Jelas itu aneh. Padahal sejak hari pertama Maudy bekerja, dia sudah menempel pada Chloe karena menurutnya banyak membantu selama masa latihan. Jadi bisa dibilang mereka punya hubungan cukup dekat walau hanya sebagai partner kerja. Tapi beberapa hari ini, sepertinya ada masalah di antara mereka. Pada suatu malam setelah toko tutup, Maudy datang menghampiri Serena dan berkata bahwa ia memerlukan nasihat.

   “Aku sulit dalam bersosialisasi. Di sekolah pun aku tidak punya teman dan sering dikucilkan. Karena itu, Kak Serena, apakah kau punya saran untuk menghadapi seseorang yang tiba-tiba menjauh tanpa alasan?” Wajahnya memelas, sekilas semburat putus asa membayang di bawah matanya. 

   Dengan lembut Serena membalas, “Kau harus bicara padanya. Carilah waktu yang pas dan gunakan untuk saling bicara terus terang.”

   “Sudah kucoba, tapi tidak berhasil. Dia ... mengacuhkanku tanpa mengatakan apa-apa. Aku benar-benar bingung. Aku tidak tahu harus berbuat apa karena ini pertama kalinya bagiku dalam menjalin hubungan dengan orang lain.”

   Serena menundukkan kepalanya, menatap kosong permukaan meja. Ia jelas tahu siapa yang dimaksud Maudy dalam ceritanya, tapi ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh karena pikirnya itu pasti masalah sepele antar personal. Melibatkan diri hanya akan memperumit keadaan, apalagi sampai berpihak pada salah satu di antara mereka. Kadang-kadang berpura-pura tak peduli memang perlu dilakukan, hanya saja ... ada satu hal yang tidak dimengertinya; betapa tenangnya Chloe saat ini. 

   “Kak Chloe, aku bangun lebih pagi hari ini. Haruskah kita melanjutkan latihan yang kemarin?” 

   “Kak Chloe, aku mau beli minuman ke toko serba ada. Kau mau menitip sesuatu?”

   “Cuacanya dingin, ya? Kak Chloe, apa kau kedinginan? Telingamu sangat merah.”

   “Kak Chloe, kau tahu ... tanganku kebas selama beberapa hari. Tapi berkat saranmu, aku sudah tidak mengalaminya lagi. Obat yang kau berikan manjur. Apa kau juga memakainya?”

   “Aku cukup santai setelah ini. Kak Chloe, ayo kita makan mi pedas. Kebetulan aku kenal dekat dengan pemiliknya, kalau kita sering datang dan mengisi kupon, nanti kita bisa makan gratis.”

   “Kak Chloe, kudengar hari ini akan hujan. Kau bawa payung? Mau pergi bersamaku? Aku bisa sekalian mampir dan lihat sekolahmu. Aku selalu ingin pergi ke sana.”

   “Hari ini biar aku yang traktir, Kak Chloe. Kau sudah banyak membantuku.”

   Mana mungkin setelah segala banyak momen manis itu mereka mendadak jadi asing? Serena tak mengerti, berapa kali pun ia mencoba berpikir, semuanya hanya tetap menjadi pertanyaan. 

   Semilir angin berembus pelan, memasuki kedai bakpao seolah mengantarkan kesejukan yang menenangkan. Semalam ... udaranya pun sedingin sore ini. Suara koloni jangkrik di padang rumput terdengar jelas bersahut-sahut, mengisi kesunyian pinggiran kota, lenggang. Lampu penerang jalan menyala redup walau tidak banyak kendaraan berlalu-lalang, memberitahukan bahwa di sini ada kehidupan tersembunyi setidaknya walau gelap nyaris menelannya. 

   Chloe mengentakkan kakinya beberapa kali, membuat alas sepatunya makin cepat aus. Suhu tubuhnya terus meningkat seiring tenaga yang dikeluarkannya. Anehnya, ia merasa semakin dingin seolah dirinya membeku oleh takut. Perasaannya kacau, tidak ada yang bisa dipikirkannya selain pertanyaan; Apakah aku akan mati hari ini? Tali yang menjerat lehernya sedari tiga menit lalu membuatnya tidak bisa bersuara, bahkan meringis untuk mengekspresikan betapa sakit yang yang diterimanya. 

   Ingatan mengerikan itu ... kini telah sepenuhnya berubah menjadi mimpi buruk, menghantuinya bagai permen karet yang menempel di bawah sepatunya. Chloe menggelengkan kepala, memejamkan matanya kuat-kuat. Dalam hatinya ia terus mengulang kalimat yang sama, “Ini bukan salahku. Ini hidupku.” 

   Di atas rak setinggi satu setengah meter itu, ada kotak kecil bermotif bintang yang masih tersegel oleh pita. Camilia memberikan kepadanya dan mengatakan bahwa kotak itu ada di dalam kotak surat. Nama Chloe tertulis di sana, tapi tidak dengan nama pengirimnya. 

   “....Jadi begini,” Suara gugup Ayaa memecah lamunan Chloe. Dia berdiri di depan meja kasir sembari menatap katalog, menu isian bakpao baru menarik perhatiannya. “Tolong satu paket ukuran besar.” Dia menyerahkan kertas menu yang telah diberi tanda centang pada menu isian bakpao yang diinginkannya. 

   “...Kuponnya?” Chloe menodongkan telapak tangannya, lantas Ayaa segera memberikan kupon yang sudah berisikan lima belas cap. “Pesananmu akan diproses selama sepuluh menit, mohon tunggu di sini agar kami tidak kesulitan mencarimu.”

   “Aku hanya pergi sebentar. Tidak akan lama.” Ayaa menyenggol lengan Villy di sebelahnya, berbalik badan sembari berkata, “Ayo.”

   “Kau mau ke mana?”

   “Apotek.”

   Begitu keduanya tiba di depan etalase, sang apoteker langsung mengajukan banyak pertanyaan terkait obat yang dicari. Ayaa dengan ragu-ragu menjelaskan, “Gejala lainnya ... Um, suara terdengar sengau dan kurasa dia sedikit pusing. Tentang suhunya, aku tidak tahu, aku tidak sempat menanyakannya.”

   Sang apoteker mengangguk-angguk, mengerti walau penjelasan yang didapatnya terbatas. Ia pun membalikkan badan menghadap rak di belakangnya, memberikan beberapa tiga jenis obat sebagai rekomendasi. “Temanmu itu hanya mengalami flu biasa, dalam beberapa hari dia akan membaik jika rutin meminum obat dan istirahat cukup. Juga, katakan padanya jika dia memiliki ketidakmampuan terhadap suhu dingin, jangan coba-coba menantangnya. Kuharap kalian sebagai temannya bersedia memperhatikannya. Ya?”

   Tak sempat saling bersitatap untuk menunjukkan reaksi bingung, Villy dan Ayaa serempak menganggukkan kepala dengan ragu-ragu. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!