ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11--Pangilan dari ketos dan fakta mengejutkan
“Panggilan untuk Siswa Rahmat Pratama kelas 11 IPA 2, anda ditunggu di ruang OSIS.”
“Saya ulangi kembali, panggilan kepada siswa Rahmat pratama kelas 11 IPA anda telah ditunggu di ruang OSIS.”
Suara yang ia kenal bergema di pengumuman sekolah, sontak saja suapan bakso itu terhenti. Ia melirik ke atas. Itu adalah suara milik kakak kelasnya Anissa, lagi-lagi dia dipanggil. Lagian kenapa tidak melalui pesan chat pribadi saja alih-alih membuat keramaian begini?
Semua orang di kantin menatap Rahmat seolah dia adalah tersangka sebuah kasus korupsi. Beberapa berbisik-bisik, mengatakan bahwa dia resmi jadi anak nakal karena bulan ini sudah dipanggil lebih dari dua kali.
Rahmat cuma bisa menghela napas.
“Dirimu dipanggil bro? Lo buat masalah kah?” Danu berkata, kepala botak itu mengkilap terkena oleh cahaya matahari. Mulut sibuk minum es degan plastik.
Raefka menimpal. “Ngeri ih, dipanggil kak Anisa secara khusus, itu adalah kayak pendisiplinan tingkat tinggi.”
Murid berambut poni acak-acakan ala playboy itu sedikit mengerutkan kening, dia tahu mengenai kabar seberapa tegas ketua OSIS kelas 12 yang berada di akhir semester duanya, meski dia tinggal beberapa waktu sebelum lulus, performa dia makin gacor.
Banyak murid yang takut akan ketegasan beliau, bahkan dia terkadang lebih tegas dari para guru karena Anissa tidak pandang bulu dan takut terhadap siswa-siswi donatur.
Rahmat hanya mendengus, membersihkan sisa kuah bakso di pinggir bibirnya dengan tisu. "Pendisiplinan apanya? Paling cuma masalah absen atau iuran kelas yang belum sinkron sama data OSIS,"
jawab Rahmat santai, meski dalam hati ia tahu satu hal. Kakak kelas itu tidak memanggil karena hal sepele demikian, artinya dia ingin membahas sesuatu lebih serius.
Tempo hari Rahmat dipanggil ke sebuah polsek oleh kak Anisa disana terjadi kasus bunuh diri Reno—seseorang yang terikat dengan organisasi black spider—sebuah organisasi yang sering menganggu kehidupan Rahmat dan menjadi salah satu kunci maraknya kasus penculikan akhir-akhir ini.
Kanaya Arcelia seorang idol nasional juga sempat diincar oleh mereka atas perintah dan misi dari Anisa serta sistem rahmat berhasil melindungi si idol, dia seharusnya mendapatkan penghargaan sertifikat namun dia tidak tertarik untuk mengambilnya.
Rahmat sebenarnya ingin menyelesaikan semua dengan mudah, bertanya dengan sistem mengenai informasi black spider dan membeli informasi di sistem, tapi jaringan sistem bahkan menaruh black spider sebagai sesuatu yang terkunci alias tidak bisa diakses.
Cari tahu sendiri adalah salah satu cara terlebih organisasi itu terhubung dan punya banyak induk, jadi sulit ditangkap.
“aku duluan, ya.”
“Hati-hati, Mat! Kalau nggak balik dalam sepuluh menit, gue anggap lu udah dikirim ke ruang BK buat dieksekusi!" seru Danu sambil tertawa lebar.
Rahmat berjalan menyusuri koridor sekolah. Setiap langkahnya kini terasa berbeda. Efek setelah dia makin populer dan banyak dibicarakan membuatnya tidak terlihat lemah Sebaliknya, justru mereka yang secara tidak sadar memberi jalan saat Rahmat lewat.
Begitu sampai di depan pintu ruang OSIS yang tertutup rapat, Rahmat mengetuk dua kali.
"Masuk." Suara dingin dan tegas itu terdengar dari dalam.
Rahmat membuka pintu. Di sana, duduk Anisa dengan seragam yang sangat rapi tanpa lipatan sedikit pun.
“Hallo, kak. Ada masalah apa sampai mengundangku?”
“duduk dulu, aku udah nyiapin teh juga.”
Acara minum teh? Kaya orang tua banget. Kalau saja orang-orang tahu dia dipanggil bukan untuk pendisiplinan melainkan ngobrol santai pasti pada bakal berteriak histeris. Anisa juga terbilang populer, dia tentu cantik, penampilannya yang tinggi seperti botol yakult terlihat menggemaskan, rambut sebahunya terlihat rapi halus bahkan berkilau, dia terlihat menggemaskan, namun aura dia juga tidak main-main. Mungkin efek dari status sebagai ketua OSIS dan anak dari komandan polisi.
“Makasih, aku terhormat bisa santai minum teh sama kak Anisa.”
“Bagus, aku senang.” Anisa tersenyum manis.
Lima menit terlewat dengan acara minum teh, mereka masing-masing menyeruput teh.
“Suasana yang tenang ya?”
“Iya, haha benar-benar tenang.”
“Cuaca diluar cerah, ya.”
“Iya, haha. Cerah sekali sangat cocok menghabiskan waktu dengan teh.”
“Tehnya manis, ya.”
“Hahaha sangat cocok dengan situasinya, kak.”
Dan lima menit terus berjalan lagi. Obrolan itu jelas bukan jenis yang anak seumuran mereka lakukan, itu persis seperti kakek-kakek dan nenek-nenek.
Rahmat yang sadar langsung tersentak, bahkan apa yang mereka lakukan?!
Rahmat meletakkan cangkir porselennya ke tatakan dengan bunyi ting yang pelan. Ia menatap Anisa yang masih tenang menyesap tehnya seolah-olah mereka sedang berada di teras rumah mewah, bukan di ruang OSIS yang biasanya pengap oleh tumpukan proposal.
"Kak, jujur saja. Kita ini sedang apa?" Rahmat memecah keheningan.
"Kalau cuma mau minum teh, kenapa harus pakai pengumuman sekolah yang bikin geger satu kantin? Maaf, tapi temanku pada geger aku dikira kayak kasus korupsi negara.”
Anissa menurunkan cangkirnya, senyum manisnya perlahan berubah menjadi garis lurus yang serius. Tatapannya yang tadi lembut kini menajam, mengingatkan Rahmat pada status gadis ini sebagai "Iron Lady" sekolah.
“Kakak bisa chat aku saja juga.”
"Chat doang gak asik. Karena aku butuh semua orang tahu kalau kamu sedang bersamaku, Rahmat. Itu perlindungan... atau peringatan bagi semua orang bahwa kita itu cukup dekat dan kamu adalah milikku juga," jawab Anissa pelan. Itu terlihat tanpa ekspresi untuk seseorang yang menyatakan perasaan mendalam seolah mengatakan ‘milikku’ adalah hal spele.
Ha?! Jawaban ngawur macam apa itu, di dalam hati dia agak terkejut ternyata kak Anisa yang dia kira kalem, cool punya sisi lain juga.
Dan ucapan milikku? Sejak kapan senior satu ini punya sisi obsesi yang begitu besar baiknya Rahmat pura-pura tidak dengar.
“Ya, basa-basi cukup sampai sini saja.” Anisa meletakan cangkir minumnya. “Mari kita ke topik langsung.”
Ketua osis itu merogoh tas di sebelahnya, dia meletakan sesuatu di meja. Itu adalah sebuah piagam sertifikat penghargaan. “Ini ambil karena kamu bersikeras menolak dan tidak mengambil di polsek. Aku paksa ya, ambil! Itu penghargaan bagi kami pihak polisi karena bersedia membantu melindungi kanaya Arcelia selama 7 hari.”
Jika dipaksa begini dia tidak punya pilihan, padahal dia cuma mau jadi pahlawan tanpa imbalan jasa, cukup dengan hadiah sistem sudah sangat cukup. “yaudah kak, aku terima piagam penghargaan ini.”
“Topik kedua. Bagaimana dengan Maya dia baik-baik saja? Apa performa dia bagus.”
“luar biasa dan baik-baik saja.”
Anisa lalu melanjutkan, memajukan tubuh suara kini nyaris berbisik. “Sekarang topik utama … ini mengenai kasus bunuh diri reno tempo hari.”
Rahmat terdiam. Gelas teh di tangannya yang baru saja ingin ia angkat kembali terhenti di udara. “Ada perkembangan progres?”
“Enggak juga, tapi bukankah menurutmu aneh?”
“Aneh bagaimana?”
Anisa menghela napas sebelum melanjutkan ke topik. “kenapa mereka perlu repot repot membuat reno bunuh diri?”
“Bukankah itu demi dia bungkam suara dan seperti bayaran karena dia sempat membocorkan informasi ke kita. Lagian dia gagal dalam misi.”
“Aku awalnya mikir begitu … tapi.”
Ada keheningan sebelum ketua osis dua periode itu melanjutkan.
“Ayahku yang menangani kasus Reno. Dia bilang ada 'intervensi anonim' yang membuat sistem keamanan di area itu lumpuh sesaat sebelum aku datang serta sebelum dua kurir yang pengecoh hadir. Dan sidik jari digitalnya... mirip dengan pola yang pernah aku lihat di log komputer data absen para murid bulan lalu," Anisa menatap Rahmat dengan tatapan menyelidik.
“Sebentar itu maksudnya!”
Anisa tersenyum, adik kelas satu ini cepat sekali tanggapannya.
“Binggo! salah satu murid dari sekolah ini adalah pelaku dari penyerangan dan pembunuhan reno …”