Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 11
Tidak terasa… tiga bulan sudah Zara bekerja di Maheswara Corp.
Tiga bulan penuh.
Sindiran halus dari pegawai yang iri.
Tatapan menyelidik dari sekretaris senior.
Bisik-bisik di pantry.
“Itu asisten baru dekat banget sama Pak Kenzy ya…”
“Cantik sih, tapi terlalu cerewet.”
“Biasanya Pak Kenzy nggak setoleran itu.”
Awalnya Zara sempat kepikiran.
Tapi sekarang?
Ia hanya tersenyum.
Karena yang paling penting.
Hutang bibinya lunas.
Toko bunga tidak jadi disita.
Rumah kecil mereka selamat.
Bibinya bahkan sudah mulai buka toko lagi dengan wajah berbinar.
Dan setiap kali Zara pulang membawa kabar baik, bibinya selalu memeluknya sambil berkata,
“Zara, kamu benar - benar malaikat kecil Bibi.”
Padahal Zara tahu.
Dia cuma gadis cerewet yang kebetulan dapat bos dingin tapi sabar.
Dan entah bagaimana… cocok.
Ia tetap menjadi asisten pribadi Kenzy Maheswara.
Ia tidak ingin berhenti.
Dan bibi Ratna menyetujuinya.
Hari itu Jadwal mereka meeting di perusahaan rekanan di Bandung.
Udara sejuk.
Langit biru.
Kenzy berjalan tenang dengan jas abu gelapnya.
Zara berjalan di sampingnya sambil membawa tablet dan map.
“Pak, nanti setelah meeting kita langsung balik Jakarta atau…”
“Lihat situasi.” Kenzy menyela
“Kalau situasinya lapar gimana, Pak?”
Kenzy melirik.
“Kamu selalu lapar?”
“Saya manusia, Pak. Bukan robot.”
Kenzy menghela napas pelan.
Tiga bulan.
Dan dia sudah terbiasa dengan ocehan itu.
Meeting berjalan lancar.
Klien puas.
Kesepakatan tercapai...Deal !!!
Begitu keluar gedung, Zara menarik napas lega.
“Pak, itu tadi saya keren nggak?”
“Kamu tidak salah slide kucing. Itu sudah peningkatan besar.”
Zara langsung manyun.
“Pak…”
Kenzy hampir tersenyum.
Dan saat itulah.
“PAK! PAK KENZY!!!”
Tiba-tiba dua pria berlari ke arah mereka dari seberang jalan.
Zara refleks kaget.
“Pak… itu siapa?”
Kenzy menyipitkan mata.
“Tidak tahu.”
Dua pria itu makin mendekat sambil membawa sesuatu seperti map besar.
“Pak Kenzy! Tunggu!”
Zara panik.
“Pak ini fans atau debt collector?!”
“Lari.”
“HAH?!”
“LARI, ZARA!”
Dan mereka benar-benar lari.
Pewaris Maheswara Corp.
Berlari.
Di trotoar Bandung.
Di kejar kejar orang tak dikenal.
Zara setengah histeris setengah ngakak.
“Pak ini bukan adegan film action kan!”
“Fokus lari!”
“Tapi sepatu saya licin Pak!”
Orang-orang menoleh.
Dua pria itu tetap mengejar.
“Pak Kenzy! Kami cuma mau minta tanda tangan kontrak tambahan!”
Zara menoleh sebentar.
“Pak kayaknya bukan penjahat deh!”
Kenzy tetap berlari.
“Kita tidak ambil risiko!”
Zara hampir tersandung.
Kenzy refleks menarik tangannya.
Dan…
Mereka berdua malah masuk ke gang kecil dan berhenti karena buntu.
Sunyi.
Napas mereka terengah.
Zara menatap Kenzy.
Kenzy menatap Zara.
Dua pria tadi muncul di ujung gang… sambil kebingungan.
“Pak… kami cuma mau minta paraf tambahan halaman terakhir…”
Zara dan Kenzy saling pandang.
Lalu menatap pria itu.
Lalu menatap satu sama lain lagi.
Dan…
“Hahaha…”Zara duluan yang ketawa.
Ketawa keras.
“YA AMPUN PAK KITA LARI DARI ORANG CUMA MAU TANDA TANGAN!”
Kenzy terdiam dua detik.
Lalu…
“Hahaha…Dia ikut tertawa.
Bukan senyum kecil.
Bukan smirk tipis.
Tapi benar-benar tertawa.
Lepas.
Ringan.
Suara yang sudah lama tidak ia dengar dari dirinya sendiri.
Pria tadi sampai ikut canggung.
“Pak…?”
Kenzy masih tertawa kecil sambil menggeleng dan memegang perutnya.
“Maaf. Refleks.”
Zara memegangi perutnya juga.
“Pak tadi gaya larinya kayak atlet nasional.”
“Kamu juga tidak kalah dramatis.”
“Kita masuk gang buntu, Pak! Itu memalukan banget!”
Kenzy menatapnya.
Wajah Zara merah karena tertawa.
Rambutnya sedikit berantakan.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama,
Kenzy merasa… bahagia.
Bukan karena bisnis.
Bukan karena angka.
Tapi karena momen konyol ini.
Karena gadis cerewet di depannya.
“Kalian bisa mengirimnya lewat email, kenapa harus mengejar.”
“Maaf pak tidak bisa, urgent.”
Setelah urusan tanda tangan selesai, mereka memutuskan berjalan santai.“Pak… kita barusan bikin sejarah ya.”
“Sejarah apa?”
“Sang pewaris kabur karena tanda tangan.”Zara tertawa
Kenzy tersenyum tipis.
“Jangan menceritakan kejadian hari ini ke siapa pun, oke. Rahasia kita berdua.”
Zara mengangkat tangan.
“Saya janji. Kecuali ke Kakek Jo.”
Kenzy mengangguk santai.
“Silakan.”
Mereka berjalan menyusuri jalanan Bandung.
Beli es krim.
Duduk sebentar di ayunan taman kota, sambil makan es krimnya.
Angin sejuk.
Langit mulai sore.
“Pak,” Zara berkata pelan,
“saya senang bisa kerja sama Bapak.”
Kenzy menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena Bapak nggak cuma bos galak. Bapak juga… sabar mendengarkan ocehan saya.”
Kenzy terdiam.
Lalu menjawab pelan,
“Dan kamu bukan cuma asisten cerewet.”
Zara menyeringai.
“Wah, peningkatan jabatan ya Pak.”
Kenzy menggeleng kecil, tapi matanya hangat.
Sudah lama sekali hatinya tidak terasa ringan seperti ini.
Sudah lama sekali ia tidak tertawa sampai sesak.
Dan anehnya,
Semua itu dimulai dari satu kesalahan kirim bunga.
Sore itu mereka pulang ke Jakarta dengan hati yang lebih ringan.
Di dalam mobil, Zara tertidur sebentar karena lelah.
Kenzy meliriknya.
Tersenyum kecil.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia berpikir,
Mungkin hidupnya memang perlu sedikit kekacauan bernama Zara.