Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.
Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.
Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Di atas sebuah panggung kehormatan yang dilapisi permadani bulu beruang kutub putih, berdirilah para petinggi Kerajaan Swantipura. Prabu Dirgantara, sosok raja tua dengan janggut memutih yang dikepang, bertubuh besar dan mengenakan mahkota besi yang sederhana namun memancarkan keangkuhan absolut. Di sebelahnya, berdiri sang tokoh utama yang menjadi alasan dari seluruh tragedi ini.
Pangeran Mahkota Jayantaka.
Gatotkaca menatap tajam ke arah pangeran itu dari udara. Jayantaka masih muda, mungkin sebaya dengan Arjuna di masa mudanya. Wajahnya rupawan dengan garis rahang tegas khas orang pegunungan, kulitnya putih pucat, dan matanya sebiru es abadi. Ia mengenakan zirah perak yang ditempa dengan ukiran elang, dilapisi oleh jubah tebal dari bulu serigala hitam legam. Ia tersenyum bangga, menatap kereta kencana emas Amarta dengan sorot mata penuh kemenangan dan hasrat kepemilikan.
Melihat sosok pangeran itu, dada Gatotkaca terasa seperti diremuk dari dalam. Pangeran Jayantaka bukanlah sosok pengecut yang menjijikkan seperti Lesmana Mandrakumara. Ia adalah pangeran yang sempurna, ahli waris tahta yang kuat, dan secara kasta, ia adalah pria yang paling pantas bersanding dengan Dewi Pregiwa. Kenyataan itulah yang justru menjadi racun paling menyakitkan bagi Gatotkaca. Sang senopati sadar betul bahwa di hadapan keindahan dan kedudukan sang pangeran, dirinya yang berwajah kasar, berkulit tembaga gelap, dan lahir dari rahim raksasa, tidak lebih dari sekadar bayangan buruk rupa yang harus segera disingkirkan.
"Turunkan jembatan prosesi!" titah komandan Swantipura. Sebuah karpet merah marun yang tebal digulirkan dari panggung kehormatan hingga tepat di bawah undakan pintu kereta kencana.
Gatotkaca menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara sedingin es, berusaha membekukan hatinya sendiri. Inilah saatnya. Tugas pamungkasnya telah memanggil.
Sang penjaga awan melipat sayap bajanya dan meluncur turun. Ia mendarat dengan dentuman pelan namun tegas di atas tanah bersalju, tepat di samping pintu kereta kencana. Jubah merahnya berkibar pelan. Helm bajanya telah ditutup rapat, menyembunyikan wajah dan matanya secara total dari pandangan siapa pun.
Seluruh mata dari puluhan ribu prajurit Swantipura kini tertuju padanya. Mereka telah mendengar legenda tentang mesin perang Amarta yang tak terkalahkan ini, dan melihatnya secara langsung membuat barisan kavaleri yang disiplin itu berdesir pelan menahan napas.
Namun Gatotkaca mengabaikan mereka semua. Fokusnya hanya satu. Pintu kayu jati di hadapannya.
Dengan tangan bergetar yang ia paksa untuk terlihat stabil, Gatotkaca meraih gagang pintu kereta dan membukanya perlahan.
Udara dingin seketika menyergap masuk ke dalam kabin. Di dalam sana, Dewi Pregiwa telah siap. Sang putri mengenakan kembali siger emas di kepalanya. Selimut bulunya telah disingkirkan, memperlihatkan keindahan paripurna kain dodot sutra bersulam benang emas yang membalut tubuhnya. Wajahnya telah dirias ulang oleh para emban, menyembunyikan sisa-sisa kepucatan dan mata yang sembab akibat badai tangis semalam. Ia adalah gambaran sempurna dari seorang dewi yang turun ke bumi.
Namun, saat Pregiwa menatap sosok Gatotkaca yang berdiri kaku di balik pintu, pertahanan pualamnya nyaris hancur kembali.
Pria itu menyembunyikan wajahnya di balik pelat baja. Ia menolak menatap Pregiwa. Gatotkaca mengangkat tangan kanannya, menyodorkan telapak tangan berlapis sarung tangan bajanya, bukan untuk sebuah pelukan, melainkan sebagai tumpuan formal untuk membantu sang putri turun dari kereta.
"Waktunya telah tiba, Tuan Putri," suara Gatotkaca menggema berat dari balik helmnya, terdengar begitu asing, begitu jauh, dan begitu mati. "Kerajaan Swantipura telah menanti kehadiran ratu mereka. Silakan... silakan turun."
Kalimat itu adalah belati tak kasat mata yang ditusukkan tepat ke ulu hati Pregiwa. Napas sang putri tercekat. Ia menatap telapak tangan baja yang terulur itu. Tangan yang semalam membelai pipinya, tangan yang memberikan hawa panas kehidupan saat ia nyaris membeku, kini kembali menjadi tangan seorang pelayan keraton yang sedang menunaikan tugasnya.
Dengan gerakan lambat yang dipenuhi oleh penyiksaan batin, Pregiwa mengangkat tangannya. Ujung jemari mungilnya yang dihiasi cincin berlian perlahan menyentuh permukaan sarung tangan baja Gatotkaca.
Saat sentuhan itu terjadi, meskipun terhalang oleh logam tebal, keduanya seolah tersengat oleh aliran listrik keputusasaan. Gatotkaca mengeraskan rahangnya hingga giginya nyaris retak, menahan dorongan gila untuk menarik wanita itu ke dalam pelukannya dan menerbangkannya jauh dari tempat terkutuk ini. Pregiwa meremas ujung jari baja itu, sebuah permohonan bisu terakhir, namun Gatotkaca memalingkan wajahnya ke arah panggung kehormatan. Ia meneguhkan hatinya, menjadi algojo bagi perasaannya sendiri.
Pregiwa melangkah menuruni undakan kereta. Rumbai-rumbai emas dari pakaian kebesarannya berdesir pelan, menyapu lapisan salju tipis di atas karpet merah.
Sorak-sorai menggelegar dari puluhan ribu prajurit Swantipura saat mereka melihat calon permaisuri mereka untuk pertama kalinya. Kecantikan Pregiwa yang tak tertandingi di seluruh dataran Jawadwipa terbukti bukanlah sekadar isapan jempol belaka. Prabu Dirgantara mengangguk puas, sementara Pangeran Jayantaka tersenyum semakin lebar, matanya tak berkedip menatap hadiah terindah yang pernah dikirimkan oleh para dewa kepadanya.
Gatotkaca melangkah maju, masih menggandeng sebelah tangan Pregiwa secara formal, menuntunnya menyeberangi karpet merah menuju panggung kehormatan.
Setiap langkah yang mereka ambil terasa lebih berat dari memikul Gunung Mahameru. Diiringi oleh tabuhan genderang kebesaran yang memekakkan telinga, mereka berjalan berdampingan untuk terakhir kalinya. Di mata dunia, itu adalah pemandangan yang sangat epik: seorang putri yang teramat cantik dan rapuh, dikawal secara langsung oleh panglima perang paling mengerikan di zamannya untuk diserahkan kepada sekutu yang perkasa. Namun di dalam hati keduanya, karpet merah itu tak ubahnya seperti lautan lahar Candradimuka yang sedang mereka seberangi tanpa alas kaki.
Mereka tiba di dasar undakan panggung kehormatan.
Pangeran Jayantaka melangkah turun dua anak tangga, merentangkan kedua tangannya dengan sikap elegan yang dipenuhi rasa percaya diri yang tinggi. Ia mengenakan senyum paling menawan yang bisa ditunjukkan oleh seorang calon raja.
"Selamat datang di Swantipura, Dewi Pregiwa yang termasyhur," sapa Jayantaka dengan suara yang lantang dan jernih, mengalahkan suara angin gunung. "Kecantikanmu di luar imajinasi terliarku. Badai salju paling mematikan pun pasti akan tunduk di hadapan pesonamu."
Pangeran itu kemudian menatap Gatotkaca, sorot matanya mengandung campuran rasa hormat namun tetap mempertahankan superioritasnya sebagai calon raja. "Dan terima kasih yang tak terhingga kepada Amarta, yang telah mengutus ksatria terbaiknya, Senopati Gatotkaca, untuk mengawal masa depanku melintasi bahaya."
Ini dia. Momen kehancuran mutlak itu akhirnya datang.
Gatotkaca harus melepaskan genggaman tangannya. Ia harus menarik tangannya mundur, dan membiarkan Pangeran Jayantaka mengambil alih.
Waktu benar-benar berhenti berdetak di dalam dada sang raksasa. Tangan bajanya terasa berat, enggan membuka cengkeramannya dari jemari lentik Pregiwa. Ia bisa merasakan getaran hebat dari tangan sang putri, sebuah kepanikan bisu yang menjerit meminta diselamatkan.
*Lepaskan,* teriak akal sehat Gatotkaca di dalam kepalanya yang berdengung. *Lepaskan dia, demi Amarta. Lepaskan dia, demi ayahandamu, Bima. Lepaskan dia, demi pamanmu, Arjuna. Tugasmu sudah selesai, bidak catur yang tak berguna! Lepaskan!*
Dengan mengerahkan seluruh sisa-sisa prana dan kewarasan yang ia miliki, Gatotkaca memutar pergelangan tangannya. Perlahan, dengan penyiksaan psikologis yang jauh melampaui rasa sakit saat tubuhnya direbus di kawah neraka, ia melepaskan jemari Pregiwa.
Genggaman itu terputus. Kehangatan itu hilang untuk selamanya.
Gatotkaca menarik tangannya mundur, melipatnya di belakang punggung agar tidak ada yang melihat betapa hebatnya tangan baja itu kini bergetar. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengambil satu langkah mundur yang definitif, menyerahkan tempatnya kepada Pangeran Jayantaka.
Pangeran berselubung bulu serigala itu segera mengulurkan tangannya, dan tanpa ragu mengambil alih tangan Dewi Pregiwa. Ia menggenggamnya erat, lalu menuntun sang putri menaiki sisa undakan panggung kehormatan.
Saat Pregiwa berdiri di sisi pangeran asing itu, ia memutar wajahnya perlahan, menatap ke bawah undakan. Matanya yang teduh dan penuh keputusasaan mencari-cari sosok raksasa di balik helm bajanya. Ia menatap Gatotkaca, dan dari balik celah visor pelat baja yang gelap gulita itu, Gatotkaca menatapnya kembali.
Dalam sepersekian detik pandangan yang saling beradu di antara riuh redam sorak-sorai puluhan ribu prajurit itu, sebuah perpisahan bisu diucapkan.
*Selamat tinggal, sangkar emasku,* isak batin Pregiwa.
*Selamat tinggal, sepotong jiwaku yang hilang,* balas batin Gatotkaca.
Gatotkaca menundukkan tubuh besarnya, memberikan penghormatan serendah mungkin kepada ratu baru Swantipura. Saat ia mengangkat kepalanya kembali, ia tidak menunggu hingga Prabu Dirgantara menyampaikan pidato sambutannya. Ia membalikkan badan, menyibak jubah merah darahnya dengan kasar.
Tanpa sepatah kata pun, sang Senopati Pringgandani menghentakkan kakinya ke bumi yang bersalju, melesat menembus langit kelabu Swantipura. Ia terbang menjauh dengan kecepatan penuh, membelah badai yang baru, melarikan diri dari tempat di mana hatinya telah dipenggal dan dikubur hidup-hidup, kembali ke kehampaan udara yang sepi, menyisakan Dewi Pregiwa yang berdiri kaku di atas panggung, menatap bayangan hitam yang menghilang itu hingga matanya menjadi buta oleh air mata yang membeku.