Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Di Bawah Langit Mendung
Malam itu, hujan turun lagi.
Ardi tidak tahu sejak jam berapa. Yang ia tahu, setelah Maya naik ke kamar, ia duduk di ruang keluarga, menatap jendela basah, mendengar air jatuh dari talang ke talang—suara konstan, membosankan, tapi anehnya menenangkan.
Pukul sembilan, ia naik ke lantai dua. Lorong hanya diterangi satu lampu di ujung dekat tangga. Pintu kamar Maya tertutup. Tak ada cahaya dari celah bawah.
Ia berjalan ke kamar tamu, duduk di tepi tempat tidur yang keras. Ponsel bergetar—pesan dari nomor tak dikenal. Tentang rekaman. Tentang ancaman. Tentang uang. Ia membaca, lalu menghapus.
Pukul sepuluh, ia masih terjaga.
Pukul sebelas, ia berdiri, berjalan ke kamar Maya.
Pintu tidak terkunci.
Ia membukanya pelan. Maya duduk di tepi ranjang, menghadap jendela, punggungnya membelakangi pintu. Lampu kamar mati. Hanya cahaya dari luar yang masuk lewat celah tirai, menciptakan bayangan samar di dinding.
"Maya."
Ia tidak menoleh. "Aku tahu kamu akan datang."
Ardi masuk, menutup pintu di belakangnya. Langkahnya pelan di atas karpet, menuju ranjang, duduk di samping Maya. Jarak satu lengan.
"Kamu tidak bisa tidur?"
"Tidak."
Di luar, hujan semakin deras.
Maya berbicara tanpa menoleh. "Aku sudah memikirkan apa yang kamu katakan sore ini. Tentang janji. Tentang… kita."
Ardi menunggu.
"Aku tidak tahu apakah aku masih percaya." Suaranya datar. "Tapi aku juga tidak tahu harus ke mana."
Ardi meraih tangannya. Dingin. Maya tidak melepaskan, tapi juga tidak membalas.
"Aku tidak akan memintamu percaya," kata Ardi. "Aku hanya akan berusaha."
Maya menoleh. Di bawah cahaya redup, wajahnya pucat. Matanya basah, tapi tidak menangis.
"Kenapa kau tidak tinggal dengan Sari? Dia lebih mudah. Dia tidak membawa masalah."
"Karena aku tidak mencintainya."
"Dan kau mencintaiku?"
Ardi menatap Maya. "Aku tidak tahu apakah ini cinta. Tapi aku tidak bisa hidup tanpamu."
Maya tersenyum pahit. "Itu bukan cinta. Itu ketergantungan."
"Mungkin." Ardi mendekat. "Tapi aku tidak peduli."
Ia mencondongkan tubuh, meluapkan seluruh kemarahan dan kerinduan yang selama ini ia pendam dalam satu tindakan impulsif yang menghancurkan jarak di antara mereka. Ruangan itu terasa mendadak sesak oleh ego yang bertabrakan. Maya terkejut sebentar, lalu membalas dengan intensitas yang sama. Jari-jemari mencengkeram kerah kemeja Ardi, menariknya lebih dekat.
Mereka kehilangan keseimbangan.
Di luar, hujan semakin deras. Air mengalir di kaca, menutupi suara apa pun yang tidak seharusnya ada.
Ardi menatap langit-langit yang gelap, merasakan beban di dadanya semakin berat. Di sampingnya, Maya membeku dalam keheningan yang menyakitkan. Suara hujan di luar terasa seperti hakim yang sedang membacakan vonis. Ada jarak kecil di antara mereka—tidak cukup untuk memisahkan, cukup untuk membuat ketidaknyamanan.
Tangannya di punggung Maya. Jari-jari bergerak tanpa sadar.
"Ini tidak menyelesaikan apa pun." Suara Maya datar.
"Aku tahu."
"Tapi aku tidak tahu bagaimana berhenti."
Ardi menutup mata. Kata-kata Maya menggemakan sesuatu yang selama ini ia hindari. Ini bukan tentang pilihan. Ia sudah terlalu dalam untuk sekadar keluar.
"Ini cuma sementara." Bahkan ia sendiri tidak percaya.
Maya mengangkat kepala, menatap Ardi. Matanya basah. "Kita ini apa?"
"Aku tidak tahu."
Ia tidak bisa menjawab. Jawabannya terlalu berat untuk diucapkan. Terlalu final untuk diakui di titik ini.
Maya meletakkan kepala kembali—kali ini dengan jarak yang sama. Mereka berbaring seperti itu, dalam keheningan yang tidak lagi nyaman. Tak ada yang berani bergerak.
Di luar, hujan masih turun.
Pukul setengah satu, Maya berbicara lagi.
"Kita harus memastikan tidak ada yang tahu." Suaranya pelan, seperti bisikan. "Atau kita membuat semua tahu."
Ardi menatapnya. "Apa maksudmu?"
"Maksudku, kita tidak bisa terus begini. Di tengah. Tidak jelas. Sembunyi-sembunyi." Maya duduk, menarik selimut, menatap Ardi dengan mata jujur. "Kita harus memilih. Sembunyikan ini lebih rapat, atau biarkan semua orang tahu. Tidak ada jalan tengah."
Ardi duduk, membelakangi Maya, menatap jendela yang gelap. "Kau mau semua orang tahu?"
"Aku tidak mau. Tapi aku juga tidak mau terus bersembunyi." Suaranya bergetar. "Setiap hari aku takut. Takut Yuni merekam kita. Takut Bram pulang lebih awal. Takut Sari datang tanpa kabar. Aku lelah."
Ardi berbalik, meraih kedua tangan Maya. "Aku akan bicara dengan Bram. Minggu ini. Aku janji."
"Janji yang sama seperti kemarin."
"Kali ini sungguhan."
Maya menatapnya lama. Di matanya tak ada harapan—hanya kelelahan. Tapi ia mengangguk. "Baik. Aku percaya. Kali ini."
Ardi menarik Maya ke dalam pelukan. Tubuhnya dingin, tapi tidak lagi gemetar.
"Aku takut," bisik Maya.
"Aku juga."
"Apa yang akan terjadi kalau Bram tahu?"
Ardi tidak menjawab. Ia tidak tahu jawabannya.
Maya melepaskan pelukan, berbaring kembali, menarik selimut hingga dagu. "Tidur. Besok kamu harus kerja."
Ardi berbaring di sampingnya, menjaga jarak. Mereka tidak saling memeluk. Tidak saling menyentuh. Hanya berbaring berdua di ranjang yang sama, dalam keheningan yang penuh.
Pukul dua, Ardi masih terjaga.
Di sampingnya, Maya sudah tertidur. Napasnya teratur. Wajahnya tenang—bebas dari kerutan, bebas dari kegelisahan setidaknya untuk beberapa jam.
Ponsel bergetar di meja samping. Ardi mengambilnya, mengecilkan kecerahan layar.
Pesan dari nomor tak dikenal: Mas Ardi, besok batas waktu. Saya tunggu transfernya. Kalau tidak, rekaman akan sampai ke Pak Bram sebelum jam 12 siang.
Ardi membaca sekali, lalu menghapus.
Ia mematikan ponsel, meletakkannya kembali.
Di luar, hujan reda. Langit masih gelap. Tak ada bintang.
Pagi datang dengan langit kelabu.
Ardi bangun lebih dulu. Maya masih tidur—rambut berantakan di atas bantal, napas teratur. Ia menatap wajah itu sebentar. Tenang. Bebas dari kegelisahan, setidaknya untuk beberapa jam.
Ia turun dari ranjang, berjalan ke kamar mandi. Air dingin membasahi wajah. Di cermin, bayangannya sendiri masih asing. Mata sembab. Dagu kasar. Lingkaran hitam di bawah mata.
Bekas semalam masih terasa. Bukan hanya di tubuh—tapi di hati. Rasa yang tidak kunjung pergi. Yang justru semakin dalam setiap kali ia memilih Maya.
Ia berpakaian rapi. Kemeja putih. Dasi biru tua. Jas hitam. Wajah CEO. Tapi matanya tidak bisa berbohong.
Di meja makan, Yuni sudah menyiapkan sarapan. Maya belum turun. Ardi duduk, mengambil cangkir kopi, menyesap. Pahit.
Ponsel bergetar. Pesan dari Maya, dikirim dari kamar: Kamu pergi tanpa pamit?
Ardi mengetik: Kamu masih tidur. Aku tidak mau bangunin.
Hati-hati di jalan. Dan Ardi—
Ya?
Jangan lupa janjimu.
Ardi menatap layar. Jari di atas kolom balasan.
Aku tidak akan lupa.
Ia mematikan ponsel, meminum kopinya sampai habis, lalu berdiri. Di pintu, ia berhenti, menatap tangga yang mengarah ke lantai dua. Tak ada suara.
Ia keluar, menyalakan mobil, melaju ke kantor.
Di setiap lampu merah, pikirannya melayang ke Maya, ke Sari, ke Bram, ke rekaman yang akan tersebar jika ia tidak mentransfer uang.
Ia tidak tahu harus memilih apa.
Tapi ia tahu—cepat atau lambat, semua rahasia akan terbuka.
Dan ketika itu terjadi, ia harus siap kehilangan semuanya.