NovelToon NovelToon
Suami Untuk Istri Ayahku

Suami Untuk Istri Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Andra Secret love

Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: PAGI YANG MEMBEKU

Ardi tidak tidur.

Sepanjang malam dia berguling di tempat tidur yang keras, matanya terbuka lebar menatap langit-langit yang gelap. Ponselnya tergeletak di dada, layarnya sudah mati sejak jam dua, tapi pesan ancaman itu masih terpampang jelas di kepalanya.

Yuni tidak bekerja sendirian. Ada yang menyuruhnya merekam.

Dia memutar ulang setiap interaksi dengan Yuni dalam ingatannya. Yuni datang sekitar tiga minggu setelah Bu Tuti dipecat. Perempuan muda, sekitar tiga puluh tahun, pendiam, jarang bicara, tidak pernah bertanya. Ardi tidak pernah curiga. Dia pikir semua ART di rumah ini sama—datang, bekerja, pulang, tidak peduli dengan kehidupan majikannya.

Ternyata dia salah.

Jam menunjukkan pukul setengah enam ketika Ardi akhirnya bangun. Udara pagi dingin menusuk tulang, tapi dia tidak merasa. Dia berjalan ke kamar mandi, menyalakan keran, membiarkan air dingin membasahi wajahnya. Di cermin, wajahnya pucat, mata merah, ada lingkaran hitam di bawah matanya yang tidak bisa dia sembunyikan.

Dia menatap bayangannya sendiri, mencoba menemukan sisa-sisa Ardi yang dulu—CEO muda yang percaya diri, anak tunggal pewaris kerajaan bisnis, pria yang punya segalanya.

Yang tersisa hanya kelelahan.

Ketika Ardi turun ke lantai bawah, jam menunjukkan pukul setengah tujuh.

Bau kopi sudah tercium dari dapur, tapi suasana di ruang makan berbeda dari biasanya. Tidak ada suara sendok yang sibuk mengaduk gula, tidak ada tawa kecil Maya ketika membaca berita di ponselnya. Yang ada hanya keheningan yang pekat, seperti udara sebelum badai.

Bram sudah duduk di meja makan.

Dia mengenakan kemeja putih lengan panjang, rapi seperti biasa, tapi ada yang berbeda. Wajahnya lebih pucat dari kemarin, garis-garis di keningnya lebih dalam, dan matanya—matanya kosong, menatap cangkir kopi di hadapannya tanpa fokus.

Di seberang Bram, kursi Maya kosong.

Ardi berdiri di ambang ruang makan, ragu. Biasanya, dia akan duduk di samping Maya, atau di seberang Bram, tergantung siapa yang lebih dulu sampai. Sekarang, tidak ada posisi yang terasa aman. Di samping Maya berarti memilih Maya. Di seberang Bram berarti menghadap ayahnya langsung. Di samping Bram? Itu tidak masuk akal.

Bram mendongak, menatap Ardi. “Duduk.”

Ardi memilih kursi di samping Bram. Bukan karena berani, tapi karena itu yang paling dekat dengan pintu keluar.

Bu Lastri muncul dari dapur dengan membawa nampan berisi nasi, lauk, dan sepiring buah. Dia meletakkannya di meja dengan gerakan cekatan, tanpa banyak suara. Ardi melihat Bu Lastri menatapnya sekilas—tatapan cepat, penuh arti—sebelum kembali ke dapur.

“Maya belum turun?” tanya Ardi.

Bram tidak menjawab. Dia mengambil ponselnya dari meja, membuka sesuatu, lalu meletakkannya di hadapan Ardi.

Layar ponsel Bram menampilkan artikel dari portal berita online. Judulnya tebal, dicetak hitam:

“SKANDAL KELUARGA HARTONO: DIREKTUR UTAMA HARTONO GROUP TERLIBAT HUBUNGAN TERLARANG DENGAN IBU TIRI?”

Ardi membaca judul itu sekali, lalu dua kali. Jantungnya berdetak cepat, dadanya sesak, dan untuk sesaat dia tidak bisa bernapas.

“Ini baru terbit jam enam pagi,” kata Bram. Suaranya datar, seperti sedang membacakan laporan keuangan. “Tiga portal berita lain sudah menghubungi tim PR. Media sosial sudah mulai ramai. Dan investor dari Singapura—yang seharusnya tandatangan kontrak minggu depan—membatalkan pertemuan.”

Ardi meletakkan ponsel itu perlahan, seperti benda itu bisa meledak kapan saja. “Aku—”

“Jangan bilang maaf.” Bram memotong, suaranya masih datar. “Maaf tidak akan mengembalikan reputasi perusahaan. Maaf tidak akan membuat investor percaya lagi. Maaf tidak akan menghentikan orang-orang dari membicarakan keluarga kita.”

Dia mengambil cangkir kopinya, menyesap pelan, lalu meletakkannya kembali dengan gerakan yang terlalu terkontrol.

“Dewan komisaris minta kita rapat jam sepuluh,” lanjut Bram. “Mereka minta kamu mundur dari jabatan direktur utama. Untuk sementara, katanya. Sampai skandal ini reda.”

Ardi merasakan dadanya semakin sesak. “Apa kau setuju?”

Bram menatap Ardi. Untuk pertama kalinya pagi ini, matanya tidak kosong. Ada sesuatu di sana—bukan marah, bukan kecewa. Tapi sesuatu yang lebih rumit. Sesuatu yang terlihat seperti rasa sakit yang sudah terlalu lama dipendam.

“Aku mendirikan perusahaan ini dari nol,” kata Bram pelan. “Sebelum kau lahir, sebelum ibumu datang, sebelum semua ini. Aku membangunnya dengan keringat, dengan waktu yang seharusnya aku habiskan untuk keluargaku. Aku pikir kalau aku kasih kau perusahaan ini, kau akan tahu aku sayang. Ternyata aku salah.”

“Ayah—”

“Aku selalu salah dalam mengasuh kau.” Bram menatap cangkir kopinya, bukan Ardi. “Aku pikir dengan kerja keras, dengan uang, dengan memberi kau semua yang kau mau—itu cukup. Tapi kau butuh lebih. Kau butuh perhatian. Kau butuh kasih sayang. Dan aku tidak bisa memberikannya.”

Ardi menunduk. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang panas dan ingin keluar, tapi dia menahannya.

“Dan ketika kau tidak mendapatkannya dari aku, kau mencarinya di tempat lain.” Suara Bram bergetar sedikit. “Dan kau mencarinya di Maya. Istriku. Perempuan yang seharusnya jadi ibu tirimu.”

“Aku tahu ini salah.”

“Kau tahu ini salah, tapi kau tetap melakukannya.” Bram menghela napas panjang. “Itu yang paling menyakitkan, Ardi. Bukan karena kau salah. Tapi karena kau tahu, dan kau memilih untuk tetap melakukannya.”

Mereka diam. Di dapur, Bu Lastri menggerakkan peralatan masak dengan suara pelan, sengaja menciptakan kebisingan agar tidak terdengar terlalu sunyi.

“Aku akan mundur,” kata Ardi akhirnya. “Dari perusahaan. Dari jabatan. Dari—semuanya. Kalau itu yang ayah mau.”

Bram menggeleng pelan. “Bukan itu yang aku mau. Yang aku mau—yang aku mau tidak bisa kembali.”

Dia berdiri, mendorong kursinya perlahan. Di ambang pintu ruang makan, dia berhenti.

“Maya belum turun. Kau lihat dia. Bicaralah.” Bram menatap Ardi dengan mata yang sulit dibaca. “Tapi ingat, Ardi. Rumah ini masih rumah aku. Aturan aku masih berlaku. Sampai ada keputusan, kau tidur di kamar tamu. Dan kau tidak boleh masuk ke kamar Maya.”

Dia pergi, meninggalkan Ardi sendirian di meja makan dengan makanan yang tidak tersentuh.

Ardi tidak pergi ke kamar Maya.

Dia berdiri di lorong lantai dua, di depan pintu kamar Maya, dengan tangan terangkat ingin mengetuk. Tapi tangannya tidak bergerak. Dia membayangkan Maya di balik pintu itu—mungkin masih tidur, mungkin sudah bangun dan membaca artikel yang sama yang Bram tunjukkan, mungkin menangis sendirian seperti yang selalu dia lakukan ketika semuanya terasa berat.

Dia menurunkan tangan, berjalan ke kamar tamu.

Di kamar tamu, ponselnya bergetar. Lima pesan belum dibaca dari grup kantor, dua panggilan tidak terjawab dari nomor tidak dikenal, dan satu pesan dari Sari.

Ardi membuka pesan Sari dengan jari gemetar.

Sari: Aku bilang aku nggak akan lapor ke Bram. Tapi aku nggak bilang aku nggak akan bicara ke media. Selamat, Ardi. Sekarang semua orang tahu siapa kalian.

Ardi membaca pesan itu, lalu membacanya sekali lagi. Tangannya gemetar, dadanya sesak, dan untuk sesaat dia tidak bisa berpikir.

Jari-jarinya mengetik cepat: Kamu yang kirim ke media?

Balasan Sari datang cepat: Bukan. Aku cuma bilang ke temanku yang kerja di media. Ternyata dia lebih cepat dari yang aku kira. Dan aku nggak menyesal.

Ardi membanting ponsel ke tempat tidur. Di luar, matahari sudah terbit, tapi sinarnya tidak hangat. Rumah besar itu terasa seperti penjara, dan semua pintu yang dulu terbuka sekarang tertutup rapat.

Pukul setengah delapan, Maya akhirnya turun.

Ardi sedang duduk di ruang keluarga ketika mendengar langkah kaki di tangga. Dia menoleh, dan Maya muncul di anak tangga terakhir. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya diberi bedak tipis, bibirnya dioles lipstik merah muda pucat. Dia mengenakan blus putih dan rok panjang abu-abu—pakaian yang biasa dia pakai ketika ada acara formal.

Seperti tidak ada yang terjadi.

Tapi matanya—matanya berbeda. Bukan kosong seperti semalam, tapi ada sesuatu yang lebih tajam di sana. Sesuatu yang membuat Ardi tidak bisa membaca apa yang dia pikirkan.

Maya berjalan ke ruang keluarga, berdiri di depan Ardi. “Bram sudah pergi?”

“Ke kantor. Rapat dengan dewan komisaris.”

Maya mengangguk. “Aku sudah baca beritanya.”

Ardi berdiri, berdiri di depan Maya. “Sari mengaku dia yang bocorin ke media. Tapi dia bilang bukan dia yang—dia hanya cerita ke temannya.”

Maya tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke matanya. “Jadi Sari balas dendam. Pantas.”

“Kau tidak marah?”

“Marah?” Maya tertawa kecil, pahit. “Apa gunanya marah? Kita yang salah. Kita yang memulai. Kita yang menghancurkan hidupnya. Dia hanya membalas.”

Ardi meraih tangan Maya, menggenggam erat. Jari-jari Maya dingin, seperti es. “Kita akan melewati ini.”

Maya menatap tangan mereka yang bertaut, lalu melepaskannya perlahan. “Ardi, aku sudah memikirkan semuanya semalam.”

“Memikirkan apa?”

“Tentang kita.” Maya berjalan ke jendela, membuka tirai lebar-lebar. Di luar, sinar matahari menyinari taman yang masih basah oleh hujan semalam. Daun-daun berguguran, berserakan di rumput. “Aku bilang aku takut sendirian. Dan itu benar. Tapi aku juga sadar sesuatu.”

“Apa?”

Maya berbalik, menatap Ardi. Di matanya, tidak ada ketakutan. Tidak ada kebingungan. Yang ada hanya kejelasan yang membuat Ardi takut.

“Aku tidak tahu apakah aku mencintaimu, atau aku hanya mencintai perasaan tidak sendirian.”

Ardi terdiam. Kata-kata Maya menusuk, menusuk di tempat yang paling dalam.

“Kita menghancurkan banyak orang, Ardi. Sari, Bram, perusahaan, nama keluarga. Dan untuk apa? Untuk perasaan yang bahkan aku sendiri tidak yakin?”

“Kau bilang semalam—kau bilang kau sudah memilih—”

“Aku bilang aku takut sendirian.” Suara Maya naik sedikit, lalu cepat-cepat diturunkan. “Itu bukan cinta, Ardi. Itu ketakutan.”

Ardi mendekat, berdiri di depan Maya. “Jadi sekarang? Kau mau berhenti?”

Maya diam lama. Di luar, burung-burung mulai berkicau, tidak peduli dengan kehancuran di dalam rumah.

“Aku tidak tahu,” katanya akhirnya. “Aku terlalu lelah untuk memikirkan itu. Tapi yang aku tahu, kita tidak bisa terus begini. Bersembunyi, berbohong, menghancurkan orang-orang di sekitar kita.”

Ardi merasakan ada yang runtuh di dadanya. “Apa kau—apa kau mau kembali ke Bram?”

Maya tersenyum pahit. “Bram? Dia tidak akan pernah mau aku kembali. Dan aku tidak pantas kembali.”

“Lalu?”

Maya tidak menjawab. Dia berjalan ke pintu, mengambil tasnya yang tergantung di dekat rak sepatu. “Aku keluar sebentar. Butuh udara.”

“Maya—”

“Aku janji akan kembali.” Dia membuka pintu, menatap Ardi sekali lagi. “Tapi kita perlu bicara. Bicara serius. Tentang apa yang akan kita lakukan setelah ini.”

Pintu tertutup, meninggalkan Ardi sendirian di ruang keluarga.

Ardi berdiri di tengah ruangan, tidak tahu harus pergi ke mana. Ponselnya bergetar di saku—mungkin pesan dari kantor, mungkin dari Sari, mungkin dari nomor tidak dikenal yang meminta uang tebusan.

Tapi dia tidak membacanya.

Dia hanya berdiri, menatap pintu yang baru saja ditutup Maya, dan untuk pertama kalinya pagi ini, dia bertanya pada dirinya sendiri: apa yang akan dia lakukan kalau Maya memilih pergi?

Dan jawabannya—jawabannya kosong. Seperti ruang keluarga ini. Seperti rumah ini. Seperti hidupnya tanpa Maya.

Tapi apakah itu cinta, atau hanya ketakutan akan kesepian?

Dia tidak tahu.

Dan itu mungkin hal yang paling menakutkan.

1
Ida nyoman Subagia
🙏
Ida nyoman Subagia
👍👍
Ida nyoman Subagia
😍😍
andra
oke ,apa ada yang berani seperrti ardi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!