Kisah seorang ilmuan gila yang melawan pemerintah dunia yang dzalim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Michael Jack, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jack to Indonesia
Jack dan Jihan pun keluar untuk mencari makanan.
"e-anu... Jack, apakah setelah ini kau akan kembali?" tanya Jihan.
"Ya, mungkin saja, setelah teman-teman saya telah pulih," jawab Jack.
"Jack, kau tidak boleh pulang!" ucap Phoenix Ungu dengan tegas.
"Kenapa?" tanya Jack.
"Lebih baik kau pergi ke wilayah Asia Tenggara, tepatnya di Indonesia, untuk berevolusi ke tahap kedua kekuatan Phoenix," jawab Phoenix Ungu.
Mendengar hal itu, mata Jack langsung terbelalak dengan senyum lebar di wajahnya. Jihan yang melihat reaksi itu pun merasa kebingungan.
"Anu... Jack, ada apa?" tanyanya.
"Ah, tidak apa-apa. Oh iya, besok kemungkinan saya akan pergi ke belahan dunia yang lain," jawab Jack.
"Untuk apa?!" tanya Jihan dengan ekspresi sedikit cemburu.
"Untuk membangkitkan kekuatan Phoenix Ungu tahap kedua," jawab Jack dengan wajah penuh semangat.
Mereka pun kembali ke hutan roh setelah membeli beberapa makanan.
"Teman-teman, ayo makan!" ajak Jack kepada Vickery dan yang lainnya.
Vickery dan yang lain pun menghentikan tapa mereka dan makan bersama. Di sana mereka dipenuhi dengan canda tawa. Semuanya terlihat sudah sangat akrab, termasuk Jack yang baru pertama kali melihat Jihan tertawa dengan begitu bebas. Hatinya terasa seperti ditetesi embun pagi yang menyejukkan jiwa. Begitu pula dengan Jihan yang merasa bahagia karena akhirnya bisa bercanda bersama Jack.
Keesokan harinya, Vickery dan yang lainnya telah pulih sepenuhnya. Jack kemudian meminta mereka untuk kembali ke markas besar dan melanjutkan invasi ke seluruh wilayah Eropa. Sementara itu, Jack bersiap-siap untuk berangkat menuju Indonesia.
"Anu... Jack," ucap Jihan memanggil Jack.
"Ya Jihan, ada apa?" tanya Jack.
"Anu... berhati-hati ya," jawab Jihan dengan wajah yang memerah karena tersipu malu.
Jack kebingungan melihat Jihan. Ia pun memegang wajah Jihan dengan lembut. "Jihan, kau tidak apa-apa?"
Jihan pun seketika mundur beberapa langkah karena terkejut. Ia tidak mampu berkata-kata.
Jack yang melihat itu menjadi semakin bingung. "Tidak biasanya dia seperti ini... apakah dia membenci saya?"
Jack kemudian berpamitan dengan Jihan dan memulai perjalanannya. Jihan menatap Jack dari bawah dengan hati yang terasa sakit namun juga dipenuhi kebahagiaan.
Jack sendiri merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Ia merasa bahwa Jihan tidak menyukainya. Hal itu karena kejadian tadi ketika Jihan menjauh darinya. Ia menganggap bahwa respon tersebut adalah tanda kebencian terhadap dirinya.
Ia terus memikirkan hal itu hingga melamun dan tidak sadar bahwa dirinya sedang terbang di wilayah thunderstorm, yaitu badai petir yang sangat berbahaya.
"Hey Jack!!! Kau sudah gila ya?! Sadar!!!" ucap Phoenix Ungu yang membuat Jack tersadar dari lamunannya.
Namun ketika Jack baru saja tersadar, tiba-tiba petir menyambar tubuhnya hingga membuatnya terjatuh di Pulau Kalimantan, Indonesia. Ia pun langsung tak sadarkan diri dan Phoenix Ungu menghilang dari tubuh Jack.
Beberapa hari kemudian, Jack akhirnya sadar dan mendapati dirinya tengah terbaring di dalam sebuah gubuk kecil. Di luar gubuk itu ada seorang pria dewasa yang sedang memakan daging hasil buruannya.
Jack pun keluar dari gubuk dan bertanya kepada pria tersebut. "Hai tuan, siapa Anda?"
Pria itu tersenyum tipis. "Sudah sadar ya. Perkenalkan, namaku Zidan."
Jack melangkah keluar dan berdiri di samping Zidan. "Tuan Zidan, di mana saya sekarang?"
"Kamu saat ini berada di Indonesia, tepatnya di Kalimantan," jawab Zidan.
Jack mengangguk. "Begitu ya, lal..."
"Ssst... sudahlah. Kau pasti lapar setelah tak sadarkan diri selama empat belas hari. Nih makan," ucap Zidan memotong kalimat Jack sambil memberikan daging yang baru saja matang.
Jack pun duduk dan menyantap daging yang diberikan kepadanya.
Saat mereka sedang makan, Zidan tiba-tiba mendengar suara dari dalam hutan. Seketika Zidan berdiri dan mengambil posisi bersiap. Jack yang melihat hal itu ikut waspada. Ia segera menghunuskan pedangnya dan mengambil posisi bertarung.
Tiba-tiba muncul seekor pholidota raksasa, yaitu trenggiling raksasa, yang menggelinding ke arah mereka.
Jack pun terkejut dan berlari ketakutan. "Sangat tidak logis! Hewan apa itu sialan?!"
Zidan berdiri tegak dengan kedua telapak tangan menempel di depan dadanya sambil membaca mantra.
"Di-antara laoeatan dan daratan,
di-antara langit dan boemi,
di-antara kehidoepan dan kematian—
matilah!!!"
Zidan lalu mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah trenggiling tersebut.
"MATILAH!!!"
Seketika trenggiling itu pun mati karena organ dalamnya meledak secara tiba-tiba.
"Hah... syukurlah. Saya kira saya akan mati hari ini," ucap Jack sambil bersandar pada sebuah batu besar.
"Hahaha, kau sudah terbiasa melawan pemerintah dunia yang mengerikan, tapi kenapa hanya melawan trenggiling saja kau takut?" tanya Zidan dengan nada mengejek.
"Nuansa hutan di sini terasa seperti zaman mesozoikum, jadi sangat mendukung aura hewan buasnya," jawab Jack.
Jack kemudian menyadari ada sesuatu yang aneh. Ia segera bangkit dari duduknya.
"Bagaimana Anda tahu saya melawan pemerintah dunia?!" tanya Jack dengan serius.
Zidan tertawa kecil. "Hahaha, siapa sih yang tidak tahu siapa itu Jack the Undead? Beritanya yang berkali-kali dieksekusi hingga membuat organisasi revolusi besar-besaran sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia."
"Lalu? Apakah Anda akan menangkap saya dan menjual saya kepada pemerintah dunia?!" tanya Jack dengan ekspresi serius.
Zidan tersenyum santai. "Untuk apa? Asal kau tahu, Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak dijajah oleh pemerintah dunia."
"Kenapa bisa begitu?" tanya Jack sambil mulai menurunkan kewaspadaannya.
"Karena Indonesia memiliki iklim yang sangat ekstrem dan sering terjadi bencana alam yang dahsyat. Berkali-kali pemerintah dunia mengerahkan pasukannya ke sini, namun hasilnya mereka tewas bahkan sebelum sempat berperang," jawab Zidan.
"Sudahlah, lebih baik kau siapkan api. Aku akan segera membuat daging trenggiling bakar!" ucap Zidan sambil mulai memotong tubuh trenggiling raksasa itu.
Jack pun pergi menuju api unggun yang sebelumnya mereka gunakan untuk menyalakan api. Ia mencoba mengeluarkan kekuatannya untuk menyalakan api, namun kekuatannya tidak keluar sama sekali.
Jack sangat terkejut melihat hal itu. Ia mencoba berkali-kali, namun hasilnya tetap nihil.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Jack pun melihat ke dalam alam pikirannya, dan ia melihat Phoenix Ungu sedang berada dalam kondisi hibernasi atau tidur panjang.
"Sial... di saat seperti ini dia malah hibernasi."
Jack akhirnya menyalakan api dengan pistolnya. Namun suara tembakan itu sangat keras hingga membuat Zidan berdiri dan kembali mengambil posisi bersiap.
"Jack, apakah ada serangan dari hewan liar?!" tanya Zidan.
"Ah tidak, suara tadi hanya alat yang saya gunakan untuk menyalakan api. Maaf ya telah mengejutkan Anda," jawab Jack dengan senyum seperti seseorang yang tidak melakukan kesalahan apa pun.
Sementara itu, pada waktu yang sama, Vickery bersama anggota organisasi di Eropa sedang berperang di beberapa negara Eropa. Mereka membagi pasukan menjadi empat kubu.
Kubu pertama dipimpin oleh Vickery untuk menginvasi wilayah Spanyol dan Portugal.
Kubu kedua dipimpin oleh Rey untuk menginvasi wilayah Italia, Austria, dan Ceko.
Kubu ketiga dipimpin oleh Rio dan Pio untuk menginvasi wilayah Belarus, Lituania, Latvia, dan Estonia.
Dan kubu terakhir dipimpin oleh Dragon untuk menjaga wilayah utara sebagai pertahanan jika sewaktu-waktu terjadi serangan dari Britania Raya.
...Kata-kata hari ini...
...Kebahagiaan bukanlah ketika seseorang memiliki segalanya, melainkan ketika seseorang mampu bersyukur atas segala sesuatu yang telah dimilikinya....