NovelToon NovelToon
SI IMUT MAFIA

SI IMUT MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saerin853

Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.

Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.

Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.

"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."

Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Pagi itu, udara di pulau pribadi Klan Obsidian terasa jauh lebih segar dari biasanya.

Kaelan sudah bangun sejak matahari belum menampakkan diri. Ia berdiri di dapur luar ruangan, kembali mengenakan pakaian kebesarannya: celana training hitam dan kaus tanpa lengan berwarna gelap yang mengekspos tato sayap gagak di bahu kirinya. Jenggot tipisnya sudah mulai tumbuh kembali, mengembalikan aura maskulin dan berbahayanya yang sempat hilang kemarin.

Semalaman, Kaelan tidak bisa memejamkan mata. Kata-kata Anya di pantai terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

“Kalian berdua sama saja. Kalian sama-sama pria yang mempertaruhkan nyawa untuk melindungiku…”

Penerimaan gadis itu, sentuhan lembutnya di pipi Kaelan, dan senyum tulusnya telah meruntuhkan tembok pertahanan terakhir sang Ketua Mafia. Kaelan sadar, satu miliar rupiah tidak akan pernah cukup untuk mengikat preman pasar itu di sisinya. Ia harus menggunakan cara lain. Cara yang akan membuat Anya tidak ingin pergi dari sisinya, bahkan jika kontrak itu berakhir.

"Tuan Kaelan, daging wagyu A5-nya sudah di-thawing," ucap Ragas, membuyarkan lamunan Kaelan. Pelayan tua itu tersenyum penuh arti melihat tuannya sibuk meracik bumbu di pagi buta.

"Bagus. Siapkan panggangan. Dan pastikan jus jeruknya tidak terlalu manis, dia tidak suka yang terlalu manis," perintah Kaelan mutlak, mengambil pisau daging dan mulai memotong dengan presisi seorang pembunuh bayaran yang beralih profesi menjadi chef bintang lima.

Anya terbangun karena aroma yang sangat, sangat menggoda.

Bukan aroma pancake atau roti selai, melainkan aroma daging sapi panggang berbumbu bawang putih dan rosemary yang lumer di udara. Perut gadis tomboy itu seketika bergemuruh heboh. Ia melompat dari kasur, mencuci muka seadanya, dan berlari menuruni tangga masih dengan kaus oblong kebesaran dan celana pendeknya yang acak-acakan.

Langkah Anya terhenti di ambang pintu geser yang menghadap ke teras kolam renang.

Di atas meja makan kayu panjang, tersaji sebuah pesta pora. Ada dua potong steak wagyu berukuran raksasa yang masih mengepulkan asap, kentang goreng wedges keju, semangkuk besar salad, dan... Kaelan. Pria itu duduk dengan santai di ujung meja, menyesap kopi hitamnya sambil membaca tablet.

Anya mengucek matanya. "Tunggu, tunggu. Apa hari ini ulang tahunku dan aku lupa? Atau ini perjamuan terakhir sebelum kau melemparku ke laut karena kejadian kemarin?"

Kaelan mendongak. Mata elangnya menatap gadis berantakan itu dari ujung rambut hingga kaki. Sebuah senyum tipis—sangat tipis namun mematikan—terukir di sudut bibirnya.

"Duduk dan makanlah. Sebelum dagingnya dingin," titah Kaelan, nadanya rendah dan bergetar di telinga Anya.

Anya tidak perlu disuruh dua kali. Ia langsung duduk di seberang Kaelan dan memotong daging itu. Matanya membulat sempurna saat suapan pertama masuk ke mulutnya. Daging itu lumer tanpa perlu dikunyah keras.

"Astaga naga..." gumam Anya dengan mulut penuh. "Ini... ini makanan paling enak sedunia! Kaelan, serius, kau harus buka restoran. Paman Arthur pasti bangkrut kalau kau banting setir jadi pengusaha kuliner."

Kaelan hanya mendengus geli. Ia membiarkan Anya menghabiskan porsinya dengan kecepatan kilat. Ia menyukai cara Anya makan; tidak jaim, tidak memilah-milah makanan seperti Isabella yang takut gemuk, hanya menikmati setiap gigitan dengan penuh syukur.

Setelah Anya menandaskan piringnya dan bersandar kekenyangan sambil menepuk-nepuk perutnya, Kaelan meletakkan tabletnya.

Pria itu merogoh saku celananya, lalu melemparkan sebuah benda kecil berwarna perak ke atas meja. Benda itu meluncur dan berhenti tepat di depan piring Anya.

Anya mengernyitkan dahi. Ia mengambil benda itu. Sebuah kunci kendaraan dengan gantungan berbentuk tengkorak hitam.

"Kunci? Kunci apa ini? Kunci mesin cuci?" tanya Anya polos.

"Ikut aku," Kaelan bangkit, berjalan mendahului Anya menuju garasi samping vila.

Dengan rasa penasaran yang memuncak, Anya mengekor di belakang punggung lebar suaminya. Saat Kaelan menekan tombol di dinding dan pintu garasi otomatis itu terbuka perlahan, rahang Anya benar-benar jatuh ke tanah.

Di tengah garasi yang luas itu, terparkir sebuah motor trail (dirt bike) KTM custom berwarna hitam matte yang sangat gagah, beringas, dan... luar biasa keren. Di sebelahnya, tergantung sebuah jaket kulit hitam premium dan helm full-face dengan visor gelap.

Anya terdiam membeku. Matanya tak berkedip menatap monster roda dua itu. Sebagai mantan preman pasar, ia selalu bermimpi memiliki motor trail untuk menembus jalanan berlubang di kotanya, tapi uangnya selalu habis untuk membayar utang ayahnya.

"Membangun istana pasir itu kegiatan yang bodoh dan membuang waktu," suara berat Kaelan memecah keheningan. Pria itu bersandar di ambang pintu garasi, memasukkan tangannya ke saku celana. "Pulau ini punya jalur off-road sepanjang sepuluh kilometer yang membelah hutan menuju tebing utara. Kalau kau butuh hiburan, gunakan cara yang pantas."

Anya menoleh ke arah Kaelan perlahan. Matanya mulai berkaca-kaca. Bukan karena harga motor itu yang pastinya selangit, tapi karena Kaelan memperhatikannya.

Pria mafia ini tidak memberinya perhiasan berlian yang tak berguna, tidak memberinya gaun haute couture yang menyiksa, tidak memaksanya menjadi wanita anggun. Kaelan memberinya kebebasan. Kaelan memanjakannya dengan hal yang benar-benar mendefinisikan seorang Anya.

"Kaelan..." suara Anya bergetar kecil. "Kau... membelikan ini untukku?"

"Seseorang harus mengajarimu cara bersenang-senang yang elit, Preman Pasar," Kaelan menyeringai.

Tanpa aba-aba, Anya berlari menghampiri Kaelan. Ia tidak peduli jika pria itu adalah bos mafia paling ditakuti. Anya melompat, menabrakkan tubuhnya ke dada bidang Kaelan, dan melingkarkan lengannya erat-erat di leher pria itu.

Bruk!

Kaelan terhuyung selangkah ke belakang, tertangkap basah oleh serangan tiba-tiba itu. Tubuhnya menegang. Namun, sedetik kemudian, kedua tangan besarnya yang mematikan itu terangkat, melingkar posesif di pinggang ramping Anya, menarik tubuh gadis itu semakin rapat hingga tidak ada jarak di antara mereka.

"Terima kasih," bisik Anya di perpotongan leher Kaelan, aroma maskulin pria itu bercampur dengan wangi rosemary dari dapur memenuhi indranya. "Kau... kau menyebalkan, tapi ini sangat keren. Terima kasih, Kaelan."

Kaelan memejamkan matanya, meresapi kehangatan tubuh gadis di pelukannya. Jantungnya berdetak kencang, menggema di rongga dadanya. Ia membenamkan wajahnya di rambut wolf-cut Anya, menghirup aroma sampo stroberi yang khas.

"Ini baru permulaan, Anya," Kaelan berbisik dengan suara serak, nadanya sarat akan janji yang gelap namun manis. Ia mempererat pelukannya, seolah memastikan gadis itu tidak akan pernah bisa lepas darinya. "Kau menerimaku apa adanya. Dan sebagai balasannya... aku akan memberikan dunia ini di bawah kakimu."

Kaelan sedikit melonggarkan pelukannya, menunduk untuk menatap langsung ke mata cokelat Anya yang masih berbinar.

"Tapi ingat satu hal," ibu jari Kaelan mengusap rahang Anya dengan lembut namun penuh dominasi. "Setelah ini, jangan pernah berpikir kau bisa lari dariku saat kontrak kita berakhir. Karena aku tidak akan pernah melepaskanmu."

Anya menelan ludah. Jantungnya serasa melompat dari dadanya. Tatapan mematikan Kaelan kini bercampur dengan gairah dan kepemilikan yang sangat kuat. Dan anehnya, preman pasar yang paling anti diatur ini... mendadak merasa tidak ingin lari ke mana-mana lagi.

"Siapa bilang aku mau lari?" balas Anya dengan senyum tengil andalannya, meski pipinya sudah semerah tomat. "Ayo, ajari aku menyalakan monster hitam ini, Suamiku. Kita lihat siapa yang akan menangis minta ampun di jalur off-road nanti."

Kaelan tertawa pelan. Tawa yang berat dan memabukkan. Serangan baliknya berhasil sempurna. Mulai hari ini, permainan di antara mereka bukan lagi soal sandiwara kontrak mafia, melainkan siapa yang akan jatuh cinta paling dalam.

1
supermine
💪
supermine
🤭
supermine
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!