NovelToon NovelToon
SPION KIRI

SPION KIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: nhatvyo24

Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.

Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.

​Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.

​Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.

​Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.

Ada sesuatu yang ikut berboncengan.

"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"

​"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"

​Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Tanjakan Kabut Situ Gunung

​Sukabumi, Maret 2017 - 08.00 WIB.

​Pagi di Sukabumi seharusnya menyegarkan, tapi bagi Della, udara dingin yang menusuk tulang terasa seperti peringatan. 

Sesuai rencana Geri, mereka bertiga berangkat menuju Situ Gunung. Geri memimpin di depan dengan motor trail modifikasinya, sementara Della membonceng Sasha yang tampak lebih diam dari biasanya.

​"Del, beneran kita harus ke sana? Gue mending dibilang kurang update di Instagram daripada harus ke tempat sepi pagi-pagi gini," keluh Sasha lewat celah helmnya.

​"Gue juga nggak mau, Sha. Tapi gue nggak bisa hidup kalau tiap kali makan bubur isinya baut karatan," jawab Della tegas, meski tangannya terasa kaku memegang handgrip motor.

​Jalanan menuju Situ Gunung mulai menanjak tajam. Di sisi kiri dan kanan, barisan pohon damar yang tinggi menjulang menciptakan bayangan panjang yang menghalangi sinar matahari. Kabut tipis mulai turun, meskipun jam belum menunjukkan waktu siang.

​Saat mereka mencapai area parkir bawah, seorang pria tua dengan rompi oranye pudar melambaikan tangan. Itu Mang Asep, tukang parkir legendaris yang kabarnya sudah ada di sana sejak kawasan ini belum jadi tempat wisata hits.

​Geri mematikan mesin motornya. Della menyusul, namun saat ia hendak mematikan kunci kontak, mesin Scoopy-nya justru meraung kencang sendirian. 

Vroom! Vroom! 

seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang memutar gas dalam-dalam.

​"Woy, Del! Lepas gasnya!" teriak Geri kaget.

​"Bukan gue, Ger! Tangan gue di rem!" Della panik, menarik tuas rem sekuat tenaga sampai mesin akhirnya mati dengan suara tek yang kasar.

​Mang Asep berjalan mendekat. Ia tidak melihat wajah Della atau Sasha, melainkan langsung menatap ke arah spion kiri yang masih tertutup lakban hitam. 

Pria tua itu mengeluarkan rokok kreteknya, menyalakannya, lalu meniupkan asapnya tepat ke arah spion tersebut.

​Asap rokok itu anehnya tidak terbawa angin, Asap itu justru menempel di permukaan lakban, membentuk siluet wajah yang sedang meringis.

​"Neng," Mang Asep bersuara dengan logat Sunda yang kental. "Penumpang kamu ini lagi gelisah. Dia suka tempat dingin, tapi dia benci kalau dicuekin."

​Della turun dari motor dengan kaki lemas. "Mang, emang dia siapa? Kenapa dia ikut saya?"

​Mang Asep menunjuk ke arah jalanan aspal yang baru saja mereka lewati. "Tahun 90-an, di bawah sana, ada kecelakaan motor pas hujan gede. Seorang pria pakai jaket hujan... dia jatuh ke jurang karena spion motornya disenggol angkot. Dia nggak tenang karena sampai sekarang, motornya nggak pernah ketemu."

​Sasha menutup mulutnya dengan tangan. "Jadi... dia mau motor Della?"

​"Bukan motornya, Neng," Mang Asep menatap Della dalam-dalam. "Dia mau 'matanya'. Dia nggak bisa lihat jalan pulang karena spionnya pecah. Makanya dia meminjam spion motor si Eneng."

​Tiba-tiba, suhu di sekitar mereka turun drastis. Kabut yang tadinya tipis mendadak menjadi sangat tebal hingga Geri yang berdiri hanya tiga meter di depan Della mulai samar-samar terlihat.

​"Ger! Sasha!" Della berteriak.

​Namun, tidak ada jawaban. Yang terdengar hanyalah suara gesekan plastik yang basah... kresek... kresek... berasal dari arah jok belakang motornya.

​Della memberanikan diri melirik spion kirinya, Lakban hitam yang menutupinya perlahan-lahan mengelupas sendiri, jatuh ke tanah seperti kulit mati. Dan di permukaan kaca spion yang kini terbuka, Della melihat sosok itu dengan sangat jelas.

​Pria berjaket hujan transparan itu sedang duduk di atas motor Della, tapi kali ini ia tidak menunduk. Ia mengangkat kepalanya, memperlihatkan wajah yang hancur di satu sisi, dan satu matanya yang tersisa menatap Della dengan penuh rasa lapar.

​"Bawa... aku... ke... jembatan..." bisik suara itu, bercampur dengan deru angin pegunungan.

Della membeku. Suara itu bukan sekadar bisikan di telinga, tapi terasa seperti getaran yang merambat langsung ke sumsum tulangnya. Kabut di sekelilingnya kini begitu pekat hingga ia tak lagi bisa melihat ujung sepatunya sendiri. Dunia seolah menghilang, menyisakan dirinya, Scoopy-nya, dan sosok yang masih duduk diam di atas jok motor.

​"Geri! Sha!" teriak Della lagi, tapi suaranya seperti diredam oleh dinding kapas yang tebal.

​Tiba-tiba, sebuah tangan yang kasar dan hangat memegang bahu Della. Della nyaris melompat kalau saja ia tidak mengenali bau tembakau kretek yang menyengat. Itu Mang Asep.

​"Jangan dengerin suaranya pakai telinga, Neng. Dengerin pakai niat," ucap Mang Asep pelan, tapi entah kenapa suaranya terdengar sangat jernih di tengah kesunyian yang aneh ini.

​Mang Asep mengibaskan tangannya ke udara, seolah membelah kabut. Perlahan, bayangan Geri dan Sasha mulai terlihat kembali. Mereka berdua tampak seperti mematung, menatap ke arah yang kosong.

​"Ger! Loe nggak apa-apa?" Della berlari ke arah Geri.

​Geri mengerjap-ngerjap, seperti baru bangun dari tidur pendek. "Eh? Tadi... tadi loe kemana, Del? Gue cuma liat kabut putih doang, terus tiba-tiba loe udah di sini."

​Sasha sendiri sudah menangis tanpa suara, memeluk jaket varsity-nya erat-erat. "Gue mau pulang, Del. Sumpah, gue nggak mau konten kuliner lagi. Gue mau pulang..."

​"Nggak bisa pulang sekarang," potong Mang Asep tegas. Beliau menunjuk ke arah spion kiri Della yang kini sudah bersih dari lakban hitam. Kaca spion itu tidak retak, tapi terlihat berkabut dari dalam, menampilkan bayangan sebuah jembatan kayu tua yang sudah ambruk.

​"Dia sudah 'minta'. Kalau ditolak sekarang, dia bakal bikin motor ini celaka di jalan pulang. Tanjakan di sini tajam, Neng. Jangan main-main sama yang lagi minta haknya."

​Della menelan ludah. "Jembatan mana yang dia maksud, Mang? Di Situ Gunung kan jembatannya banyak."

​"Bukan jembatan wisata yang baru itu," Mang Asep menunjuk ke arah jalan setapak yang tertutup semak belukar, jauh dari jalur turis. "Jembatan tua di ujung sungai kecil. Di sana dia jatuh dulu. Dia cuma mau 'diantar' sampai sana, terus dia mau lihat spion motornya yang jatuh di dasar sungai."

​Geri memeriksa motor Della. "Mesinnya aneh, Del. Suhunya panas banget padahal kita baru sampai. Gue rasa 'dia' lagi maksa motor ini buat jalan."

​Della menarik napas panjang. Hobinya motoran biasanya membawa kegembiraan, tapi kali ini, setiap tarikan gas terasa seperti beban hidup dan mati. "Gue bakal antar. Tapi Geri, loe harus di depan gue. Sasha... loe ikut Geri aja ya?"

​Sasha menggeleng cepat, mukanya sembab. "Nggak! Gue nggak mau pisah. Kalau ada apa-apa, gue mending bareng loe!"

​Akhirnya, dengan formasi yang mencekam, mereka mulai bergerak. Geri memimpin dengan motor trail-nya yang berisik, sementara Della mengikuti di belakang.

​Anehnya, begitu Della mulai menjalankan motornya, kabut di depannya selalu terbuka sendiri, seolah-olah spion kirinya bertindak sebagai senter yang membelah kegelapan. Namun, setiap kali Della melirik ke spion itu, ia tidak melihat jalanan. Ia melihat pemandangan tahun 90-an; jalanan yang masih berbatu dan rintik hujan yang sangat deras, persis seperti saat kecelakaan itu terjadi.

​"Del, fokus ke jalan asli, jangan liat spion!" teriak Geri dari depan.

​Tapi terlambat. Della terhipnotis oleh pantulan di spion kirinya. Di sana, ia melihat sebuah angkot tua berwarna biru melaju kencang dari arah berlawanan, lampunya menyilaukan, dan di depannya tepat di posisi Della sekarang seorang pria sedang berjuang menyeimbangkan motornya di atas jembatan yang licin.

​"Awaaaaas!" teriak Della spontan.

​Della refleks membanting stangnya ke kiri.

​"DELLA! JANGAN KE KIRI!" teriak Geri.

​Di dunia nyata, di sebelah kiri Della bukan jalanan datar, melainkan jurang dangkal yang penuh dengan batu kali yang tajam.

1
falea sezi
)bakar.lah motornya goblok amat della
falea sezi
sasa ne ngeyel. amat harusnya biarin aja mati biar gk jd beban aja temen goblok
falea sezi
di blg ngeyel sih kapok di tempelin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!