Rayyan sangat risih saat gadis yang mengejarnya mengaku sebagai sahabat masa kecilnya di taman kanak-kanak, oh my god mimpi buruk apalagi di kampus yang elit ini sampai-sampai bertemu dengan gadis yang tak jelas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10) Sea terkejut
Suara bel kelas yang panjang menggema di koridor kampus Universitas Indonesia, menandakan akhir jam kuliah Strategi Bisnis yang membuat kepala Sea sedikit pusing. Ia menaruh buku dan catatan ke dalam tas ranselnya dengan gerakan lambat, mata sering menyelinap ke arah pintu kelas di mana sosok pria tinggi dengan rambut hitam rapi sudah mulai bergerak keluar.
Rayyan —teman sekelasnya yang juga dikenal sebagai mahasiswa terbaik angkatan dan pewaris calon dari Alamsyah Group. Mereka tidak terlalu dekat pada awalnya, tapi semenjak Sea membantu Rayyan menyelesaikan proyek kelompok yang hampir gagal karena anggota lain yang tidak bertanggung jawab, hubungan mereka menjadi lebih akrab. Di tambah lagi, Sea cukup gencar mendekati Rayyan sampai-sampai Rayyan kepikiran terus ke Sea.
"Siap jalan?" Rayyan berdiri di depan mejanya dengan senyum hangat yang membuat hati Sea berdebar kencang. "Kamu bilang mau coba makanan baru di kedai dekat gerbang kampus kan?"
Sea mengangguk cepat, wajahnya sedikit memerah. "Ya, sudah siap. Tunggu sebentar ya."
Mereka berjalan keluar bersama, berbicara tentang materi kuliah yang baru saja selesai dan rencana untuk ujian akhir yang akan datang. Rayyan bahkan menawarkan untuk membantunya mengerjakan tugas akhir, sesuatu yang ia jarang lakukan untuk teman sekelas lainnya.
"Sungguh, kamu terlalu baik padaku, Ray," ucap Sea sambil tersenyum. "Apalagi setelah aku bantu kamu waktu itu, kamu selalu mau bantu aku."
Rayyan menggeleng perlahan, "Itu bukan soal membalas budi, Sea. Kamu kerja keras dan pantas mendapatkan dukungan. Selain itu... aku suka berbincang denganmu."
Kata-katanya membuat hati Sea bergetar.
HADIRNYA WANITA YANG TIDAK DIHARAPKAN
Kedai makan yang mereka tuju tidak terlalu ramai, hanya beberapa mahasiswa lain yang sedang makan dan berbicara riang. Rayyan memilih meja di sudut yang tenang, kemudian menawarkan untuk memesan makanan untuk keduanya.
"Aku akan pesen nasi goreng spesial dan jus alpukat untuk kamu ya, seperti yang kamu suka," katanya sebelum berjalan ke kasir.
Sea duduk dengan senyum tersipu, merenungkan betapa perhatiannya Rayyan terhadap hal-hal kecil. Ia mengatur tasnya di kursi sebelahnya, mata melihat keluar ke jalan raya yang ramai.
Tiba-tiba, sosok wanita cantik dengan rambut pirang bergelombang memasuki kedai. Wanita itu mengenakan baju kerja kasual yang tetap membuatnya terlihat anggun dan percaya diri. Matanya langsung mencari-cari, hingga akhirnya menemukan Rayyan yang sedang menunggu antrian di kasir.
Tanpa ragu, wanita itu berjalan cepat dan langsung memeluk Rayyan dari belakang, menyandarkan pipinya pada pundaknya. "Ray! Akhirnya aku temukan kamu di sini!"
Rayyan terkejut, tapi kemudian membungkuk sedikit untuk menyambut pelukan nya. "Amara? Kamu kenapa bisa ada di sini?"
Sea yang melihat dari kejauhan langsung merasa tubuhnya membeku. Ia meremas ujung rok jeansnya dengan kuat, kuku hampir menusuk kulit telapak tangannya. Wanita itu siapa? Mengapa bisa begitu akrab dengan Rayyan?
Amara melepaskan pelukan dan berdiri di samping Rayyan, kemudian matanya melihat ke arah Sea yang sedang duduk diam. "Ray, dia siapa?" tanyanya dengan nada yang terdengar seperti sedang menuntut jawaban.
Rayyan menghela nafas perlahan, kemudian berjalan ke arah meja bersama Amara. "Ini Sea, teman sekelas aku di kampus. Sea, ini Amara Wijaya... keluarga teman aku, lebih tepatnya sepupu jauh aku."
Kata dalam hati "keluarga teman, sepupu jauh?" terdengar hampa di telinga Sea. Amara hanya mengangguk sebentar tanpa mau memberikan senyum, seolah Sea tidak berharga untuk diperhatikan. Ia kemudian duduk di kursi sebelah Rayyan, mengambil gelas air di atas meja dan meminumnya tanpa izin.
"Aku cari kamu dari kantor papa kamu lho, Ray. Papa bilang kamu ada di kampus, jadi aku langsung datang kesini. Kamu lupa ya kita sudah janjian makan siang bersama hari ini?" ucap Amara sambil melihat Rayyan dengan tatapan yang penuh perhatian.
Rayyan menggaruk kepalanya dengan wajah bingung, "Maaf, Amara. Aku benar-benar lupa. Aku sudah janjian sama Sea untuk makan siang di sini."
"Kalau begitu, aku ikutan aja dong. Kan kita belum ketemu lama-lama. Kamu pasti punya banyak cerita kan, Ray?" ucap Amara tanpa memperdulikan Sea yang masih berdiri di samping meja, merasa seperti orang yang tidak diinginkan.
Sea terdiam tanpa bisa berkata apa-apa. Hatinya terasa seperti ditusuk dengan jarum yang tajam. Ia melihat Rayyan yang tampaknya tidak tahu harus bersikap bagaimana, tidak membela dirinya atau mengatakan sesuatu yang bisa membuatnya merasa lebih baik.
"Kalau begitu, aku pergi aja ya," ucap Sea dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Kamu bisa makan bareng teman kamu saja. Aku tiba-tiba merasa tidak enak badan."
Tanpa menunggu jawaban, Sea mengambil tasnya dan berlari keluar dari kedai. Air mata sudah mulai menggenang di matanya, tapi ia berusaha keras untuk tidak menangis di depan orang banyak. Ia berlari sejauh mungkin dari kedai itu, mencari tempat yang tenang untuk melepaskan rasa sakit yang sedang ia rasakan.
Sea berlari hingga sampai ke taman kecil di belakang kampus, tempat yang sering ia kunjungi ketika merasa sedih atau bingung. Ia duduk di atas bangku kayu yang dingin, akhirnya tidak bisa menahan air mata lagi. Tangisnya terdengar pelan dan teredam, bercampur dengan suara gemericik air mancur di dekatnya.
"Sea? Kamu kenapa?"
Suara yang akrab membuatnya terkejut. Ia mengusap air matanya dengan cepat, melihat ke arah sumber suara. Teman sekelasnya, Dika, berdiri di depan nya dengan wajah khawatir.
"Aku melihat kamu berlari keluar dari kedai makan dengan wajah sedih. Ada apa?" tanya Dika sambil duduk di sebelahnya.
Sea mencoba untuk tersenyum, tapi hanya menghasilkan ekspresi wajah yang menyakitkan. "Aku bertemu dengan seorang wanita bernama Amara di kedai tadi. Dia datang dan langsung memeluk Rayyan, kemudian bertanya siapa aku. Rayyan bilang dia keluarga teman nya eh maksudnya sepupu jauhnya, tapi mereka terlihat sangat akrab. Aku merasa seperti orang yang menyelinap masuk ke dalam hubungan mereka."
Dika menghela nafas perlahan, seolah tahu sesuatu yang tidak diketahui Sea. "Sea, mungkin aku harus bilang sesuatu padamu. Amara bukan hanya keluarga teman Rayyan."
Sea menoleh padanya dengan mata penuh rasa ingin tahu, "Maksudmu apa?"
"Amara Wijaya adalah calon istri Rayyan yang sudah di sepakati oleh kedua keluarga mereka sejak lama. Keluarga mereka adalah teman bisnis yang dekat, dan mereka sudah merencanakan pernikahan mereka semenjak mereka masih kecil," jelas Dika dengan suara yang lembut.
Kata-kata itu seperti petir yang menyambar Sea. Ia merasa tubuhnya menjadi lemah, seluruh kekuatan seolah hilang dalam sekejap. "Kalau begitu... kenapa Rayyan tidak bilang padaku? Kenapa dia masih mau dekat denganku dan janjian makan siang?"
Dika menggeleng, "Aku tidak tahu, Sea. Mungkin Rayyan sendiri juga bingung dengan situasinya. Atau mungkin dia tidak ingin menyakiti kamu dengan memberitahukan hal itu."
Sea mengangguk perlahan, meskipun hati nya masih merasa sakit dan kecewa. Ia mulai berpikir tentang semua momen yang telah ia lalui bersama Rayyan—cara dia memperhatikan dirinya, cara dia membantu dirinya dengan kuliah, cara senyumnya yang selalu membuat hatinya berdebar. Apakah semua itu hanya karena Rayyan merasa bersalah? Atau apakah ada sesuatu yang lebih dari itu?