"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.
Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
"Mau ngelak kayak gimana lagi kamu, Mas?!"
"Buktinya ada, dan kamu ternyata masih berhubungan dengan ja-lang itu!"
"Kamu bohongin aku, Mas!"
Erina memukuli dada Aldi yang hanya diam pas-rah di depannya.
Dia tadi sedang dikantor, tapi buru-buru pulang saat Erina mengirimnya sebuah foto. Foto dirinya dengan wanita lain tadi pagi.
Entah siapa yang mengirimkan foto itu, karena Erina tidak mengatakannya.
"Tadi pagi kamu bilang mau ada meeting penting. Apa itu meeting yang kamu maksud? Hah?!" amuk Erina. Wajahnya memerah, dadanya pun terlihat naik turun disertai napas yang terdengar memburu.
"Sayang, dengerin Mas dulu. Mas bisa jelasin," ucap Aldi.
"Apa lagi yang mau kamu jelasin, Mas? Kamu mau bilang kalau kamu khilaf? Kamu mau bilang kalau wanita itu yang godain kamu duluan? Iya?!" sahut Erina dengan emosi yang masih memenuhi jiwa nya.
"Kamu denger ini, Mas. Dia gak bakal mungkin mau sama kamu kalau kamu sendiri gak nyambut kedatangan dia di hidup kamu! Jadi jangan pernah lagi gunain alesan kamu digoda olehnya. Karena pada kenyataannya kamu sendiri yang mudah tergoda oleh wanita lain!" sentak Erina.
Erina terduduk lemas di sofa dengan Aldi yang langsung duduk bersimpuh di lantai, di depan istrinya itu.
"Maafkan aku, Rin. Maafkan aku," ucap Aldi.
"Kalau kamu memang gak peduli sama aku. Aku yang sama-sama seorang wanita, sama seperti ibumu yang melahirkanmu. Aku juga yang melahirkan anak untukmu. Aku gak apa-apa," ucap Erina.
Aldi langsung menggelengkan kepalanya. "Gak gitu, Sayang. Aku peduli sama kamu."
Erina mengabaikan ucapan Aldi. "Tapi pernahkah sekali saja kamu inget, Mas. Kamu juga punya anak perempuan, Dara juga sudah menikah dengan Rafa. Dia menikah untuk membantumu terlepas dari semua hutang yang uangnya sebagian besar kamu berikan pada wanita-wanita yang jadi selingkuhanmu! Pernahkah kamu berpikir bagaimana kalau Rafa memperlakukan Dara sama seperti kamu memperlakukanku?
Bagaimana kalau Rafa sampai selingkuh dari Dara? Apa kamu pernah berpikir ke arah sana?
Bagaimana perasaanmu kalau sampai hal itu terjadi?"
Kedua tangan Aldi mengepal seketika. Dara anak kesayangannya. Tentu dia tidak akan rela jika Dara disakiti hatinya oleh Rafa, pria yang kini jadi suami dari putrinya itu.
"Aku gak bakal biarin itu terjadi," ucap Aldi.
"Kamu marah, 'kan? Kamu gak terima kalau semua itu sampai terjadi, 'kan?" tanya Erina.
"Di sini aku bukannya mendoakan Dara seperti itu. Seujung kuku pun aku tidak pernah mengharapkan semua itu. Setiap waktu bahkan aku selalu mendoakan dia agar tidak memiliki suami seperti ibunya. Tapi yang aku maksud adalah, ayahku pun sama sepertimu! Dia tentu akan sangat marah dan tidak terima kalau tahu aku disakiti olehmu! Oleh pria yang mengucap ijab kabul di depannya!"
Dara yang sejak tadi mendengar pertengkaran kedua orang tuanya pun tidak bisa lagi menahan air matanya. Dia menangis tanpa suara, bahkan menutup mulut dengan kedua tangannya karena tidak ingin kedua orang tuanya tahu dia ada di sana.
Sedangkan Rafa, dia hanya diam dan bingung harus melakukan apa. Sampai akhirnya saat dia melihat Dara pergi, buru-buru saja dia menyimpan kantung plastik yang dia bawa dan menyusul istrinya itu.
"Kamu mau ke mana?" tanya Rafa mencegah kepergian Dara.
"A-aku mau sendiri dulu. Om boleh pulang duluan kalau mau," jawab Dara. Melepaskan cekalan Rafa di lengannya dan meneruskan langkahnya.
Rafa kembali menyusul Dara, dia mencekal lengan istrinya itu lagi. "Masuk ke mobil. Kita pergi kalau kamu memang mau pergi," ucapnya.
"Aku sungguh ingin sendiri," balas Dara dengan suara lirih.
"Jangan keras kepala, ayo masuk dulu."
Dara yang kesal saat mendengar Rafa menyebutnya keras kepala pun menghentakkan tangannya dengan kasar sampai cekalan tangan Rafa terlepas.
"Iya, aku memang keras kepala! Tapi Om yang lebih keras kepala! Aku bilang aku mau sendiri! Pergi aja sana!" usirnya.
Rafa terkesiap, dia sepertinya sudah salah bicara. "Dara, bukan gitu maksud-"
"Plisss.. Biarin aku sendiri," mohon Dara kemudian berjalan agak cepat menuju gerbang.
"Non ...." Pak Satpam yang berjaga pun menyapa Dara.
Menghela napas berat saat melihat nona mudanya yang menangis.
"Kasian Non Dara, pasti ngeliat atau denger Tuan dan Nyonya berantem lagi."
Satpam yang bekerja di sana kebetulan adalah satpam yang sama dengan yang dulu. Jadi beliau sudah paham betul bagaimana kondisi keluarga majikannya itu.
Rafa memandang tubuh kecil Dara yang mulai menghilang di depan gerbang sana. Pria tampan itu menyugar rambutnya kasar. Gegas dia masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesinnya.
Tin!
Rafa membunyikan klakson mobilnya. Pak Satpam langsung membuka gerbang dan menutupnya lagi saat mobil yang dikendarai oleh Rafa sudah keluar.
Di dalam rumah, Erina dan Aldi saling lirik saat mendengar suara klakson mobil dari luar. Erina langsung berdiri dan berlari ke arah luar tapi tidak menemukan siapa pun apalagi mobil yang parkir kecuali mobil milik suaminya.
Tatapannya tertuju pada dua kantung plastik dengan merk toko kue yang dia suka.
"Siapa yang datang? Jangan-jangan ...."
Erina langsung masuk lagi ke rumah dengan dua kantung plastik berisi kue yang dia bawa. Buru-buru mengecek ponselnya yang sejak tadi dia biarkan dan seketika sebelah tangannya menutup mulut yang menganga saat melihat pesan yang Dara kirimkan untuknya.
Rafa mengemudikan mobilnya dengan sangat pelan, mengikuti Dara yang terus berjalan bahkan sampai beberapa kali tersandung karena mungkin gadis itu tidak fokus atau bahkan mungkin melamun.
Rafa beberapa kali menghembuskan napas berat. Ini adalah kali pertama dia mendengar pasangan suami istri yang bertengkar. Terlebih mereka adalah mertuanya. Orang tua dari istrinya, dan sialnya Dara pun mendengar semuanya.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Dara sekarang. Karena dulu kedua orang tuanya kerap terlihat romantis dan nyaris tidak pernah bertengkar sama sekali.
Hanya saja ... sayang sekali kedua orang tuanya harus pergi di saat dia masih duduk di bangku sekolah waktu itu.
Dara masuk ke sebuah taman yang berada tidak jauh dari rumah. Taman yang kembali dia kunjungi karena dia kembali mendengar ayah ibunya cekcok lagi.
Rafa langsung memarkirkan mobilnya dan pergi menyusul Dara. Meski tadi istrinya itu mengatakan kalau dia ingin sendiri dulu, tapi Rafa hanya ingin memastikan kalau Dara tidak melakukan tindakan nekat.
Rafa celingukan, mencari keberadaan istri kecilnya. Dia menghembuskan napas lega saat menatap sosok Dara yang tengah termenung di bangku taman, menghadap ke arah danau kecil yang menghiasi taman tersebut.
Rafa memutuskan untuk duduk di bangku yang sama, hanya saja agak berjarak dari Dara. Dara di ujung sebelah kiri, dan dia di ujung sebelah kanan.
Dara menoleh dan berdecak sebal karena Rafa tetap tidak membiarkannya sendiri. Tapi dia terlalu malas untuk menyuruh suaminya itu pergi.
Melihat istri kecilnya menangis, Rafa pun bingung harus bagaimana. Sedikit demi sedikit, dia menggeser tubuhnya hingga kini berada dekat dengan Dara.
Ragu, tangan sebelah kiri Rafa mulai bergerak dan akhirnya hinggap di pundak Dara. Sedikit menarik tubuh Dara agar istrinya itu bisa bersandar padanya.
"Menangislah. Mumpung hanya saya yang lihat," ucap Rafa.
"Ish!" Dara kembali menjauhkan dirinya, dia bahkan mendorong tubuh Rafa agar pergi. "Sana pergi!"
"Ck. Ngambek!" Rafa kembali merangkul Dara, dan ternyata istrinya itu tidak menolak.
Untuk beberapa saat, keduanya tidak ada yang mulai pembicaraan. Rafa membiarkan saja Dara menangis sampai puas.
Hingga akhirnya Dara berhenti menangis dan menjauhkan dirinya.
"Udah nangisnya?" tanya Rafa.
"Udah!" jawab Dara ketus.
"Maaf karena Om harus denger semuanya," ucap Dara.
Rafa yang bingung harus menanggapi seperti apa pun akhirnya hanya menjawab dengan gumaman saja.
Dara kepikiran dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh ibunya tadi. Dara juga ingat kalau di taman itu, adalah awal pertama dia bertemu dengan Oma Atira dan kini dia berakhir jadi istri dari cucu wanita paruh baya tersebut.
Dara menoleh, menatap wajah tampan sang suami yang sedang fokus menatap bunga teratai di atas danau.
"Emm ... kalau Om mau ninggalin aku, silahkan," ucap Dara.
Rafa menoleh, kedua alisnya saling bertaut karena merasa bingung dengan ucapan Dara barusan.
"Maksudnya? Kamu nyuruh saya pergi dari sini?"
Dara menggeleng. "Bukan itu. Tapi ... kita sama-sama tahu kalau kita menikah karena terpaksa. Jadi ... aku-"
"Gak akan!" sela Rafa cepat.
"Kenapa?" tanya Dara. "Bukankah kita sama-sama terpaksa dan tidak menginginkan pernikahan ini? Makanya, kalau Om mau pergi ninggalin aku, atau menceraikan aku dan menikahi wanita lain silahkan. Lakukan semua itu sekarang."
Rafa menatap Dara dengan pandangan tajam. Wajahnya tampak tegang, dan jelas bahwa dia berusaha keras untuk menahan emosinya.
"Saya tahu kita menikah karena terpaksa, Dara. Tapi, itu bukan berarti saya tidak akan mencoba untuk menjalani hidup ini bersama kamu," ujar Rafa.
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Rafa. Ya, dia memang terpaksa dan pernah membenci Dara. Menganggap kalau gadis itu menjadi penyebab dia harus terjebak dalam status dan situasi yang pernah tidak dia inginkan.
Namun, lama kelamaan dia berpikir. Dara sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Dara adalah korban dari kelakuan ayah kandungnya sendiri. Terlebih, dia juga yang awalnya menyetujui perjodohan ini. Dia yang memutuskan untuk menyetujui keinginan sang oma. Kalau dia tidak setuju, mungkin pernikahan ini juga tidak akan pernah terjadi. Ya, Rafa sadar kalau semua ini juga berawal darinya.
Kalimat yang pernah Dara ucapkan saat dia menyampaikan beberapa peraturan pun kembali terngiang di ingatan.
Dara yang mengatakan kalau dia juga terpaksa, sama sepertinya. Masa depan Dara hancur karena harus menyandang gelar seorang istri padahal dia masih pelajar.
Kedekatan yang terjalin bersama Dara dalam beberapa waktu terakhir, dan tanpa sadar memberikan rasa nyaman untuknya. Hanya saja, masih ada tembok tinggi berupa gengsi untuk dia mengakuinya. Maka dari itu, membuat Dara untuk tetap berada di sisinya mungkin adalah alasan yang tepat.
Dara tertegun mendengar jawaban Rafa. "G-gue nggak salah denger, 'kan?" batinnya.
"Om ...."
"Awalnya memang saya terpaksa, kamu juga sama, 'kan? Tapi, saya sadar, pernikahan bukanlah permainan. Pernikahan itu adalah ikatan yang suci dan sakral," ujar Rafa.
"Tapi ... bukankah Om pernah bilang kalau jangan pernah berharap lebih dari pernikahan ini? Om juga pernah bilang kalau suatu saat nanti, aku bakal nemuin pria yang tulus cinta sama aku tanpa aku harus bepura-pura menjadi orang lain dengan penampilanku yang culun waktu itu?"
"Lalu, kamu ngarepin cowon lain?" tanya Rafa membuat Dara terdiam, bingung mau jawab apa.
"Ck. Bener-bener. Di saat udah punya suami, masih aja ngarepin pria lain," ucap Rafa.
"B-bukan kayak gitu." Dara memegang lengan Rafa karena suaminya itu kelihatan ngambek. Rafa bahkan sampai membelakanginya sekarang.
"Ih, kok jadi gini sih? Kenapa dia ngambek segala?" batin Dara.
"Om jangan marah. Aku ... Aku emang pernah bingung dengan ucapan Om waktu itu. Om pernah bilang kalau aku jangan ngarepin apa-apa di pernikahan ini. Om juga bilang kalau bakal ada pria yang tulus cinta sama aku nantinya. Wajar dong kalau aku mikir cowok itu orang lain dan bukan Om?"
"Ekhem." Rafa berdehem pelan. Masih dalam posisi membelakangi Dara, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya ... Y-ya kamu harusnya tetep tau kalau ngebayangin pria lain disaat kamu sudah menikah itu gak boleh!" ucapnya.
Dara mencebik. "Emangnya Om tau aku bayangin pria lain?" tanya Dara, seolah sudah lupa dengan kesedihan yang tadi dia rasakan.
"Lha tadi kan kamu bilang sendiri!" sahut Rafa ketus.
Dara memukul keningnya sendiri. Bisa-bisanya dia lupa.
"Emangnya Om gak pernah bayangin wanita lain?" tanya Dara.
Rafa dibuat bungkam oleh pertanyaan Dara. Jujur saja, sampai saat ini dia belum bisa melupakan Khaylila. Sering juga membayangkan masa-masa mereka berdua dulu.
Dara tersenyum kecut. Dari diamnya Rafa, dia tahu kalau suaminya itu belum bisa melupakan masa lalunya.
"Kamu masih sedih?" tanya Rafa, memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Dara.
Dara hanya menggeleng sebagai jawaban. Gadis itu menghembuskan napas berat. Dia memang sudah tidak sedih lagi mengenai ayah ibunya. Toh sudah sering juga melihat dan mendengar mereka ribut seperti itu.
Ditambah lagi, obrolannya barusan dengan Rafa secara tidak langsung turut membuat kesedihannya hilang.
Hening, keduanya tidak ada yang memulai obrolan kembali. Hingga tiba-tiba, suara perut Dara yang lumayan keras membuat Rafa terkekeh pelan.
"Kamu lapar?" tanya Rafa.
Dengan wajah yang tersipu malu, Dara mengangguk. "Tadi cuman makan dikit di kantin," jawabnya.
Rafa berdiri, dia mengulurkan tangan kirinya kepada Dara. "Ya udah, pulang yuk!" ajaknya.
Mengangguk, Dara pun menerima uluran tangan itu dan mereka berjalan bersama menuju jalan keluar dari taman tersebut.
"Eh, eh tunggu!" seru Dara.
"Ada apa?" tanya Rafa.
"Mau itu!" Dara menunjuk ke arah penjual permen kapas.
"Bukannya kamu lapar?" tanya Rafa.
"Iya. Tapi kalau aku lagi sedih, biasanya mood aku gampang balik kalau udah makan permen kapas."
"Ck. Cewek biasanya kalau sedih makannya coklat. Bukan permen kapas," celetuk Rafa tanpa sadar. Dia ingat kalau dulu Khaylila selalu minta dibelikan coklat kalau sedang sedih.
"Siapa?" tanya Dara.
"Hah? Apanya yang siapa?" Rafa balik bertanya.
"Ah udahlah." Dara melepaskan pegangan tangannya kemudian berjalan lebih dulu.
"Apa yang kau harapkan dari pria yang belum bisa lepas dari masa lalunya, Dara?" batin Dara.