Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Budi?
Di balik gemerlap lampu Starlight Club, ruang ganti karyawan terasa seperti bunker perlindungan. Aluna duduk gelisah, menyilangkan kaki, detak jantungnya belum sepenuhnya normal sejak ia melihat sosok Budi Setiawan, teman kantor Kakaknya.
Friska bersandar di ambang pintu, bersiap keluar. “Kak Budi itu siapa, Lun? Kenapa kamu sampai panik begini?” tanyanya, ekspresinya penuh rasa ingin tahu bercampur khawatir.
“Teman SMA sekaligus teman kantor Kak Sultan.” jawab Aluna, suaranya tercekat. “Kira-kira dia tadi lihat ke kita enggak, Fris?”
Friska menghela napas, berusaha menenangkan. “Aku juga kurang merhatiin, sih. Tapi semoga saja enggak, kan di luar juga cahaya enggak terang-terang amat.”
Aluna mengangguk, namun kekhawatiran itu tak hilang. Jika Budi melihatnya, kerahasiaan dua dunianya akan runtuh. Ia akan menjadi aib bagi Ibunya dan amunisi baru bagi Annisa dan Sultan. “Aku akan keluar jika dia sudah pulang. Bilang saja ke manajer kalau aku lagi mules ya.,” kata Aluna, menyandarkan kepala ke dinding.
“Beres itu. Ya sudah, kamu santai saja di sini,” kata Friska, kemudian segera keluar untuk kembali melayani gerombolan Budi dan teman-temannya bersama rekan kerja yang lain.
Friska mendekati meja Budi, menuangkan minuman dengan senyum profesional. “Silakan, Tuan." sapanya ramah.
“Terima kasih, cantik.” balas Budi, langsung meneguk minumannya. Wajah Budi terlihat tegang, jelas ia berusaha keras tampak santai di tempat yang asing baginya. “Jangan panggil tuan, saya belum terlalu tua. Panggil Budi. Nama saya Budi Setiawan.”
“Ah, baiklah Budi. Saya Friska." Friska memperkenalkan diri, senyumnya semakin manis.
Friska berhasil menarik perhatian Budi, mengalihkan fokusnya dari sekitar klub. Mereka terlibat dalam obrolan seru hingga larut malam. Friska, dengan kecerdasannya, berhasil membuat Budi merasa nyaman berbicara tentang kesuksesannya (yang kemudian terbukti berlebihan) sementara Friska secara halus terus menuangkan alkohol.
Malam berakhir dengan tawa Friska yang lega. Budi, yang baru pertama kali menyentuh alkohol dalam dosis tinggi, benar-benar mabuk berat. Ia harus dibopong keluar oleh teman-temannya.
Friska segera berjalan menuju ruang ganti. Klub sudah akan tutup dua puluh menit lagi. Ia mendapati Aluna tertidur lelap di sofa kecil, lelah karena tekanan emosional dan menunggu.
“Lun… Aluna… Bangun…” kata Friska sambil menepuk pelan.
Aluna menggeliat dan segera duduk. “Apa Kak Budi sudah pergi? Aku sampai ketiduran,” kata Aluna menguap, rasa kantuknya berpadu dengan kelegaan.
“Issttt… kebiasaan, deh. Dia sudah pulang, mana mabuk berat lagi. Lagian sok-sokan minum padahal baru pertama kali. Ternyata yang namanya Budi itu pembual, ck… Sepanjang ceritanya tadi enggak ada satu pun kebenaran, sombong sekali,” kata Friska.
“Memang dia cerita apa saja?” tanya Aluna penasaran, rasa ingin tahunya mengalahkan rasa kantuk.
“Nanti di jalan pulang aku ceritain. Kita siap-siap pulang, klub juga sudah mau tutup. Kamu ganti baju dulu,” titah Friska.
“Iya, bawel,” kata Aluna. Ia segera membuka lokernya, mengambil hoodie tebal dan celana kulot panjangnya, mengganti heels dengan sepatu kets. Topi hoodie ia tarik untuk menutupi kepalanya karena ia tidak membawa jilbab. Setelah dirasa aman, mereka pun keluar dan menuju parkiran khusus karyawan.
Malam ini, Aluna memutuskan menginap di rumah Friska. Meskipun ia telah mengabari Ibunya, hati kecilnya tidak tenang meninggalkan Bu Sasmi sendirian. Namun, ia butuh waktu untuk menenangkan diri. Ia masih merasa terkhianati oleh sikap Ibunya yang terlalu memanjakan Sultan.
**
Setelah tiba dan membersihkan diri, Friska dan Aluna duduk santai di depan TV. Di antara gigitan martabak manis dan teh hangat, mereka saling berbagi.
“Kamu harus lebih waspada, Lun, takutnya si Budi bakal balik lagi ke klub,” kata Friska mengingatkan.
“Iya… aku juga sebenarnya dari tadi mikirin itu. Argh, bisa gawat kalau aku sampai ketangkap basah kerja di situ,” kata Aluna, nada suaranya kembali tegang.
“Iya, bisa-bisa dia pingsan lihat kamu yang seorang ustadzah jadi hot girl gitu,” goda Friska, mencoba mencairkan suasana.
“Isstt, kamu tuh, ya, kebiasaan. Aku serius ini, Friska,” Aluna cemberut.
“Hehehe, iya, iya… bercanda, ah,” kata Friska sambil mencomot martabaknya.
Mereka hanya mengobrol sebentar, kelelahan setelah malam yang panjang membuat mereka segera terlelap.
**
Pagi harinya, Annisa datang bersama Alifah ke rumah mertuanya setelah mengantar Bryan ke sekolah tadi.
“Assalamu’alaikum, Bu… Luna…” teriak Annisa begitu memasuki gerbang.
“Nenek… Tante…” Alifah juga ikut berseru.
Bu Sasmi membuka pintu, raut wajahnya terlihat lega. “Wa’alaikumsalam… Nisa… Alifah. Masuk, Nak.”
Setelah bersalaman, pandangan Annisa segera mengedar, mencari sosok yang ia jadikan target. “Aluna mana, Bu?”
“Oh, adikmu di rumah Friska. Semalam dia menginap di sana,” kata Bu Sasmi.
Wajah Annisa seketika ditekuk oleh rasa kesal yang dibuat-buat. “Menginap? Jadi dari semalam Ibu sendirian di rumah? Astaga, Aluna benar-benar keterlaluan. Kalau Ibu kenapa-napa gimana?”
Bu Sasmi, yang selalu membela anak-anaknya, segera menenangkan. “Enggak apa-apa, Nak. Mungkin Aluna capek, jadi sekalian tidur di rumah Friska.”
“Tapi benar, kan, Aluna tidur di rumah temannya itu? Jangan sampai dia bohong, Bu. Ngakunya tidur di rumah Friska, malah tidur di rumah pacarnya,” kata Annisa, nada suaranya penuh insinuasi, berusaha menanamkan bibit keraguan pada mertuanya.
Tepat pada saat itulah, Aluna sudah berdiri di ruangan itu. Ia baru saja pulang, ingin membersihkan diri dari kegundahan hati, namun malah disambut oleh ucapan berbisa Iparnya. Wajahnya langsung mengeras, tatapannya tajam.
“Maksud kamu apa, Mbak?” tanya Aluna, menuntut penjelasan atas tuduhan tak berdasar itu.
Bu Sasmi, yang tahu anaknya sedang marah, berusaha menengahi. “Aluna, kamu sudah pulang, Nak? Kamu sudah sarapan?”
“Aluna sudah sarapan sama Friska, Bu. Sekarang jelasin apa maksud Mbak ngomong gitu ke Ibu?” tanya Aluna sekali lagi, mengabaikan Bu Sasmi dan memfokuskan amarahnya pada Annisa.
“Aku enggak ada maksud apa-apa. Hanya mengingatkan Ibu biar waspada dan mengontrol pergaulan kamu. Jangan sampai Friska memberi pengaruh buruk sama kamu,” kata Annisa, bersikap seperti malaikat penolong yang prihatin.
“Friska itu orang baik, Mbak. Dia sama sekali enggak ada bawa pengaruh buruk sama aku. Justru aku bersyukur bertemu Friska karena dia yang kasih aku kerjaan,” bela Aluna, tidak terima sahabatnya dijelek-jelekkan.
Annisa mendengus jijik. “Ck… kerja pelayan saja segitunya kamu belain temanmu. Gaji juga enggak seberapa.” Kalimat meremehkan itu adalah racun bagi hati Aluna.
“Memang kenapa kalau pelayan, Mbak? Gajiku memang enggak seberapa, tapi aku enggak ada ngutang sana-sini sampai jual barang mertua!” sindir Aluna telak.
Annisa tersentak. “Kamu nyindir aku, Lun?” tanyanya tak terima, wajahnya memerah.
“Kalau tersindir, ya enggak apa-apa sih, kan memang itu kebenarannya. Jadi Mbak enggak usah marah,” kata Aluna tak gentar, membalas tatapan tajam Iparnya.
“Kamu makin hari makin kurang ajar, ya, Lun!” kata Annisa, tangannya terangkat, hendak menampar Aluna.
“Ibu… hiks…”
Teriakan Alifah, keponakan Aluna menghentikan gerakan tangan Annisa. Gadis kecil itu ketakutan melihat perdebatan sengit antara Ibu dan Tanteya.
Annisa menurunkan tangannya. “Untung saja ada Alifah. Kalau tidak, sudah dari tadi aku tampar mulut kurang ajarmu itu,” desis Annisa penuh ancaman.
“Annisa…” tegur Bu Sasmi, tak menyangka menantunya bisa berkata sekasar itu pada Aluna.
“Ibu lihat sendiri, kan, bagaimana sikap asli menantu kesayangan Ibu ini?” kata Aluna, matanya menunjukkan rasa sakit yang mendalam. Ia merasa dikhianati dan diserang di rumahnya sendiri.