Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Ketika Permainan Dibuka
Ledakan itu tidak terdengar.
Ia datang dalam bentuk email.
Pukul 08.12 pagi, seluruh jajaran direksi menerima notifikasi audit internal bertanda prioritas tinggi. Subjeknya singkat:
Temuan Awal — Proyek Eastbay
Aruna membaca isinya di mejanya, napasnya terasa berat meski kata-katanya formal. Audit mengonfirmasi manipulasi akses data. Nama yang semalam ia lihat di layar Calvin kini tercantum sebagai pihak yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Direktur operasional.
Ruang kantor terasa berubah suhu. Percakapan yang biasanya ringan pagi hari menghilang, digantikan bisik-bisik yang terlalu cepat berhenti ketika Aruna lewat. Ia bisa merasakan gelombang ketegangan merambat seperti listrik statis.
Ponselnya bergetar.
Calvin:
Ruang rapat utama. Sekarang.
Di dalam ruang rapat, udara terasa padat. Beberapa direksi sudah duduk, wajah mereka kaku. Direktur operasional—Pak Hendra—datang paling akhir. Wajahnya terkendali, bahkan terlalu tenang.
Audit memulai presentasi tanpa dramatisasi. Grafik. Waktu akses. Jejak perubahan. Fakta ditampilkan satu demi satu.
“Data menunjukkan modifikasi dilakukan dari akun internal dengan otorisasi tingkat tinggi,” jelas auditor. “Perubahan tersebut secara sistematis mengalihkan tanggung jawab laporan.”
Sunyi menekan ruangan.
Tatapan mulai beralih ke Hendra.
Ia menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis. “Ini tuduhan serius,” katanya. “Sistem bisa dimanipulasi. Kita tidak bisa langsung menyimpulkan.”
Audit tidak membantah. Mereka hanya memutar bukti tambahan.
Waktu. Log aktivitas. Pola yang terlalu konsisten untuk disebut kebetulan.
Aruna tidak ikut bicara. Ia hanya mengamati. Di sudut matanya, ia melihat rahang Calvin mengeras sedikit—tanda bahwa ia sudah siap menghadapi perlawanan.
“Pak Hendra,” kata Calvin akhirnya, suaranya datar tapi tegas. “Sampai investigasi selesai, Anda akan dinonaktifkan sementara dari akses operasional.”
Kalimat itu jatuh seperti palu.
Hendra menoleh perlahan. “Anda percaya ini?” tanyanya dingin.
“Saya percaya proses,” jawab Calvin.
Tatapan Hendra beralih ke Aruna. Hanya sepersekian detik—tapi cukup lama untuk menyampaikan pesan tanpa kata: ini belum selesai.
Rapat berakhir tanpa ledakan suara. Justru kesunyian itulah yang terasa lebih berbahaya.
Begitu keluar ruangan, Aruna berjalan cepat menuju lift. Jantungnya berdetak keras, bukan karena takut—melainkan karena sadar bahwa permainan telah benar-benar dibuka.
Pintu lift hampir tertutup ketika tangan seseorang menahannya.
Hendra.
Aruna membeku sepersekian detik saat ia masuk.
Lift bergerak turun. Sunyi.
“Kamu pikir ini kemenangan?” katanya tanpa menoleh.
Aruna menegakkan bahu. “Saya tidak menganggapnya pertandingan.”
“Tentu saja,” balasnya pelan. “Karena kamu belum melihat bagaimana pertandingan dimainkan.”
Tatapannya bertemu Aruna di pantulan dinding logam lift. Tenang. Berbahaya.
“Orang-orang seperti kamu,” lanjutnya, “percaya sistem akan melindungi.”
Lift berbunyi.
Pintu terbuka.
Hendra melangkah keluar, lalu berhenti sebentar. “Sistem hanya melindungi orang yang tahu cara mengendalikannya.”
Pintu tertutup kembali.
Aruna menghembuskan napas yang tak ia sadari ia tahan. Tangannya mengepal pelan. Ancaman itu tidak kasar. Justru itulah yang membuatnya terasa nyata.
Saat pintu lift terbuka di lantainya, Calvin sudah berdiri menunggu di koridor. Seolah ia tahu persis ke mana lift itu membawa Aruna.
“Dia bicara denganmu?” tanya Calvin singkat.
“Iya,” jawab Aruna. “Dan dia tidak terlihat seperti orang yang menyerah.”
Calvin mengangguk pelan. “Bagus.”
Aruna mengerutkan kening. “Bagus?”
“Artinya kita sudah menyentuh sesuatu yang penting,” katanya. “Dan orang yang terpojok selalu menunjukkan bentuk aslinya.”
Aruna menatapnya lama. “Ini baru permulaan, ya?”
Tatapan Calvin tenang. Pasti.
“Sekarang,” katanya, “permainannya terbuka.”
Dan Aruna tahu—tidak ada lagi ruang untuk diam.
Aruna menatap lorong yang panjang, napasnya sedikit teratur kembali. Lift telah menutup pintu, tapi gema kata-kata Hendra masih menempel di pikirannya. Tidak ada teriakan, tidak ada ancaman langsung—tapi cara dia berbicara cukup untuk membuat Aruna sadar bahwa setiap langkahnya kini diawasi. Setiap gerakannya, setiap dokumen yang disentuh, bisa dijadikan senjata.
Ia melangkah lebih cepat menuju ruang kerja. Tangannya menggenggam tas selempang, tetapi jari-jarinya tetap rileks, siap mengetik, siap menutup setiap celah. Ini bukan tentang menakut-nakuti dirinya. Ini tentang permainan yang terbuka—dan di dalamnya, setiap detik salah bisa membuat posisi seseorang goyah.
Pikiran Aruna kembali ke rapat tadi. Grafik, log aktivitas, pola yang terlalu rapi… semuanya menunjukkan satu hal: ada yang ingin mengalihkan tanggung jawab, tapi mereka juga ingin terlihat tak terlihat. Strategi yang sangat halus, tapi mematikan jika salah satu pihak bereaksi terlalu emosional.
Ia menghela napas panjang, menahan denyut adrenalin yang mulai meningkat. Kali ini, tidak ada ruang untuk kesalahan. Tidak ada ruang untuk langkah spontan yang bisa dimanfaatkan lawan. Setiap kata, setiap gerakan, harus diperhitungkan. Aruna tahu, inilah saat di mana kemampuannya diuji—bukan hanya sebagai legal officer, tapi sebagai orang yang tahu bagaimana menjaga dirinya tetap aman dari serangan yang tidak terlihat.
Calvin menunggu di meja kerjanya, tatapannya tetap fokus pada layar monitor. Ia menoleh ke Aruna sekejap, tapi cukup untuk memberi pesan yang tidak perlu diucapkan: “Kita hadapi ini bersama.” Sekali lagi, Aruna merasakan perbedaan. Ada ketenangan di hadapannya, tapi ketenangan itu bukan pasif. Itu adalah persiapan, itu adalah strategi.
Aruna menatap layar laptopnya. Pesan internal sudah mulai berdatangan, beberapa pertanyaan sopan, beberapa komentar yang samar tapi menyiratkan keraguan. Semua itu akan dicatat, dianalisis, dan dipersiapkan untuk langkah selanjutnya. Tidak ada yang bisa menyentuhnya begitu saja.
Ia menutup laptop, menatap jendela. Cahaya pagi menyinari kota yang tampak tenang, tapi Aruna tahu di balik ketenangan itu, permainan sudah dimulai. Hendra sudah menunjukkan wajah aslinya—tenang, penuh kontrol, tapi berbahaya. Dan Aruna? Ia tidak akan lagi menjadi pion pasif.
Tangannya bergerak otomatis menulis catatan: setiap langkah Hendra, setiap ekspresi Calvin, setiap respons dari staf. Ini bukan hanya tentang membela diri. Ini tentang membalikkan keadaan. Jika lawan mengira mereka bisa menekan dengan ketidakpastian, Aruna akan menunjukkan bahwa ketenangan dan pengamatan bisa lebih mematikan daripada serangan terang-terangan.
Satu hal menjadi jelas di pikirannya: permainan ini tidak bisa ditangani sendirian. Tapi dengan Calvin di sisi lain, dengan strategi yang tepat, Aruna merasa pertama kali bahwa mereka bisa menahan tekanan itu, bahkan mengubah tekanan menjadi alat.
Ia menarik napas panjang, menatap langit-langit kantor sejenak, lalu menoleh ke Calvin. “Kita harus mengantisipasi semua kemungkinan,” katanya.
Calvin mengangguk. “Mulai sekarang, setiap langkah mereka akan kita prediksi. Tidak ada lagi kejutan.”
Dan Aruna tahu, dari hari ini, semuanya berubah. Permainan terbuka bukan hanya tentang audit atau dokumen. Ini tentang siapa yang bisa mengendalikan informasi, siapa yang bisa menguasai ruang, dan siapa yang tetap tenang di tengah badai yang tak terlihat.
Permainan sudah dibuka. Tidak ada lagi ruang untuk diam.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/