Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Rahasia Callen Yang diketahui Zea
POV Zea
Napas memburu, keringat menetes, dan musik SKJ yang akhirnya berhenti.
Pukul 08.20 pagi. Sesi penyiksaan massal—atau yang guru-guru sebut "Senam Pagi"—akhirnya selesai.
"Oke, semuanya! Bubar barisan! Silakan ambil alat kebersihan masing-masing dan menuju pos yang sudah ditentukan wali kelas!" Suara Pak Guru Olahraga menggema lewat pengeras suara, disambut sorakan lega (dan malas) dari ratusan siswa.
Lapangan seketika berubah menjadi lautan biru muda yang pecah. Siswa-siswa berhamburan mencari air minum atau berebut sapu lidi di gudang.
Aku menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan, lalu mataku langsung bergerak liar. Mencari satu target.
Mana dia?
Tadi, saat pendinginan, aku sempat lengah sedikit karena mengobrol dengan Rara. Dan benar saja, cowok itu gesitnya minta ampun. Begitu barisan bubar, Callen sudah menghilang dari jangkauan radarku.
"Dasar belut," gerutuku pelan sambil tersenyum miring.
Aku melihat punggung tegap yang familier itu sedang berjalan cepat—setengah berlari—menjauhi kerumunan, menuju arah koridor samping. Dia pasti mau kabur menemui Rafan atau bersembunyi di suatu tempat sepi.
"Rara, Din, kalian ambil alat duluan ya! Aku ada urusan bentar!" teriakku pada dua sahabatku tanpa menunggu jawaban mereka.
Aku berlari kecil mengejarnya, menerobos gerombolan anak kelas 12 yang sedang bercanda.
"Cal! Tunggu!"
Callen berhenti mendadak di dekat wastafel koridor luar. Bahunya sedikit turun, seolah menghela napas pasrah sebelum berbalik. Wajahnya datar seperti biasa, tapi aku bisa melihat kilatan 'ingin kabur' di matanya.
"Mau ke mana sih buru-buru banget?" tanyaku saat sudah berdiri di hadapannya, sedikit terengah.
Callen membetulkan letak kacamatanya. "Mau cari sapu. aku kebagian tugas bersihin area belakang kelas 11. Di sana banyak daun kering."
Area belakang kelas 11? Itu tempat paling pojok, sepi, dan jarang dilewati orang. Tentu saja dia memilih tempat itu. Tempat sempurna untuk menjadi tidak terlihat.
"Kebetulan banget!" seruku ceria. "aku juga belum dapet area pasti. Aku ikut kamu ya?"
Alis tebal Callen bertaut. "Zea... bukannya kamu harus sama Rara dan Dinda? Di sana kotor, banyak debu, banyak nyamuk. Nggak cocok buat..." Dia menunjukku dari atas ke bawah, seolah berkata 'Nggak cocok buat tuan putri sepertimu'.
"Nggak apa-apa kok," potongku cepat.
Callen menggeleng pelan, wajahnya mulai terlihat tegas. "Jangan, Zea. Nanti kamu dimarahin wali kelasmu kalau nggak ikut area yang sudah ditentukan. Lagian aku mau cepet selesai biar bisa istirahat. Kalau ada kamu, nanti malah..."
Dia tidak melanjutkan kalimatnya, tapi aku tahu maksudnya: 'Kalau ada kamu, nanti jadi ribet dan menarik perhatian.'
Dia hendak berbalik pergi, benar-benar berniat meninggalkanku.
Oke. Cara halus tidak mempan. Saatnya mengeluarkan kartu As.
Aku melangkah maju, memangkas jarak di antara kami. Callen reflek mundur selangkah, punggungnya menabrak tembok koridor. Dia terlihat kaget dengan agresivitasku.
Aku menjinjit sedikit, mendekatkan wajahku ke sisi wajahnya. Dia membeku. Aku bisa mencium aroma tubuhnya—bukan bau keringat apek seperti cowok lain setelah olahraga, tapi aroma harum yang enak bercampur dengan deterjen pakaian.
Aku mendekatkan bibirku ke telinganya, lalu berbisik dengan nada rendah yang penuh kemenangan.
"Kalau kamu nolak aku ikut..." bisikku pelan, memastikan tidak ada orang lain yang dengar. "Aku bakal bocorin rahasia kecilmu ke satu sekolah, wahai pemuda berambut biru."
Tubuh Callen menegang seketika.
Otot bahunya mengeras. Dia menoleh cepat ke arahku, begitu cepat sampai hidung kami nyaris bersentuhan.
Mata cokelat terangnya melebar sempurna. Topeng datarnya retak, digantikan oleh ekspresi shock murni.
"Apa maksudmu?" suaranya tertahan, terdengar waspada. "Gimana kamu tahu soal..."
Dia tidak berani menyebutkan kata "rambut biru" itu.
Aku memundurkan wajahku, memberinya ruang bernapas, lalu tersenyum manis—senyum paling polos yang kupunya.
"Hehe... ada deh," jawabku santai sambil mengedipkan sebelah mata. "Dunia ini sempit, Cal. Dan dinding punya telinga."
Tentu saja aku tidak akan bilang kalau mamanya sendiri yang pamer foto itu padaku kemarin sore. Biar dia penasaran. Biar dia tahu kalau aku memegang kendali kali ini.
Callen menatapku lekat-lekat, mencoba mencari kebohongan di mataku. Dia terlihat bingung, panik, tapi juga... takjub? Mungkin dia tidak menyangka aku bisa menggali informasi sedalam itu.
"Jadi..." Aku memiringkan kepala. "Boleh aku ikut bersih-bersih bareng kamu, Tuan Jenius?"
Callen menghela napas panjang, sangat panjang, seolah baru saja kalah perang dunia. Bahunya turun lemas.
"Terserah," gumamnya pasrah. "Tapi jangan berisik."
Aku tertawa pelan melihat kepasrahannya. "Siap, Bos!"
Tanpa menunggu lagi, aku berjalan mendahuluinya menuju gudang peralatan.
"Ayo, Cal! Jangan bengong aja!"
Callen mengikutiku dari belakang dengan langkah gontai. Kemenangan manis di pagi Jumat.
Namun, tanpa kami sadari, drama kecil di koridor tadi tidak luput dari pengamatan.
Di seberang lapangan, di dekat tiang bendera, sekelompok siswa sedang duduk-duduk di atas pot bunga beton. Mereka adalah kumpulan "anak populer" kelas 10—tipe siswa yang merasa sekolah adalah panggung peragaan busana.
Ada Kevin, si anak basket yang naksir berat padaku sejak MPLS. Ada juga geng cewek-cewek hits yang selalu sinis melihat siapa pun yang lebih menonjol dari mereka.
"Eh, liat tuh," Kevin menunjuk dengan dagunya, matanya menyipit tidak suka. "Itu Zea kan? Ngapain dia nempel-nempel sama si Callen?"
"Callen? Siapa? Cowok cupu yang ranking bontot itu?" tanya salah satu cewek dengan nada jijik.
"Iya, yang itu. Liat deh, mereka jalan bareng ke belakang sekolah. Mencurigakan banget," timpal temannya.
Kevin meremas botol air mineral di tangannya sampai penyok. Wajahnya merah padam menahan cemburu. Dia sudah mencoba mendekati Zea berkali-kali—membelikan minum, mengajak pulang bareng—tapi selalu ditolak halus. Dan sekarang, melihat Zea justru agresif mengejar cowok yang menurutnya "di bawah standar", egonya terluka parah.
"Nggak beres nih," gumam Kevin dingin. "Pake pelet apaan tuh anak sampe Zea bisa kayak gitu?"
"Labrak aja, Vin," kompor salah satu temannya. "Biar tahu diri dikit."
Kevin menatap punggung Callen yang menjauh dengan tatapan tajam penuh permusuhan.
"Liat aja nanti," desis Kevin. "Gue bakal bikin dia nyesel udah cari gara-gara."