NovelToon NovelToon
Benih Yang Tertukar

Benih Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Hamil di luar nikah / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eliana Rovelle

Isabella Harper adalah wanita muda dan mandiri yang tidak pernah kalah dalam perdebatan. Dia merasa hidupnya akhirnya sesuai dengan keinginannya. Dia memiliki pekerjaan yang bagus dan rumah baru yang nyaman. Hidupnya sempurna.

Dia memiliki semua yang diinginkannya kecuali satu hal, seorang bayi.

Karena pengalaman pahit di masa lalu, Bella kesulitan mempercayai laki-laki, sehingga dia tidak punya pilihan lain selain donor sperma.

Lalu apa yang terjadi ketika dia mengetahui bahwa ada kesalahan penempatan, bahwa dia mengandung benih dari pewaris miliarder Rafael Mogensen?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#10. benih yang tertukar

Bella sama sekali belum siap. Ia harus memerankan dua peran sekaligus, ibu dan ayah. Menjadi seorang ibu saja sudah cukup melelahkan. Ia punya terlalu banyak bukti, termasuk betapa seringnya ia dan saudaranya terlibat masalah semasa kecil, bahkan sampai pernah mencoba menjual saudaranya di Amazon saat ulang tahun mereka yang kedelapan.

Ia terlalu naif jika berpikir bisa melakukan semua ini sendirian. Air mata tiba-tiba mengalir tanpa peringatan.

“Ada apa?” tanya Ruby.

Anne mengusap punggung Bella dengan gerakan memutar yang lembut, namun justru itu membuat tangisnya semakin pecah.

“Menurut kalian, apakah aku melakukan kesalahan? Maksudku, menjadi seorang ibu. Kurasa aku tidak mampu. Aku akan melakukan ini sendiri,” ucap Bella di sela tangisnya.

“Tidak Bella, menjadi seorang ibu adalah sebuah berkah,” kata Ruby.

“Tapi bagaimana jika aku melakukan kesalahan, mungkin ini terlalu cepat,” lanjut Bella masih menangis.

“Kamu bahkan belum tahu hasilnya,” ujar Anne. “Setelah kamu tahu hasilnya, barulah kamu bisa menentukan langkah selanjutnya.”

“Lagipula, kamu selalu punya kami,” tambah Ruby sambil tersenyum kecil.

Mereka benar. Bella terlalu tenggelam dalam emosinya sendiri. Ia memang menginginkan bayi. Entah ia hamil atau tidak, apa pun hasilnya, itu akan menjadi yang terbaik. Ia bisa menghadapi ini.

“Aku sudah siap melihat hasilnya sekarang,” kata Bella sambil menyeka air matanya.

Namun jauh di lubuk hatinya, ketakutan terbesarnya justru mulai muncul. Bagaimana jika semua ini hanya alarm palsu? Bagaimana jika ia sebenarnya tidak hamil?

Anne menepuk punggungnya pelan, memberi dorongan tanpa kata.

Bella bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi. Ia mengambil alat tes kehamilan dari ambang jendela dan menggenggamnya erat. Kegugupan menguasai dirinya sepenuhnya. Ia tidak ingin melihat hasilnya. Ia belum siap.

Dengan langkah berat, ia kembali menuju kamar tidur. Tiba-tiba, dunia terasa berputar di sekelilingnya.

“Kenapa tidak salah satu dari kalian yang memeriksa hasilnya? Aku terlalu gugup,” kata Bella.

Ruby bangkit dari tempat duduknya dan mengambil alat tes kehamilan dari tangan Bella. Ia menatap alat kecil itu selama beberapa detik. Alisnya perlahan mengerut, membuat jantung Bella berdegup semakin kencang. Bella sama sekali tak bisa membaca ekspresinya, apakah hasilnya positif atau tidak?

Anne ikut mendekat, mencondongkan tubuhnya untuk melihat hasil tes tersebut. Pandangannya terpaku pada alat itu, sama seriusnya dengan Ruby.

Bella berdiri mematung, kecemasan mengikat seluruh tubuhnya, menunggu salah satu dari mereka akhirnya bersuara.

Ruby mendongak lebih dulu. “Kau hamil,” katanya. Senyum langsung merekah di wajahnya, matanya membesar penuh keterkejutan dan kebahagiaan.

“Hasilnya positif,” sahut Anne sambil melompat-lompat kegirangan. Bella masih terdiam, berusaha mencerna kata-kata itu.

Ruby melingkarkan lengannya di tubuh Bella dan menariknya ke dalam pelukan erat.

“Aku hamil,” gumam Bella pada dirinya sendiri. Saat kesadarannya benar-benar menyusul, ia ikut melompat-lompat di tempat seperti anak kecil berusia tiga tahun.

Ruby akhirnya melepaskan pelukannya.

“Aku hamil!” teriak Bella sekali lagi.

“Selamat, aku akan menjadi seorang bibi,” kata Anne sambil menggenggam tangan Bella dengan antusias.

“Sebaiknya aku yang jadi ibu baptisnya,” timpal Ruby.

Bella tahu dirinya jarang masuk kerja akhir-akhir ini, tetapi momen ini pantas dirayakan.

“Ayo kita rayakan, aku yang traktir,” kata Ruby.

“Kita bisa pergi ke restoran Prancis itu,” usul Anne.

Bella memang menyukai makanan Prancis juga dengan musik, budaya, dan suasananya. Mereka bertiga selalu menikmati tempat itu bersama.

“Kamu harus bersiap-siap,” kata Anne. “Tapi, sebaiknya kau tetap memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan kehamilan mu. Tes kehamilan di rumah tidak selalu dapat diandalkan. Kamu sebaiknya melakukan tes darah.”

“Ya,” Bella mengangguk setuju.

Tiba-tiba ponsel Bella berdering, memecah suasana bahagia itu. Ponsel tersebut tergeletak di meja samping tempat tidurnya.

Bella berjalan mendekat dan mengambilnya. Nama di layar membuatnya mengernyit bingung.

“Ini Dr. Tina,” katanya sambil menatap layar ponsel.

“Apa yang dia inginkan?” tanya Ruby.

Bella sudah menjalani semua prosedur. Satu-satunya yang tersisa hanyalah sisa pembayaran di akhir bulan yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Ia tak mengerti alasan dokter itu meneleponnya sekarang.

“Halo,” jawab Bella.

“Apakah ini Isabella Harper?” tanya Dr. Tina, suaranya terdengar cemas.

“Ya,” jawab Bella. “Ada apa?”

Ruby dan Anne sama-sama menatap Bella dengan ekspresi bingung.

“Ya, saya ingin Anda datang ke kantor saya hari ini. Ada hal penting yang perlu kita diskusikan,” ujar Dr. Tina di ujung telepon.

Kekhawatiran mulai merayap di benak Bella. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Bisakah kita bertemu besok saja? Saya ada urusan hari ini,” katanya. Ia sama sekali tidak ingin pergi ke mana pun. Yang ia inginkan hanyalah meringkuk di tempat tidur.

“Maaf, ini tidak bisa ditunda. Ini cukup penting. Bisakah Anda datang ke kantor saya pukul sembilan pagi?” tanya dokter itu.

“Tentu,” jawab Bella pelan.

“Sampai jumpa nanti,” kata Dr. Tina sebelum menutup telepon.

Bella menjauhkan ponsel dari telinganya.

“Apa katanya?” tanya Anne.

“Dr. Tina ingin bertemu hari ini. Katanya penting,” jawab Bella.

Belakangan ini, Bella hampir tak punya waktu untuk dirinya sendiri. Jika tidak bekerja, ia sibuk memikirkan bayi itu atau sekadar merasa terlalu lelah untuk melakukan apa pun.

“Dia mau bilang soal apa?” tanya Ruby.

“Tidak tahu,” Bella menggeleng. “Sepertinya kita harus membatalkan rencana hari ini. Aku tidak tahu berapa lama harus berada di kantornya,” katanya dengan nada menyesal.

“Kita bisa merayakannya besok saja,” saran Ruby.

“Ya,” sahut Anne setuju.

Bella tersenyum kecil, penuh rasa bersalah. Ia merasa terlalu sibuk hingga tak punya waktu untuk mereka atau untuk hal lain.

Ia lalu masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya. Setelah muntah cukup parah, ia menyikat gigi, lalu mandi air hangat untuk menenangkan tubuhnya.

Bella mengenakan celana jins hitam ketat selagi masih muat, dipadukan dengan kaus putih sederhana dan sandal. Setelah itu, ia melangkah ke dapur. Aroma kopi dan makanan langsung menyambutnya.

Di atas meja terdapat semangkuk besar berisi berbagai jenis sandwich. Keju yang meleleh di antaranya membuat perut Bella langsung berbunyi lapar.

Ia menatap Ruby dan Anne dengan pandangan heran. Seingatnya, tak satu pun dari mereka pandai memasak. Bahkan, Bella yakin mereka bisa saja membakar air.

Seolah membaca pikirannya, Ruby tersenyum kecil. “Pesan lewat pesan antar, Sayang,” katanya santai.

Bella merasa heran mereka bisa mengirim pesanan secepat itu. Biasanya, layanan tersebut membutuhkan waktu hampir satu jam.

Ia menarik kursi dan duduk. Ruby meletakkan piring di hadapan mereka masing-masing, lalu menyajikan secangkir kopi untuk dirinya dan Anne.

Bella mengambil tiga sandwich sekaligus dan langsung menyantapnya dengan lahap.

Setelah sarapan selesai, Anne dengan cekatan menumpuk piring-piring dan memasukkannya ke dalam mesin pencuci piring.

“Lebih baik kamu segera berangkat. Sudah hampir setengah sembilan,” ujar Ruby.

Bella bersandar malas di kursinya. Seperti biasa, rasa kantuk dan lelah langsung menyerangnya setelah makan.

“Baiklah,” gumamnya. Ia harus segera menyelesaikan urusan ini.

Dengan enggan, Bella bangkit dari duduknya. Ia meraih dompet, kunci rumah, dan kunci mobilnya.

“Kita mungkin bertemu besok. Kita bisa pergi keluar setelah kamu kembali,” kata Ruby.

Ruby memang memiliki kunci cadangan apartemen Bella. Awalnya Bella memberikannya untuk keadaan darurat, tetapi kenyataannya kunci itu lebih sering digunakan Ruby untuk menonton Netflix dengan akun milik Bella.

“Sampai jumpa,” kata Bella sambil menutup pintu depan.

“Sampai jumpa,” sahut Ruby dan Anne hampir bersamaan.

Lalu lintas hari itu lebih padat dari biasanya. Bagi kebanyakan orang, hari itu adalah hari libur, waktu yang tepat untuk mengunjungi restoran dan pusat perbelanjaan.

Saat Bella tiba di kantor Dr. Tina, waktu sudah melewati pukul sembilan. Ia berharap dokter itu bisa memakluminya.

Dengan cemas, Bella mengetuk pintu ruang praktik Dr. Tina. Ia belum pernah sekalipun datang terlambat untuk janji temu dengannya. Pertemuan terakhir mereka seharusnya menjadi yang terakhir, lalu mengapa ia berada di sini sekarang?

“Aku sudah menunggumu,” kata Dr. Tina sambil membuka pintu.

“Maaf sekali saya terlambat, lalu lintasnya sangat macet,” ujar Bella.

Dr. Tina membuka pintu lebih lebar dan memberi isyarat agar Bella masuk. Saat itulah Bella menyadari ada dua orang lain yang sudah duduk di dalam ruangan itu.

Keduanya membelakanginya. Dari postur tubuh yang terlihat, Bella bisa menebak bahwa salah satunya adalah seorang pria dan yang lainnya seorang wanita.

Sebenarnya, apa yang sedang ia lakukan di tempat ini?

Bella melangkah masuk ke dalam ruangan dengan jantung berdegup tak menentu. Sejak detik pertama, firasat buruk menyelinap ke dalam dadanya.

Lalu pria itu berbalik. Tatapan tajam itu menghantamnya tanpa peringatan. Rafael.

Dada Bella mengencang. Mengapa mereka terus dipertemukan dalam situasi yang sama sekali tak diinginkan?

“Apa yang dia lakukan di sini?” tanya Rafael dengan nada kasar, jelas tak berusaha menyembunyikan kemarahannya.

Wanita di sampingnya ikut menoleh. Bella langsung mengenalinya, wanita yang sama yang bersama Rafael pada hari inseminasi. Istrinya.

“Itu yang akan saya jelaskan,” ujar Dr. Tina dengan suara menenangkan, mencoba meredam ketegangan. Ia lalu menoleh ke arah Bella. “Silakan duduk.”

Di depan meja kerjanya hanya tersedia dua kursi, dan keduanya telah terisi.

Bella menarik sebuah kursi dari sudut ruangan dan memindahkannya mendekati meja, namun cukup jauh dari Rafael dan istrinya. Ia tak bisa menahan perasaan iba yang muncul di dadanya. Wanita itu… benar-benar korban dari situasi ini.

Dr. Tina duduk di kursi besarnya. Ia menarik napas dalam-dalam, seolah sedang menimbang setiap kata yang hendak diucapkannya. Ia menunggu hingga Bella tampak lebih tenang sebelum akhirnya berbicara.

“Telah terjadi kesalahan di pihak kami,” katanya akhirnya. Pandangannya jatuh pada kedua tangannya yang terkatup di atas meja. “Staf kami salah mengambil sampel sperma.”

“Apa maksud Anda?” tanya Bella. Kebingungan semakin melilit pikirannya. Kesalahan apa? Dan apa hubungannya semua ini dengan dirinya atau dengan Rafael?

“Bella,” Dr. Tina memulai. Itu pertama kalinya ia memanggil Bella dengan nama depannya. Biasanya, ia selalu menyebutnya Nona Harper.

“Mereka secara tidak sengaja menukar sampel sperma yang Anda beli dengan milik Tuan Rafael.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!