NovelToon NovelToon
Teluh Kiriman Tetangga

Teluh Kiriman Tetangga

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Dendam Kesumat
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: ummiqu

"Mulutmu harimaumu"

Demikian lah peribahasa sederhana yang seringkali kita dengar. Dijadikan pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata.

Sayangnya itu tak berlaku untuk seseorang di luar sana. Dengan ringan lisannya berucap tanpa peduli imbas negatif yang ditimbulkan.

Malam-malam yang tenang dalam sekejap berubah jadi menegangkan.

Hadirnya sosok tak kasat mata yang selalu mengawasi, tak hanya membawa rasa sakit tapi juga ketakutan.

Lalu siapa yang bisa bertahan sampai akhir, 'dia' atau mereka ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Diikuti Sesuatu

Malam itu pengajian untuk mendoakan Ginah digelar di rumah. Suasana terlihat ramai oleh para tetangga dan kerabat yang datang berkunjung.

Harsa datang dengan membawa beberapa kotak kue. Yudha dan Azam pun tersenyum lalu berdiri menyambut Harsa. Setelah saling berjabat tangan, Yudha mengajak Harsa bergabung dengan yang lain di ruang tamu. Sedangkan Azam membawa kotak kue pemberian Harsa ke dapur.

"Mas Harsa udah dateng Mbak," bisik Azam sambil menyerahkan kotak kue.

"Gitu ya. Terus kenapa kamu beli kue lagi Zam?. Kamu liat, di sini udah banyak kue," kata Laras sambil melirik kearah meja.

"Bukan aku yang beli tapi mas Harsa," sahut Azam.

Sambil meletakkan kue di atas piring, Laras nampak tersenyum tipis. Laras senang Harsa menepati janjinya untuk datang di acara pengajian malam ini. Rupanya Harsa berhalangan hadir di acara pemakaman Ginah tadi siang karena deadline pekerjaan.

Pengajian dipimpin ustadz Firman itu berjalan lancar. Tak ada hal aneh yang terjadi selama pengajian. Tapi saat pengajian selesai dan orang-orang mulai pamit pulang, sesuatu pun terjadi.

Laras yang sedang membereskan piring mendengar suara sang ibu yang memanggil namanya.

"Laras ...," suara mirip suara Ginah kembali memanggil.

"Iya, sebentar Bu. Aku beresin piring dulu," sahut Laras tanpa menoleh.

Tentu saja ucapan Laras membuat semua orang yang berada di dekatnya terkejut. Mereka sontak menoleh kearah Laras dan menatapnya lekat.

Sadar dirinya diamati oleh semua orang, Laras pun menghentikan aktifitasnya.

"Kenapa kalian ngeliatin aku kaya gitu. Emang ada yang aneh ya sama aku?" tanya Laras sambil mengamati dirinya sendiri.

"Barusan kamu ... ngomong sama siapa Ras?" tanya Lia setelah berhasil menguasai diri.

"Sama ibu lah. Emang kalian ga denger ibu manggil aku terus daritadi. Makanya aku bilang sebentar soalnya aku kan lagi beresin piring. Kenapa sih, emang aneh ya?" tanya Laras tak mengerti.

"Ya jelas aneh karena ibumu kan udah meninggal Ras. Nah yang kamu beresin itu kan piring suguhan untuk pengajian yang digelar khusus buat ibumu," sahut Lia.

Tentu saja jawaban Lia mengejutkan Laras. Dia mematung lalu menatap kearah kamar dimana suara itu berasal.

"Jadi cuma aku yang denger suara ibu. Aku lupa kalo ibu udah meninggal, jangan-jangan yang manggil aku tadi ... " Laras sengaja menggantung ucapannya karena merasa takut.

Sebelum semua orang berpikir lebih jauh, Yudha segera mendekat lalu merengkuh bahu sang kakak.

"Mbak Laras pasti kecapean makanya jadi halu. Iya kan?. Kalo gitu aku anter Mbak istirahat di kamar ya," kata Yudha.

Laras pun mengangguk gugup. Setelahnya dia mengikuti langkah Yudha yang membawanya ke kamar.

"Aku ga halu Yud. Aku beneran denger suara ibu tadi," kata Laras sesaat setelah pintu kamar tertutup.

"Tolong jangan kaya gini Mbak. Kamu bikin takut semua orang tau ga. Aku ngerti kalo Mbak masih dihantui rasa bersalah karena musuhan sama ibu sebelum beliau meninggal. Tapi bukan berarti ... " ucapan Yudha terputus karena Laras memotong cepat.

"Terserah kamu mau percaya atau ga. Tapi ibu emang manggillin aku terus tadi Yud. Kayanya ada sesuatu yang mau disampein berkaitan sama kematiannya yang ga wajar itu," kata Laras.

"Cukup Mbak. Di luar masih banyak orang, mereka bisa aja menggoreng apa yang mereka dengar dan membuatnya jadi cerita picisan. Kalo kamu sayang sama ibu, bisa kan kamu berhenti sekarang?!" tanya Yudha dengan nada suara tinggi.

Laras tersentak. Dia tahu semua orang masih berusaha mencari kelemahan keluarga mereka dan dia merasa tak nyaman karenanya.

"Iya, kamu bener Yud. Aku emang masih belum bisa maafin kesalahanku sendiri. Maaf ...," kata Laras dengan suara tercekat.

Melihat Laras hampir menangis Yudha pun iba. Dia segera memeluk sang kakak untuk menenangkannya.

Beberapa saat kemudian Laras merasa lebih baik. Dia pun mengurai pelukan lalu meminta Yudha kembali ke depan untuk menemani para tamu.

"Apa mau aku panggilan mas Harsa Mbak?" tanya Yudha sebelum membuka pintu kamar.

"Ga usah Yud. Aku ga mau bikin gosip baru di kampung ini," sahut Laras sambil menggelengkan kepala.

Yudha tersenyum lalu mengangguk.

" Ok. Mau titip salam mungkin?" tanya Yudha.

"Iya. Bilang sama dia, terimakasih kuenya. Maaf aku ga bisa nemuin dia sekarang karena masih capek," sahut Laras malu-malu.

Yudha kembali tersenyum. Setelahnya dia menutup pintu dan meninggalkan Laras dalam kondisi berbaring di atas tempat tidur.

\=\=\=\=\=

Satu jam sebelum pengajian dimulai.

Di saat orang-orang berdatangan ke rumah Sastro untuk mendoakan almarhumah Ginah, sesuatu yang berbeda justru terjadi di makamnya.

Dalam kegelapan malam terlihat seorang pria mengendap-endap masuk ke area pemakaman lalu berhenti di depan makam baru yang masih lembab dengan taburan bunga yang masih segar. Makam itu adalah makam Ginah.

Bukan tanpa alasan pria itu bisa menemukan makam Ginah dengan mudah, ternyata dia juga ikut memakamkan almarhumah Ginah tadi siang.

Pria itu berdiri tegak di depan makam Ginah. Sambil menatap ke sekelilingnya dan memastikan tak ada yang melihat aksinya, pria itu segera menurunkan resleting cela*a panjangnya. Kemudian dengan santai pria itu kencing di atas makam Ginah.

Tanpa bisa dicegah, air seni berwarna kekuningan itu membasahi permukaan makam yang memang masih lembab itu. Aroma pesing menguar seketika. Setelah selesai mengencingi makam Ginah, pria itu pergi sambil menyeringai puas.

Tanpa pria itu sadari, ada sosok lain yang menyaksikan aksinya. Sosok berupa pocong itu berdiri tegak di bawah pohon kamboja yang terletak tak jauh dari makam Ginah.

Kain kafan yang membungkus sosok pocong itu terlihat masih bersih pertanda pocong itu adalah 'penghuni baru' di area pemakaman.

Ikatan di sosoknya pun masih lengkap. Sosok itu terus mengikuti pergerakan pria itu hingga tiba di luar area makam.

Dengan cepat pria itu naik ke atas motor lalu melajukannya. Bersamaan dengan hengkangnya pria yang mengencingi makam Ginah, sosok pocong itu pun melesat pergi entah kemana.

Sambil melajukan motornya, pria itu nampak bersenandung riang seolah baru saja mendapat hadiah besar. Lagi-lagi dia tak menyadari ada sesosok pocong yang mengikutinya.

Sosok pocong itu nampak melompat setengah melayang di balik rimbun pepohonan. Dia berhenti saat pria itu juga berhenti dan bergerak saat pria itu bergerak. Setelah melajukan motornya beberapa menit, pria itu tiba di depan sebuah rumah. Sesaat kemudian seorang wanita nampak membuka pintu lalu keluar untuk menyambutnya.

"Gimana?" tanya wanita itu tak sabar.

"Beres. Aku udah lakuin apa yang kamu suruh. Sekarang mana bayarannya?" tanya pria itu sambil menadahkan telapak tangannya.

"Ck, iya iya. Ga sabar banget sih," sahut wanita itu sambil mengeluarkan sejumlah uang dari balik bajunya.

Pria itu nampak tersenyum saat menerima uang tersebut.Tapi sedetik kemudian senyum pria itu pudar setelah mengetahui jumlah uang yang diberikan tak sesuai dengan kesepakatan mereka.

"Kok segini?" tanya pria itu.

"Iya maaf. Uangnya kepake buat beli susu anakku tadi. Aku janji bakal lunasin pembayarannya pas suamiku transfer besok. Boleh kan?" tanya wanita itu penuh harap.

"Ga bisa lah. Kesepakatan kita kan dibayar lunas setelah aku melakukan apa yang kamu mau. Kalo kaya gini aku rugi dong!" kata pria itu lantang.

"Sssttt ... tolong kecilkan suaramu Mas. Aku ga mau ada orang yang denger nanti," pinta wanita itu.

"Aku ga peduli, pokoknya lunasin sekarang atau aku bocorin rekaman obrolan kita ini," kata pria itu sambil memperlihatkan ponselnya.

"A-apa maksudmu?. Kenapa kamu merekam semuanya Mas. Emangnya kamu ga percaya sama aku?" tanya wanita itu gusar.

"Awalnya aku cuma iseng, tapi ternyata rekaman itu bermanfaat juga. Sekarang terserah kamu, mau bayar lunas atau aku sebar rekaman ini," ancam pria itu.

"Tapi aku beneran ga punya uang sekarang Mas, suamiku baru transfer dua hari lagi. Tolong lah, kasih aku waktu untuk melunasinya," pinta wanita itu.

"Ck, aku ga pernah bekerja setengah-setengah, jadi aku juga ga suka dibayar setengah. Biar adil, kamu bisa pake cara lain untuk melunasinya," kata pria itu.

"Cara lain apa Mas?" tanya wanita itu.

Pria itu mengamati sekelilingnya sejenak, setelahnya dia menarik wanita itu masuk ke dalam rumah.

"Kamu mau apa Mas?!" tanya wanita itu.

"Aku cuma minta kamu lunasin bayaranku. Karena kamu ga punya uang, cara satu-satunya untuk melunasinya ya pake tubuhmu," sahut pria itu sambil menyeringai.

Wanita itu terkejut. Karena tak bisa berbuat apa-apa, akhirnya dia hanya bisa pasrah saat dipaksa melayani hasrat pria yang telah membantunya mewujudkan keinginannya itu.

Pria itu dengan brutal menggauli wanita di bawahnya. Sedang sang wanita hanya bisa diam menahan amarah.

"Ini gara-gara Ginah. Selama hidup selalu bikin orang susah, udah mati pun ga bisa bikin orang tenang. Liat aja, kalo aku ga bisa bikin kamu menderita di dunia, aku pasti akan membuatnya menderita di alam sana," batin wanita itu.

Dan malam itu dua peristiwa terjadi bersamaan. Jika di rumah Sastro bergema lantunan ayat-ayat suci Al Qur'an, maka tak jauh dari rumahnya justru terjadi sebuah transaksi haram yang bergelimang peluh dan dosa.

\=\=\=\=\=

1
Nurr Tika
lanjut thor 💪
any Sulistiani: in syaa Allah siap 👌🏻😊
total 1 replies
Nurr Tika
dikasih suami baik mlh selingkuh
any Sulistiani: yup, begitu lah klo org krg bersyukur.

lanjut lg ya say, mksh 😘
total 1 replies
Nurr Tika
lanjut
any Sulistiani: Alhamdulillah.., mksh kak 🙏🏻😊
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅
ehh nemu bacaan yg baru
bru baca soalnya
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅: iya kk tp maaf klo aq blm lanjut baca aoalnya aq ada kenadala kk di quota kadang ada kadang tidak
total 2 replies
Nurr Tika
pantesan ginah benci sma sartika ternya oh ternyata
any Sulistiani: betul. cinta masa lalu yg blm selesai berujung dendam yg ga berkesudahan 😖
total 1 replies
Nurr Tika
waktu hidup ngongnya nyinyir udah jdi pocong ja ngomongnya masih nyinyir ya ginah
any Sulistiani: he he 😄
total 1 replies
Nurr Tika
nyeselkan kamu ginah
Nurr Tika
sabar ya sastro
any Sulistiani: siaaapp 👌🏻
total 1 replies
Nurr Tika
somoga hubunganya langeng ya laras
any Sulistiani: aamiin ... mksh kak 🙏😊
total 1 replies
Nurr Tika
apa ginah kena santet
any Sulistiani: lanjut dulu ya kak ..
total 1 replies
Nurr Tika
kasiankan laras gara" kelakuan ibunya
Nurr Tika
mendinganurusin keluargamu sendiri drpada ngurusin hidup orang lain
any Sulistiani: yup, se7 kak 👍🏻
total 1 replies
Arlena Lena
cepet amat dibuat mati
Arlena Lena
si Ginah mirip si kokop kalo ngomong ta da remmm
any Sulistiani: in syaa Allah siaap KK 😊
total 3 replies
deepey
betul. ini tetangga julid satu ngajak gelud
any Sulistiani: he he ... iya KK 😄
total 1 replies
💎hart👑
dapet notif ada cerita baru dari ummibebs cus langsung baca...
any Sulistiani: Alhamdulillah.. mksh kak 🙏😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!