Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.
Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Lantai linoleum Rumah Sakit Harapan Bangsa memantulkan cahaya lampu neon dengan kejam, menciptakan ilusi sebuah lautan dingin yang tak berujung. Setiap langkah Lisa, meski sudah diperlambat, bergema hampa di koridor yang mulai dikosongkan oleh pergantian shift malam. Bau disinfektan yang menyengat menempel di tenggorokan, lebih tajam dari aroma apapun, sebuah parfum kematian yang disamarkan dengan kegigihan steril.
"Di sana."
Suara Sam terdengar seperti desisan udara dari celah jendela. Jemarinya yang samar menunjuk ke sebuah pintu baja berwarna abu-abu tua di ujung koridor. Tulisan stiker merah menyala: RUANG FARMASI TERBATAS — HANYA PETUGAS BERPENGAWASAN. Di sebelahnya, panel elektronik dengan lampu merah yang berdenyup pelan.
Lisa berhenti, berpura-pura mengecek ponselnya. Dia bersandar pada dinding yang dingin, matanya mengamati kamera pengawas di sudut pertemuan langit-langit dan dinding. Lensanya seperti mata hitam yang tak berkedip. "Pintunya sistem ganda, Sam. Ini menggunakan kode dan kartu akses. Aku tidak punya surat geledah. Jika aku mencoba membobolnya... itu bukan sekadar karier yang berakhir. Itu pidana."
"Aku tidak membutuhkan kartu." Jawab Sam, suaranya datar, tanpa nada menantang. Hanya sebuah pernyataan fakta. Sebelum Lisa bisa membalas, tubuh Sam bergerak maju. Ia tidak membuka pintu. Ia masuk ke dalamnya. Bahu dan kepalanya menyatu dengan baja seolah-olah logam itu adalah tirai air yang tebal, lalu menghilang sepenuhnya.
Lisa menahan napasnya. Dadanya sesak. Dia berdiri sendirian di koridor yang tiba-tiba terasa sangat panjang dan sangat sempit, seperti tabung eksperimen. Telinganya menyaring setiap suara—dengungan lemari es di kejauhan, bunyi klik lampu neon, desahan mesin dari ruang ICU. Di dalam ruangan terlarang itu, Sam bergerak di antara rak-rak besi tinggi yang dipenuhi oleh wadah-wadah kaca dan plastik. Aromanya berbeda di sana: kimiawi, tajam, dan tua. Cahaya darurat memberikan nuansa hijau pucat pada segalanya.
Matanya, yang telah belajar membaca energi seperti orang lain membaca emosi, menyapu setiap sudut. Dia merasakan gema dari amarah si kakek—rasa pahit yang tertinggal di udara seperti aftertaste dari sebuah teriakan yang diredam. Itu mengarahkannya, seperti kompas yang ditarik oleh kutub penderitaan.
Dia melewati tumpukan botol infus, kotak sarung tangan steril, hingga tiba di sudut paling belakang, di mana tumpukan kain kasa dan perban disimpan dalam keranjang plastik besar. Di bawahnya, tersembunyi hampir sempurna, ada sebuah loker logam kecil dengan gembok sederhana.
Sam tidak perlu kunci. Tangannya, yang terbuat dari kehendak dan ingatan lebih daripada materi, meraih ke dalam logam. Sensasinya aneh—seperti meraba dalam kabut yang padat. Lalu jemarinya menyentuh kaca. Sebuah botol vial kecil, tanpa label farmasi resmi, berisi cairan bening seperti air. Di sampingnya, terselip dengan ceroboh, sebuah jarum suntik sekali pakai, tutup pelindungnya sudah dibuka, di ujungnya masih ada noda cairan yang mengering.
"Dapat." Gumam Sam, suaranya hanya untuk dirinya sendiri.
Dia menarik diri keluar dari loker, dan seketika kepalanya muncul dari permukaan pintu baja, seperti penyelam yang muncul dari kolam. "Loker kecil. Pojok kanan bawah, tersembunyi di balik tumpukan kasa steril. Ada vial tanpa label dan jarum suntik bekas. Itu dia."
Lisa hampir tersentak. Suara Sam terdengar tepat di sebelah telinga kanannya, seolah-olah dia membisikkan rahasia. Lisa cepat-cepat menempelkan ponselnya ke telinga, berpura-pura sedang mendengarkan sesuatu. "Kau yakin? Yakin sekali? Kalau ini salah, aku—"
"Aku yakin, Lisa. Residu energinya... itu sama persis dengan yang menempel pada teh di apartemen. Rasa pahit yang sama, ketakutan yang sama—"
"Detektif Ahn?"
Suara itu, berat, serak, dan sangat dikenal, memotong kata-kata Sam seperti gunting memotong benang. Darah di pembuluh Lisa seolah membeku. Dia perlahan-lahan menurunkan ponselnya dan berbalik.
Lima meter darinya, berdiri Detektif Senior Hwang Hendry. Pria itu tidak mengenakan jas lab, hanya kemeja lengan panjang yang kusut dan celana chino. Tangannya bersedekap di dada, pose yang santai namun mata yang dihadapkannya pada Lisa tajam dan tanpa blink. Mata itu memindai: dari wajah Lisa, ke ponsel di tangannya, lalu ke pintu farmasi di belakangnya, dan kembali ke wajah Lisa.
"Senior... Hwang." Lisa berhasil mengeluarkan suara, berusaha menekan getarannya. "Apa yang membawa Senior ke sini?"
Hendry melangkah mendekat. Suara sepatu pantofel kulitnya berdentum di lantai linoleum, setiap langkahnya terukur dan berat. "Seharusnya itu pertanyaanku. Kau berdiri di depan ruang obat terkunci, bicara pada ponsel yang bahkan tidak menyala—" matanya menatap layar ponsel Lisa yang gelap, "—atau mungkin pada sesuatu yang lain?"
Di belakang Hendry, Sam tampak panik. Dia melambaikan tangan dengan liar, menunjuk ke arah ujung koridor, matanya membelalak memberikan isyarat: pergi!
Lisa dengan cepat menekan tombol samping ponselnya. Layar menyala, menampilkan wallpaper biasa. "Baterai lemah, Senior. Panggilannya jadi terputus." Katanya, terlalu cepat. "Saya sedang melacak perawat tersangka. Saya punya alasan kuat untuk percaya dia menyembunyikan bukti di dalam sini."
Hendry berhenti tepat di hadapan Lisa, begitu dekat hingga Lisa bisa melihat butiran kelelahan di sudut matanya, dan bau kopi kental yang bercampur dengan tembakau. Dia menoleh, memandang pintu baja itu lama, seolah-olah mencoba melihat apa yang dilihat Lisa. Lalu dia menatap Lisa lagi, dan dalam pandangan itu ada semacam kecemasan yang tertahan.
"Kau tahu prosedurnya, Lisa. Tanpa surat perintah, apa pun yang kau sentuh di dalam sana adalah buah ranjau yang beracun. Tidak akan ada pengadilan yang akan menerimanya. Atau..." Hendry menurunkan suaranya hingga hampir seperti bisikan, "…kau sudah begitu jauh terperosok dalam dongengmu sendiri, sampai kau pikir aturan tidak berlaku?"
Lisa mengepalkan tangan di samping tubuhnya, kukunya menancap di telapak tangannya. Di belakang Hendry, Sam membeku, wajahnya penuh ketegangan yang luar biasa. Ini adalah tebing yang curam. Satu kata salah, satu gerakan yang salah, dan Hendry akan menjadi lawan yang jauh lebih berbahaya daripada pembunuh manapun.
"Saya tidak perlu dongeng, Senior, ketika kebenaran berteriak dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka yang mau mendengarkan." Balas Lisa, menatap langsung ke mata Hendry tanpa berkedip. "Tapi saya butuh bukti. Dan bukti itu ada di balik pintu ini."
Hendry mendengus, suara yang kasar dan penuh kelelahan hidup. Dia mengeluarkan sebatang rokok dari saku kemejanya, memutarnya di antara jemarinya, teringat di mana mereka berada. "Pulanglah, sebelum aku membuat laporan resmi tentang penyidik yang berkeliaran di zona terlarang dan menunjukkan gejala gangguan psikotik. Dan untuk Tuhan, berhentilah bicara pada udara kosong. Itu sangat mengganggu."
Dia berbalik. Langkahnya kembali bergema, menjauh, hingga sosoknya hilang di balik belokan koridor.
Baru setelah itu Lisa membiarkan dirinya bersandar pada pintu baja yang dingin. Lututnya terasa lemas. Nafasnya yang tertahan selama ini keluar dalam hembusan panjang dan gemetar.
"Hampir saja." Bisik Sam, muncul kembali di sampingnya. Wajahnya pucat, bahkan lebih pucat dari biasanya. "Orang itu... dia seperti bisa merasakanku. Dan itu berbahaya."
Lisa mengangguk, menelan ludah yang terasa seperti pasir. "Dia benar tentang satu hal. Aku tidak bisa mengambilnya sekarang. Besok pagi, dengan tim resmi dan surat perintah. Tapi setidaknya kita sudah tahu di mana barang itu, dan kita bisa mengarahkan mereka."
Dia menatap koridor kosong di mana Hendry menghilang, namun merasa bayangan pria itu masih menggantung di sana, sebuah ancaman yang diam dan waspada. Pertarungannya bukan lagi melawan satu pembunuh yang licik. Sekarang, dia juga harus melawan kecurigaan dari dunianya sendiri, sambil menyembunyikan sekutu terbesarnya di balik selubung yang hanya bisa ditembus oleh matanya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
— Bersambung —