NovelToon NovelToon
PEWARIS TERHEBAT 7

PEWARIS TERHEBAT 7

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Crazy Rich/Konglomerat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Sci-Fi / Balas Dendam
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Lorcan (pemimpin Ultra Tech) yang terluka parah harus bertahan dari kejaran Galata bersama sisa anak buahnya, sambil berusaha mencapai Mondeno. Sementara itu, Xander dan kelompoknya—termasuk Osvaldo Tolliver, Lance, George, dan yang lain—berusaha melindungi diri dan menyelidiki misteri sosok hitam yang menjadi sumber kekuatan Draco.

Galata kini menggunakan "orang-orang berkemampuan khusus" yang telah dimodifikasi untuk melacak dan menyerang musuhnya. Luc dan Graham berusaha meretas sistem Galata, sementara Lorcan terpaksa bekerja sama dengan mantan musuhnya untuk bertahan hidup. Di sisi lain, Osvaldo Tolliver justru menyerahkan diri sebagai umpan untuk mengelabui Draco.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

"Aku tahu sekarang," ujar Gavin sembari mendekati sosok tiruannya yang terikat oleh rantai-rantai hitam. "Rantai hitam itu adalah sifat buruk yang terus mengikatku. Aku harus membebaskan diriku dari sifat burukku untuk bisa mencapai ketenangan."

Gavin tersenyum. "Aku sudah membaca dan mempelajari catatan seputar pengendalian waktu, tetapi aku justru melupakan hal yang sangat dasar. Semua berawal dari diriku sendiri. Selama ini aku terlalu menempatkan diriku dalam kesempitan yang diciptakan oleh pikiran dan perasaanku sendiri. Aku ... selalu merasa iri pada orang lain."

Layar menunjukkan jika Gavin kalah dari para robot. Ruangan seketika berubah normal bersamaan dengan para robot yang masuk ke dalam lantai kembali.

Gavin segera duduk bersila, menarik napas panjang, menutup mata perlahan. Pria itu berkonsentrasi penuh untuk masuk ke dalam pikirannya sendiri.

Hujan terus mengguyur deras. Angin berembus semakin kencang. Di tengah heningnya keadaan kediaman utama dan sekitarnya, Lance dan George tengah berkutat dengan pekerjaan mereka masing-masing, begitu pun dengan Luc dan Graham yang masih berusaha lepas dari kejaran pasukan Galata.

Xander dan keluarganya masih tertidur. Waktu masih menunjukkan pukul satu malam. Para robot berada di lokasi mereka masing-masing, melakukan tugas sesuai dengan arahan.

"Tidak ada kabar dari ayahku maupun Graham. Mereka sudah memutuskan komunikasi dengan kita seutuhnya," ujar Lance tanpa menoleh dari layar hologram.

George mengembus napas panjang, tertawa. "Aku yakin mereka akan selamat. Kita hanya harus percaya pada mereka dan melakukan tugas kita dengan sebaik mungkin."

"Aku bisa mendengar ketakutan dan keraguan dari ucapanmu barusan, George. Akan tetapi, aku akan mempercayai kata-katamu. Ayahku dan juga Graham sudah sering mengalami kejadian berbahaya sejak lama."

Lance tercenung sesaat, merasakan tubuhnya bergetar ketakutan. "Ayah sempat menyebut soal orang-orang berkemampuan khusus. Ini berbahaya. Jika mereka memiliki orang dengan kemampuan pelacakan, maka ayah akan selalu berada dalam bahaya."

Lance menoleh pada sebuah lemari. "Barang-barang itu masih belum seutuhnya selesai. Masih ada beberapa tahapan yang harus dilakukan. Aku sepertinya harus segera menyelesaikan benda-benda itu secepatnya."

Lance dan George berusaha fokus pada tugas. Meski kantuk menyerang, mereka tetap berada di depan layar hologram. Beberapa robot juga tampak sibuk membantu. Udara dingin seolah tidak ada karena terisap oleh ketakutan dan kecemasan mereka.

Di waktu yang sama, setitik cahaya kecil bersinar di tengah-tengah kegelapan hutan. Hujan mengguyur semakin deras, menggoyangkan satu-satunya sumber penerangan di dalam sebuah gubuk tua. Air tampak berjatuhan dari lubang di atap dan dinding.

"Sial!" Lorcan memaksakan diri duduk, mengembus napas panjang. Ia melihat para anggotanya yang tidak sadarkan diri. "Galata sudah mengutus orang-orang berkemampuan khusus untuk menangkapku. Ini akan semakin sulit dari waktu ke waktu."

Lorcan meringis saat menggerakkan tangan kirinya. "Aku berhasil mendapatkan beberapa robot dan mengisapnya, tetapi aku juga terkena serangan musuh. Sialnya, proses penyembuhan dan perbaikan menjadi lebih lambat.”

Gideon dan Gabriel tidak sadarkan diri di sebuah bangku kayu, begitu pun dengan dua anggota yang lain. Angin berembus semakin kencang sehingga air hujan menerobos semakin depan sampai api nyaris padam.

"Ada alasan kenapa Galata tidak langsung memerintahkan orang-orang berkemampuan khusus itu untuk menangkapku. Mereka kemungkinan memperbaharui kemampuan mereka hingga ke level maksimal. Seharusnya manusia tidak akan bisa menanggung beban dari kemampuan secara sempurna."

Di tengah hujan yang semakin deras dan petir yang berlarian di langit, sekelebat bayangan tengah bergerak cepat, melewati jalanan sempit, licin, dan berbatu. Saat petir menggelegar hingga keadaan menjadi terang, sesosok pria berdiri di hadapan gubuk.

Talon memasuki gubuk, mengembus napas panjang. Pria itu melepaskan kain, mengamati Lorcan dan rekan-rekannya. Ia memberikan buah-buahan ke hadapan Lorcan.

"Aku hanya mampu menemukan buah-buah itu, Ketua. Aku bergegas kembali saat melihat titik cahaya kecil di langit yang kemungkinan adalah robot milik Galata."

Lorcan mengambil sebatang pisang, memakannya meski rasanya pahit. "Setelah proses perbaikan selesai, kita harus segera pergi dari tempat ini secepatnya."

Talon menoleh pada Gideon, Gabriel, dan dua anggota lain. "Lalu, bagaimana dengan mereka, Ketua? Apakah kita akan meninggalkan mereka?"

"Dalam keadaan normal, aku akan meninggalkan mereka. Akan tetapi, dalam keadaan berbahaya seperti sekarang, bantuan kecil sangat diperlukan. Kita tidak boleh meninggalkan mereka di hutan ini."

"Aku mengerti." Talon duduk di atas sebuah batu, termenung selama beberapa waktu. Saat memejamkan mata, ia teringat dengan kejadian pertarungan beberapa waktu lalu. Jika Lorcan tidak segera membuka portal, maka ia dan yang lain sudah pasti tertangkap Galata.

Talon mengamati beberapa robot yang tergelatak di tanah. Untuk menghindari Galata, mereka terpaksa mematikan semua robot.

Di tempat berbeda, Simon, Taro, dan anggota kelompok lain berada di sebuah gua. Hujan semakin deras dari waktu ke waktu. Hanya api unggun yang menjadi sumber penerangan. Cahayanya semakin mengecil karena kayu bakar sudah nyaris habis.

Simon melemparkan beberapa ranting kering, mengamati anggota-anggota yang memaksakan diri tertidur.

Peristiwa pertarungan tadi menjadi pukulan telak bagi mereka. Hampir setengah dari anggota berhasil tertangkap oleh Galata, dan sisanya berhasil melarikan diri setelah terlibat pengejaran.

"Kita tidak boleh terus berada di situasi seperti ini," ujar Taro.

"Siapa pun tidak ingin berada dalam posisi ini, Taro. Dibandingkan mengeluh, kau seharusnya bersyukur karena kita berhasil selamat dari penyerangan tadi. Galata ... mengirimkan orang-orang berkemampuan khusus sehingga kita semakin kesulitan. Di saat yang sama, kita sudah berada di titik lelah dan tidak memiliki cukup senjata."

Taro berbaring, mengamati langit-langit gua. Beberapa bayangan terlihat di atas, bergerak-gerak seiring api yang bergoyang ke kanan dan kiri. "Apakah kita bisa kembali hidup dengan normal?"

Simon berbaring di samping Taro. "Hidup normal apa yang kau maksud? Sejak awal, kita hidup tidak normal."

Taro tertawa. "Kau benar. Aku beberapa kali berpikir kalau hidup seperti manusia kebanyakan adalah hal yang menyenangkan. Kita hanya perlu menjalani kehidupan tanpa harus memikirkan hal-hal yang memuakkan. Kita bisa bersenang-senang dengan sedikit beban."

"Jika kau ingin merasakan kehidupan seperti itu, kau harus selamat dari Galata agar bisa membuat kehidupan normalmu sendiri. Kau juga harus bahagia dengan keluargamu."

"Kata-katamu seperti orang tua, Simon. Sudah aku duga jika kau adalah orang yang menyebalkan." Taro kembali tertawa hingga akhirnya ia merasa kantuk dan tertidur.

Simon menatap Taro. "Ya, kau harus bahagia bersama keluargamu, Taro.”

Petir menggelegar hingga keadaan menjadi terang benderang. Hujan semakin deras, disusul angin kencang hingga air hujan tersapu ke dalam gua.

Galata terus mencari informasi mengenai orang-orang yang diminta Draco. Satu per satu informasi mengenai mereka berhasil didapatkan, dan pasukan segera pergi ke lokasi kemunculan orang-orang itu.

"Kita akan pergi ke kediaman Osvaldo Tolliver," ujar salah satu pemimpin pasukan.

Osvaldo Tolliver bergegas pergi menuju ruangan Lance dan George begitu mendapatkan penglihatan.

1
Nathan Grdn
tarik nafas
Nathan Grdn
masa kalah terus jagoan nya,persis di konoha penjagat selalu di depan
MELBOURNE
saksikan terus
jangan lupa juga baca novelku yang lain yaa👍👍
aim pacina
Miguel Mikael dan govin berikan kekuatan khusus thor biar seru karna fisik mereka kuat
Glastor Roy
update ya torrr ku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!