NovelToon NovelToon
Tunangan Yang Tak Di Anggap

Tunangan Yang Tak Di Anggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romansa / Konflik etika
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Alea Maheswari tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan berakhir menjadi pion dalam permainan bisnis ayahnya. Ia dipaksa bertunangan dengan Dafin Danuar, seorang CEO dingin yang merupakan putra dari rekan bisnis keluarganya.

Bagi Dafin, kehadiran Alea adalah gangguan besar. Hatinya sudah terkunci untuk kekasih pilihan hatinya sendiri. Di mata Dafin, Alea hanyalah penghalang kebahagiaannya, sementara bagi Alea, pertunangan ini adalah beban yang harus ia pikul demi kehormatan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penguntit

Alea terus menatap keluar jendela, menyembunyikan wajahnya yang sembab, sementara Kenan tetap fokus pada kemudi meski hatinya dipenuhi tanda tanya.

Setelah beberapa menit keheningan, Kenan akhirnya memberanikan diri untuk memecah suara.

"Kita mau ke mana, Nona? Apakah langsung ke kantor Tuan Arkan atau ada agenda lain?" tanya Kenan.

Alea menghela napas panjang, ia memutar tubuhnya sedikit ke arah Kenan.

"Aku ingin menyegarkan otakku, Kenan. Aku tidak mau ke kantor, aku tidak mau melihat Papa, dan aku sangat tidak mau bertemu Dafin. Apa kamu punya tempat yang menyenangkan?"

Kenan melirik Alea melalui spion tengah. Ia melihat keputusasaan yang nyata di mata Nona Mudanya. Tanpa berucap sepatah kata pun, Kenan memutar kemudi ke arah yang berlawanan dengan pusat kota. Ia membawa mobil itu melaju menuju pinggiran kota, meninggalkan gedung-gedung pencakar langit dan kemacetan yang menyesakkan.

Perjalanan itu memakan waktu hampir satu jam. Pemandangan di kiri dan kanan jalan mulai berubah; dari beton-beton keras menjadi jajaran pohon yang mulai rapat. Mereka melewati sedikit area hutan yang asri, jalanan mulai berkelok dan menanjak, hingga akhirnya Kenan memelankan laju mobilnya saat memasuki sebuah jalan setapak yang tertutup rimbunnya dedaunan.

"Kita sudah sampai, Nona," ucap Kenan pelan saat ia menghentikan mobil.

Alea terpaku saat membuka pintu mobil. Ia disambut oleh udara yang begitu sejuk dan aroma tanah basah yang menenangkan. Di depannya, terbentang sebuah area tersembunyi yang sangat indah. Pohon-pohon besar yang rindang menaungi tempat itu, menciptakan suasana teduh meskipun matahari sedang terik-teriknya.

Di bawah naungan pohon-pohon itu, mengalir sebuah sungai kecil dengan air yang sangat jernih, mengalir di atas bebatuan yang tertata alami. Di pinggir sungai, terdapat sebuah ayunan kayu yang digantung di dahan pohon besar, serta beberapa tempat duduk kayu yang tampak sangat nyaman. Tidak jauh dari sana, berdiri sebuah rumah klasik bergaya kolonial yang terawat dengan sangat baik.

"Waahhh... aku baru tahu ada tempat sebagus ini dekat dari Jakarta!" seru Alea dengan mata berbinar. Untuk sejenak, beban di pundaknya seolah terangkat.

"Ini tempat siapa, Kenan? Bagaimana kamu bisa tahu?"

Kenan berdiri di samping mobil, tetap waspada memperhatikan sekeliling sebelum menjawab. "Ini tempat milik seorang kenalan lama saya, Nona. Dia jarang ke sini dan memang meminta saya untuk ikut memantau jika sedang tidak ada penghuni. Tempat ini memang dirawat untuk mereka yang ingin bersembunyi sejenak dari kebisingan dunia."

Alea berlari kecil menuju sungai, ia melepas alas kakinya dan membiarkan kakinya terendam air yang dingin.

"Terima kasih, Kenan. Benar-benar terima kasih. Aku merasa bisa bernapas lagi di sini. Tempat kenalanmu ini benar-benar surga."

Ia memperhatikan Alea yang mulai mencoba ayunan kayu itu, rambut panjangnya tertiup angin sepoi-sepoi, memperlihatkan sedikit senyum yang sempat hilang.

"Nona," panggil Kenan pelan.

"Apapun yang dikatakan Tuan Arkan atau Nyonya Sarah tadi pagi, jangan biarkan itu mematikan cahaya di mata Anda."

Alea terhenti dari ayunannya. Ia menatap Kenan dengan haru. "Papa melarangku dekat denganmu, Kenan. Dia bilang aku sudah tunangan, dan dia mengancam akan memecatmu jika kita melewati batas. Aku takut... aku takut kamu yang akan celaka karena aku."

Kenan terdiam sejenak, menatap aliran air sungai yang jernih itu sebelum membalas tatapan Alea dengan sorot mata yang sulit dibaca. Ada ketegasan namun juga ada kepahitan yang tersembunyi di balik suaranya yang bariton.

"Nona tidak perlu bimbang," ucap Kenan dengan nada rendah namun mantap.

"Saya tahu siapa diri saya. Kita tidak akan melewati batas. Saya hanyalah seorang pengawal. Tugas saya adalah memastikan keselamatan Anda, termasuk memastikan posisi Anda tetap aman di mata keluarga Maheswari dan Danuar."

"Hanya seorang pengawal?" bisik Alea pelan, hampir tak terdengar oleh deru air sungai. "Tapi bagiku, kamu adalah satu-satunya orang yang bisa aku andalkan "

Kenan menundukkan kepalanya sedikit, menghindari kontak mata langsung. "Status saya tidak akan berubah, Nona. Dan itu adalah cara terbaik untuk melindungi Anda sekarang. Jika saya menjauh secara emosional seperti yang diminta Tuan Arkan, maka mereka tidak akan punya alasan untuk memisahkan saya dari Anda. Dengan begitu, saya bisa terus berada di samping Anda untuk menjaga Anda."

Alea menghela napas panjang, lalu kembali duduk di ayunan kayu. "Kamu benar. Kamu selalu menggunakan logika, sementara aku selalu menggunakan perasaan. Baiklah... kita ikuti permainan Papa."

Kenan mengangguk. "Itu pilihan yang bijak, Nona."

Namun, di saat suasana mulai tenang, telinga tajam Kenan menangkap sesuatu yang asing. Suara ranting kering yang terinjak dan desis halus di balik semak-semak yang jaraknya sekitar lima puluh meter dari tempat mereka berada. Kenan segera mengubah posisinya, berdiri membelakangi Alea dan menatap tajam ke arah hutan tempat mereka masuk tadi.

"Ada apa, Kenan?" tanya Alea menyadari perubahan sikap pengawalnya.

"Tetap di belakang saya, Nona," perintah Kenan.

Matanya menyipit melihat pantulan cahaya kecil dari arah semak-semak, seperti pantulan lensa kamera.

Tiba-tiba, seorang pria berpakaian hitam muncul sambil memegang kamera. Pria itu tampak terkejut karena keberadaannya diketahui, dan ia segera berbalik untuk lari menuju mobil hitam yang terparkir di kejauhan.

"Dia mengambil foto kita!" seru Alea panik.

"Masuk ke dalam mobil, Nona! Sekarang!" Kenan tidak menunggu jawaban. Ia memastikan Alea masuk ke dalam Audi dan mengunci pintu secara otomatis.

Kenan memacu mobilnya keluar dari jalan setapak itu dengan kecepatan tinggi, mencoba mengejar mobil hitam yang mulai menjauh. Di dalam mobil, Alea mencengkeram sabuk pengamannya dengan erat.

Kenan memacu Audi hitam itu dengan presisi seorang pembalap profesional. Jalanan pinggiran kota yang sempit dan berdebu menjadi saksi bisu kejar-kejaran itu. Mobil hitam di depan mereka tampak panik, melaju zig-zag berusaha menghilangkan jejak, namun Kenan bukan pengawal biasa. Ia tahu persis bagaimana cara memotong jalur di tikungan tajam.

"Kenan, hati-hati!" seru Alea sambil mencengkeram pegangan di atas pintu.

"Pegangan yang kuat, Nona," jawab Kenan.

Di sebuah persimpangan sepi yang dikelilingi kebun kosong, Kenan melakukan manuver ekstrem. Ia menyalip dari sisi kiri, lalu membanting setir ke kanan, memaksa mobil hitam itu mengerem mendadak hingga mengeluarkan bunyi decitan ban yang memekakkan telinga. Mobil pengintai itu terhenti dengan posisi miring, hampir masuk ke parit.

Kenan segera keluar dari mobil. Gerakannya taktis dan cepat. Sebelum pria di dalam mobil hitam itu sempat mengunci pintu, Kenan sudah menyentak gagang pintu pengemudi dan menyeret pria itu keluar.

"Turun!" bentak Kenan. Ia menghempaskan pria itu ke kap mobil dengan tenaga yang luar biasa.

Alea keluar dari mobil dengan gemetar, berdiri di samping pintu sambil menyaksikan pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kenan, yang biasanya sopan dan tenang, kini memancarkan aura kegelapan yang mengerikan.

"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Kenan rendah, namun setiap katanya terdengar seperti ancaman maut. Ia merampas kamera yang tergantung di leher pria itu.

"Sa-saya cuma wartawan lepas! Ampun, Pak!" pria itu merintih, wajahnya pucat pasi melihat tatapan Kenan.

Kenan tidak percaya begitu saja. Ia memeriksa kantong pria itu dan menemukan sebuah ponsel yang masih menyala. Di layarnya, terpampang sebuah percakapan singkat dengan kontak bernama 'M'.

"Sudah dapat fotonya? Pastikan terlihat seperti mereka sedang bermesraan. Kirim ke aku sekarang."

Kenan menyipitkan mata. Ia membolak-balik galeri ponsel itu dan menemukan foto-foto Maya wanita simpanan Dafin. Kenan langsung mengerti polanya.

"Wartawan lepas tidak punya nomor pribadi Maya"desis Kenan. Ia mencengkeram kerah baju pria itu lebih kuat.

"Katakan, apa rencana wanita itu?"

"Dia... dia cuma ingin bukti kalau Nona Alea selingkuh dengan pengawalnya!" aku pria itu ketakutan.

"Supaya... supaya Tuan Dafin punya alasan untuk membatalkan pertunangan dan kembali pada Nona Maya tanpa disalahkan keluarga Danuar. Tolong lepaskan saya!"

Alea yang mendengar itu menutup mulutnya karena terkejut. "Jadi... Maya ingin memfitnahku untuk membersihkan nama Dafin?"

Kenan melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga pria itu tersungkur ke tanah. Ia mengeluarkan kartu memori dari kamera tersebut dan mematahkannya menjadi dua di depan mata pria itu. Kemudian, ia mengambil ponsel pria tersebut dan menghapus semua data di dalamnya.

"Sampaikan pada bosmu," ucap Kenan sambil membungkuk, menatap pria itu tepat di matanya. "Jika dia mencoba mengusik Nona Alea lagi, saya tidak akan hanya menghapus foto. Saya akan memastikan dia kehilangan segalanya sebelum dia sempat mengedipkan mata. Mengerti?!"

Pria itu mengangguk cepat-cepat, lalu segera masuk ke mobilnya dan kabur dengan kecepatan tinggi.

Kenan menarik napas panjang, mencoba menetralkan emosinya sebelum berbalik menghadap Alea. Aura mengerikannya menghilang seketika, kembali menjadi Kenan yang tenang.

"Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya Kenan lembut.

Alea menatap Kenan dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia kaget dengan kekerasan yang baru saja terjadi, namun ia merasa sangat terlindungi.

"Kenan... kamu tadi menyeramkan sekali."

"Saya harus melakukan apa yang perlu dilakukan, Nona. Dunia mereka sangat kotor, dan saya adalah perisai Anda untuk memastikan kotoran itu tidak menyentuh Anda," jawab Kenan. "Mari kita kembali. Tempat ini sudah tidak aman lagi."

1
Erna Riyanto
gadis SMA yg bunuh diri karena Davin...apakah adik kenan...makin penasaran
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ceritanya gampang di pahami dan alurnya menarik, ayahnya Alea memaksa Alea menikah dengan Dafin apakah Alea dan Dafin bisa saling mencintai
Erna Riyanto
semoga nnti Kenan bersatu sm alea...wlpun dgn jln yg sulit...suka bgt sm karakter Kenan...
Erna Riyanto
waahhh tambah lagi karya on going mu thorrr.....semoga konsisten dgn berbagai cerita yg dibuat...sukses...nungguin lanjutan si tuan Damian loh q
ig: denaa_127: makasihh udah support 😍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!