Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.
Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.
Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'
Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Gila
Tanpa berpikir Theo mendorong Julia menjauh. Kedua matanya menyorotkan keterkejutannya. Bahkan Theo beranjak dan berdiri agak jauh dari Julia.
"Mama..." Theo tak tahu harus mengatakan apa. Ia terlalu syok. Lalu ia pun mulai melangkah mundur karena Julia berjalan mendekatinya.
"Sayang, Mama gak bisa bohong lagi..." Tatapan Julia terkunci pada Theo.
"Apa maksud Mama?" Tubuh Theo sudah mencapai dinding. Kata-kata menjurus dari Julia membuatnya semakin overthinking. "Aku udah bukan anak-anak lagi, Mah. Mama gak bisa cium aku kayak dulu."
Theo mencoba menghalau pikirannya yang kacau. Ia berpikir Julia menciumnya hanya sebagai seorang ibu kepada anaknya. Seperti dulu, saat ia masih kecil Julia memang sering memberinya banyak kecupan di wajahnya termasuk pada bibirnya.
Tapi sekali lagi, ketika Theo berusia 10 tahun, dan itu pun tidak berlangsung lama karena Julia pada saat itu pun berpikir Theo sudah terlalu besar untuk ia berikan kecupan.
Tapi sekarang, ada apa dengan Julia?
Julia malah semakin mendekat. Disandarkan kepalanya pada pundak Theo. Kedua tangannya merengkuh tubuh Theo dan memeluknya.
"Mama tahu kamu bukan lagi anak kecil. Karena itulah, Sayang. Entah sejak kapan bagi Mama kamu udah bukan lagi anak Mama." Julia bangkit dari pelukannya dan menatap wajah Theo dengan lekat.
"Sekarang Mama memandang kamu seperti seorang pria. Mama jatuh cinta sama kamu, Sayang."
...***...
"Tebak ini siapa?" canda Bian. Ia menutup kedua mata Theo dari belakang dengan kedua tangannya.
Theo tengah melamun di pinggir lapangan basket melihat teman-temannya bermain. Senyumnya terbit saat mendengar suara sang pacar dan tangan halusnya menyentuh kedua matanya.
Theo meraih tangan yang masih berada di kedua matanya itu dan menggenggamnya. "Ini pasti cewek paling cantik punyanya cowok paling ganteng yang pernah ada."
Bian terkikik mendengar kenarsisan Theo. Ia pun melepas tangannya dan duduk di samping Theo. "Pede banget sih kamu, Yang."
Theo menggenggam tangan Bian dan membawanya ke perutnya dan ia peluk dengan erat.
"Yang, kamu kenapa? Lagi ngelamun ya? Aku manggil kamu dari tadi loh dari sana." Bian menunjuk lorong tempat ia berjalan tadi dan baru saja akan menuju ke kelas dari arah kantin. Tiba-tiba ia melihat Theo duduk di sisi lapangan dan tidak ikut bermain. Karena Theo tidak menyahut, Bian jadi ingin menyapa Theo dan memastikannya baik-baik saja.
"Aku gak apa-apa, Yang. Lagi fokus lihatin anak-anak main kayaknya sampai gak denger kamu manggil."
Bian tidak sepenuhnya percaya. Sekarang saja Theo terlihat lesu. "Kamu lagi sakit?" Bian menaruh punggung tangannya di kening Theo. "Tapi kamu gak demam," gumamnya setelah merasakan kening Theo tidak terasa panas.
"Emang enggak, Sayangku. Yang, entar pulang sekolah ke rumah Luis ya? Aku pengen peluk." Sorot mata Theo begitu sedih.
Bian tersenyum tipis mendengar kata-kata manja dari sang pacar. "Iya, boleh. Tapi kamu kenapa sih, Yang. Kalau gak sakit, kamu lagi ada masalah?" tanya Bian penasaran.
Theo sedikit menimang-nimang. Lalu ia pun memutuskan untuk mengatakannya pada Bian. "Ini tentang mama aku..."
Tiba-tiba bel berbunyi.
"Yah, udah masuk," ujar Bian. "Tapi gak apa-apa, kita bisa telat sebentar. Kenapa mama kamu?"
"Kamu mending masuk dulu aja. Nanti aku ceritanya di rumah Luis, ya?"
Bian cemberut. "Tapi aku jadi penasaran."
"Udah nanti aja. Aku juga mau masuk kelas." Dikecupnya tangan Bian yang digenggamnya beberapa kali, lalu keningnya. "Dah, sampai nanti, ya."
Theo pun pergi menuju kelasnya, begitu juga dengan Bian.
Lalu, di rumah Luis.
Bian datang terlambat karena ia datang bersama Dinda, Kay, dan Rere.
"Cowok lo udah di kamar tuh, Bi," ucap Luis mengumumkan.
"Cieeee... Kayaknya si Theo udah gak sabar deh," goda Dinda sambil duduk ke pangkuan Luis yang sedang duduk di ruang tamunya.
"Apaan sih, gue sama Theo gak kayak kalian ya. Kita gak akan kayak gitu," elak Bian.
"Nanggung banget sih cuma cium dan buka-bukaan," komentar Kayra atau kerap kali disapa Kay saja. "Enak loh, Bi. Lo bakal..." Ia mempraktekkan gerakan memajumundurkan pinggulnya pada Bian sambil menggigit bibir bawahnya agar terlihat lebih sen sua l.
Seketika wajah Bian memerah melihat Kayra yang tidak canggung melakukan gerakan e ro t is itu di depan teman-temannya. "Kay, lo gila apa. Gak apa-apa yang penting gue masih ada temen, Re, lo temen gue 'kan dalam hal ini?"
"Emmhh..." Rere pura-pura berpikir.
"Si Rere juga udah kali sama cowoknya. Ya 'kan, Re?" Kay membuka kartu Rere.
"Sama Andre lo udah, Re?!" tanya Bian terkejut.
"Kok sama Andre sih, Bi? Sejak kapan gue sama Andre?" sanggah Rere.
"Bukannya lo pacaran sama Si Andre?" tebak Bian.
"Andre itu cuma kacung gue doang, Bian Sayang."
"Terus cowok lo itu siapa, Re?" tanya Dinda ikut penasaran.
"Gak ada, gue gak punya cowok ya, guys."
"Tapi lo ciuman tadi di kelas sama si Andre," ujar Kay frontal, "orang-orang pada lihat loh. Bahkan hampir Pak Kevin mergokin kalian katanya tadi."
"Hah? Serius? Pak Kevin guru matematika yang ganteng kalem itu?" Dinda memastikan.
"Bener banget," sahut Kay. "Eh tapi ada yang lebih ganteng loh sekarang, lebih bening, ditambah badannya itu loh tinggi kekar. Kebayang itunya juga pasti gede. Jadi pengen ih," celoteh Kay.
"Ih, Kay! Sadar, guru masa mau lo embat juga, sih?" komentar Dinda.
"Tapi guru juga cowok, Beb," ujar Luis nimbrung.
"Emang kenapa kalau sama guru?" Tiba-tiba Rere mengatakan hal yang membuat semuanya tercengang.
"Wah cewek es kita ini udah mulai ada kemajuan." Kay bertepuk tangan heboh.
"Gak gitu maksudnya." Sekilas Rere agak sedikit gelagapan. Namun karena Rere memang nampak dewasa, jadi tidak terlalu kentara. "By the way, gue sama Andre itu gak ada apa-apa, it's just a kiss, guys. Bukan apa-apa," ujar Rere dengan entengnya mengubah topik pembicaraan."
Bian tercengang mendengarnya. Dibanding ketiga sahabatnya, ia memang yang paling lugu dan polos. "Gila banget deh kalian. Udah ah, gue mau ketemu Theo dulu," ujarnya sambil berlalu.
"Pengaman ada di laci, Bi," goda Dinda.
"Kalo lo gak mau, Theo suruh sama gue aja," canda Kay. "Kasihan dia udah pengen tapi lo nya gak mau terus."
Bian menoleh ke arah Kay dengan tatapan galak, membuat semuanya terbahak.
Di dalam kamar, Theo sedang memainkan gitar sambil duduk bersandar pada headboard tempat tidur.
"Maaf lama, Yang," ujar Bian menghampiri Theo.
Theo pun meletakkan gitarnya di tempat tidur dan langsung saja mencium Bian dengan tak sabar.
Kedua tangannya sama tak sabarnya dan mulai melucuti kancing kemeja Bian satu persatu dan meremas kedua bulatan yang dibungkus bra berwarna coklat susu itu dengan gemas.
"Sini, duduk di pangkuan aku," pinta Theo.
Bian pun menurut, ia duduk di pangkuan Theo dengan perasaan berdebar.
"Keluarin, Yang. Aku pengen hisap."
Nafas Bian menderu. Benaknya sibuk berpikir, apa ia akan membiarkan Theo melewati batasan lagi dan menjadi gila?