NovelToon NovelToon
Little Fairy Tale

Little Fairy Tale

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Karir / PSK
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Baginda Bram

Luka.

Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.

Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.

Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.

Luka adalah bukti.

Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.

Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.

Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.

*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tugas

Hari minggu adalah hari di mana bersantai adalah hal yang lumrah—andaikata bangun kesiangan pun, wajar-wajar saja. Namun, tidak berlaku untuk Bagas.

Ia selalu bangun pagi seperti biasa. Bebersih, juga memasak makanan. Namun, kali ini ia memakai pakaian olahraga seperti orang yang ingin berangkat sekolah.

Ayahnya yang baru bangun, terkejut akan tingkah anaknya itu,

"Gas, kamu tahu kalau hari ini hari Minggu 'kan?"

"Tahu."

"Lalu kenapa kamu pakai baju sekolah?"

"Aku disuruh ikut meramaikan acara di alun-alun, Yah."

"Oh, acara di sana."

Ayahnya langsung paham karena ia sempat melihat keriuhan persiapannya ketika melintasinya.

Selepas berpamitan, Bagas pun berangkat.

Ia bingung sesampainya di sana. Kepadatan orang membuatnya kesulitan. Tubuhnya mulai bergetar ketika membayangkan bercampur dengan lautan manusia di hadapannya.

Tidak ada yang ia kenal—lebih tepatnya, ia kesulitan mengenali seseorang saking hebat gemetarnya.

Tak ada cara lain selain menunggu orang yang ia kenal menegurnya. Tapi jika hanya menunggu saja, pasti akan memakan waktu lama mengingat banyaknya orang di sana.

Selain itu, ia juga merasa tak berguna jika hanya diam saja. Setidaknya, mencari dari tempat berdirinya, lalu menemukan satu orang yang ia kenal bisa mempermudah segalanya.

Bagas mencoba mendorong dirinya. Pandangannya sengaja diangkat, keringat dingin seketika meluncur tak terkendali.

Penglihatannya seolah mendapati segerombol makhluk mengerikan sampai-sampai membuat bulu kuduknya .

Meski dirinya mematung, matanya tetap memandangi gerombolan itu selama yang ia sanggup.

Entah cuma kebetulan, ia mendapati sosok yang bagai secercah harapan di tengah gerombolan itu.

Renata sedang berbincang bersama ketua kelasnya, mengisi waktu sembari menunggu upacara pembukaan.

Ia hadir sebagai salah satu tumbal juga. Yang awalnya enggan, karena tidak ada satupun orang yang mengajukan diri, akhirnya guru yang menjadi penengah kala itu, memutuskan Renata secara sepihak. Atas dasar "yang paling sering bermasalah".

Dengan berat hati, ia harus datang sebagai bagian dari hukumannya.

Bagas memperhatikan langkahnya dengan amat seksama. Melangkah menuju barisan di mana Renata berada. Menyatu dalam barisannya.

Yang ia takutkan memang terjadi. Kini ia berada di tengah pusaran makhluk mengerikan itu—tidak ada seorang lelaki pun di sana. Keringat dingin yang belum berhenti mengucur, lajunya semakin kencang. Membuat baju olahraganya mulai kebasahan.

Beruntungnya terdengar suara yang menyita perhatian dari pengeras suara. Pertanda dimulainya serangkaian acara pada hari ini.

Upacara pembukaan berlalu, dengan demikian acara itu resmi telah dibuka. Namun mulai dari sinilah, kesibukan mereka dimulai.

Masing-masing sekolah diberi tugas untuk membantu menyukseskan acara. Sekolah pun menganggap kegiatan ini sebagai ajang pembelajaran bagi siswanya dalam bermasyarakat. Karena itulah, mereka diberikan tugas.

Di antaranya: mengatur kebersihan, menunggu pos informasi, menunggu stan, dan mendata peserta yang datang di pintu masuk.

Dari semua pilihan yang tersedia, Bagas hanya ingin satu saja: bersih-bersih. Hanya tugas itulah yang membuatnya berinteraksi dengan benda mati—yang notabenenya bukan manusia.

Bagas merasa optimis tugas itu akan dibebankan padanya karena ia satu-satunya lelaki yang ada. Ia percaya jika para perempuan—terlebih yang sudah bersolek— pasti enggan berurusan dengan hal kotor dan bau apalagi di tempat ramai seperti sekarang ini.

Ia dengan santainya menunggu tanpa perlu harus mengajukan diri.

"Ada yang mau menunggu stan makanan?" Tawar guru pembimbing mereka.

Tak ada seorang pun yang angkat tangan. Bagas mulai merasa heran. Melayani pelanggan seharusnya perkara mudah. Jika tidak punya fobia, ia pasti sudah mengajukan diri sedari tadi.

"Saya saja, Bu!"

Seseorang memekik dari ujung barisan dengan suara yang familiar bagi Bagas.

"Saya dan Bagas bersedia, Bu."

Hah!?

"Baiklah, kalian berdua ke stan makanan ringan yang ada di sana ya."

"Baik, Bu."

Bagas masih tak percaya. Gadis itu selalu berhasil membuatnya geram. Ia ingin menolak. Namun, keberaniannya tak cukup untuk melantangkan suaranya.

Ia hanya bisa pasrah. Tugasnya telah ditentukan tanpa menunggu persetujuannya.

...----------------...

Bagas duduk bersamaan dengan helaan napasnya. Tepat di sebelahnya, kursi yang tadinya kosong, kini Linda yang jadi penghuninya.

Setelah sebelumnya menerima arahan dari pemilik stan tentang apa yang harus mereka lakukan: melayani pelanggan. Hanya itu.

Simpel memang. Tapi, tidak mudah untuk Bagas. Ia yang selalu menghindari interaksi dengan seseorang, kini harus melayani pembeli.

Kesulitannya meningkat ketika tahu barang dagangannya adalah pastri yang biasanya digandrungi oleh kaum hawa. Membuat sebagian besar pengunjungnya adalah perempuan.

Ia jadi merasa serba salah. Ia tidak ingin berinteraksi dengan seorang perempuan pun, tapi di sisi lain, ia tidak bisa berharap stannya sepi pengunjung. Ia hanya bisa berharap semuanya cepat berakhir.

"Gas, kamu tahu kenapa banyak yang tidak mau mengambil tugas ini?" tanya Linda membuka obrolan.

"T-tidak tahu." sahutnya sambil menggeser sedikit kursinya agar tak terlalu dekat.

"Karena kalau jualan ini belum habis, kita tidak boleh pulang. Makanya orang-orang menghindar dari tugas ini. Tahun lalu, mereka yang kebagian di sini, baru bisa pulang malam-malam."

Lalu kenapa kamu seenaknya menyeretku kemari?

"Oh begitu," sahutnya singkat, meski hatinya jengkel.

Linda membuang muka dengan kesal. Lelaki itu selalu saja bersikap acuh tak acuh padanya, tak peduli apa yang ia lakukan.

Padahal ia sengaja mengajukan diri agar bisa semakin akrab dengannya. Namun, malah respon ala kadarnya yang selalu ia terima.

Gadis anak tunggal seperti dirinya; yang selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan dari orang tuanya; yang selalu memperoleh pujian—entah karena kecantikannya ataupun karena bakatnya—selalu merasa kesal dengan sikapnya yang seolah menyepelekannya itu.

Karena itu, menjahilinya adalah cara agar lelaki itu merasakan apa yang ia rasakan.

Terkadang timbul rasa bersalah dalam dirinya. Tetapi, lelaki itu bersikap seolah tak terjadi apapun. Padahal ia sendiri siap dimarahi dan meminta maaf jika perlu.

Kalau sudah begini, sikap pemalunya harus disembuhkan. Aku akan melakukan sesuatu nanti. Lihat saja!

Seorang pengunjung datang menghampiri. Walaupun Linda sadar, ia sengaja menatap ke arah lain—pura-pura tidak melihat.

Bagas melirik ke samping. Orang yang berada paling dekat dengan pengunjung malah buang muka. Mau tidak mau, ia terpaksa mengambil alih.

"Yang ini rasa apa?"

"Itu vanila." sahut Bagas sambil berdiri.

"Aku minta yang ini satu, yang vanila dua ya."

Bagas segera mengambil plastik, memasukkan pesanannya.

"Jadi sembilan ribu." ucapnya sembari menyuguhkan pesanan tanpa melihat sosok orang yang datang itu.

Ia mengambil uang sepuluh ribuan yang diberikan. Menukarnya dengan seribuan dari dalam laci. Belum sempat duduk, seseorang kembali datang. Beberapa kali, orang silih berganti.

Ia menghela nafas saat gadis yang bertugas bersamanya malah asik sendiri dengan ponselnya.

Ya sudahlah. Toh semakin cepat habis, aku bisa semakin cepat pulang.

Baru sebentar duduk dan bernafas lega, seseorang datang kembali.

"Loh Bagas?"

Bagas cukup terkejut ketika mendengar namanya disebut. Ia ragu untuk menoleh sebab suara lembut yang masuk ke telinganya. Justru Linda yang menoleh lebih cepat.

"Kamu ternyata menjadi perwakilan kelas juga?" Tanya perempuan itu lebih lanjut.

Ketika Bagas mendengar pertanyaannya, barulah ia merasa familiar dengan suara itu.

Bagas adalah orang yang mengandalkan pendengaran untuk mengenali seseorang. Meski ia tidak memandang wajah, ia sering kali mengingat suara lawan bicaranya.

Kali ini pun ia kenal dengan pemilik suara itu; Ia tidak ragu lagi untuk mengangkat pandangannya.

"Ya begitulah, kebetulan. Kamu juga di sini?"

"Iya, kebetulan aku juga." jawabnya,

"Tapi, kamu tidak apa-apa?" lanjutnya, mengejutkan Bagas.

Bagas mengangkat alis. Tidak mengerti akan maksud pertanyaan Renata barusan.

"Maksudnya?"

Melihat Bagas yang kebingungan, Renata barulah sadar kalau pertanyaannya terkesan ikut campur terlalu jauh.

Renata memanglah melakukan tugasnya dengan terpaksa. Ia juga memahami kalau Bagas sama seperti dirinya.

Selain itu, melayani adalah tugas yang sulit bagi pengidap fobia. Renata bisa paham karena "melayani" sudah menjadi bagian dari kesehariannya.

"M-maksudku jarang ada laki-laki yang mau datang ke acara semacam ini 'kan?"

"Oh begitu. Sebenarnya aku datang karena terpaksa."

"Jangan-jangan dipaksa oleh guru sama sepertiku?"

"Lebih tepatnya dipaksa oleh temanku."

"Teman?"

Renata berusaha menalar kalimatnya barusan. Rasanya dipaksa oleh teman adalah kalimat yang janggal baginya.

Di sisi lain, Linda yang sedari tadi menyimak dengan seksama, memicingkan mata. Ia terheran. Seumur-umur baru kali ini ia melihat lelaki itu berinteraksi dengan seorang perempuan.

"Ngomong-ngomong mau beli apa?"

"Oh iya, hampir lupa. Aku mau beli..." Ia memandangi satu persatu pastri yang ada dalam etalase,

"... semua deh."

Bagas kaget mendengar kata-katanya. Baru kali ini ia meragukan yang telinganya dengar. Ia merasa perlu memahami konteks dari ucapan gadis itu.

"Kamu mau semua kue ini masing-masing satu buah 'kan?"

"Bukan, maksudku aku mau membeli semuanya."

"O-oh... begitu, tapi betulan?" Tanya Bagas sekali lagi memastikan.

"Iya, aku mau bagi-bagi juga ke teman-temanku."

Mendengar percakapan mereka berdua, Linda buru-buru bangkit dari kursinya.

"Bagus sekali! Kalau begini, aku akan bantu membawanya juga." Ujarnya heboh.

Baru kali ini mereka berdua kompak membungkuskan seluruh pesanan hingga satu pastri pun tak bersisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!