Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Hari besoknya Viola tetap berangkat kerja. Tak mungkin kan ia libur terlalu lama? Bagaimana pun jadinya saat bertemu dengan Rasta, akan Viola hadapi.
Jika biasanya Rasta selalu mencari-cari alasan untuk menindas Viola, kini tidak lagi. Rasta lebih banyak diam, terkadang hanya melihat Viola dari kejauhan.
"Kok terlihat beda?" bisik Widia. Dia bersama Viola sedang membereskan meja dari piring-piring kotor yang sudah ditinggal pelanggan.
"Beda apanya?" Viola tidak mengerti.
"Pak Rasta kok beda? Dia banyak diam. Nggak cari gara-gara sama lo kayak biasanya."
"Oh," Viola melirik Rasta, di mana ia sedang bicara sambil berdiri dengan Gia. "Dia udah ketemu sama Vita. Nggak sengaja ketemu sih kemarin lusa."
"Oh ya?" mata Widia membesar. "Terus gimana? Responnya Pak Rasta gimana?"
Viola mengangkat bahunya. "Persis seperti yang kita duga. Dia curiga karena Vita sangat mirip sama dia. Kemarin datang ke rumah, sempet ketemu Vita juga tapi diusir sama mama. Makanya kemarin gue nggak berangkat, mama nggak ngizinin takut dia ganggu gue," tuturnya.
Widia kali ini lebih mendekat. Ia berbisik pelan sekali di telinga Viola, hampir tidak terdengar, seolah takut ada orang yang akan mendengar pembicaraannya.
"Terus kalau Pak Rasta udah tau kalau Vita anak kandungnya, lo mau gimana?"
"Gimana apanya? Ya ... Ya udah sih. Gue gak akan ngelarang mereka buat ketemu, kok."
"Kalau misal ... Pak Rasta ngajak balikan?" tanya Widia.
Pertanyaan itu membuat gerakan tangan Viola terhenti. Ia menatap Widia cukup lama, tetapi tidak memberi jawaban.
"Gue yakin sih pasti Pak Rasta mau balikan sama lo. Demi Vita, dan gue liat juga Pak Rasta masih cinta sama lo. Keliatannya sih cuek, benci, tapi sebenarnya dia sayang," sambung Widia diakhiri dengan senyum tipis.
"Kita liat aja nanti," balas Viola. Ia melirik Rasta lagi, detik berikutnya ia langsung memalingkan wajah sebab Rasta pun ternyata sedang menatapnya.
Dituduh selingkuh dan tidak dipercayai oleh pasangan sendiri itu kecewanya bukan main.
*
"Pak Rasta minta kamu yang nganterin makan siangnya, Vi," suruh Gia kepada Viola.
"Iya, mbak," sahut Viola.
Entah mengapa Gia menatap Viola curiga. Biasanya, bosnya itu tidak pernah pilih-pilih siapa saja yang harus mengantarkan makan siangnya, bahkan seringnya Gia yang melakukan tugas itu. Atau terkadang, Rasta mengambil makan sendiri di ruangan makan karyawan.
Tetapi semenjak Viola masuk, kenapa harus perempuan itu yang Rasta panggil? Bahkan Viola tak langsung kembali dari ruangan Rasta, ia tinggal di sana selama beberapa menit.
"Kamu udah kenal sama Pak Rasta sebelumnya nggak sih, Vi?" tanya Gia.
"Eum ... Belum sama sekali, Mbak."
"Serius?"
"Iya." Viola mengangguk.
"Oh yaudah. Udah sana anterin, ntar Pak Rasta nunggu lama lagi."
Viola mengangguk singkat, lalu cepat-cepat ia mengambil nampan berisi menu makan siang Rasta. Viola berharap dalam hati, semoga kali ini Rasta tidak memintanya untuk menemani makan seperti biasanya.
Hampir saja Viola melupakan aturan yang harus ia lakukan saat mengantarkan makanan. Tersenyum saat masuk sambil menunduk.
"Makan siangnya Pak Rasta, silakan."
Terdengar tarikan napas panjang dari Rasta. "Terima kasih, Viola. Tapi mulai besok, kamu nggak perlu melakukan ini lagi."
Viola mengangkat wajah, sejenak saling menatap dengan Rasta.
"Baik."
"Duduk," titah Rasta.
Viola melenguh dalam hati. Sial, tetap saja ia disuruh duduk dan menemani hingga Rasta selesai makan. Viola pikir begitu, tapi rupanya Rasta tidak langsung mulai makan seperti biasa. Ia masih menatap Viola.
"Viola," panggilnya.
"Ya, Pak?"
"Besok kamu libur."
Viola mengernyit. "Tapi jatah libur saya masih empat hari lagi, Pak."
"Nggak apa-apa. Besok libur, empat hari lagi mau libur lagi juga nggak apa-apa."
"Tapi ... Saya nggak enak sama yang lainnya."
"Jangan khawatir, saya yang suruh. Nanti saya bicarakan sama Gia."
Viola lalu hanya mengangguk. Ia pikir Rasta akan menanyakan Vita, namun ternyata tidak. Rasta mulai makan dengan tenang, seolah tidak pernah terjadi insiden di depan rumah tempo hari.
Lalu, buat apa Rasta datang ke rumah jika saat ada kesempatan bicara dengan Viola tidak ia manfaatkan?
Sama sekali, Rasta tidak menyebut-nyebut nama Vita.
"Saya boleh tanya sesuatu?" Viola angkat suara setelah beberapa saat hening.
"Boleh, tanya apa?" Cara bicara Rasta tidak ketus seperti biasanya, kali ini sudah lembut.
"Kemarin Pak Rasta datang ke rumah, ada perlu apa? Maaf, atas sikap mama."
"Mau ketemu sama anak kamu," jawab Rasta lansung.
"Terus?"
"Terus apa?"
"Katanya ada yang mau dibicarakan sama saya?"
"Nggak ada."
Viola jadi bingung. Kenapa Rasta sekarang jadi berubah-ubah? Sekarang ia bersikap seolah Viola bukan siapa-siapanya. Tidak seperti saat ia datang ke rumah.
Apa jangan-jangan Rasta tidak akan melakukan sesuatu?
*
Vita senang bukan main karena hari ini mamanya bilang ia libur kerja.
Jika Vita sedang senang, maka Viola sedang terheran-heran karena dua hal. Yang pertama, ia mendapatkan transferan uang entah dari siapa, tetapi jumlahnya lumayan banyak. Dan kedua, ia kedatangan teman lamanya, Sera.
"Hai, Vi!"
"Ser...." Viola masih terheran. "Masuk, yuk, masuk."
"Apa kabar, Vi? Gue gak ganggu lo, kan? Sori ya kalau gue gak ngabarin dulu."
"Nggak, nggak apa-apa. Duduk, Ser, biar gue buatin minum ya. Mau minum apa?"
"Apa aja boleh deh."
Viola membuatkan minuman di dapur dan juga menyiapkan camilan yang ada di rumah. Sudah bertahun-tahun dia tidak bertemu dengan Sera, itu sebabnya dia seolah tidak percaya Sera tiba-tiba muncul di depan pintu rumahnya.
"Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba datang kayak jailangkung aja lo," celetuk Viola saat membawa minuman dan camilan ke ruang tamu.
"Hehehehe, ngejutin banget ya?"
"Nggak kok, diminum Ser."
"Thanks ya, Vi, maaf ngrepotin."
"Nggak ngrepotin kok, ngomong-ngomong ada sesuatu yang bikin kamu tiba-tiba ke sini?"
"Nggak juga," Sera cengengesan. "Cuma mau main doang, kangen. Emang gak boleh?"
Viola tertawa. "Ya boleh dong."
Sera tersenyum tipis. "Btw, Vita di mana?"
"Di kamar, biasalah main hape. Kenapa? Lo mau ketemu sama Vita?"
"Eh iya, dia udah segede apa sih sekarang? Lama nggak ketemu."
Viola tersenyum. "Bentar ya? Gue ajak anaknya ke sini."
Viola pergi ke kamar, tak lama kemudian dia kembali sambil menggandeng Vita yang masih asyik melihat YouTube.
"Hai, Vita!" Sera sok akrab dengan Vita. Dia duduk di dekatnya, mengelus rambut panjang Vita.
*
Sebuah plastik bening berisi sekitar tiga helai rambut ditunjukkan di hadapan Rasta.
"Rambutnya Vita," kata Sera. Mereka ketemuan di pinggir jalan. Berdiri di depan mobil Rasta.
"Lo berhasil?" Rasta terkagum-kagum. Ia ambil plastik bening itu dari tangan Sera.
"Apa sih nggak enggak bisa gue lakuin?" bangga Sera sambil mengibaskan rambutnya.
"Thanks," Rasta tersenyum.
"You're welcome."
Akhirnya, Rasta bisa mendapatkan sesuatu milik Vita yang akan digunakan untuk melakukan tes DNA.
...****************...
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu