NovelToon NovelToon
Menikah Dengan SEPUPU

Menikah Dengan SEPUPU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Payang

Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.

Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.

Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.

Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Menjaga Marwah

Di kantin rumah sakit, Arya menyeduh kopinya sendiri. Uap tipis terangkat ringan ke udara, membawa aroma kopi itu cepat menguar ke segala arah dalam kantin itu.

Begitu pandangannya mengedar, Arya tersenyum tipis melihat Prasetyo yang duduk menyendiri di pojokan, menyesap kopi sambil melamun.

"Tumben pagi-pagi ngopinya di kantin, Senior? Itu bibir kenapa? Habis digigit lebah betina?" ledeknya.

Prasetyo menoleh, tertawa singkat begitu tahu Arya yang datang menghampirinya dengan ledekan.

"Sepi ngopi sendiri di ruangan, di sini bisa cuci mata," ucapnya setengah meringis, setelah jarinya menyentuh pelan bibirnya yang masih bengkak dan terasa sakit akibat gigitan Anita kemaren, suster cantik itu begitu marah karena dirinya mencuri ciumannya.

"Kamu sendiri, tumben-tumbenan muncul di kantin, nggak di urus sarapan ya sama Bibi?" balasnya, kembali menyesap kopi panasnya yang terasa nikmat.

"Cuci mata juga, sama seperti Senior," balasnya.

"Dasar bocah semprul! Panggil Mas to, Mas-mu ini belum se-suhu itu di rumah sakit ini," protes Prasetyo, yang usianya hanya terpaut lima tahun dari Arya.

Arya tergelak singkat melihat wajah pura-pura manyun kakak sepupunya.

"Kebetulan bertemu," Arya menyudahi tawanya.

"Aku berencana menggunakan jasa WO asuhan mas Pras di pesta pertunanganku dengan Elok bulan depan. Tak ada penolakan," langsung mengultimatum.

"Cari WO yang lain saja, WO Mas sudah padat job sampai lima bulan ke depan."

Prasteyo tak perduli pada ultimatum Arya, juga tak kaget mendengar rencana pertunangan adik sepupunya yang kebelet nikah itu, dirinya memaklumi Arya sedang puber-pubernya.

Arya terlihat berfikir sebentar.

"Baiklah, aku cari WO lain saja, tapi MC nya aku mau tetap mas Pras, ya?" tetap ngotot.

Prasetyo menggeleng.

"Tidak bisa, Arya... aku ini adalah nyawanya, WO tak mungkin jalan tanpa aku," sahutnya beralasan.

"Kamu serius mau nikahi Elok? Paman dan Bibi sudah setuju?" selidik Prasetyo.

"Belum," Arya kembali menyesap kopinya.

"Kata mereka aku masih kecil, belum cukup punya pengalaman hidup, disuruh kerja dulu baru nikah. Sebenarnya.... Papi nggak setuju aku sama Elok," jujurnya, meletakan cangkir kopi si atas meja, wajah cerianya seketika berubah sedih.

Prasetyo tersenyum samar, merasa kasihan pada Arya yang begitu naif.

"Ku rasa, kamu perlu menanggapi positif ketidak setujuan Paman, Ar. Semua orang tua menginginkan yang terbaik buat anaknya."

Arya termenung sesaat mendengar nasihat kakak sepupunya itu. Bukan hanya ayahnya, kakak-kakaknya juga tidak setuju, hanya ibunya seorang diri yang memberi dukungan.

"Di rumah sakit ini, tidak ada dokter secantik dan se-bohai Elok, Mas. Mendengar saja tutur katanya yang lembut dan mendayu, kita bisa lupa segalanya saat berbicara sama dia. Aku takut diambil orang. Jadi aku tunangan saja dulu, biar ada ikatan."

Prasetyo kembali terkekeh pelan, "Dasar bucin, pantes aja Paman bilang kamu masih kecil! Menikah itu, tidak semanis yang kamu kira, Arya."

"Banyak perempuan manipulatif di dunia ini, jangan sampai kamu terjerat salah satu dari mereka, hidupmu bisa serasa di neraka," nasihatnya lagi, seraya berdiri.

"Kemana Mas, urusan WO tadi belum selesai!" tahan Arya.

"Berburu wanita, lalu icip-icip... " Prasetyo tersenyum penuh makna.

"Dasar mesum! Nikah Mas, nikah!" Arya gemes, kakak sepupunya itu memang terkenal sebagai pecinta banyak wanita di sekian banyak sepupu laki-lakinya, tapi belum huga mau menikah diusianya yang sudah kepala tiga.

"Arya, Mas kasih tahu kamu ya... " Prasetyo memajukan wajahnya pada Arya lalu berucap setengah berbisik.

"Mas nggak akan mau nikahi gadis yang mudah dirayu sama Mas, apalagi sampai bisa disentuh! Bisa jadi dia juga gitu ke laki-laki lain. Anti bagi Mas kalau sampai ada pria lain yang bilang, cewe-mu bekasku, udah kuubek-ubek."

"Mas masih belum menemukan calon isteri itu yang bisa menjaga marwahnya."

Arya tercenung dalam diam, merasa kakak sepupunya itu sedang menyampaikan satu nasihat dalam ucapannya barusan.

...***...

"Mas... Aku dan Adri berangkat dulu, bus sekolahnya sudah datang," pamit Melitha pada Harry yang baru saja keluar dari kamar dengan setelan kemeja biru laut berdasi.

"Kamu nggak sarapan dulu?" Harry menatap adiknya yang nampak terburu-buru hendak pergi.

"Sudah, Mas.... aku juga bawa bekal," Melitha memperlihatkan tas kain tentengannya.

"Tami duga bawa betal, Papah!" Naomi tak mau kalah, ikut memamerkan tas bekalnya yang lebih besar dari tubuhnya.

Harry tertawa, hatinya menghangat, mendekati dua malaikat kecilnya yang juga telah bersiap lalu menciumi mereka satu persatu.

Ya, merekalah penyemangat hidupnya.

Tin! Tin! Tin!

Pemandangan manis itu seketika bubar begitu klakson bus sekolah kembali memanggil.

"Hati-hati ya," Harry ikut mengantar ke depan, dimana bus berada.

"Hufh," Harry menangkap Naomi yang ingin ikut naik.

"Huaaaaa! Nanti No-mi nambat, Papah!" gadis batita itu menggelepar-gelepar dalam pelukan ayahnya, tanggannya melambai-lambai pada bus yang berjalan.

"Naomi sama Papa saja, nanti kita beli coklat. Busnya khusus buat mas Adri dan bibi Meli, ya?" bujuk Harry hampir kualahan, kemeja kerjanya sampai kusut.

"Nidak mau! No-mi mau tekolah duga! Hua!" raungnya, berlinang airmata menatap ke arah bus sekolah yang melaju meninggalkannya.

"Oke, kita juga akan berangkat ke sekolah ya, Papa janji!" Harry akhirnya mengalah.

Naomi yang menggelepar-gelepar rusuh dalam pelukan Harry seketika tenang, matanya yang basah oleh airmata menatap waspada dan penuh selidik pada ayahnya itu.

"Dandi?" sambil menjulurkan kelingking gendutnya.

"Jan-ji, Papa Janji!" Harry mengaitkan kelingkingnya pada kelingking putrinya.

"Hoyeeee! No-mi ahilnya tekolah duga! Hoyeeee!" soraknya kegirangan, tertawa riuh, lupa akan tangisannya sebelumnya.

"Tapi Papa sarapan dulu ya, nanti setelah itu kita berangkat bersama."

Naomi mengangguk kuat dalam gendongan ayahnya, hatinya sedang gembira karena dijanjikan sekolah.

"Harry! Tunggu, Nak!"

Harry yang akan masuk bersama putrinya ke dalam rumah langsung berbalik, melihat bu Harun membuka pagar rumah mereka yang sengaja tidak dikunci.

"Ya Bibi, ada apa?" Harry berusaha tersenyum ramah. Walau Celo yang berbuat salah, tetap saja hatinya masih ada rasa dongkol pada satu keluarga bibinya itu.

"Bibi bawa daging beku buat kalian," bu Harun meletakan barang bawaannya yang nampak berat di lantai teras.

"Hoyeee! kita matan daging! Telima tatih, Nenek!" Naomi merosot turun, penasaran ingin melihat isi box yang katanya daging itu.

"Sama-sama, Naomi sayang..." bu Harun tersenyum lebar, menyentuh lembut rambut Naomi yang telah dikepang rapi oleh Melitha.

"Bibi repot-repot, harusnya tidak perlu begini..." ucap Harry canggung,

"Tidak repot, Har...." bu Harun beralih pada keponakannya itu. "Bibi mau bicara sedikit, boleh?" ijinnya.

"Boleh, kita bicara di dalam saja, Bi."

"Di sini saja, Bibi tahu kamu juga buru-buru mau berangkat kerja," bu Harun menahan langkah Harry yang akan beranjak masuk.

"Bibi tahu permohonan maaf saja tidaklah cukup atas apa yang telah Celo lakukan pada Melitha..." ucapnya pelan.

Harry diam, desahan nafasnya terdengar dalam, lalu membuang pandangannya ke arah lain.

"Semalam Pandji sudah cerita pada Bibi, mau menikahi Melitha."

Mendengarnya, pandangan Harry kembali beralih pada bibinya itu.

"Hanya saja... Katanya kamu memberi waktu padanya tiga bulan untuk memikirkan keputusan itu..." lanjut bu Harun, memberi jedah sebentar, dan kembali melanjutkan ucapannya.

"Mulai sekarang, Pandji yang akan menanggung biaya hidup Melitha."

Bibir Harry terbuka, ingin menyela, tapi keburu tangan bibinya terangkat agar dirinya tidak memotong perkataannya.

"Sebenarnya, Bibi ingin membawa Melitha tinggal bersama kami, tapi itu tidak mungkin Bibi lakukan untuk saat ini, karena Pandji dan Melitha belum menikah, juga... ada Celo di rumah," ungkapnya, masih pelan.

Harry merasa lega, tadinya ia khawatir adik perempuannya akan dibawa paksa.

"Dan tolong sampaikan pada Melitha, nanti sore Bibi akan mengajaknya ke praktek dokter kandungan untuk periksa."

"Maaf Bibi," Harry langsung menyela, sebelum bibinya itu kembali melarangnya seperti tadi.

"Kami belum mengatakan setuju akan niat Pandji menikahi Melitha. Jadi, terima kasih atas segala niat baik Pandji yang mau membiayai hidup Melitha, tapi maaf... kami tidak bisa menerimanya... " tolaknya tegas.

"Harry, Bibi tahu kamu punya prinsip, tidak mau menerima uluran tangan orang lain selagi kamu merasa mampu. Tapi... dalam tubuh Melitha ada satu kehidupan yang perlu dijaga pertumbuhannya, dan Pandji menyatakan siap bertanggung jawab untuk itu." Bu Harun berusaha menjelaskan.

"Lalu bagaimana dengan dokter Elok, Bibi? Kami tak bisa abai akan hubungan Pandji dengan tunangannya itu."

Air muka bu Harun serta merta berubah.

Walau sebelumnya sudah mempersiapkan diri bila Harry akan membahas Elok, tetap saja hatinya sakit mendengar nama itu disebut.

Bersambung👍🏻

1
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
kyk acara transtv dl. dibawain ama si panda
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sapose neh
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
laki2 tuh klo curhat begini y? harus ada perantara nya
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sambil nyanyi aq bacanya
〈⎳ FT. Zira
kann kann kann.. bener kannn🤧
〈⎳ FT. Zira
pandji yg seorang perwira aja gini, apalagi Arya nanti yak🤭
〈⎳ FT. Zira
kakak adek nasib nnya gini amat... athor nya hahat...😭😭😭 harus ada ganti pokoknya
〈⎳ FT. Zira
main serong biar dapet doku gak sih ini🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
wweehhh😳😳😳
〈⎳ FT. Zira
mau sekeras apa juga pada akhirnya runtuh juga
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
kan Si jalan raya dengan tak Elok itu satu jenis bun🤔 sama2 murahan eh🤸🤸🤸
Teteh Lia
habis sudah kesabaran babang Harry
Teteh Lia
Oh ya ampuun... kejam sekali dirimu, masa suami suruh tidur di lantai.
sari. trg
atur dulu anakmu Bu
sari. trg
waduh! siapa tuh bapaknya?
Zenun
harusnya tanya dulu mengapa Hary bisa bicara gitu, ada bukti apa
Dewi Payang: Harusnya begitu memang.....
total 1 replies
🟢≛⃝⃕|ℙ$Fahira𝓛𝓲𝓷𝓰𝓧𝓲☕︎⃝❥
waduhhh... ternyata oh ternyata Raya berani sekali ya melakukan itu... ishhh ishhh ishhh...
Dewi Payang: Baiklah....😁😍
total 7 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
is is is ternyata jalang teriak jalang oy
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩: is is is... kok mirip elok ya🤭
total 2 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
masih aja loh si ibu. gmn klo si harry yg selingkuh?! pasti kln nge reog
Dewi Payang: klo anak sendiri dimaklumi, kko menantu gak boleh salah🤭
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
woaahhhh ortunya juga mau2 aja menampung
Dewi Payang: Wkwk😂😂 padahal maksud mengadu pengen ortu jadi penengah kalu bisa dibelain ya kak🙈🙈🙈🙈
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!