NovelToon NovelToon
Santa, The Reedemed Killer

Santa, The Reedemed Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Horror Thriller-Horror / TKP / Psikopat / Pembunuhan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Seorang pria tua, mantan narapidana, harus berusaha mencari kebenaran dari rentetan pembunuhan yang menyeret namanya.

"Aku masih tak mengerti, apa motif si pembunuh dengan menjadi peniru?"

"Tapi pembunuh kali ini, dia tampak lebih cerdas. dia sudah memikirkan dengan matang semua langkahnya."

"Kurasa bukan peniru, tapi memang dia sendiri pelakunya, dia... Santaroni ingin mengulang pembunuhannya dengan lebih sempurna."

Mampukah Santaroni—si residivis, membuktikan pertobatannya, dan menemukan pelaku pembunuhan yang telah meniru jejaknya?

note: mungkin akan ada beberapa adegan keji, mohon bijak saat membaca. ingat: 'ini hanya cerita karangan, jika ada kesamaan nama tokoh dan situasi, hanya kebetulan yang sengaja dibetul-betulkan.'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari Kabar Lama

Malam telah jatuh, di ruang rawat khususnya, Santaroni berdiri bersandar tepian jendela, menatap jauh keluar ke dalam kegelapan. Infus masih terpasang di tangannya, tapi dia seolah mengabaikan rasa nyeri yang masih menempel nyata. Pikirannya terlalu bersemangat membayangkan apa yang akan dia kerjakan esok hari.

Jendela ia biarkan sedikit terbuka, hingga angin malam masuk, membawa suara-suara lembut dari kota yang tidak pernah tidur. Santaroni menutup mata, membiarkan angin menyapu wajahnya. Ingatannya melayang pada wajah-wajah yang ia rindukan.

“Apa kabar kalian, maaf aku tak segera berkunjung, aku butuh waktu sejenak untuk mengumpulkan ongkos,” ungkap sesalnya pada udara kosong, kembali menerawang jauh.

Ujung bibirnya tertarik, menyunggingkan senyum yang tak sepenuhnya. Senyum itu lebih seperti bayangan dari kebahagiaan yang telah lama hilang.

"Cih, kau tahu, polisi wanita itu mendatangiku, dia meracau tentang seorang peniru. Bukankah itu sangat aneh?" Santaroni terus berbisik, bermonolog seolah ia tengah berbincang dengan seseorang.

Dia berhenti sejenak, menatap ke dalam kegelapan di luar jendela.

"Hmm, ku akui aku sempat terkejut, tapi setelah kuingat lagi, jelas sekali itu bukan kau,” ucapnya sangat yakin.

Santaroni mengakhiri monolognya dengan helaan napas panjang yang terasa seperti sebuah beban ikut terhempas bersamanya. Dia kembali menutup mata, membiarkan kesedihan dan kelelahan mengambil alih.

……

Keesokan paginya, Sammy dan Jack tiba di rumah sakit untuk menemui Santaroni. Saat mereka tiba, mereka mendapati Santaroni sudah berganti baju dan siap untuk meninggalkan rumah sakit.

"Santaroni, kau sudah lebih baik?” tanya Sammy menunjukkan empatinya.

Santaroni mengangguk, matanya terlihat lebih cerah daripada kemarin. “Tidak boleh ada waktu yang terbuang, dua korban sudah jatuh. Mungkin saja hari ini….” sahut pria itu sedikit meringis menahan perih di wajahnya.

“Insting seorang pembunuh memang lebih tajam!” ledek Jack tanpa basa-basi.

Sammy dan Jack mengantar Santaroni keluar dari rumah sakit, menuju ke mobil yang sudah menunggu. Mereka membawa Santaroni ke kuil tua yang terletak di pinggir kota, di tengah-tengah perbukitan.

Saat mereka tiba di kuil tua, Santaroni menatap sekeliling seolah tengah menggali kenangan lama.

"Aku tidak pernah berpikir aku akan kembali ke sini," gumamnya.

Sammy dan Jack menatap ke arah Santaroni, menunggu dia untuk melanjutkan.

"Apa yang kamu ingat tentang tempat ini?" Jack menyahut.

Santaroni menghela napas kasar. “Apa semua petugas muda cerewet sepertimu?”

Jack mendecak kesal. “Cih! Kata-kata seorang pembunuh memang tajam!” balasnya.

Santaroni berbalik menatap kedua petugas yang terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba. “Kalian cukup sampai disini, tunggu aku di gazebo itu!” tunjuk Santaroni.

Jack bersungut kesal. “Apa?!” tatapnya curiga.

Sammy menarik bahu Jack Agra bergerak ke arahnya. “Aku sepakat memberinya privasi di sini. Percayalah, dia tak akan bisa kabur kemana-kemana, ada chip di gelang kakinya,” terang Sammy seraya menunjukkan layar ponselnya yang mati, sebagai penegasan lebih bahwa mereka bisa saja terus memantau pergerakan Santaroni.

Jack terpaksa menurut meski wajahnya menunjukkan kekesalan yang luar biasa.

Santaroni pun memasuki kuil tua itu sendirian. Sementara Jack melangkah kesal menuju gazebo di salah satu sudut halaman kuil itu.

Jack duduk perlahan seolah khawatir gazebo itu akan roboh setelah menopang berat badannya. "Entah berapa lama usia tempat ini," katanya.

"Menurutku tidak, lihat saja itu sangat mengkilap, dan masih terlihat kuat!” sahut Sammy.

‘Terlihat kuat?’ ulangnya dalam hati, 'Meskipun sudah tua, jika dirawat dengan benar, bahan bangunan akan tetap terlihat kuat… apa yang kupikirkan, atau memang sejak awal pelakunya bukan Santaroni?’ pikir Sammy, entah darimana datangnya pemikiran gila itu.

………..

Di kuil, Santaroni tampak berbincang dengan seorang biarawati. Garis-garis tegas dan dalam di wajahnya, menunjukkan bahwa beliau telah melewati beberapa dekade kehidupan.

Santaroni tersenyum ramah, penuh hormat, , mengusap punggung tangannya sendiri untuk mengusir rasa canggung. "Apa dia tumbuh menjadi gadis baik?" tanyanya langsung.

Sang biarawati tampak gugup, ia terus meremas jari-jarinya sendiri. "Maafkan aku, seharusnya dua hari lalu ia tiba di sini, aku sudah memintanya pulang, tapi entah kenapa dia belum juga tiba."

Santaroni terhenyak, meski ia tak memikirkan apapun. "Apa tak ada kabar darinya?"

Biarawati itu tertunduk menggeleng penuh sesal. "Ponselnya tak bisa dihubungi. Dia tak pernah menyebutkan dimana ia tinggal atau bekerja."

"Sepuluh hari lagi natal tiba, yang artinya itu adalah hari ulang tahunnya, apa kau tahu sedikit saja informasi dimana dia tinggal?"

Biarawati itu kembali menggeleng lemah. "Tidak biasanya dia seperti ini. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya.” lirihnya jujur. “Tadi sore... aku dikejutkan dengan keributan di bawah, aku dengar seorang gadis ditemukan...."

“Jangan terlalu takut, Bu. Itu hanya ulah seseorang yang mencari perhatian,” sahutnya ringan, meski jauh di dasar hatinya ia pun memikirkan hal yang mungkin saja sama. .

"Baiklah, Bu. Aku harus pergi ke suatu tempat, kabari aku jika ada kabar dari Khalila."

"Baiklah, kau... semoga alam semesta memberkatimu."

Santaroni berpamitan seperlunya, kemudian berjalan keluar dari sana, kembali menemui dua detektif yang masih menunggunya.

...****************...

Bersambung....

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Lg males mikir 🤭🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Akhirnya ketahuan 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Pembunuh bayaran 🤔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Berasa jadi detektif dadakan 🤭🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sammy apa Sarah 🤔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Yomi dan anak buahnya jadi tim pembersih 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Benang kusut mulai terurai
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Marco😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
dua kaki
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
😭😭😭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Iya,kamu salah Kanet
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kanet balas dendam karena Rey sudah membunuh ayahnya 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pria itu Rey 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kasus Santaroni
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jadi partner perempuan itu putrinya Diaz 🤔
yosh—: silakan terus menebak/Casual/
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
😭😭😭
Sunsun Shepiet
seru sih Thor seru banget..
yosh—: aseeek😁
total 1 replies
Sunsun Shepiet
nah loh, tertangkap kah?
Sunsun Shepiet
eh tp kn itu bd negara y? aku lupa 😁
Sunsun Shepiet
eh klo Roni k kantor polisi nanyain Rey bisa bahaya ga sih?
yosh—: bahaya, agak enggak, tapi ya bahaya🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!