Seminggu menjelang hari bahagianya, dunia Jamila runtuh seketika. Di sebuah gubuk tua di tepi sawah, ia menyaksikan pengkhianatan paling menyakitkan: Arjuna tunangannya, justru bermesraan dengan Salina, sepupu Laila sendiri. Sebagai gadis yatim piatu yang terbiasa hidup prihatin bersama kakaknya, Jamal, serta sang kakek-nenek, Engkong Abdul Malik dan Nyai Umi Yati, Mila memilih tidak tenggelam dalam tangis.
Jamila mengalihkan rasa sakitnya dengan bekerja lebih keras. Dengan kulit hitam manisnya yang eksotis dan kepribadian yang pantang menyerah, ia mencari nafkah melalui cara yang tak lazim: live streaming di TikTok. Bukan sekadar menyapa penonton, Jamila melakukan aksi nekat memanjat berbagai pohon mulai dari jambu hingga durian sambil bercengkerama dengan para followers nya
Awalnya hanya kagum pada keberanian Laila, Daren, pemuda tampan dari Eropa perlahan jatuh cinta pada ketulusan Jamila, dan berniat melamarnya, apakah Jamila menerima atau tidak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indira MR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29.Harun Dubai bersama isterinya
Dua minggu telah berlalu.
Apartemen mewah Daren di bilangan Jakarta Selatan yang biasanya hanya berbau aroma kopi mahal dan pengharum ruangan maskulin, kini punya aroma baru yang agak eksotis perpaduan antara minyak kayu putih dan minyak cendana.
Daren berdiri di depan cermin besar, mencoba mengenakan celana bahan slim-fit miliknya. Ia melakukannya dengan gerakan sangat perlahan.
"Oke, Daren. Tarik napas. Ini cuma kain, bukan musuh," gumamnya pada diri sendiri. Begitu kancing terpasang, ia melakukan gerakan squat kecil. Aman.
Tidak ada rasa nyut-nyutan yang membuat trauma, di ruang tamu, Jerry sudah duduk di sofa sambil meminum sisa jamu kiriman Engkong Malik yang warnanya sehitam aspal rasanya pahit, agar cepat pulih.
Bel apartemen berbunyi. Jerry membukanya dan mendapati Jamal berdiri di sana dengan gaya khasnya kaos oblong, sarung yang dikalungkan di leher, dan menenteng kantong plastik besar.
"Assalamualaikum! Gimana para pejuangku? Udah bisa pake celana jins belum?" seru Jamal tanpa permisi langsung masuk ke dapur.
"Bang Jamal! Ngapain ke sini?" tanya Daren kaget.
"Ini, disuruh Jamila sama Engkong. Jamila kirim sambal goreng ikan gabus lagi, katanya biar jahitannya makin kuat kayak beton. Terus ini..." Jamal mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
"Titipan dari Engkong. Katanya jangan dibuka kalau mental belum kuat."
Daren dan Jerry saling lirik. Dengan tangan gemetar, Daren membuka amplop itu. Isinya adalah dua lembar foto hasil cetakan tukang foto keliling di kampung kemarin.
Isi Foto:
Foto 1: Daren dan Jerry sedang duduk melongo dengan sarung menggelembung, wajah mereka pucat pasi, sementara Jamal berpose jempol di tengah-tengah mereka.
Foto 2: Foto close-up wajah Daren yang sedang menangis saat lututnya terhantam kipas bambu.Di balik foto itu ada tulisan tangan Engkong yang cakar ayam
"Pengingat. Jangan sombong jadi CEO, di hadapan Bang Doel, kalian cuma burung kecil yang habis dipangkas."
Daren tertawa, kali ini tawa lepas tanpa rasa sakit di bagian bawah. Ia menatap foto memalukan itu, lalu menatap Jamal yang sedang asyik menggeledah kulkasnya mencari sirup
"Bang, sampaikan ke Jamila... makasih buat perhatiannya. Dan bilang ke Engkong, foto ini bakal gue bingkai. Bukan di kantor, tapi di kamar gue. Biar gue selalu ingat, setinggi-tingginya gue terbang, gue pernah dipingit di teras ubin rumah dia."
Suasana di ruang tamu semakin ajaib. Harun Dubai berdiri dengan penuh percaya diri, seolah-olah sedang mempresentasikan proyek real estate di Burj Khalifa, bukannya melamar gadis di pinggiran Jakarta.
Di depan teras, parkir sebuah mobil mewah yang bagasinya terbuka, memperlihatkan tumpukan seserahan yang membuat mata tetangga hampir copot.
Harun Dubai, dengan gamis putih premium dan wangi parfum gaharu yang menyengat hingga radius lima meter, duduk di ruang tamu didampingi kedua istrinya yang mengenakan abaya hitam bertahtakan kristal.
" Maaf Engkong maksud saya kesini berniat baik untuk melamar cucu Engkong, Jamila," ujar Harun Dubai sambil membuka koper berisi emas batang yang berkilau terkena cahaya lampu neon.
"Uang 1 miliar untuk uang panai, perhiasan satu set, pakaian, sepatu dan ini... tas-tas ini bisa untuk Jamila pergi kondangan"
Jamila yang sudah tampil anggun dengan kebaya kutubaru berwarna pastel dan riasan tipis yang membuatnya terlihat sangat cantik, berdiri mematung di ambang pintu dapur. Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena cinta, melainkan karena jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena cinta, melainkan karena syok.
Jamila berbisik ke Jamal.
"Bang, ini maksudnya apa? Harun Dubai kok tiba-tiba ke sini bawa isterinya?"
Jamal Sambil mengelap keringat
"Abang juga kagak tau, Mil! Tadi dia datang langsung buka koper. Gue kira mau jualan emas, taunya mau ngelamar lo"
"Engkong, bang Jamal dan dewi,Kenalkan, ini Ainun, istri pertama saya. Dan ini Julaekha, yang kedua," kata Harun sambil menunjuk kedua wanita di sampingnya.
"Mereka berdua ini sudah sepakat, sudah ikhlas lahir batin. Kami ke sini mencari permata ketiga untuk saling melengkapi .. maksud saya, keluarga kami."
Ainun dan Julaekha langsung mendekat ke arah Jamila, mencoba memegang tangan gadis itu yang sedang gemetar karena menahan emosi.
"Ayo dong, Jamila sayang. Ikut kami ke Dubai," bujuk Ainun sambil memamerkan gelang emasnya yang setebal borgol.
"Kita bakal akur, kok. Makan tinggal tunjuk, jalan-jalan tinggal terbang. Uang Bang Harun ini nggak bakal habis tujuh turunan, tujuh tanjakan, sampai tujuh kali ganti gubernur juga masih sisa!"Julaekha menimpali,
"Iya, Mila. Kami berdua ini belum dikasih keturunan. Siapa tahu kalau Bang Harun nikah sama kamu, kamu bisa kasih anak. Nanti anak kamu jadi pewaris tunggal semua emas ini."
Tepat saat Harun Dubai sedang memamerkan sepatu branded terbaru, sebuah mobil MPV hitam masuk ke halaman. Daren dan Jerry turun dengan gagah. Mereka memakai batik tulis senada Daren dengan motif parang yang elegan, dan Jerry yang tampak klimis meski jalanannya masih sedikit hati-hati (maklum, efek trauma dua minggu lalu).
Daren membawa buket bunga besar dan sebuah kotak kayu jati ukiran yang tampak klasik. Jerry di belakangnya membawa beberapa tas bingkisan makanan premium.
Langkah Daren terhenti di depan pintu. Ia melihat kerumunan orang, koper emas, dan Harun Dubai yang sedang memegang satu batang emas seolah sedang menawarkan dagangan.
Daren menarik napas panjang, merapikan kerah batiknya, lalu melangkah masuk dengan senyum percaya diri sifat CEO-nya masih melekat.
"Assalamualaikum," suara Daren berat dan mantap.
Semua mata tertuju padanya. Jamila menatap Daren dengan tatapan minta tolong.
"Siapa ini, Engkong? Sales asuransi atau staf kecamatan?" Harun Dubai pura-pura tak mengenal.
Daren duduk di kursi kosong tepat di depan Harun. Ia tidak silau dengan emas se-koper. Ia menaruh kotak kayu jatinya di meja.
Harun Dubai menawarkan emas dan uang 1 miliar itu luar biasa. Tapi Jamila bukan tipekal gadis yang tergiur dan silau dengan emas dan uang.
Kenalkan, ini Ainun, istri pertama saya. Dan ini Julaekha, yang kedua," kata Harun sambil menunjuk kedua wanita di sampingnya.
"Mereka berdua ini sudah sepakat, sudah ikhlas lahir batin. Kami ke sini mencari permata ketiga untuk melengkapi koleksi... maksud saya, keluarga kami."
Ainun dan Julaekha langsung mendekat ke arah Jamila, mencoba memegang tangan gadis itu yang sedang gemetar karena menahan emosi.
Ayo dong, Jamila sayang. Ikut kami ke Dubai," bujuk Ainun sambil memamerkan gelang emasnya yang setebal borgol.
"Kita bakal akur, kok. Makan tinggal tunjuk, jalan-jalan tinggal terbang. Uang Bang Harun ini nggak bakal habis tujuh turunan, tujuh tanjakan, sampai tujuh kali ganti gubernur juga masih sisa!"Julaekha menimpali,
"Iya, Mila. Kami berdua ini belum dikasih keturunan. Siapa tahu kalau Bang Harun nikah sama kamu, kamu bisa kasih anak. Nanti anak kamu jadi pewaris tunggal semua emas ini."
Jamila menarik tangannya dengan sopan tapi sangat cepat. Ia menatap Harun, Ainun, dan Julaekha bergantian dengan tatapan yang sudah tidak bisa diajak kompromi.
"Maaf, Bang Harun, Mbak Ainun, Mbak Julaekha," suara Jamila bergetar tapi lantang.
"Mila bukan pelakor, dan Mila nggak punya niat untuk masuk ke rumah tangga orang lain, mau istrinya ikhlas atau tidak. Kebahagiaan Mila nggak bisa dibeli pakai emas batang atau uang bermiliar-miliar."
Jamila melirik Daren yang sejak tadi menahan geram di kursinya.
"Mila lebih memilih sama orang yang berjuang dari nol, yang mau duduk kepanasan di teras ini, daripada jadi orang yang ketiga di rumah mewah tapi menyakiti hati wanita lain. "
Daren yang sejak tadi hanya menyimak, kini berdiri. Aura CEO-nya keluar, tapi kali ini lebih humanis. Ia menatap Harun Dubai dengan senyum simpul yang sangat menjatuhkan mental.
"Harun yang terhormat," ujar Daren tenang.
"Mungkin uang kamu, Harun nggak habis tujuh turunan tujuh tanjakan, tapi saya hanya membawa cinta, janji untuk membahagiakan Mila, dan keluarganya"
Jerry, yang merasa momen ini terlalu serius, berbisik cukup keras ke arah Jamal yang sedang asyik menghitung jumlah batang emas di dalam koper lewat lirikan mata.
"Bang Jamal, itu emas kalau dijadiin kerupuk dapet berapa bal ya? Banyak bener."
Jamal sambil berbisik balik
"Boro-boro kerupuk, Jer. Itu kalau dijual, kita bisa beli kerupuk se kecamatan ini! Tapi ya gimana, adek gue emang seleranya tinggi. Dia nggak butuh emas, dia butuhnya...mantan CEO yang kemarin sarungnya menggelembung."
Jerry langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Jamal.
Harun Dubai dan kedua isterinya, Ainun dan Julaekha.
Bersambung
bener bener kek dpt hidayah atas kemauannya sendiri