NovelToon NovelToon
DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Pelakor jahat / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 DUA JALAN YANG SEKALI BERIRINGAN

Belasan hari setelah Arga menulis surat yang tidak akan pernah dikirim dan memutuskan untuk mengembalikan buku Alya, sebuah undangan tak terduga tiba di rumahnya. Sebuah amplop berwarna krem dengan tulisan tangan yang rapi: Untuk Arga Pratama – Undangan Resepsi Pernikahan Sultan Wicaksono dan Alya Kusumawardhani. Arga hanya bisa menatap amplop itu dengan mata membeku, jari-jari yang sedang mencoba membukanya terasa berat seperti timbangan.

Sultan – nama itu membawa kembali kenangan yang sudah terlupakan jauh di balik masa lalunya dengan Alya. Mereka bertemu pertama kali saat Arga masih bekerja di perusahaan konsultasi besar tiga tahun yang lalu. Sultan adalah mitra kerja dari perusahaan teknologi start-up yang tengah mereka bantu untuk ekspansi bisnis. Pria itu berusia tiga tahun lebih tua dari Arga, dengan senyuman hangat yang mudah membuat orang merasa nyaman dan pandangan yang tajam saat membicarakan bisnis. Saat itu, Arga bahkan pernah memperkenalkan Sultan pada Alya di salah satu acara perusahaan. Ia masih ingat bagaimana Sultan dengan sopan memuji karya fotografi Alya yang pernah ia tunjukkan di ponselnya, bagaimana mereka berdua membicarakan buku yang sama – sebuah novel klasik yang juga pernah dibaca Arga namun tidak pernah ia hargai seperti mereka berdua.

“Kamu punya selera yang bagus, Alya,” ujar Sultan kala itu, sambil mengangguk pada Arga. “Arga jarang berbicara tentang hal-hal di luar angka dan strategi.”

Arga hanya tersenyum pendek kala itu, menganggapnya sebagai pujian biasa. Ia tidak pernah menyadari bahwa saat itu, ada benang tipis yang mulai terjalin antara dua orang yang ia anggap sebagai teman dekatnya.

Sekarang, dengan undangan di tangannya, Arga merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Bukan cemburu yang menusuk – bukan lagi. Lebih seperti rasa pahit yang menyatu dengan rasa lega, seperti menemukan bagian terakhir dari teka-teki yang sudah lama membuatnya bingung. Ia perlahan membuka amplop, mengambil kartu undangan dengan desain sederhana namun elegan: gambar bunga melati yang dicetak dengan warna emas muda, di tengahnya tertulis tanggal dan tempat acara yang akan diselenggarakan di salah satu vila mewah di lereng Gunung Kawi, sekitar dua jam dari kota Malang.

Di bagian dalam undangan, ada pesan tambahan yang ditulis tangan oleh Sultan: “Arga, aku tahu ini mungkin mengejutkan. Aku ingin kamu datang. Alya dan aku merasa bahwa kamu layak untuk tahu langsung dari kita, bukan dari orang lain. Kita butuh waktu untuk bicara – tentang banyak hal. – Sultan”

Arga menjatuhkan kepalanya ke atas meja, tangan masih memegang undangan. Pikirannya berputar pada momen-momen di mana ia mungkin telah melewatkan tanda-tanda. Saat Alya mulai sering berbicara tentang proyek fotografinya bersama sebuah komunitas kreatif yang dipimpin oleh Sultan. Saat Alya mulai menghabiskan akhir pekan untuk mengikuti lokakarya fotografi yang diadakan oleh perusahaan Sultan. Saat Alya pernah berkata, “Sultan mengerti bagaimana cara melihat karya seseorang dengan hati, bukan hanya dengan mata,” dan Arga hanya menjawab dengan sinis, “Orang bisnis selalu pandai berkata kata yang menyenangkan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.”

Ia tidak pernah mencoba untuk benar-benar mengenal Sultan sebagai seorang manusia – hanya sebagai seorang mitra bisnis yang cerdas. Dan kini, pria itu akan menikahi wanita yang pernah menjadi segalanya baginya.

Beberapa hari kemudian, tepat satu minggu sebelum resepsi, Arga memutuskan untuk mengunjungi kediaman Sultan di kawasan perumahan eksklusif di pinggiran kota. Ia tidak menghubungi terlebih dahulu – sebuah keputusan yang tidak seperti dirinya yang selalu menghargai efisiensi dan perencanaan. Tapi kali ini, ia merasa perlu untuk bertemu dengan Sultan tanpa ada kata-kata yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Pagar tinggi dengan gerbang otomatis membuka setelah ia menekan tombol interkom. Dalam beberapa menit, Sultan muncul dengan mengenakan kaos polos dan celana jeans, jauh berbeda dari penampilannya yang selalu rapi saat bertemu di kantor. Senyumnya masih sama – hangat namun sekarang disertai dengan kedalaman yang Arga baru sadari.

“Arga,” ucap Sultan dengan nada hangat, mengajak Arga masuk ke halaman belakang yang dihiasi dengan taman bunga yang terawat rapi. “Aku tahu kamu akan datang sebelum acara. Silakan duduk.”

Mereka duduk di teras kayu yang menghadap kolam renang kecil. Pelayan segera menghadirkan dua gelas teh hangat jahe. Arga melihat sekeliling, melihat dekorasi rumah yang penuh dengan karya seni rupa dan foto-foto yang jelas merupakan hasil karya Alya – ada foto pemandangan kota Malang saat senja, foto anak-anak bermain di pasar tradisional, foto bunga-bunga liar di pegunungan. Setiap foto memiliki kesan hangat dan mendalam yang selalu menjadi ciri khas karya Alya.

“Kamu menyukainya banyak, ya?” tanya Arga akhirnya, menunjuk pada salah satu foto yang terpajang di dinding teras.

Sultan mengikuti pandangannya, wajahnya menunjukkan ekspresi penuh cinta. “Alya adalah orang yang paling luar biasa yang pernah aku temui. Setiap karyanya menceritakan cerita tentang kehidupan yang seringkali kita lewatkan begitu saja. Aku jatuh cinta pada dirinya bukan hanya karena keahliannya, tapi karena cara dia melihat dunia – dengan penuh rasa hormat dan kebaikan.”

Arga mengangguk perlahan, mengaduk-aduk teh di gelasnya. “Kenapa kamu ingin aku datang ke resepsi? Dan kenapa kamu ingin bertemu denganku sekarang?”

Sultan mengambil napas dalam. “Karena aku tahu bagaimana pentingnya kamu dalam hidup Alya. Dan karena aku juga tahu bahwa kamu pernah menyakitinya – tidak dengan sengaja, tapi karena kamu tidak tahu cara lain untuk mencintai. Alya tidak pernah berbicara banyak tentang masa lalunya denganmu, tapi dari apa yang aku bisa lihat, kamu adalah orang pertama yang membuatnya merasa bahwa cintanya berharga… dan juga orang pertama yang membuatnya merasa bahwa dirinya tidak cukup penting untuk didengar.”

Arga merasakan dada terasa sesak. Kata-kata Sultan seperti cermin yang memperlihatkan kesalahan yang ia coba sembunyikan selama bertahun-tahun.

“Kamu tidak benci aku?” tanya Arga dengan suara yang lebih pelan dari yang ia harapkan.

Sultan tertawa lembut. “Aku tidak punya alasan untuk membencimu, Arga. Sebelum aku datang ke dalam hidupnya, kamu adalah bagian penting dari perjalanan hidupnya. Tanpa kamu, mungkin Alya tidak akan menjadi orang yang sekarang aku cintai – seseorang yang kuat, tahu apa yang ia inginkan, dan tidak lagi rela menerima cinta yang tidak seutuhnya menghargai dirinya.”

Mereka diam sebentar, hanya mendengar suara burung berkicau di pepohonan dan gemericik air dari kolam renang. Kemudian Sultan melanjutkan, “Aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak akan pernah mengambil alih tempatmu dalam hidupnya. Tidak ada yang bisa menggantikan apa yang kamu berikan padanya – baik yang baik maupun yang buruk. Tapi aku berjanji padanya, dan juga pada diriku sendiri, bahwa aku akan selalu mendengarkan dia. Tidak hanya dengan telinga, tapi dengan hati.”

Arga merasakan sesuatu yang pecah di dalam dirinya – bukan rasa sakit, melainkan beban yang akhirnya terangkat setelah bertahun-tahun menekannya. Ia mengangkat pandangannya ke arah Sultan, mata sudah sedikit kemerahan namun wajahnya tenang. “Aku pernah berpikir bahwa mencintai berarti memiliki – bahwa aku harus mengontrol segala sesuatu agar bisa membuatnya bahagia. Tapi aku salah besar. Aku membuatnya merasa tidak diperhatikan, seperti pendapatnya tidak berharga. Aku mencintainya dengan cara yang salah.”

“Kamu sudah belajar dari itu, bukan?” kata Sultan dengan lembut. “Itu sudah cukup penting.”

Arga mengangguk. “Aku sudah mengirimkan buku miliknya kembali. Tanpa catatan apa pun. Aku merasa itu adalah cara terbaik untuk mengatakan bahwa aku akhirnya melepaskannya dengan tulus.”

Sultan tersenyum hangat. “Alya memberitahuku tentang buku itu. Dia menangis saat menerimanya. Bukan karena sedih, tapi karena dia merasa bahwa kamu akhirnya mengerti apa yang dia coba katakan padamu dulu.”

Mereka berbicara lebih lama lagi – tentang bisnis, tentang masa depan, tentang bagaimana hidup seringkali membawa kita ke jalan yang tidak kita duga. Arga belajar bahwa Sultan dan Alya sebenarnya sudah mengenal satu sama lain lebih lama dari yang ia kira – mereka bertemu pertama kali di sebuah lokakarya fotografi dua tahun yang lalu, saat Arga sedang sibuk dengan proyek luar negeri yang membuatnya hampir tidak pernah ada di rumah. Saat itu, Alya sudah mulai merasa lelah dengan sikap Arga yang selalu mengutamakan pekerjaan dan logika daripada perasaan.

“Dia tidak pernah berhenti mencoba untukmu, Arga,” ucap Sultan sebelum Arga pergi. “Hingga akhirnya dia menyadari bahwa cinta yang satu arah bukanlah cinta yang sehat. Aku berterima kasih padamu karena pernah mencintainya dengan sepenuh hati yang kamu miliki pada saat itu. Dan aku berterima kasih juga karena akhirnya kamu memilih untuk melepaskannya dengan baik.”

Pada hari resepsi, Arga datang tepat waktu. Ia mengenakan jas hitam yang sederhana namun rapi, membawa sebuah hadiah kecil – sebuah bingkai kayu yang dibuat secara khusus dengan ukiran kalimat yang pernah Alya tulis di dalam buku itu: “Semoga suatu hari kamu belajar mendengarkan perasaanmu sendiri.”

Ia melihat Alya keluar dari mobil pengantin – mengenakan gaun pengantin putih dengan renda yang mengalir indah, rambutnya diikat dengan anggrek putih, wajahnya bersinar dengan kecantikan yang berasal dari dalam. Di sisinya, Sultan mengenakan jas hitam yang cocok dengan gaunnya, wajahnya penuh dengan cinta dan bangga. Arga merasa hati sedikit terasa sakit, tapi itu adalah rasa sakit yang baik – rasa sakit yang menunjukkan bahwa ia benar-benar mencintai wanita itu dan bersukacita melihatnya bahagia.

adalah orang yang paling luar biasa yang pernah aku temui. Setiap karyanya menceritakan cerita tentang kehidupan yang seringkali kita lewatkan begitu saja. Aku jatuh cinta pada dirinya bukan hanya karena keahliannya, tapi karena cara dia melihat dunia – dengan penuh rasa hormat dan kebaikan.”

Arga mengangguk perlahan, mengaduk-aduk teh di gelasnya. “Kenapa kamu ingin aku datang ke resepsi? Dan kenapa kamu ingin bertemu denganku sekarang?”

Sultan mengambil napas dalam. “Karena aku tahu bagaimana pentingnya kamu dalam hidup Alya. Dan karena aku juga tahu bahwa kamu pernah menyakitinya – tidak dengan sengaja, tapi karena kamu tidak tahu cara lain untuk mencintai. Alya tidak pernah berbicara banyak tentang masa lalunya denganmu, tapi dari apa yang aku bisa lihat, kamu adalah orang pertama yang membuatnya merasa bahwa cintanya berharga… dan juga orang pertama yang membuatnya merasa bahwa dirinya tidak cukup penting untuk didengar.”

Arga merasakan dada terasa sesak. Kata-kata Sultan seperti cermin yang memperlihatkan kesalahan yang ia coba sembunyikan selama bertahun-tahun.

“Kamu tidak benci aku?” tanya Arga dengan suara yang lebih pelan dari yang ia harapkan.

Sultan tertawa lembut. “Aku tidak punya alasan untuk membencimu, Arga. Sebelum aku datang ke dalam hidupnya, kamu adalah bagian penting dari perjalanan hidupnya. Tanpa kamu, mungkin Alya tidak akan menjadi orang yang sekarang aku cintai – seseorang yang kuat, tahu apa yang ia inginkan, dan tidak lagi rela menerima cinta yang tidak seutuhnya menghargai dirinya.”

Mereka diam sebentar, hanya mendengar suara burung berkicau di pepohonan dan gemericik air dari kolam renang. Kemudian Sultan melanjutkan, “Aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak akan pernah mengambil alih tempatmu dalam hidupnya. Tidak ada yang bisa menggantikan apa yang kamu berikan padanya – baik yang baik maupun yang buruk. Tapi aku berjanji padanya, dan juga pada diriku sendiri, bahwa aku akan selalu mendengarkan dia. Tidak hanya dengan telinga, tapi dengan hati.”

Arga merasakan sesuatu yang pecah di dalam dirinya – bukan rasa sakit, melainkan beban yang akhirnya terangkat setelah bertahun-tahun menekannya. Ia mengangkat pandangannya ke arah Sultan, mata sudah sedikit kemerahan namun wajahnya tenang. “Aku pernah berpikir bahwa mencintai berarti memiliki – bahwa aku harus mengontrol segala sesuatu agar bisa membuatnya bahagia. Tapi aku salah besar. Aku membuatnya merasa tidak diperhatikan, seperti pendapatnya tidak berharga. Aku mencintainya dengan cara yang salah.”

“Kamu sudah belajar dari itu, bukan?” kata Sultan dengan lembut. “Itu sudah cukup penting.”

Arga mengangguk. “Aku sudah mengirimkan buku miliknya kembali. Tanpa catatan apa pun. Aku merasa itu adalah cara terbaik untuk mengatakan bahwa aku akhirnya melepaskannya dengan tulus.”

Sultan tersenyum hangat. “Alya memberitahuku tentang buku itu. Dia menangis saat menerimanya. Bukan karena sedih, tapi karena dia merasa bahwa kamu akhirnya mengerti apa yang dia coba katakan padamu dulu.”

Mereka berbicara lebih lama lagi – tentang bisnis, tentang masa depan, tentang bagaimana hidup seringkali membawa kita ke jalan yang tidak kita duga. Arga belajar bahwa Sultan dan Alya sebenarnya sudah mengenal satu sama lain lebih lama dari yang ia kira – mereka bertemu pertama kali di sebuah lokakarya fotografi dua tahun yang lalu, saat Arga sedang sibuk dengan proyek luar negeri yang membuatnya hampir tidak pernah ada di rumah. Saat itu, Alya sudah mulai merasa lelah dengan sikap Arga yang selalu mengutamakan pekerjaan dan logika daripada perasaan.

“Dia tidak pernah berhenti mencoba untukmu, Arga,” ucap Sultan sebelum Arga pergi. “Hingga akhirnya dia menyadari bahwa cinta yang satu arah bukanlah cinta yang sehat. Aku berterima kasih padamu karena pernah mencintainya dengan sepenuh hati yang kamu miliki pada saat itu. Dan aku berterima kasih juga karena akhirnya kamu memilih untuk melepaskannya dengan baik.”

Pada hari resepsi, Arga datang tepat waktu. Ia mengenakan jas hitam yang sederhana namun rapi, membawa sebuah hadiah kecil – sebuah bingkai kayu yang dibuat secara khusus dengan ukiran kalimat yang pernah Alya tulis di dalam buku itu: “Semoga suatu hari kamu belajar mendengarkan perasaanmu sendiri.”

Ia melihat Alya keluar dari mobil pengantin – mengenakan gaun pengantin putih dengan renda yang mengalir indah, rambutnya diikat dengan anggrek putih, wajahnya bersinar dengan kecantikan yang berasal dari dalam. Di sisinya, Sultan mengenakan jas hitam yang cocok dengan gaunnya, wajahnya penuh dengan cinta dan bangga. Arga merasa hati sedikit terasa sakit, tapi itu adalah rasa sakit yang baik – rasa sakit yang menunjukkan bahwa ia benar-benar mencintai wanita itu dan bersukacita melihatnya bahagia.

Setelah upacara selesai dan tamu mulai menikmati hidangan, Sultan mengajak Arga untuk berbicara dengan Alya di sudut taman yang lebih sunyi. Arga merasa tangan dan kakinya sedikit gemetar, tapi ia tetap melangkah dengan tegap.

“Alya,” ucapnya dengan suara yang stabil. “Kamu cantik sekali hari ini.”

Alya melihatnya dengan mata yang tenang dan penuh rasa hormat. Senyumnya lembut, tidak ada rasa sakit atau kebencian di dalamnya – hanya kedamaian yang dalam. “Terima kasih, Arga. Aku senang kamu bisa datang.”

“Ia telah memberitahuku tentang buku itu,” lanjut Alya, menyentuh tangan Sultan yang berada di pundaknya. “Dan aku tahu kamu akhirnya mengerti apa yang aku coba katakan padamu dulu.”

Arga mengangguk, memberikan hadiah yang dibawanya. “Ini untuk kamu berdua. Aku membuatnya secara khusus. Kalimat itu pernah membuatku tersadar akan banyak hal.”

Alya membuka bingkai dengan hati-hati, mata mulai berkaca-kaca namun senyumnya tidak pernah hilang. “Kamu akhirnya belajar mendengarkan dirimu sendiri, bukan?”

“Ya,” jawab Arga dengan lembut. “Terima kasih telah memberiku waktu untuk belajar. Dan terima kasih telah mencintai aku dengan cara yang kamu bisa padaku pada saat itu.”

Sultan memberikan tangan pada Arga, yang dengan senang hati menjabatnya. “Kita berdua berterima kasih padamu, Arga,” ucap Sultan. “Tanpa kamu, cerita cinta kita tidak akan pernah ada. Dan aku berjanji akan selalu merawatnya dengan baik.”

Arga tersenyum, rasanya lega seperti tidak pernah sebelumnya. Ia melihat pasangan muda itu berdiri bersama, dua orang yang saling mengerti dan mencintai dengan cara yang benar. Ia menyadari bahwa hubungan antara dirinya dengan Alya memang sudah berakhir, tapi bukan dengan kehancuran atau kebencian. Sebaliknya, itu berakhir dengan pemahaman dan keikhlasan – sebuah akhir yang memungkinkan keduanya untuk melangkah maju menjadi orang yang lebih baik.

Saat malam semakin larut dan acara mulai memasuki puncaknya, Arga memutuskan untuk pulang lebih awal. Ia telah mengatakan apa yang perlu dikatakan, telah memberikan hadiah yang ingin diberikan. Ia tidak perlu tinggal lebih lama – ia sudah mendapatkan apa yang ia cari: kedamaian dengan masa lalunya dan keyakinan bahwa Alya akan bahagia dengan Sultan.

Di perjalanan pulang, Arga melihat kota Malang yang semakin ramai dengan cahaya malam. Ia berpikir tentang bagaimana hidup memang penuh dengan sebab dan akibat, tapi tidak selalu seperti yang ia bayangkan dulu. Kadang-kadang, alasan mengapa kita harus melepaskan seseorang yang kita cintai adalah agar mereka bisa menemukan cinta yang lebih cocok untuk mereka – dan agar kita juga bisa menemukan jalan kita sendiri.

Hubungan antara dirinya dengan Alya mungkin telah berakhir, tapi hubungan antara Alya dengan Sultan adalah bukti bahwa cinta sejati memang ada – cinta yang mendengarkan, menghargai, dan memungkinkan kedua orang yang mencintai untuk tumbuh menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri. Dan untuk Arga, itu sudah cukup untuk membuatnya merasa damai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!