NovelToon NovelToon
Saya Bukan Pilihan, Pak CEO

Saya Bukan Pilihan, Pak CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Biby Jean

"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 10 - Gangguan Di Sela Kenormalan

Hidup Maura kembali ke semula. Pagi diisi dengan mengajar, siang dengan rapat fakultas, sore dengan membaca proposal mahasiswa yang tak pernah habis. Ia kembali duduk di balik meja kerjanya yang rapi, dengan secangkir kopi yang selalu mendingin sebelum setengahnya habis.

Semua terlihat normal setelah acara amal seminggu lalu hanyalah satu titik kecil yang mudah dihapus dari garis waktu. Yang mengganggu adalah ingatan akan sikap Setya yang benar-benar membuatnya bertanya-tanya.

‘Mengapa reaksi pria itu sangat berlebihan?’

Maura tidak membicarakannya pada siapa pun, yang dibicarakan orang lain justru hal sebaliknya.

“Bu Maura, Bapak Setya itu... ya ampun,” ujar salah satu dosen perempuan di ruang dosen, sambil tertawa kecil.

“Tampan sekali ya.”

“Dan dingin,” sambung yang lain.

“Tipe yang kalau masuk ruangan langsung bikin orang diam.”

“Sexy,” celetuk dosen lain tanpa malu-malu.

Tawa kecil menyusul.

Maura hanya tersenyum sopan, pura-pura sibuk merapikan berkas. Ia tidak ikut menimpali. Tidak juga mengoreksi.

Mereka melihat Setya sebagai figur publik. CEO, donatur. Pria dengan reputasi bersih dan aura yang tak tersentuh.

“Saya juga kagum dengan beliau, Bu,” timpal Maura hanya untuk membuat mereka semua lega bahwa Setya memang pria yang sempurna.

Mereka tidak melihat tangan yang mengepal di samping kepalanya, tidak merasakan udara yang menipis karena kemarahan yang ditahan dan Maura memilih membiarkannya begitu.

Seminggu berlalu.

Setya Pradana tetap muncul di percakapan, tapi tidak lagi di pikirannya setiap saat. Hanya sesekali, seperti bayangan yang lewat di sudut mata. Tidak mengganggu, tapi cukup untuk diingat.

Hingga hari itu. Hari di mana Maura pulang lebih awal dari biasanya.

“Maura,” panggil Renata sambil menyambar tasnya, “pulang bareng, yuk.”

Maura menoleh. Jam dinding menunjukkan pukul tiga sore. Terlalu dini untuk pulang, karena biasanya perempuan itu memilih untuk makan di kantin kampus, makanan kesukaannya dengan harga yang murah.

Maura tidak semiskin itu, tapi sejak dulu perempuan itu memang sudah diajari bagaimana berhemat. Jadi, ya hingga dewasa Maura hanya akan menghabiskan uangnya pada hal-hal yang seharusnya dan sewajarnya saja.

“Kemana?” tanya Maura sambil berdiri.

“Nongkrong,” jawab Renata singkat, dengan senyum yang terlalu cerah untuk sekadar minum kopi.

Maura mengernyit tipis. “Kok aku ngerawa kamu mencurigakan ya, Ta.”

“Ah, lebay. Ayo.”

Maura mengalah. Mereka tidak pergi ke kafe langganan dekat kampus. Renata justru mengarahkan mobil ke pusat kota, berhenti di sebuah restoran yang jelas bukan tempat nongkrong spontan. Interiornya hangat, elegan, dengan pencahayaan temaram dan pelayan berseragam rapi.

Maura menoleh pelan. “Renata.”

“Hm?”

“Kamu bawa aku ke mana?”

Renata memarkir mobilnya, lalu menoleh dengan senyum yang kini tidak bisa lagi disembunyikan.

“Tenang. Orang Cuma makan ini.”

“Sama siapa?”

Renata membuka pintu, “jangan curigaan mulu, Ra. Sudah ayok.”

Maura mengikuti masuk, perasaan tidak enak mulai terbentuk rapi di dadanya. Mereka diarahkan ke sebuah meja di dekat jendela. Di sana sudah duduk seorang pria dengan setelan rapi dan rambut mengkilap.

“Maura, Kenalin, ini Adrian,” kata Renata ceria.

Pria itu berdiri, menjabat tangan Maura dengan sopan. “Senang akhirnya bisa bertemu langsung.”

Maura membalas jabatannya, masih mencoba memproses situasi. “Senang bertemu juga.”

Mereka duduk.

Percakapan mengalir tentang pekerjaan, tentang kota, tentang hal-hal ringan yang aman. Adrian menyenangkan. Pria itu adalah gambaran bagaimana pria dewasa seharusnya yang Maura suka, tenang, dewasa, lembut dan tentunya memahami sudut pandangnya.

Namun, entah bagaimana Maura merasa justru pria itu membuatnya sesak. Adrian memang tampan dan kalau dilihat dari pakaian, cara bicaranya, caranya menatap dan memotong daging.

Adrian adalah orang kaya, berpendidikan dan penuh etika.

“Maaf, Maura. Kalau tidak keberatan saya ingin memastikan, kamu umur 25 tahun, Maura?” sebuah tanya tiba-tiba.

Maura mengangkat wajahnya dan disajikan senyum manis pria itu yang sedang mengiris dagingnya.

“Iya, saya 25 tahun,” jawab Maura.

“Tidak perlu terlalu formal. Saya seperti bicara dengan dosen saja,” tawar Adrian.

“Saya memang dosen, Pak.”

Adrian sebenarnya sudah tahu akan fakta itu, tapi sayangnya pria itu memilih mengatakannya untuk mencairkan suasana.

“Maksud saya, sekarang saya sedang berhadapan dengan perempuan muda, cantik dan berumur 25 tahun. Saya tidak sedang berada di kelas untuk membawa keformalan ini, Maura.”

Adrian benar-benar pria yang luar biasa. Pria itu mampu mengatakan sesuatu tanpa harus membuatnya tersinggung.

“Kalau boleh tahu untuk memastikan apa ya?” tanya Maura yang teringat akan kalimat pria itu sebelumnya.

“Untuk memastikan bahwa saya tidak sedang mendekati perempuan di bawah umur. Renata kerap kali membohongi saya perihal umur perempuan yang ingin dikenalkan,” jelas Adrian.

Maura langsung menoleh ke arah temannya itu dan Renata langsung membela dirinya.

“Apaan, orang Cuma sekali bohongnya.”

Ketiganya berbicara seolah itu mengalir begitu saja dan saat Adrian berdiri untuk meminta izin mengangkat telpon dari sekretarisnya, Maura berkata.

“Renata, kamu jodohin aku,” ucap Maura akhirnya, pelan tapi tegas.

Renata tertawa kecil. “Bukan menjodohkan. Kenalan. Kamu terlalu lama sendiri.”

Maura menarik napas. “Kamu tahu kan kalau aku nggak-”

“Aku tahu,” potong Renata lembut. “Tapi nggak ada salahnya membuka kemungkinan.”

Maura terdiam. Ia tidak ingin membuat suasana canggung. Tidak ingin terlihat tidak sopan.  Ia kembali mengalihkan perhatian ke meja, ke piring yang baru saja disajikan. Dan saat itulah, tanpa ia rencanakan matanya terangkat ke ujung restoran.

Sebuah meja panjang. Beberapa pria duduk di sana dengan setelan rapi yang mirip dengan yang digunakan Adrian. Dan di salah satu kursinya ada pria yang sangat ia kenal, Setya Pradana.

Maura membeku.

Pria itu tidak sedang berbicara, tidak tertawa hanya duduk tenang dengan satu tangan memegang gelas, sorot matanya terangkat ke arahnya.

Tatapan mereka bertemu.

Ada sesuatu yang berubah di ekspresi pria itu. Sedikit terkejut tapi dengan cepat dikembalikan secara normal lagi. Maura menelan ludah.

“Maura?” panggil Adrian, menyadari perhatiannya teralihkan.

Maura berkedip, memutus kontak mata itu. “Maaf.”

“Kamu sedang melihat apa?” tanya Adrian yang baru saja kembali dari mengangkat panggilannya.

“Oh bukan apa-apa, hanya orang yang kayak kenal tapi ternyata bukan,” ada tawa canggung di akhir kalimat.

Maura segera menunduk dan memotong dagingnya, berharap bahwa pria itu tidak menatapnya lagi.

“Memang siapa, Ra?”

Renata turut melongok untuk mencari siapa yang dibicarakan oleh temannya itu. namun, Maura hanya menggeleng dan berkata bahwa bukan apa-apa. maura tidak ingin siapa pun tahu bahwa dirinya sedang lemah dan entah bagaimana berhasil berada di bawah kontrol seseorang.

Secara tidak langsung, Setya berhasil melakukannya dan itu membuat Maura membenci berdekatan dengan pria itu.

“Kalau begitu, apa boleh saya meminta nomor telepon kamu, Maura?”

1
Laily Hayati
keren jalan ceritanyapenulisan kata2nya juga runtut dan mudah dipahami,gak lebay.,beda dengan alur novel lain. lbh manusiawi. sukses selalu outhor
Anita Optik Agung Riana
cerita yg bagus.alur yg jelas dan tidak menye menye
Anita Optik Agung Riana
aduhhh jgan lama lama Thor update nya.makin seru.semoha sukses thor
Karrr
baguss👍👍
Siti Jul
kejam ih
Siti Jul
setya emang sebegitu dinginnya ya. jangan dingin dingin atuh
Siti Jul
ini baguss bett
Siti Jul
sukaaa
Maulida Ana
awwww
Maulida Ana
uhhh udah mulai dag dig dug nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!