NovelToon NovelToon
Gema Di Langit Verona

Gema Di Langit Verona

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Duniahiburan / Mafia / Cintapertama
Popularitas:112
Nilai: 5
Nama Author: SHEENA My

Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
​Namun, Verona tidak pernah melupakan.
​Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
​Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sumpah di Atas Darah Moretti

​Perjalanan dari pantai berbatu menuju markas rahasia Marco terasa seperti mimpi buruk yang panjang. Elena dan Matteo dipindahkan ke dalam sebuah van hitam yang telah dimodifikasi, melaju menembus jalanan setapak pegunungan yang berkelok-kelok di sekitar Danau Garda. Di dalam kendaraan yang gelap itu, Elena terus menggenggam tangan Matteo. Pria itu kini setengah sadar, efek dari kehilangan darah dan kelelahan yang luar biasa, namun pegangannya pada jemari Elena tidak pernah lepas, seolah itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya di dunia ini.

​Luca duduk di kursi depan, wajahnya tetap kaku menatap jalanan yang tertutup kabut. Tidak ada percakapan. Hanya suara mesin van dan detak jantung Elena yang terasa memekakkan telinga.

​Saat van berhenti, mereka berada di depan sebuah vila tua yang tersembunyi di balik kebun anggur yang rimbun. Marco, pria tua yang merupakan sekutu setia keluarga Moretti sejak masa jaya mereka, segera memerintahkan anak buahnya untuk membawa Matteo ke ruang medis darurat di ruang bawah tanah vila tersebut.

​"Bawa dia! Cepat! Dan pastikan tidak ada seorang pun yang melihat kalian masuk!" Marco memberi instruksi dengan suara parau namun tegas.

​Elena mencoba mengikuti, namun Marco menahan pundaknya dengan tangan yang keriput namun kuat. "Biarkan mereka bekerja, Signorina. Tuan Valenti berada di tangan orang-orang terbaik yang bisa saya beli dengan sisa harta keluarga Anda."

​"Dia menyelamatkanku, Marco," Elena menatap pria tua itu, matanya merah karena kurang tidur. "Dia mempertaruhkan nyawanya demi buku ini."

​Marco menatap buku kulit tua yang didekap Elena. "Buku itu bukan sekadar tumpukan kertas, Elena. Itu adalah kunci penjara sekaligus pedang kematian. Mari, ikut saya. Ada sesuatu yang harus Anda lihat."

​Marco membawa Elena ke sebuah ruangan kecil yang dipenuhi dengan monitor dan peta kota Verona yang telah dicoret-coret. Di tengah meja, terdapat sebuah lampu meja yang memberikan pencahayaan fokus.

​"Daftar itu... halaman pertamanya bukan tentang D’Angelo," Marco memulai, suaranya terdengar seperti bisikan rahasia dari liang kubur. "Halaman pertama adalah tentang orang yang mengkhianati ayahmu malam itu. Seseorang yang sangat dekat dengan keluargamu."

​Elena meletakkan buku Gema Verona di atas meja. Dengan tangan yang masih bergetar, ia membuka kancing perak penguncinya. Ia membolak-balik halaman yang berisi kode-kode rumit hingga sampai pada sebuah catatan kaki yang ditulis dengan tinta merah yang sudah memudar.

​Matanya membelalak saat membaca sebuah nama yang tertera di sana. Bukan Isabella Valenti. Bukan pula Count D'Angelo.

​"Pietro Moretti?" Elena berbisik, suaranya pecah oleh rasa tidak percaya. "Paman Pietro? Dia masih hidup?"

​"Dia tidak hanya hidup, Signorina. Dialah yang selama sepuluh tahun ini mendanai kampanye hitam keluarga Valenti dari balik layar. Dia menjual lokasi ayahmu demi mendapatkan kendali atas jalur penyelundupan di Venesia," Marco menjelaskan dengan nada pahit.

​Kenyataan itu menghantam Elena lebih keras daripada peluru mana pun. Pengkhianat terbesar bukanlah musuh bebuyutannya, melainkan darah dagingnya sendiri. Orang yang seharusnya melindunginya setelah kematian orang tuanya adalah orang yang merencanakan kehancuran mereka.

​Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Luca masuk dengan ekspresi yang sangat serius. "Tuan Matteo sudah stabil. Dia ingin bertemu dengan Anda, Signorina. Sekarang."

​Elena segera berlari menuju ruang medis. Di sana, Matteo terbaring dengan dada yang dibalut perban putih bersih. Wajahnya masih sangat pucat, namun matanya sudah terbuka, tajam dan waspada seperti biasanya.

​"Kau sudah tahu?" tanya Matteo, suaranya terdengar parau namun jelas.

​Elena mengangguk, ia duduk di samping tempat tidur Matteo. "Paman Pietro. Dia yang melakukannya."

​Matteo menarik napas panjang, menahan rasa sakit di perutnya. "Dia adalah target pertama kita, Elena. Bukan hanya karena apa yang dia lakukan pada keluargamu, tapi karena dia saat ini sedang menuju Verona untuk mengambil alih posisi Isabella. Jika dia berhasil, Verona akan benar-benar terbakar."

​Matteo meraih tangan Elena, menariknya mendekat. "Kita harus kembali ke Verona besok malam. Saat perayaan puncak San Zeno berakhir, Pietro akan berada di aula balai kota. Itu adalah kesempatan kita satu-satunya untuk menunjukkan pada dunia siapa pengkhianat yang sebenarnya."

​"Tapi kau belum bisa berdiri, Matteo! Luka itu—"

​"Aku akan berdiri meskipun aku harus merangkak di atas pecahan kaca," Matteo memotong ucapan Elena dengan determinasi yang menakutkan. "Hutang darah harus dibayar dengan darah, Elena. Dan malam ini, Moretti dan Valenti akan bersatu untuk pertama kalinya dalam sejarah untuk menghancurkan musuh yang sama."

​Elena menatap pria di depannya. Ia melihat sebuah aliansi yang tidak mungkin, sebuah sumpah yang diucapkan di atas luka dan pengkhianatan. Ia tahu bahwa mulai detik ini, hidupnya bukan lagi tentang pelarian. Ini adalah tentang serangan balik.

​"Aku akan bersamamu," ucap Elena dengan nada suara yang kini sekeras baja. "Aku akan memastikan Paman Pietro melihat wajahku sebelum dia jatuh."

​Di luar vila, fajar mulai menyingsing di atas Danau Garda. Cahaya oranye mulai menyapu permukaan air yang tenang, namun di dalam hati Elena dan Matteo, badai yang lebih besar baru saja akan dimulai. Perang untuk Verona telah mencapai babak akhirnya, dan tidak ada lagi jalan untuk kembali.

​Vila tua milik Marco berdiri kokoh di lereng bukit, tersembunyi oleh barisan pohon cemara yang tampak seperti penjaga diam di bawah remang fajar. Bangunan itu adalah peninggalan masa Renaisans, dengan dinding batu tebal yang telah menyaksikan pergantian kekuasaan selama berabad-abad. Namun, di balik fasad klasiknya, Marco telah membangun sebuah benteng informasi yang tidak bisa ditembus oleh satupun intelijen keluarga Valenti.

​Elena berdiri di tengah ruangan utama yang dipenuhi dengan aroma kopi pahit dan kertas tua. Matanya tertuju pada dinding yang dipenuhi dengan foto-foto buram dan artikel surat kabar dari sepuluh tahun yang lalu. Semuanya tentang malam kejatuhan Moretti.

​"Makanlah sesuatu, Signorina. Anda tidak akan bisa membalas dendam dengan perut kosong," Marco muncul dari balik tirai beludru, membawa nampan berisi roti keras dan keju.

​Elena menggeleng pelan. "Bagaimana mungkin paman saya melakukannya, Marco? Pietro adalah orang yang memegang tangan ayah saya saat beliau mengucapkan sumpah setia pada kota ini. Dia adalah wali baptis saya!"

​Marco menghela napas panjang, meletakkan nampan itu di atas meja kayu yang dipenuhi peta topografi. "Keserakahan tidak mengenal ikatan baptis, Elena. Saat ayahmu mulai menyusun Gema Verona, Pietro melihatnya bukan sebagai alat perlindungan, melainkan sebagai komoditas. Dia menjual informasi lokasi pelarian ayahmu malam itu kepada pihak kepolisian yang telah ia suap, hanya untuk mendapatkan hak tunggal atas pelabuhan Venesia."

​Elena meraih buku kulit di atas meja. Jemarinya gemetar saat ia menyentuh halaman yang memuat nama Pietro. Di bawah nama itu, terdapat rincian transaksi bank di Swiss yang terjadi hanya beberapa jam setelah rumah Elena dibakar. Angka-angka itu adalah harga dari nyawa orang tuanya. Setiap nol dalam nominal tersebut terasa seperti belati yang menusuk ingatan masa kecil Elena yang indah bersama pamannya.

​"Jadi, selama ini Matteo hanya menjadi pion?" tanya Elena, suaranya terdengar hampa.

​"Matteo Valenti adalah korban dari permainan yang lebih besar, sama seperti Anda," jawab Marco tegas. "Ibunya, Isabella, memang ingin menghancurkan Moretti, tapi tanpa informasi dari Pietro, dia tidak akan pernah bisa melakukannya. Mereka adalah sekutu dalam kegelapan, namun sekarang, Pietro ingin menyingkirkan Isabella untuk menjadi penguasa tunggal."

​Elena menutup buku itu dengan suara debuman keras. "Di mana Matteo?"

​"Ruang medis di bawah. Lukanya sudah dijahit, namun dia kehilangan terlalu banyak darah. Dia keras kepala, menolak untuk diberi obat tidur sebelum bicara dengan Anda."

​Elena segera melangkah menuju tangga bawah tanah. Ruang medis itu sangat steril, didominasi oleh lampu neon putih yang menyilaukan mata. Di sana, Matteo terbaring dengan tubuh bagian atas yang terbuka, memperlihatkan balutan perban yang melingkari perutnya. Meskipun dalam kondisi lemah, aura berbahaya pria itu tidak sedikit pun memudar.

​Saat melihat Elena masuk, Matteo mencoba untuk duduk. Wajahnya meringis menahan sakit, namun matanya langsung terkunci pada Elena.

​"Jangan bergerak, kau bodoh," Elena menghampirinya, meletakkan tangannya di bahu Matteo untuk menahannya tetap berbaring.

​Matteo menangkap tangan Elena, menggenggamnya dengan kekuatan yang mengejutkan. "Kau sudah tahu tentang Pietro? Marco sudah mengatakannya?"

​"Ya," Elena berbisik. "Semuanya adalah kebohongan sejak awal."

​Matteo menarik Elena lebih dekat, hingga wanita itu terpaksa membungkuk di atas ranjangnya. "Besok adalah puncak festival San Zeno di Verona. Pietro akan muncul di hadapan publik untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun sebagai 'penyelamat' ekonomi kota. Itu adalah panggung yang dia siapkan untuk mengambil alih segalanya."

​"Lalu apa rencanamu?"

​"Kita akan merusak panggungnya," desis Matteo, suaranya terdengar seperti bisikan iblis. "Kita akan menyusup ke balai kota. Kau akan membawa buku itu ke hadapan dewan kota, dan aku akan memastikan Pietro tidak pernah keluar dari gedung itu dalam keadaan bernapas."

​Elena merasakan gejolak emosi yang luar biasa. "Kau masih terluka parah, Matteo. Kau tidak akan bisa bertarung."

​"Aku tidak butuh kekuatan untuk menarik pelatuk, Elena. Aku hanya butuh kau di sisiku." Matteo menatap Elena dengan tatapan yang sangat dalam, sebuah tatapan yang tidak lagi menyembunyikan apa pun. "Verona adalah kota yang dibangun di atas darah kita berdua. Mari kita akhiri semua ini dengan cara yang sama."

​Elena terdiam, menatap wajah pria yang telah menjadi pelindung dan sekaligus penghancurnya. Di bawah lampu neon yang dingin, ia akhirnya mengangguk. Tidak ada lagi keraguan. Dendam ini bukan lagi milik keluarga Moretti atau Valenti secara terpisah. Ini adalah dendam mereka bersama.

​"Tidurlah," ucap Elena lembut, mengusap dahi Matteo yang masih terasa panas karena demam ringan. "Besok, Verona akan mendengar gema yang sebenarnya."

​Di luar, matahari mulai naik tinggi, menyinari perkebunan anggur yang damai, namun bagi Elena Moretti, ini adalah fajar terakhir sebelum kegelapan yang sesungguhnya melanda kota asalnya.

1
May Tales
waw
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!