NovelToon NovelToon
IQ 278: Jejak Yang Disembunyikan

IQ 278: Jejak Yang Disembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Karir / Kehidupan alternatif / Persaingan Mafia / Trauma masa lalu
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: woonii

Hani Ravenna Arclight memiliki IQ 278 dan hidup dengan dua wajah. Di balik layar dunia digital, ia dikenal sebagai The Velvet Phantom, hacker profesional yang bergerak tanpa jejak. Di dunia nyata, ia menyembunyikan identitasnya dan menjalani hidup sederhana di sebuah kampung, menutupi masa lalu dan nama besar keluarganya.

Pertemuannya dengan Darren Maximilian Vireaux mengguncang ketenangan yang ia bangun. Darren memaksanya kembali menghadapi dirinya sendiri bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai Hani Ravenna Arclight yang sesungguhnya.

Di antara rahasia dan pilihan, Hani harus menentukan: tetap bersembunyi, atau berani kembali ke cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon woonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandal Heels ku om

Pagi di kota selalu bangun lebih cepat dari penghuninya. Suara kendaraan naik perlahan dari jalanan di bawah, bercampur dengan dengung samar pendingin gedung dan kilau cahaya matahari yang memantul di dinding kaca. Di antara deretan apartemen tinggi, sebuah unit studio menerima pagi dengan jendela besar yang belum sepenuhnya tertutup tirainya.

Ruang kecil itu menampung segalanya. Sofa abu-abu berada tak jauh dari meja kerja yang dipenuhi benda-benda sederhana, sementara ranjang terletak beberapa langkah di sudut ruangan, hanya dipisahkan oleh rak buku rendah. Di atas sofa, seorang gadis masih tertidur, tubuhnya menghadap sandaran, selimut tipis melorot hingga ke pinggang. Napasnya pelan, mengikuti ritme kota yang baru saja mulai bergerak.

Tak jauh dari sana, di atas ranjang, seorang tamu laki-laki terlelap dengan posisi terlentang. Cahaya pagi menyentuh sisi wajahnya lebih dulu, membuat ruangan itu perlahan terang tanpa membangunkan siapa pun. Apartemen studio itu hening cukup sempit untuk menampung dua orang, namun cukup luas untuk menyimpan jarak, menunggu pagi selesai membuka rahasianya.

Darren terbangun akan tidur nya dikala bel apartemen berbuyi, ia mengejap-ejapkan matanya, dan melihat seorang gadis cantik yang sedang terlelap dikursi. Posisinya tak beraturan, sebelah kaki nya turun kebawah, rambut yang berantakan sebagian menutupi wajah nya, namun tak sedikitpun mengurangi kecantikan nya. Ya, gadis itu adalah Hani, Darren menatap lekat wajah polos tanpa sentuhan make up itu, bohong rasanya jika ia tak terpesona. Hingga suara bel apartemen ke sekian kali menyadarkan pikiran nya.

ting tong..

ting tong..

"Ck berisik sekali" Ucap Darren kemudian ia membuka pintu apartemen tersebut, dan tampak seorang gadis yang menatapnya dengan sedikit terkejut dan gugup.

"M-maaf tuan apakah Hani ada didalam? " tanya nya ragu dan gugup. Orang tersebut adalah Sinta sahabat kantor Hani yang tinggal di apartemen sebelah, ia begitu terkejut melihat Darren membukakan pintu apartemen sang sahabat, apalagi tampilan tubuh Darren yang tidak mengenakan baju jadi terlihat bekas beberapa luka yang belum kering.

Darren pun menatap gadis itu jengah, ia menelisik tampilan nya, dan membaca sekilas name tag yang digunakan oleh gadis tersebut. "Hm masuklah" ucap Darren dingin lalu ia meninggalkan Sinta yang masih mematung diambang pintu, ia memilih untuk membersihkan dirinya di kamar mandi.

Setelah Darren masuk kedalam kamar mandi, Sinta segera menghampiri Hani, ia sedikit terkejut akan penampilan Hani yang masih tertidur pulas diatas sofa. Tidak biasanya sang sahabat bangun sangat siang seperti ini, bahkan sekarang sudah menunjukkan pukul 6.50, biasanya ia dan Hani sudah melaju untuk berangkat ke kantor tapi sekarang?

"Hani bangunn!!! HANIII BANGUNN!! " ucap Sinta dengan berteriak sambil menggoyang goyangkan tubuh Hani.

Hani menggeliat dengan mata yang masih terpejam, ia merasa terganggu akan tidurnya, tetapi apakah dia bangun? oh tentu tidak, dia hanya mengubah posisi tidurnya menjadi tengkurap dan melanjutkan tidur.

"Ish geramnya akuu, nih anak bener-bener ya" ucap Sinta lalu...

Brukk

Sinta menarik kaki Hani hingga ia jatuh terduduk dari atas sofa "Awshh" ringis Hani. Kemudian ia mengejap-ejapkan matanya dan melihat Sinta sedang berdiri dihadapan nya dengan tangan bersedekap di dada.

"Hmm kenapa sih Sin? masih pagi lo ini" ucap Hani dengan suara khas bangun tidur nya seraya menguap berkali-kali.

"Pagi gundulmu itu, liat sekarang udah jam 6.30. Kamu jadi berangkat ke kantor ga sih hari ini? tadi malam kamu kirim chat ke aku buat berangkat ke kantor bareng" Ucap Sinta menggerutu kesal.

Darren yang sedari tadi sudah keluar dari kamar mandi pun hanya memperlihatkan perdebatan itu.

Hani pun bangkit dari duduknya kemudian ia berkata."Hmm, bilang aja ke pak dika aku masih ada urusan, jadi berangkat siang. Pasti orangnya ga akan marah sama karyawan cantik kaya aku."

"Ck terserah deh, kalo gitu aju berangkat duluan." Ucap Sinta dan langsung meninggalkan apartemen milik Hani karena merasa kesal.

"Hoamm" Hani menguap dengan kedua tangan ia angkat keatas untuk peregangan dipagi hari.

"Eh om udah bangun dari tadi? udah laper belum om? nanti ku masakin ya habis mandi" Hani kembali lagi ke mode cerewet nya.

Kemudian Hani menyiapkan segala keperluan nya untuk mandi, dan begegas masuk kedalam kamar mandi. Meninggalkan Darren yang sedari tadi hanya diam mengamati setiap gerak gerik nya.

Setelah mandi, Hani menjalani aktivitas rutin nya yaitu skincare pagi untuk tetap menjaga kesehatan wajah nya. Ia hanya menggunakan Toner, Moisturizer, Sunscreen dan Lip Balm untuk menjaga bibir bewarna cerry alami milik nya agar tetap lembab.

Darren sedari tadi hanya memperhatikan kegiatan Hani dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan. 'Jadi sebenarnya siapa wanita ini' begitulah pertanyaan yang terus berputar dikepala Darren.

Hani kemudian mulai berkutat di dapurnya untuk membuat sarapan, ia harus sarapan setiap pagi karena memiliki penyakit maag, maka dari itu ia sangat pandai dalam hal memasak. Hani memasak menu sup ayam hangat, dan cumi tumis pedas lalu ia hidangkan diatas meja yang terdapat di sebelah ranjang kasur nya.

"Sarapan sudah siappp" ucap Hani antusias sembari meletakkan makanan yang sudah ia masak di meja, Darren pun hanya melihat Hani dengan ekspresi datar nya.

Hani kemudian duduk di sofa panjang sebelah Darren dengan jarak yang cukup jauh, ia mengambilkan makanan ke piring nya dan juga piring Darren. "Nah nih om dimakan, kalo kurang nambah aja" ucap nya lalu segera memakan makanan nya.

"Hm kenapa makan mu dikit sekali" ucap Darren karena melihat porsi makan Hani hanya ½ dari porsi makan nya.

"Oh aku lagi diet ini om" ucap Hani santai.

'Wanita aneh, apa dia tidak melihat badan nya yang sangat kecil itu' ucap Darren dalam hati, lalu mulai memakan makanan nya.

"Oh iya om, semalam mama om menghubungi om, tapi karena om sudah tidur jadi aku angkat saja telepon nya. Dia bilang akan memerintahkan anak buah om untuk menjemput om pagi ini. " ucap Hani disela sela makan.

"Hmm aku sudah tau" ucap Darren.

Ting tong

Bel apartemen berbunyi ketika mereka sedang menikmati sarapan berdua. "Ck siapa lagi sih, ganggu aku lagi makan aja" ujar Hani menggerutu lalu beranjak pergi untuk membukakan pintu.

Ceklek

"Selamat pagi nona, apa tuan Darren ada didalam? " ujar Jack dan dibelakang nya tampak beberapa orang yang mengenakan pakaian serba hitam.

"Oalah om Jack yang dateng, om Darren lagi sarapan tuh, ayo kita sarapan bareng" ucap Hani yang langsung menarik tangan Jack untuk mengikuti nya.

Darren menghentikan makan nya ketika ia melihat Hani menarik tangan Jack untuk masuk kedalam apartemen nya. Ada perasaan aneh dalam dirinya yang ia sendiri tidak tahu itu apa.

"Nah om Jack duduk dulu biar aku ambilin sarapan nya" ucap Hani.

"Eh tidak usah nona, saya sudah sarapan" tolak Jack.

"Beneran om udah sarapan? nanti sakit lo kalau telat makan" Tanya Hani.

"Kau cerewet sekali" bukan Jack yang menjawab melainkan Darren yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.

"Ish om kutub ni, aku ini dilahirkan memang untuk meramaikan dan menghebohkan dunia tau. Kalau aku ga lahir pasti kalian kesepian." ucap Hani kesal.

Jack pun hanya menggeleng pelan, ia tidak bisa membayangkan jika tuan nya benar benar jatuh cinta pada Hani akan dibuat pusing dia setiap harinya.

Mereka akhirnya menyelesaikan makan sarapan bersama sama, karena sedari tadi Jack terus dipaksa oleh Hani agar ikut sarapan juga, akhirnya ia mengalah dan ikut makan bersama.

Hani kembali duduk di sofa panjang nya setelah membersihkan sisa makanan, dan Darren juga telah mengganti baju nya menjadi kemeja bewarna hitam yang menambah ketampanan nya.

"Tuan kita hari ini ada meeting dengan klien dari perusahaan NeuroLink Devices untuk membahas keluaran terbarunya" ujar Jack pada Darren.

'Eh tunggu tunggu, perusahaan gue kerja sama ya sama perusahaan om kutub ini? kok gue gatau bjir' ucap Hani dalam hati dengan sedikit syok. Kemudian ia membuka ponsel nya dan terdapat beberapa pesan chat dari Miyuki.

Isi pesan chat :

Miyuki:

Ohayōgozaimasu, misu-san. Kinkyō o otsutae shite mo yoroshīdeshou ka? Honjitsu, Cakrawala Holdings kara no teikei teian ni kansuru kyūkyo no kaigi no tame, Indoneshia e tobimasu. Nanika otsutae shite okubeki koto wa arimasu ka?

(Selamat pagi Miss, izin memberi informasi terbaru. hari ini saya akan terbang ke Indonesia untuk melakukan meeting dadakan atas ajuan kerja sama dari perusahaan Cakrawala Holdings. Apakah ada pesan yang perlu saya sampaikan Miss?)

^^^Hani:^^^

^^^Ohayōgozaimasu, miyukisan. Sono koto wa mō shitte imasu. Ima wa chakurawara hōrudingusu-sha no ōnā to issho ni imasu. Namae o dasazu ni, kare ni atta to iu messēji o hitotsudake tsutaete kudasai. Īdesu ka?^^^

^^^(Selamat pagi Miyuki, saya sudah tahu akan hal itu dan sekarang saya sedang bersama pemilik dari perusahaan Cakrawala Holdings, kamu cukup sampaikan saja satu pesan bahwa saya pernah bertemu dengan nya tanpa menyebut nama saya oke? )^^^

Miyuki:

Wakarimashita, sensei. Atode tsutaete okimasu.

(Baik Miss, nanti akan saya sampaikan kepada beliau)

...Last chat...

Setelah membaca pesan tersebut Hani kembali fokus tentang pembicaraan Darren dan juga Jack. 'Gua harus dengerin nih siapa tau dapet info' ucap Hani dalam hati.

"Nona kita harus segera pergi dari sini karena ada beberapa urusan pekerjaan" ucap Jack yang sudah bangkit dari duduknya.

"E-eh kok buru buru amat sih" tahan Hani. 'Gue belum jadi dapet info penting malah udah mau pergi aja' batin Hani.

"Kami tidak punya banyak waktu nona, siang ini akan ada meeting dengan klien besar dari Jepang" ucap Jack.

Hani berfikir sejenak lalu ia teringat akan sandal heels yang tertinggal dimobil Darren malam itu"Tapi aku ga akan biarin kalian pergi gitu aja, lagian udah ditolongin juga ga bilang terima kasih" gerutu Hani.

"Jack berikan apa yang dia mau" ucap Darren lalu hendak melangkah kekuar apartemen.

Hani langsung menarik satu tangan Darren agar ia tidak dapat keluar. "Eh om jangan pergi gitu aja dong, aku ga minta apa apa. Aku cuma mau sandal heels terbaru ku yang waktu itu di kembalikan om" ucap Hani merengek seperti anak kecil.

'Siht kenapa dia sangat menggemaskan' batin Darren yang melihat kearah Hani. "Jack berikan apa yang dia mau" ucap Darren.

'Aneh, kenapa tuan tidak marah ketika tangan nya disentuh oleh seorang wanita' batin Jack. "Baik tuan. Nona sandal heels anda saya letakkan digudang perusahaan, jadi saat ini saya harus kembali dulu ke perusahaan untuk mengambil sandal anda nona" ucap Jack.

"APAA!! GUDANG PERUSAHAAN?!" teriak Hani menggema sampai keluar apartemen. "Sandal heels ku om" ucap Hani menatap ke arah Darren dengan tatapan tajam.

'Kenapa tatapan nya begitu tajam gadis biasa seperti dia' batin Darren.

Hani melangkah ke arah ranjang kemudian ia mengambil tas kerja sekaligus laptop dan handphone nya yang ia letakkan diatas nakas. "Aku harus ikut ke kantor om sekarang juga! ga ada penolakan. Kalo sampe om nolak ku bunuh om di tempat ini juga." ucap Hani.

'berani sekali gadis ini menantang bos' batin Jack dan juga para pengawal Darren. Sedangkan Darren yang hanya tersenyum sangat tipis mendengar penuturan Hani. 'Gadis nakal' batin Darren.

"Hm baiklah" ucap Darren lalu pergi begitu saja meninggalkan apartemen.

'Yes aku ikut, sendal heels terbaruku tunggu aku disana' batin Hani, lalu ia segera mengunci apartemen nya dan menuju kebawah untuk menyusul Darren dan juga Jack.

"Om aku bawa mobil sendiri ya" ucap Hani ketika melihat Darren tengah bersandar pada mobil nya.

"Hm cepatlah" jawab Darren.

Jack tampak sedikit terkejut, 'Sebenarnya apa yang terjadi pada tuan? kenapa ia tidak jijik berdekatan dengan wanita, bahkan merespon ucapan wanita tersebut. Ah dugaan ku sepertinya benar bahwa tuan Darren jatuh cinta pada wanita itu' ucap Jack membenarkan dugaan nya.

Brumm.. Brumm

Suara mobil Lamborghini Huracán merah marun milik Hani membuat mereka semua sontak melihat ke arah mobil tersebut.

Ckitt

Mobil Hani berhenti tepat di samping mobil Darren, kemudian Hani turun dari mobil tersebut, membuat Darren dan juga Jack sedikit bingung.

'Bagaimana bisa seorang gadis yang hanya bekerja diperusahaan biasa memiliki mobil yang harganya cukup mahal? atau dia menjual diri? ' Batin Darren menduga-duga

"Ayo om berangkat, kenapa malah pada diem sih" ucap Hani menghampiri Darren dan Jack yang masih mematung.

"Itu mobil milikmu? " tanya Jack, dia juga sangat penasaran mengapa Hani bisa memiliki mobil mahal seperti itu.

"Iya." jawab Hani santai.

"Bagaimana kau bisa membeli mobil itu? atau kau menjual tub-..." Ucapan Darren terpotong karena Hani sudah lebih dulu menghentikan nya.

"Eh eh enak aja, mana mungkin aku ngelakuin hal semenjijikkan itu demi beli sebuah mobil, lagian nih ya om aku beli mobil ini tuh dari hadiah uang tunai lomba tingkat internasional yang aku ikutin dulu semasa sekolah" ucap Hani menyela.

"Lomba? " Darren dan Jack bertanya secara bersamaan hingga keduanya saling pandang seolah bertanya-tanya.

1
ni.crypt
bantu dukungan guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!