Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali setelah tujuh tahun
Waktu terus berputar tak terang hari sudah mulai sore. Elara dan Eryn pun kembali pulang .
"Terimakasih untuk hari ini Eryn."
"Sama-sama Elara," Jawab Eryn.
"Kau tidak ingin masuk?"
"Aku langsung saja Elara, aku takut."
Lagi-lagi tak dapat menahan tawa mendengar perkataan Eryn.
Elara mengeleng dan Eryn melaju pergi dengan kereta kuda nya.
Elara masuk, di dalam, aroma sup hangat dan roti panggang memenuhi ruangan. Elara segera duduk disamping paman Alden.
“Maafkan aku, Paman, Aku terlambat pulang dan tidak sempat membantu menyiapkan makan malam.” ucap Elara lirih sambil menunduk.
“Tak apa. Lagi pula, makan malam ini disiapkan oleh bibi Mergeta. Dia menitipkan salam dan rasa terima kasih karena kau membantunya tempo hari.”
"Astaga, padahal aku hanya membantu sedikit. Bibi seharusnya tak perlu repot-repot seperti ini.”
“Jika begitu, terima kasih ketika bertemu dengannya nanti.” sahut paman Alden.
Elara mengangguk. “Tentu, Paman.”
“Elara,” panggil Alden perlahan, kali ini suara terdengar serius.
“Iya, Paman?”
“Apakah kau semakin dekat dengan Eryn?”
Elara terdiam sejenak, menatap wajah pamannya.
“Iya, Paman. Eryn temanku sejak lama. Dia baik padaku.”
“Elara, aku tidak bermaksud melarangmu berteman. Tetapi kau tentu masih mengingat apa yang terjadi dua tahun lalu—saat Lady Mirelle, ibu Eryn, datang kemari.”
Elara menunduk, wajahnya sedikit murung.
“Aku masih mengingatnya, Paman.”
“kau ditegur di depan para pelayan, hanya karena mengira kau melampaui batas kedudukanmu. Aku tidak ingin hal itu terulang lagi.”
Elara menggenggam jemarinya sendiri, lalu berkata lirih,
“Aku tahu Paman hanya khawatir. Tapi aku sudah cukup dewasa untuk menjaga diri. Aku tidak akan membuat Paman malu.”
“Baiklah, Elara. Aku mempercayaimu. Tapi jika ada yang membuatmu merasa tidak nyaman, jangan pendam sendiri. Kau mengerti?”
Elara mengangguk.
"Oh ya besok tuan Marquis akan kembali ke valenbourg. Kau bersiaplah. Semua pelayan akan menyambutnya."
Mendengar perkataan itu Elara langsung tersedak, terbantuk.
"Tuan Marquis kembali?" Elara bertanya mengulangi perkataan Paman Alden.
"Iya. Ada apa Elara, kau seperti terkejut?"
Elara menggeleng.
"Dia kembali? Setelah tujuh tahun." Batin Elara.
Selama tujuh tahun, memang Lucien tidak pernah kembali ke valenbourg. Berita nya karena dia telah diangkat menjadi Jendral diperbatasan eropa. Tanggung jawabnya semakin besar, apalagi sejak dia resmi menyandang gelar Marquis. Sebagai penerus keluarga kaelmont.
"Besok, datanglah ke mansion diujung danau. Paman minta tolong, kau bersihkan tempat itu ya." Ujar paman Alden.
"Mansion...maksud paman mansio pribadi tuan Marquis?"
Paman Alden mengangguk.
"Besok paman harus menjemput tuan Marquis diperbatasan. Paman tidak bisa jika harus membersihkan mansion itu dulu."
"Tapi paman, mansion itu, bukankah paman bilang tidak ada yang boleh masuk selain paman dan tuan Marquis sendiri?"
"Iya, kau betul. Tapi paman percaya padamu, Elara. Tolonglah paman Elara."
Sebenarnya Elara merasa takut. Bukan karena tempat tapi karena mansion itu milik Lucien. Jujur saja sejak kejadian tujuh tahun lalu, Elara sangat enggan jika itu menyangkut Lucien.
Namun, saat melihat paman Alden memohon seperti itu membuat Elara juga merasa tidak tega.
"Baiklah, paman. Aku akan ke sana esok pagi.” ucap Elara pada akhirnya.
“Terima kasih, Elara. Hanya kau yang dapat kupercayakan untuk itu. Tidak ada pelayan lain yang cukup berhati-hati sepertimu.”
Elara tersenyum kecil, meski hatinya terasa berat.
“Setelah tujuh tahun…Dia akan kembali, rasanya seperti mimpi mendengar nama itu.” bisik Elara lirih.