NovelToon NovelToon
Rajawali Sakti Dari Pesisir Selatan

Rajawali Sakti Dari Pesisir Selatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Dikelilingi wanita cantik / Identitas Tersembunyi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Jenar Karana harus mengejar para pembunuh yang telah mencelakai guru nya, Resi Mpu Tagwas dan membawa lari Mustika Naga Api milik Padepokan Pesisir Selatan. Menurut Resi Mpu Tidu, di kotak kayu yang menjadi tempat Mustika Naga Api ini tersimpan mengenai rahasia tentang dirinya.



Berbekal sepasang pedang pemberian eyang gurunya Maharesi Siwanata yang disebut sebagai Pedang Taring Naga dan Pedang Awan Merah serta ilmu kanuragan yang tinggi, Jenar Karana memburu gerombolan pembunuh itu yang konon katanya berasal dari Kerajaan Pajajaran.



Berhasilkah Jenar Karana melakukan tugasnya untuk merebut kembali Mustika Naga Api yang juga menyimpan rahasia jati diri nya? Temukan jawabannya dalam kisah RAJAWALI SAKTI DARI PESISIR SELATAN, tetap di Noveltoon kesayangan kita semua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Percikan Api Dalam Kawanan Pengawal Dyah Rangga

Wanapati yang sedang meneguk air kendi pemberian Gelarsena hampir saja tersedak mendengar teriakan penuh ketidakpercayaan dari Dewi Widowati. Ia buru-buru menelan air minum nya dan tertawa terbahak-bahak sesudahnya.

Hahahahahaha....!

"Ya tentu saja kau, Widowati. Memangnya siapa lagi yang harus ku suruh heh?", perintah Senopati Wanaraja dengan nada tidak senang.

Sadar bahwa ayahnya tidak menerima penolakan dari nya, Dewi Widowati langsung menghembuskan nafas kasar.

" Baik! Baiklah Kanjeng Romo, aku akan menyiapkan tempat istirahat untuk tiga tamu terhormat ini.. ", balas Dewi Widowati dengan nada ketus sebelum bergegas meninggalkan halaman rumah ini dengan wajah ditekuk.

Rembulan menggantung di langit malam, memancarkan cahaya redup yang menyinari seluruh dunia. Meskipun sesekali awan berarak menutupi nya, namun ia tetap cerah bersinar di angkasa.

Di halaman samping rumah Senopati Wanaraja, ketiga murid Padepokan Pesisir Selatan yang belum bisa tidur, asyik berbincang sambil membakar jagung muda yang di dapat dari kebun belakang rumah. Si Kundu yang paling doyan makan, sekitar mulutnya sudah penuh dengan jelaga hitam.

"Kalian berkumpul disini rupanya.. ", suara berat itu membuat Jenar Karana, Limbu Jati dan Si Kundu menoleh. Terlihat Gelarsena datang sambil menenteng bumbung yang bau-baunya seperti minuman keras sejenis twak.

" Kami belum bisa tidur, Kisanak.. Mungkin tidak terbiasa tidur di tempat tidur yang empuk", gurau Limbu Jati yang disambut kekehan kecil lelaki berbadan kekar itu.

"Kau ini pintar bercanda rupanya Kisanak..

Aehh aku juga belum bisa tidur. Lebih baik aku ikut nongkrong bersama dengan kalian disini", ucap Gelarsena sambil mendudukkan pantatnya. Kembali ia membuka sumbat bumbung twak nya lalu menenggak minuman keras itu.

Malam itu mereka berempat menghabiskan waktunya dengan ngobrol kesana kemari sambil menenggak twak. Lumayan juga untuk menghilangkan dingin malam hari di kawasan Kota Bhagawanta.

Keesokan harinya, Jenar Karana bersama Limbu Jati dan Si Kundu berangkat ke kepatihan Bhagawanta untuk menemui Patih Mpu Malurung yang ditugaskan untuk mengatur para pengawal yang akan diberangkatkan ke Galuh Pakuan. Di temani Wanapati dan Gelarsena, mereka menuju ke arah Kepatihan Bhagawanta yang ada di sisi barat Istana Bhagawanta.

Sesampainya disana, Kepatihan Bhagawanta telah ramai oleh puluhan orang pendekar yang akan menjadi pengawal pribadi Dyah Rangga. Mereka langsung menatap sinis ke arah Jenar Karana terutama kelompok Bahula.

Bahula adalah murid utama Padepokan Genta Bumi, sebuah perguruan silat di kawasan Rumasan di wilayah Watak Kiniwang yang ada di sisi barat laut Gunung Mandrageni. Perguruan ini sangat kondang sebagai penghasil pendekar pendekar tangguh juga para perwira tinggi di beberapa wilayah sekitar Mataram dan Kalingga. Oleh karena itu mereka disegani oleh para pejabat di sekitar wilayah mereka.

Ini pula yang menjadi alasan kenapa Bahula bisa begitu sinis menatap Jenar Karana dan kelompoknya. Jelas ia meremehkan kemampuan beladiri mereka.

Cihhhhhhh...

"Sekelompok orang dusun... ", ejek Bahula lirih namun masih terdengar di telinga kelompok Jenar Karana.

Si Kundu yang panas telinganya mendengar ejekan Bahula, geram bukan main.

" Apa kata mu?! Coba ucapkan sekali lagi... ", kata Si Kundu bersiap untuk menyerang Bahula dan kelompoknya. Untung saja Limbu Jati dan Jenar Karana cepat mencekal lengannya hingga gerakan Si Kundu terhenti.

Bahula langsung berdiri dari tempat duduk nya dan berjalan mendekati kelompok Jenar Karana. Para pengikutnya yang berjumlah sekitar 10 orang ikut serta.

"Kau orang dusun! Kampungan..! Memalukan..!

Kenapa hah?! Mau menghajar ku?! Sini tampar aku jika bisa hahahaha... ", Bahula memajukan pipi kanan nya ke arah kelompok Jenar Karana dengan lagak menantang.

Limbu Jati yang juga kesal dengan sikap pongah mereka, melonggarkan cengkraman tangannya. Sadar dengan tindakan Limbu Jati ini, Si Kundu dengan cepat melayangkan tamparan keras ke pipi kanan Bahula.

PLLAAAAAAAKKKKKKKK!

Aaaauuuuuuggggghhhhh...!!

Kerasnya tamparan Si Kundu membuat Bahula meraung keras. Jari jemari Si Kundu yang sebesar pisang barlin memiliki tenaga besar hingga Bahula hampir saja jatuh meskipun masih bisa berdiri dengan sempoyongan.

Limbu Jati mengulum senyumnya dan buru buru kembali mencekal lengan Si Kundu. Tapi semua ini disadari oleh Jenar Karana. Pendekar muda berkulit kuning ini hanya menghela nafas berat sambil menggeleng lemah.

"Bajingan!! Kau berani menampar ku?!! ", teriak Bahula sambil memegangi pipinya yang memerah.

" Kau yang meminta nya. Itu bukan urusan ku.. ", jawab Si Kundu acuh tak acuh.

" Kurang ajar!!! Akan ku hancurkan wajah jelek mu itu!!! ", gembor Bahula bersiap untuk menyerang. Anak buahnya juga hendak ikut menerjang ke arah kelompok Jenar Karana. Saat pertikaian antara kedua kelompok ini hampir terjadi, tiba-tiba...

" HENTIKAN KERIBUTAN INI...!!! "

Suara teriakan keras itu sontak menghentikan pergerakan dua kelompok ini. Seorang lelaki tua dengan tubuh gempal lengkap dengan pakaian ala bangsawan yang memiliki kumis tebal memutih penuh uban sudah berdiri sambil berkacak pinggang menahan marah. Di samping kanan nya ada seorang pemuda tampan dengan pakaian bangsawan juga mengenakan mahkota seperti seorang pangeran ikut muncul. Selain mereka ada satu lagi orang yang turut serta yakni seorang lelaki bertubuh gemuk dengan kumis tipis dengan mata yang terlihat seperti masih mengantuk. Meskipun tak segemuk Si Kundu, tetapi sekilas ia nampak seperti orang bodoh.

Wanapati dan Gelarsena langsung berjongkok dan menghormat pada lelaki tua itu diikuti oleh Jenar Karana dan kedua kawan nya. Pun juga dengan Bahula dan para pengikutnya.

"Sembah kami Gusti Patih Mpu Malurung.. ", ucap Wanapati diikuti oleh semua orang yang ada.

" Kalian ini benar-benar keterlaluan...!

Berani-beraninya membuat keributan di rumah ku ini, apa kalian sudah tidak menganggap aku ada hah?!! ", bentak Patih Mpu Malurung dengan penuh amarah.

" Mohon ampun Gusti Patih, tapi orang kampung ini telah menampar hamba. Jelas kami tidak tinggal diam saja dihina seperti ini", Bahula membela dirinya.

"Maafkan kami Gusti Patih, teman kami menampar nya juga karena mereka lebih dulu menghina kami.

Bagi seorang pria, harga diri lebih mulia daripada emas Gusti Patih", sergah Wanapati segera.

" Itu karena kalian memang kampungan, tidak pantas menjadi pengawal Gusti Dyah Rangga ke Galuh Pakuan ", lanjut Bahula tetap dengan keangkuhannya.

" Kalian juga dari pelosok lereng gunung. Apa kalian tidak berkaca sebelum bicara?", kali ini Gelarsena turut buka suara.

"Kau.... "

"SUDAH CUKUP!!!

Kalian seharusnya kompak sebagai calon anggota pengawal Gusti Dyah Rangga, tidak saling menjatuhkan seperti ini. Apa kalian ini masih ingin menjadi pengawal beliau hah?! ", Patih Mpu Malurung melotot geram ke arah dua kelompok yang berseteru ini.

" Kami tetap bersedia, Gusti Patih ", jawab Bahula sembari menghormat.

" Kami pun tak ada keluhan Gusti Patih ", Wanapati ikut bersuara.

" Kalau begitu, mulai sekarang aku minta kalian semua tidak ribut-ribut lagi. Saling menjaga dan melengkapi. Bisa tidak?! ", lagi Patih Mpu Malurung bicara.

" Sendiko dawuh Gusti Patih..! ", jawab mereka semua bersama-sama.

" Nah itu yang ingin ku dengar...

Sekarang aku perkenalkan. Ini adalah Gusti Dyah Rangga, pangeran Bhagawanta yang akan kalian kawal ke Galuh Pakuan.. "

Begitu diperkenalkan oleh Patih Mpu Malurung, si pemuda bangsawan inipun maju selangkah ke depan.

"Nama ku Dyah Rangga, putra sulung Kanjeng Romo Adipati Dyah Saladu. Lusa kita berangkat ke Galuh Pakuan. Jadi aku minta kalian semua yang menjadi pengawal ku bersiap-siap. Untuk sementara itu saja perintah dari ku", ucap Dyah Rangga sambil menatap ke arah 20 orang calon pengawal pribadi nya ini.

"Baik Gusti Dyah Rangga.. ", jawab kompak semua orang.

" Selanjutnya aku akan memperkenalkan orang yang akan menjadi pimpinan kalian. Rakryan Pu Tungu, silahkan bicara.. ", ujar Patih Mpu Malurung yang membuat lelaki gendut di sebelah nya ini langsung bicara dengan nada yang nyaris membuat semua orang tertawa,

" Per-per-perkenal-k-k-kan a-a-aku Rak eh Rakryan Pu pu Tungu...

M-m-mohon ker -eh kerja sama nya yah.. "

1
Mujib
/Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
😅😅😅
Mujib
👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪
Mujib
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!