Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.
Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.
"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."
River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gengsi Tapi Butuh
H-1 menuju Festival Budaya dan Teknologi adalah definisi kekacauan yang terorganisir.
Di tengah hiruk-pikuk mahasiswa yang memasang dekorasi dan menguji robotika, suara dua orang yang paling berpengaruh di kampus itu bergema, saling bersahutan seperti meriam.
"River! Gue sudah bilang berkali-kali, kabel genset itu jangan lewat jalur pejalan kaki! Kalau ada delegasi dari Jepang kesandung dan jatuh, lo mau tanggung jawab pake apa? Pake tang potong lo itu?!" Every berdiri di tengah lapangan dengan berkas tebal di pelukan, wajahnya memerah menahan kesal.
River, yang sedang berjongkok dengan tangannya yang hitam terkena oli, mendongak. Ia mengelap keringat di dahinya dengan lengan baju, membuat urat-urat di lengannya menegang sempurna.
"Denger ya, Madam President. Jalur itu jalur paling pendek buat daya listrik ke panggung utama. Kalau gue muter lewat belakang gedung ekonomi, tegangan listriknya drop! Lo mau pas pembukaan nanti lampunya mati-nyala kayak lampu disko murah?"
"Gue nggak peduli urusan teknis lo! Estetika dan keamanan nomor satu!" Every membalas tak mau kalah.
"Estetika nggak bisa nyalain monitor 50 inci lo itu, Every!" River berdiri, menjulang di depan Every. "Dan satu lagi... kenapa lo larang anak-anak keamanan pake sendal jepit di area belakang? Ini bengkel, bukan mal!"
"Ini area kampus selama acara berlangsung, River Armani! Semua harus terlihat profesional. Sendal jepit itu bikin kita kelihatan kayak mau ke pasar ikan!"
"Oh, jadi sekarang lo mau ngatur kaki gue juga?" River maju satu langkah, menipiskan jarak. "Setelah ngatur jadwal tidur gue, sekarang lo mau jadi polisi fesyen buat kaki gue?"
"Kalau perlu, gue bakal beliin lo sepatu pantofel biar lo nggak bikin malu BEM!"
Siang harinya, debat bergeser ke tenda konsumsi.
"Nasi kotak ini terlalu pedas! Jangan ada menu ini untuk Delegasi asing! nggak semuanya bisa makan sambal sebanyak ini!" Every membanting daftar menu di depan River.
River yang sedang makan nasi bungkus dengan santainya menyahut, "Ini namanya pengenalan budaya. Kalau mereka mau makan makanan hambar, mending ke rumah sakit aja."
"Tapi kita harus punya opsi vegetarian, River!"
"Vegetarian itu pilihan hidup, Every. Di sini pilihannya cuma dua: makan apa yang ada, atau laper," River menyeringai, lalu sengaja mendekat ke Every, membuat Every terdesak ke meja konsumsi. "Atau lo mau gue suapin biar lo berhenti ngomel?"
"Jauhkan muka lo!" Every mendorong dada River, namun jemarinya justru sempat merasakan detak jantung River yang stabil di balik kaos hitamnya. "Dan satu lagi, kenapa stand teknologi robotika lo ditaruh di depan stand baju adat? Robot-robot itu berisik!"
"Biar kontras, Every. Masa depan ketemu masa lalu. Filosofis, kan?"
"Filosofis bapak lo! Itu namanya berantakan!"
Sore hari, Every sedang memeriksa jalur red carpet ketika ia melihat River berjalan dengan santainya menggunakan sandal jepit sebelah hijau, sebelah biru.
"RIVER ARMANI! APA-APAAN ITU DI KAKI LO?!" jerit Every sampai hampir menjatuhkan walkie-talkie-nya.
River berhenti, menatap kakinya sendiri dengan polos. "Oh, ini? Sandal si Bimo putus sebelah, punya gue hilang sebelah di masjid tadi siang. Daripada nyeker, kan?"
"Lo itu Koordinator Keamanan! Pakai sepatu lo sekarang!"
"Males. Panas. Kaki gue butuh napas, Eve," River sengaja berjalan mendekati Every, membuat bunyi plak-plek-plak yang nyaring dari sandalnya. "Kenapa? Lo terpesona liat jari kaki gue yang eksotis?"
"Gue mau pingsan liat lo! Benar-benar merusak pemandangan!" Every menutup matanya dengan tangan.
River terkekeh, ia mendekat hingga Every bisa merasakan hembusan napasnya. "Kalau lo nggak mau liat sandal gue, mending lo liat mata gue aja. Lebih menarik, kan?"
"River, sumpah, gue bakal pecat lo dari kepanitiaan ini kalau besok masih pake sandal itu!"
"Coba aja kalau lo berani. Nggak ada gue, acara lo bakal gelap gulita karena nggak ada yang tahu cara jinakkin genset tua itu selain gue," River mengedipkan sebelah mata, lalu berjalan pergi meninggalkan Every yang masih menghentak-hentakkan kakinya ke tanah karena gemas.
Meskipun mereka berdebat tentang hal-hal paling konyol sekalipun, semua orang di kampus tahu: jika Every adalah otaknya, maka River adalah ototnya. Dan di balik semua teriakan itu, ada tarikan magnet yang membuat atmosfer persiapan festival itu terasa jauh lebih "hidup" dan panas.
Ruang aula kampus sudah seperti medan perang antara tumpukan kabel, kain dekorasi, dan robot-robot setengah jadi. Di tengah kekacauan itu, suara Every melengking, membelah kebisingan mesin bor.
"River! Gue sudah bilang bunga lily-nya ditaruh di pojok kanan, kenapa sekarang ada di samping genset?! Mereka bakal layu kena panas, River! Lo mau tamu delegasi kita disambut sama bunga yang nasibnya kayak sayur layu?!" Every berteriak sambil mengangkat pot bunga yang sebenarnya terlalu berat untuk ukuran tubuhnya.
River, yang sedang berbaring di bawah panggung sambil memperbaiki instalasi lampu, menggeser tubuhnya keluar. Wajahnya coreng-moreng hitam oli, tapi matanya berkilat jahil.
"Every, sayang... itu genset nggak panas, itu cuma getar dikit. Lagian, bunga di samping mesin itu namanya seni industrial-romantic. Lo mana paham," sahut River santai sambil memutar obeng.
"Seni industrial ?! Ini namanya keteledoran!" Every mencoba menggeser pot itu, tapi wajahnya langsung memerah karena keberatan. "Aduh... ini pot apa batu nisan sih?! Berat banget!"
"Sini, biar gue aja. Jangan maksa jadi kuli kalau otot lo cuma seukuran kacang polong," River bangkit berdiri.
Every terdiam saat River meraih pot itu dengan satu tangan. Every tidak bisa membuang muka saat melihat lengan River yang digulung; urat-urat di punggung tangannya mencuat, berdenyut halus saat ia mengangkat beban berat itu.
Sial, kenapa tangan itu harus seksi banget di saat kayak gini? batin Every.
Di sudut lain, Bimo dan Recha sedang berpura-pura sibuk menggulung kabel sambil mengamati pemandangan "Tom and Jerry" itu.
"Taruh taruhan, Bim," bisik Recha tanpa melepas pandangan. "Gue yakin libur semester besok mereka nggak cuma ke Bandung buat pelatihan, tapi buat honeymoon terselubung."
"Gue ikut!" Bimo menyahut antusias. "Liat deh, Every kalau marah-marah mulutnya maju-maju gitu, tapi matanya nggak bisa lepas dari tato di tangan River. Benci sih benci, tapi kalau River nggak ada sejam aja, Every langsung teriak 'River mana?! River, bantuin gue! River, ini nggak bisa dipasang!'"
"Iya, kan?" Recha terkekeh. "Kemarin Every ngomel gara-gara River pake sandal jepit ke ruang rapat, tapi tadi pagi gue liat dia kasih botol vitamin di atas tas motor River. Definisi benci tapi butuh."
"Benci sama cinta itu emang cuma selembar tisu basah, tipis dan gampang robek kalau kena panas," timpal Bimo puitis.
Every kembali mengomel saat ia melihat susunan kursi tamu VVIP yang menurutnya miring satu derajat.
"BIMO! Kursi ini miring! Gue nggak bisa liat garis simetrisnya!" Every mencoba mendorong kursi jati yang berat itu sendirian. "Aduh! Kakinya nyangkut di karpet!"
"Gue lagi pasang spanduk, Every! Minta tolong yang lain dong!" sahut Bimo dari atas tangga.
Every mendengus, ia melihat sekeliling. Ia melihat Axel yang sedang berdiri rapi, tapi entah kenapa, bibirnya justru berteriak, "RIVER! KESINI SEBENTAR!"
River, yang baru saja mau menyulut rokok di luar, langsung mematikan koreknya dan masuk kembali. "Apa lagi, Ratu Rewel? Ada lalat yang terbangnya nggak estetik di depan lo?"
"Ini! Kursinya berat! Gue nggak bisa geser!" Every menunjuk kursi itu dengan wajah cemberut yang menggemaskan.
River menggeleng-gelengkan kepala. "Tadi ngomel, sekarang manja. Minggir."
River menggeser kursi itu semudah membalikkan telapak tangan. Saat River melakukannya, Every berdiri sangat dekat, matanya diam-diam memetakan aliran urat di lengan River yang menegang. Ada dorongan gila dalam dirinya untuk menyentuh aliran urat itu.
"Puas?" River menoleh, wajahnya hanya berjarak sepuluh senti dari Every. "Liatin apa? Urat tangan gue emang lebih menarik daripada susunan kursi lo, kan?"
"Jangan pede ya! Gue cuma... gue cuma mastiin tangan lo nggak kotor kena kursi mahal itu!" Every membuang muka, jantungnya berdebar kencang.
"Halah, bilang aja kalau lo mulai kecanduan liat gue kerja," River terkekeh, lalu ia mengacak rambut Every dengan tangannya yang masih sedikit kotor.
"RIVERRRR! RAMBUT GUE BARU BLOW-OUT!!!" teriakan Every menggema di seluruh aula, membuat panitia lain tertawa serempak.
"Nah, gitu dong. Kalau nggak teriak, bukan Every namanya," River berjalan pergi sambil melambaikan tangan, meninggalkan Every yang sedang sibuk ngedumel sambil mencoba merapikan rambutnya, namun dengan senyum kecil yang tersembunyi di balik telapak tangannya.