Melia-Dimas yang bermula dari Hubungan Tanpa Status berakhir di jenjang pernikahan yang masih terlalu muda.
Takdir seolah tak membiarkan keduanya asing, setelah berpisah karena orang tua yang harus berpindah negara, mereka kembali di pertemukan dengan satu sama lain dengan perasaan yang masih sama tanpa berkurang sedikitpun.
Bagaimana kelanjutannya? Simak selengkapnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Melia dan Dimas ke kampus yang terkenal di wilayah Rotterdam. Sambil melihat-lihat sekitar, kedua nya berjalan beriringan.
Tak jarang ada yang menyapa Dimas dengan ramah dan hormat.
"Kakak terkenal banget ya di sini?" tanya Melia sesekali melirik ke arah Dimas yang hanya menampilkan raut datar dengan kedua tangan di dalam kantong celana.
"Bisa jadi" jawab Dimas, begitu ambigu membuat Melia merasa kurang puas dengan jawaban Dimas.
"Kok bisa?" tanya Melia lagi, ia bahkan lebih mendekat ke arah Dimas.
Dimas menghela napas lalu merangkul pinggang Melia, ini cara jitu agar Melia diam sepanjang jalan.
Deg
Kan benar! Cara paling ampuh ialah di rangkul oleh nya. Dimas terkekeh dan akhirnya sepanjang jalan hanya saling diam hingga di depan ruang guru.
"Kamu tunggu disini, jangan kemana-mana, kalau aku panggil langsung datang" ucap Dimas sembari menyentuh leher Melia yang terasa panas.
"Kamu demam?" tanya Dimas dengan alis mengernyit khawatir. Melia menggeleng dan menepis tangan Dimas yang menyentuh leher nya.
"Cuaca nya panas jadi wajar badan ku juga panas" elak Melia. Ia harus cepat-cepat menghindar dari Dimas agar Dimas tak melihat semburat merah di pipi nya.
Dimas masih menatap nya lekat. Kemudian mengangguk dan berlalu masuk ke dalam ruang guru.
Sekitar lima belas menit Melia menunggu di depan ruang guru, akhirnya Dimas memanggil nya.
"Dit is mijn toekomstige vrouw, zij zal hier studeren. Kunt u haar lesgeven, meneer?" tanya Dimas dengan merangkul pinggang Melia lagi dengan posesif.
- Ini calon istri saya, dia akan belajar di sini. Bisakah Anda mengajarinya, Pak?
"Oké, ik zal het hem zeker leren, maak je geen zorgen, Dimas" jawab guru itu dengan senyum puas.
- Oke, aku pasti akan mengajarinya, jangan khawatir, Dimas.
"Sebut nama mu" ucap Dimas tiba-tiba menatap Melia.
"Hello Sir, My name is Melia" ucap Melia dengan senyum manis, menatap ke arah guru itu.
"Melia? Een prachtige naam, net als de persoon zelf" puji guru itu bernama Vincent tak kalah ramah.
- Nama yang indah, sama seperti orangnya sendiri.
"Apa artinya Kak?" bisik Melia menatap Dimas yang lebih tinggi dari nya.
"Nama kamu cantik kayak orang nya" jawab Dimas membuat Melia tersenyum malu.
"Guru ini akan ngurus semua langkah-langkah nya, kamu tinggal tunggu informasi aja. Udah mikirin jurusan?" tanya Dimas pada Melia yang masih ia rangkul dengan posesif.
Melia mengangguk yakin.
"Tunggu di depan lagi, ada yang mau aku sampaikan ke guru mu dulu, nggak lama" ucap Dimas di angguki Melia yang segera berlalu setelah Dimas mengelus pucuk kepala nya.
"Mijn verloofde spreekt nog niet vloeiend Nederlands, dus als je contact met hem wilt opnemen, kun je dat via mij doen" ucap Dimas di angguki Pak Vincent disertai senyuman.
- Tunangan saya belum fasih berbahasa Belanda, jadi jika Anda ingin menghubunginya, Anda bisa melakukannya melalui saya.
"Oké, ik neem contact met je op voor meer informatie" balas Pak Vincent dengan senyuman dan tepukan di pundak Dimas.
- Oke, saya akan menghubungi Anda untuk informasi lebih lanjut.
"Mijn verloofde en ik vertrekken als eersten, we wachten op verdere informatie van u" pamit Dimas kemudian berlalu pergi.
- Saya dan tunangan saya akan berangkat lebih dulu, kami menunggu informasi lebih lanjut dari Anda.
Dimas menghampiri Melia yang menunduk sembari mengayunkan kaki nya menghilangkan bosan.
"Lama ya nunggu nya?" ujar Dimas segera menyentuh kepala Melia di sertai senyuman.
Melia menggeleng pelan. "Kakak tadi ngomong sama guru nya gimana? Nggak ada masalah kan?" tanya Melia dengan raut cemas.
"Tenang aja, kita tinggal tunggu informasi nya, sekalian kamu pikirin matang-matang buat jurusan yang di ambil" jawab Dimas membuat Melia bernapas lega.
"Kakak lancar banget tadi bahasa Belanda nya" puji Melia seraya berjalan dengan tangan berayun.
"Kita sama-sama lahir di Belanda, hanya saja kamu lupa sama bahasa tempat lahir mu sendiri" balas Dimas membuat Melia menampilkan cengir kuda nya.
"Kelamaan di Indonesia, lupa bahasa sendiri" elak Melia lalu ia melihat ke arah pemandangan sekitar lagi.
Dimas tersenyum lalu menggenggam tangan Melia. "Katanya mau jalan, waktu kita nggak banyak" ucap Dimas setelah nya melangkah lebih cepat di ikuti Melia yang hanya bisa menurut saat tangan nya di gandeng Dimas.
Tempat yang di datangi ialah Kunsthal yaitu museum baja dan kaca yang menggelar program pameran seni temporer, desain, dan fotografi.
Usai dari museum, Melia memilih untuk kembali ke rumah.
"Kak, pulang aja habis ini, aku belum beresin pakaian" ucap Melia di angguki Dimas yang memang sudah lelah juga.
"Nanti malam kita berangkat, setelah makan malam kita langsung ke bandara buat take off" ujar Dimas sesekali melirik ke arah Melia.
...****************...
Di dalam pesawat, Melia nampak gelisah dan badan nya terasa tak enak. Napas nya benar-benar terengah-engah bahkan tidur nya pun tak nyenyak.
Dimas yang sedang membaca buku pun baru menyadari ketidaknyamanan Melia saat kepala Melia bersandar pada pundak nya.
"Kenapa?" tanya Dimas sembari mengelus tangan Melia yang terkepal erat.
"Kayaknya aku beneran demam" jawab Melia dengan lirih, mata nya tetap tertutup tapi ia gelisah terus menerus.
Dimas mendongak ke samping. Lalu menyentuh kening Melia yang tertutup poni tipis.
"Kamu ada bawa obat?" tanya Dimas dengan nada khawatir.
Melia menggeleng lalu bergelayut di lengan Dimas agar gelisah nya menghilang, setiap Melia demam, maka ia akan berkali-kali lipat manja nya pada orang di sekitar nya.
Dimas menghela napas pelan. Lalu mengangkat tangan berharap pramugari mendatangi nya.
"Yes Sir, can I help you?" satu pramugari cantik datang dengan nada ramah.
"Can I get a thick blanket and fever reducer?" pinta Dimas langsung di angguki pramugari dengan sigap saat melirik Melia yang nampak pucat.
Tak lama pramugari itu kembali ke kabin dan menyerahkan selimut tebal yang masih bersih beserta satu kaplus obat penurun demam seperti yang di minta.
"Thank you" ucap Dimas lalu kembali fokus pada Melia untuk menyelimuti Melia yang nampak menggigil.
"Setelah landing nanti kita langsung ke rumah sakit" bisik Dimas di angguki lirih oleh Melia.
"Kakak jangan kemana-mana, aku takut sendiri" ucap Melia dengan suara serak dan lirih.
"Iya Sayang, aku nggak kemana-mana, peluk sepuas kamu aja selagi badan kamu bisa sembuh" bisik Dimas lalu mendekap Melia dari samping.
Mereka baru akan berangkat, membuat Dimas panik nya bertambah, karena artinya Melia harus menahan sakit nya selama lebih 17 jam.
Aku harus ngabarin orang tua di sana supaya nggak khawatir.
buat yg vote, like, komen, dan meraih peringkat 1 akan aku kasih hadiah kecil-kecilan buat nambah semangat kalian supaya rajin ngegift hehe🤭