NovelToon NovelToon
Terjerat Obsesi Tuan Muda

Terjerat Obsesi Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Wanita Karir / CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Be___Mei

Sepucuk surat mengundang Syaheera untuk kembali ke kota kelahirannya. Dalam perjalanan ke kota tersebut, dia bertemu Gulzar Xavier, pria baik hati yang menolongnya dari pria mesum di kereta.

Kedatangan Syaheera disambut baik oleh ayahnya dan keluarga barunya. Namun, siapa sangka, ternyata sang ayah berniat menjodohkan dirinya dengan Kivandra Alistair, Tuan Muda lumpuh dari keluarga Alistair.

Cinta Syaheera pada ayahnya membuat gadis ini tak ingin membuatnya kecewa. Namun, pada malam pertemuannya dengan Kivandra, takdir kembali mempertemukan dirinya dengan Xavier, dan sejak itu benih cinta mulai tumbuh di antara mereka.

Xavier yang hangat, atau Kivandra yang dingin, akan kepada siapa Syaheera menjatuhkan pilihan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Be___Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Syaheera part 9

...___Ternyata Kita Cinta___...

...-Lelaki asing yang dapat merasakan kegelisahan kelinci kecil-...

...***...

Kecemasan mewarnai kepulangan Syaheera ke kota Viola. Sesampainya di kediaman ia berlari mencari sang nenek.

Wanita tua itu sedang beristirahat di kamarnya. Rasa perih menggores hati, ketika melihat selang tipis bercabang dua bertengger pada lobang hidung Kansya. Hal ini tak pernah terjadi dalam hidup mereka, bagaimana Syaheera tak hampir kehilangan akal menyaksikannya.

"Ayah, kenapa Nenek seperti ini? Aku baru beberapa hari meninggalkannya, bagaimana jika aku pergi lebih lama lagi. Aku takut hal lebih buruk terjadi." Nayanika itu membentuk anakan sungai, ia menangis. Sungguh, kehilangan kerabat adalah hal yang paling menakutkan dalam hidup Syaheera.

Memegangi tangan sang putri untuk memberikan ketenangan, Peter bicara pada dokter yang menangani Kansya, "Bagaimana keadaannya, Dok?"

"Pemeriksaan kesehatan Nyonya setiap bulan baik-baik saja. Namun, kali ini tekanan darahnya turun drastis. Apakah Nyonya sering kelelahan akhir-akhir ini?"

Peter menoleh pada Nena dan Raina. Dua pelayan itu mengatakan bahwa Kansya menjalani hari-hari seperti biasanya, tak mengerjakan hal yang menguras tenaga.

"Reaksi emosional juga bisa menjadi penyebab kejadian ini," ujar Dokter lagi.

Peter menyadari penyebabnya pasti dirinya. Tubuh pria ini luruh ke lantai, ia dibantu Remo untuk duduk pada sofa kamar Kansya.

"Terima kasih, Dok," ujar Peter tak bersemangat.

"Kau antarkan Dokter pulang," titahnya pada Remo.

"Tidak perlu. Rumah saya dekat, hanya beberapa langkah dari sini."

"Oh, syukurlah. Kalau begitu Anda bisa lebih sering memeriksa keadaan mertua saya," ucap Peter penuh harap.

"Tentu, Tuan," sahut Dokter muda ini seraya pamit undur diri.

Syaheera begitu terpukul, ia tak ingin berjauhan dari Kansya. Sementara Celia, ia mengusap lembut punggung Syaheera demi memberikan rasa tenang.

"Sabar, Sayang. Nenekmu akan segera sadar."

Mulutnya kelu, kerongkongannya bagai tersumbat. Hati gadis ini sangat terluka.

Sementara itu di Alistair Property ...

Kabar tak menyenangkan dalam keluarga Jason telah sampai ke telinga Raffan. Pada pertemuan malam itu dengan Syaheera, ia melihat jelas keraguan gadis itu pada hubungan yang akan mereka jalin. Demi menukar hati sang calon menantu, Raffan segera memboyong Kiv ke Viola.

Udara segar ... angin lembut ... suara alam yang terdengar lebih indah. Ini adalah kali pertama Kiv mengunjungi Viola.

Kediaman Kansya dan Syaheera yang berada di tepi pantai, menambah pengetahuan Kiv bahwa Viola memang seperti apa yang orang-orang katakan, kota kecil yang nyaman dengan pemandangan laut yang indah.

"Pantas saja kelinci kecil itu betah tinggal di sini," gumam Kiv. Hal pertama yang Kiv sadari ketika bertemu Syaheera, ia gadis bermata besar dan memiliki gigi depan yang besar, seperti kelinci.

Masuk ke kediaman Kansya dan Syaheera, kehadiran Kiv yang didorong dalam kursi roda menyita perhatian. Pria ini dengan wajah datarnya menyapukan pandangan ke segala arah, tanpa sekadar menyapa orang yang lebih tua darinya.

"Terlihat sombong," bisik Roy.

"Dia memang begitu, juga angkuh," balas Remo, berbisik juga.

"Tampan, tapi kenapa ...." ucapan Tomi terputus sebab Remo menyikut lengannya.

Remo yang sudah tahu siapa yang datang, mengingatkan rekannya agar tak menyingung perihal cidera Kiv.

Merasa mendapat tatapan menelisik, Kiv melirik sekilas pada para pria kediaman itu.

"Nak, Kiv. Terima kasih sudah menyempatkan diri kemari," sambut Celia bersemangat.

Hanya sebuah anggukan alih-alih kata yang keluar dari mulut Kiv ketika merespon Celia. Ia dibantu Alvin mengambil posisi di samping Raffan dan mereka melihat keadaan Kansya di tempat tidur.

"Sudah berapa lama Nyonya besar tak sadarkan diri?" tanya Raffan.

Peter melirik pada dua pelayan mertuanya lagi. Ia tak bisa memberikan jawaban, sebab saat ia datang Kansya sudah dalam keadaan tak sadar diri.

"Hampir 5 jam, Tuan," sahut Raina.

"Itu terlalu lama. Apa kata dokter yang menanganinya? Atau ... bagaimana kalau kita bawa saja Nyonya ke Lumina. Rumah sakit Istriku akan memberikan perawatan lebih optimal."

"Terima kasih tawarannya, Tuan Raffan. Saya sudah bicara banyak dengan Dokter Darren. Nenek kelelahan dan dia memberikan obat tidur untuk membantunya beristirahat," sahut Syaheera. Hingga detik ini ia tak pernah meninggalkan Kansya, ia selalu berada di sampingnya.

Kiv melihat betapa lesu wajah Syaheera. Ia juga menyadari wanita ini nampak pucat.

"Apa dia sudah makan? Kenapa seperti mayat hidup, pucat dan menyeramkan," bisik Kiv pada Nena.

Pelayan ini terkejut, ia tak menyangka Kiv akan bicara padanya. "Nona bilang ia tidak lapar saat saya tawari makan. Dia hanya meminta dibuatkan kopi, agar matanya segar." Ini serius, Nena merasakan bulu kuduknya meremang, padahal Kiv bukan hantu.

Sejurus kemudian Kiv menatap Heera lagi, "Segar dari mana? Matanya seperti ikan buntal yang tersangkut di jaring nelayan, semakin besar dan hitam," bisik sang hati.

Usai melihat keadaan Kansya, Raffan bersama Peter bicara berdua di halaman. Sedangkan Kiv meminta Alvin membawanya melihat-lihat keadaan sekitar. Celia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, ia mencari cara agar Syaheera dan Kiv bisa bertemu dan bicara.

"Syaheera sayang, kau pasti lelah sejak tadi menjaga nenemu. Lebih baik kau istirahat dulu, makan atau mencari angin segar di luar, biar Tante yang menjaganya."

"Aku tidak lapar, Tante."

"Kalau begitu kau beristirahat saja."

"Aku tidak lelah ...."

"Carilah angin segar, agar suasana hatimu tenang. Yakinlah, Nenekmu akan baik-baik saja, ya," ucap Celia. Ia menggenggam jemari Syaheera, mencoba memberikan kekuatan dan keyakinan pada diri gadis ini.

Menatap wajah Kansya kembali, kemudian Syaheera berdiri. "Titip Nenek sebentar, ya, Tan. Aku tidak akan lama, setelah kopiku habis aku akan kembali lagi ke sini."

Celia mengambil kopi milik Syaheera yang berada di atas nakas sejak tadi, ia menyerahkan kopi itu sembari berkata, "Nikmati kopi ini dengan tenang, sayang."

Menerima kopi itu seraya berlalu pergi, Syaheera meninggalkan Celia dan dua pelayan Kansya di kamar itu.

Peter dan Raffan masih berbicara di halaman saat Syaheera keluar dari rumah. Ia berjalan menuju kursi panjang yang menjorok pada bibir pantai, duduk di sana menatap laut lepas.

Rasa sedih benar-benar menggerogoti hati. Sentuhan angin yang menggoyangkan rambutnya begitu lembut, seperti belain sang nenek padanya. Gelas kopi ia letakkan, membawa kedua tangan untuk menutup wajahnya dan ... ia kembali menangis.

Tak pernah terbayangkan saat seperti ini akan hadir dalam hidupnya lagi. Rasa takut akan kehilangan orang tersayang muncul kembali, memeluk hati kecil Syaheera begitu erat hingga ia kesulitan bernapas.

Rasanya masih segar dalam ingatan, dirinya yang masih remaja menunggu kabar baik tentang kesehatan Ibunya di kediaman Lumina. Namun, setelah melewati banyak denting waktu, bukan kabar baik yang datang padanya, tapi kehilangan.

Syaheera menekuk kedua kaki dan memeluknya di dada. Kedua matanya terasa panas, bahunya berguncang, ia menangis tanpa suara nyaring, hanya isakan yang berbaur bersama irama ombak.

Tak jauh dari posisi Syaheera, ada Kiv yang sedang terpaku padanya.

"Aku lapar, carikan makanan apa saja asal bukan udang," pintanya pada Alvin.

"Siap, Tuan."

...To be continued ......

1
ZasNov
Akhirnya Kiv bisa membawa pulang calon istrinya..
Nangis aja Xavier, lagian aneh2 aja Syaheera malah ditinggal di vill. Keadaan lg genting jg ah. Ngomel kan jdinya 😂🤣
ZasNov
Duh Xavier bener2 ya.. Bisa2nya ninggalin Syaheera sendirian. Diculik Kiv baru tau rasa lho..
ZasNov
Bahagianya Syaheera & Xavier, mereka benar2 saling mencintai & melengkapi.. Tapi setelah ini akan ada badai yang mungkin tidak akan bisa mereka kalahkan.. 😖
ZasNov
Cito kocak bgt nih.. 😂🤣
ZasNov
Sesama bodoh dilarang saling menghina.. 🤣
ZasNov
Bukannya kamu lebih peduli meeting sma ngurusin bisnis kamu ya Kiv.. 😑
ZasNov
Xavier ga bakalan biarin Syaheera lecet, Kiv.. 🤭 Palingan disayang, dimanja, diperhatiin.. 🤣
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan 🥰
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan 👍
ZasNov
Gimana keadaan Oza.. Duh semua kena.. 😭
ZasNov
Ah sediiihh.. Kasian Luke.. 😭😭😭
ZasNov
Tuh kan bener, Luke jadi tumbal.. 😭
Mana Xavier sama Syaheera juga belum tentu berhasil kabur..
ZasNov
Wah kepo nih..
ZasNov
Wah Jack udah beneran insyaf nih? tapi baku hantam masih ga bang? 😆
ZasNov
Hmm, ternyata target Kiv itu Zeter property, karena tujuan utamanya Syaheera..
ZasNov
Kiv berusaha menyelesaikan masalah setenang dan sesantai mungkin, tp kayaknya hatinya ga baik2 aja..
ZasNov
Coba nanti Xavier bilang didepan Kiv.. 😂🤣
ZasNov
Iya bener.. 🥺 Aku jd inget Luke. Dia pasti dapet hukuman..
ZasNov
Aduh Syaheera, kalian lg melarikan diri bukan piknik.. 😂🤣
ZasNov
Apa Xavier dan Syaheera berhasil kabur ya? Kiv kayaknya ga bakalan tinggal diam..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!