Jian Yi dan para rekannya gugur setelah menantang kekuatan besar Kekaisaran Pusat. Pertempuran itu seharusnya menjadi akhir dari segalanya bagi mereka.
Namun saat kesadaran Jian Yi memudar, sebuah keajaiban terjadi. Berkat campur tangan Raja Naga, mereka diberi kesempatan kedua—sebuah reinkarnasi yang mengubah takdir mereka.
Terlahir kembali di dunia yang sama namun dengan kehidupan baru, Jian Yi menyimpan satu janji dalam hatinya: membalas kehancuran yang dialaminya dan melampaui semua batas kekuatan.
Kali ini, dia tidak akan jatuh lagi.
Tapi di dunia yang dipenuhi kultivator kuat, sekte kuno, dan kekaisaran yang menguasai segalanya …
Mampukah Jian Yi benar-benar bangkit, menuntut balas, dan mencapai puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Turnamen, Takdir, dan Mahar Tak Terduga
Lima tahun berlalu seperti kedipan mata bagi mereka yang mengejar keabadian.
Di Distrik Zamrud, desas-desus tentang dua "Tuan Muda Pemalas" dari Keluarga Jian dan Lu semakin kencang.
Selama lima tahun berturut-turut, Jian Yi dan Lu Feng selalu absen dari turnamen tahunan kota, membiarkan anak-anak bangsawan lain—termasuk Wei Yan yang kini semakin congkak—mendominasi panggung.
Namun, di balik tembok tinggi kediaman mereka, realitasnya jauh berbeda.
Di usia delapan tahun, perawakan Jian Yi telah berubah menjadi bocah yang elegan dengan aura setenang danau purba.
Di sampingnya, Lu Feng tumbuh dengan tubuh yang lebih tegap dan sorot mata liar yang sulit dijinakkan.
Dan yang paling mengejutkan adalah A-Lang. Bocah gelandangan yang dulu kurus kering kini telah bertransformasi menjadi pemuda kecil yang tangguh.
Otot-ototnya padat, dan teknik Qi-nya telah mencapai Ranah ke-2 Puncak, berkat latihan neraka yang diberikan oleh dua gurunya.
"Tuan Muda, apakah tahun ini kita benar-benar akan keluar dari bayang-bayang?" tanya A-Lang sambil menyeka keringat setelah melakukan seribu repetisi tendangan.
Jian Yi mengangguk pelan sambil menyesap tehnya. "Pedang yang terlalu lama disarungkan akan berkarat, A-Lang. Dan kurasa, Keluarga Wei sudah terlalu lama merasa menjadi penguasa di sini."
Lu Feng menyeringai, memutar-mutar koin emas di jemarinya. "Aku sudah tidak sabar melihat wajah Wei Yan saat dia menyadari bahwa 'kucing' miliknya itu tidak lebih dari tikus di hadapan kita."
Langkah kaki yang berat dan berwibawa memecah ketenangan paviliun.
Jian Hong dan Lu Zhao berjalan masuk dengan wajah yang sangat serius—sebuah ekspresi yang jarang mereka tunjukkan kecuali saat membicarakan masalah hidup dan mati.
"Anak-anak, ada sesuatu yang harus kami sampaikan," ujar Jian Hong, suaranya berat.
Jian Yi dan Lu Feng saling lirik. Apakah musuh dari kehidupan masa lalu mereka sudah mulai bergerak? Ataukah Kaisar Pusat mencium keberadaan mereka?
"Seorang tunangan akan segera tiba di Distrik Zamrud malam ini," lanjut Lu Zhao sambil menepuk pundak sahabatnya. "Ini adalah aliansi yang telah kami persiapkan sejak lama dengan Keluarga Tan dari Kota Awan Biru—Bangsawan Tingkat 4."
A-Lang yang berdiri di belakang mereka langsung menunduk. Ia merasa ini adalah urusan internal keluarga bangsawan.
Dalam hatinya, ia sedikit merasa kasihan pada salah satu dari dua temannya ini.
"Tuan Muda Jian Yi yang sedingin es, atau Tuan Muda Lu Feng yang gila arak ... siapa pun yang bertunangan, gadis itu pasti akan menderita," batin A-Lang prihatin.
Jian Yi mengerutkan kening. "Ayah, aku masih delapan tahun. Bukankah ini terlalu dini untuk urusan politik pernikahan?"
Lu Feng ikut protes, "Benar! Aku lebih suka bertunangan dengan satu gentong arak daripada dengan bocah perempuan yang hanya tahu cara menangis!"
Jian Hong tertawa terbahak-bahak, sementara Lu Zhao menggelengkan kepalanya.
"Siapa bilang tunangan itu untuk kalian berdua?" tanya Jian Hong dengan mata berkilat jenaka.
Suasana mendadak hening. A-Lang bingung. Jika bukan untuk Jian Yi atau Lu Feng, lalu untuk siapa? Apakah ada anak rahasia lainnya?
Jian Hong berjalan mendekat ke arah A-Lang yang sedang bingung, lalu meletakkan tangannya yang besar di bahu bocah itu. "A-Lang ... lima tahun terakhir ini, kau telah membuktikan kesetiaanmu. Kau berlatih lebih keras dari siapa pun, dan kau telah menjaga anak-anak kami seolah mereka adalah saudaramu sendiri."
"Kami telah mendiskusikannya," timpal Lu Zhao. "Bagi Keluarga Jian dan Lu, kau bukan lagi sekadar pelayan atau pengikut. Kau adalah putra angkat kami. Maka dari itu, tunangan dari Keluarga Tan itu ... adalah untukmu, A-Lang."
Deg!
A-Lang seolah tersambar petir di siang bolong. Matanya membelalak, mulutnya menganga lebar. "A-aku? Tapi ... aku hanya gelandangan! Aku tidak punya nama keluarga, aku tidak punya harta!"
"Kau punya kami," ucap Jian Yi dengan senyum tipis yang tulus. "Dan kau punya 'taring' yang kami asah bersama. Itu lebih dari cukup untuk menghadapi bangsawan mana pun."
Lu Feng tertawa keras sambil memukul punggung A-Lang hingga bocah itu tersedak. "Hahaha! Selamat, kawan! Akhirnya ada yang akan mengikatmu agar kau tidak terus-menerus mengikuti kami seperti ekor!"
"Keluarga Tan akan datang saat pembukaan Turnamen Kota Zamrud besok," Jian Hong menjelaskan. "Mereka ingin melihat calon menantu mereka bertarung. Ini adalah kesempatanmu, A-Lang. Tunjukkan pada dunia bahwa serigala yang kami besarkan bisa merobek langit."
A-Lang mengepalkan tinjunya. Rasa haru membuncah di dadanya. Dari seorang bocah yang dipukuli di gang sempit, kini ia memiliki keluarga, tujuan, dan bahkan tunangan dari keluarga tingkat tinggi.
"Aku ... aku tidak akan mengecewakan kalian, Ayah ... Tuan Muda," ujar A-Lang dengan suara serak, air mata hampir tumpah.
Jian Yi berdiri, menatap matahari yang mulai terbenam. "Bagus. Karena besok, kita tidak hanya akan menyambut tunanganmu. Kita akan menghancurkan kesombongan setiap orang yang berani memandang rendah kita selama lima tahun ini."
Lu Feng menyeringai liar, mengeluarkan pedang kayu yang telah dilapisi energi Qi yang murni. "Besok akan menjadi hari yang sangat panjang bagi Wei Yan dan antek-anteknya."
Malam itu, di bawah langit Distrik Zamrud, tiga siluet berdiri dengan tekad yang tak tergoyahkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗨𝗣𝗔 𝗧𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗝𝗘𝗝𝗔𝗞 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗜𝗞𝗘 ... 𝗛𝗘𝗛𝗘🏁