NovelToon NovelToon
Fajar Di Gerbang Hijau

Fajar Di Gerbang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar di Gerbang Hijau 10: Gelombang Harapan di Balik Debu

Pagi itu, udara di dalam kamar Valaria terasa kaku, dingin, dan berdebu. Jendela kayu yang usang hanya terbuka sedikit, membiarkan seberkas cahaya matahari menyelinap masuk dan menciptakan pilar keemasan yang menari-nari di atas lantai papan yang kotor. Debu tebal yang telah mengendap selama berbulan-bulan beterbangan setiap kali Valaria bergerak, menciptakan partikel-partikel kecil yang berkilau di bawah cahaya.

Valaria duduk bersila di tengah kekacauan itu. Di sekelilingnya, gunung-gunung koran lama dan baru menjulang tinggi. Bau tinta cetak yang khas bercampur dengan aroma apek ruangan yang sudah terlalu lama tidak dihuni. Ia mengenakan kaus oblong longgar dan celana pendek yang sudah pudar warnanya. Rambutnya diikat asal-asalan, menunjukkan bahwa fokusnya saat ini sepenuhnya tertuju pada satu tugas: membersihkan sisa-sisa kehidupan masa lalu yang tertimbun di kamar ini.

Saat tangannya memilah-milah tumpukan kertas yang menguning, matanya tertumbuk pada sebuah judul yang dicetak tebal pada halaman koran edisi bulan lalu. Di bawah tajuk besar itu, ada sebuah tanggal yang mencolok: 11 September.

Valaria mengambil koran itu, mendekatkannya ke arah berkas cahaya matahari. Debu yang menempel di tangannya kini mengotori pinggiran kertas, tetapi perhatiannya tidak teralihkan. Berita itu mengulas tentang Hari Radio Republik Indonesia (RRI) atau Hari Radio Nasional.

Ia membaca setiap paragraf dengan saksama. Sejarahnya bermula tepat setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Valaria terdiam sejenak, mencoba membayangkan kekosongan informasi yang terjadi kala itu, ketika siaran radio yang dikuasai Jepang dihentikan. Itulah era di mana suara menjadi satu-satunya jembatan penghubung antara pemerintah dan rakyat yang haus akan berita.

“Pada tanggal 11 September 1945, para tokoh radio berkumpul dan sepakat untuk mendirikan sebuah stasiun radio yang berdiri di atas segala aliran dan keyakinan, dengan mengutamakan persatuan bangsa dan keselamatan negara. Dari pertemuan tersebut, lahirlah Radio Republik Indonesia (RRI) dengan Abdulrahman Saleh sebagai pemimpinnya.”

Valaria merasakan getaran kecil di dadanya. RRI bukan sekadar lembaga penyiaran; ia adalah instrumen perjuangan, pendidik bangsa, dan perekat persatuan. Ia menatap koran itu dengan pandangan yang perlahan berubah. Ia tidak lagi melihat lembaran kertas usang, melainkan sebuah pintu peluang yang terbuka lebar.

Tiba-tiba, sebuah ide cemerlang muncul di benaknya, seolah-olah lampu neon terang baru saja dinyalakan di dalam ruang gelap pikirannya. Jika radio adalah alat komunikasi paling efektif pada masa ini, mengapa ia tidak menggunakannya untuk hal yang ia kuasai hal yang bahkan belum pernah ia coba di masa depannya dulu?

"Ini bisa menjadi sumber penghasilanku," bisiknya pelan. Suara Valaria terdengar sedikit serak karena menghirup debu ruangan.

Ia membayangkan suaranya sendiri, menyampaikan kata-kata yang ia susun dengan hati, menyebar melalui gelombang udara, masuk ke rumah-rumah penduduk, warung kopi, hingga ke pelosok ladang.

"Jika aku menulis puisi, sajak, atau cerita pendek untuk dibacakan di radio... orang-orang akan mendengarnya," gumamnya lagi.

Sebuah senyum merekah di wajah Valaria yang sedikit kotor oleh debu. Itu adalah senyum penuh harapan. Ia teringat keahlian sastranya semasa SMA yang sudah lama terlupakan. Ini adalah cara yang elegan, cerdas, dan efektif untuk mencari nafkah di dunia barunya yang masih penuh misteri ini.

Tanpa membuang waktu, ia beranjak dari posisi bersilanya. Tangannya meraih tas jinjing yang tergeletak di sudut kamar, mencari buku catatan kecil dan pensil. Segera, ia mulai menulis. Pena itu menari di atas kertas, merangkai cerita-cerita pendek dan puisi; fragmen kenangan dan pemikiran yang berputar di kepalanya. Sastra tentang kehidupan masa lalunya yang kini terasa begitu jauh, bagaikan sebuah mimpi fantastis.

Namun, saat matanya beralih dari buku catatan kembali ke sudut ruangan, ia tersadar bahwa kamarnya masih berantakan. Kekacauan itu terasa menekan. Tumpukan koran dan bau lembap dari kain-kain tua seolah mengancam untuk menelan ruang geraknya. Paru-parunya mulai memprotes udara yang kotor.

Ia menghela napas panjang, rasa frustrasi kecil mulai merayap. Ia tahu, ia tidak akan bisa menciptakan mahakarya di tengah "neraka" kekacauan ini. "Fokus, Valaria. Uang tidak akan datang dari tumpukan debu," tegurnya pada diri sendiri.

Ia meletakkan kembali bukunya dan memutuskan untuk melanjutkan misi bersih-bersihnya dengan lebih sistematis. Ia mulai melipat koran-koran itu berdasarkan tanggal sebelum membuangnya. Namun, lagi-lagi perhatiannya teralihkan oleh lembaran lain yang mencantumkan tanggal 24 September: Hari Tani Nasional.

Di sana tertulis tentang berbagai kegiatan sosial, gotong royong penanaman pohon, hingga pameran festival pertanian tempat para petani memamerkan inovasi teknologi terbaru. Valaria takjub. Dunia tahun 1997 ini ternyata sangat kaya akan kegiatan komunitas.

"Radio bisa menjadi media yang sempurna untuk mengiklankan acara-acara ini," pikirnya. "Atau bahkan membuat konten edukasi yang disponsori oleh dinas terkait."

Tangannya terus bergerak ke koran berikutnya, dan lagi, sebuah tanggal menarik perhatiannya: 28 September (1996), Hari Kereta Api Nasional.

Di bawah judul itu, tercantum daftar stasiun besar: Stasiun Gambir, Surabaya Pasarturi, dan Yogyakarta. Jantung transportasi darat. Ia membaca deskripsi tentang harga tiket. Meskipun informasi spesifik untuk tahun 1997 agak sulit ditemukan, sebuah kolom kecil menyebutkan bahwa KA Argo Bromo Anggrek yang baru diluncurkan memiliki harga tiket sekitar Rp40.000 hingga Rp50.000 untuk kelas eksekutif tertinggi.

Valaria membayangkan kemewahan kereta itu pada zamannya kereta yang melayani rute Jakarta-Surabaya hanya dalam 9 jam dengan suspensi udara yang nyaman.

"Kereta api adalah jaringan yang menghubungkan seluruh pulau," batinnya. "Bayangkan jika ada siaran radio atau pembacaan cerita di dalam gerbong untuk menghibur penumpang selama perjalanan panjang. Puisi perjalanan atau cerita misteri yang didengarkan saat kereta melaju membelah kegelapan sawah di malam hari..."

Satu per satu tumpukan koran itu ia bereskan. Tepat di bagian paling bawah, ia menemukan berita singkat yang hanya mencantumkan satu tanggal tanpa perayaan: 30 September.

Hari Peringatan Gerakan 30 September (G30S).

Berita itu, meski minim detail, memberikan getaran yang berbeda di hati Valaria. Ini bukan getaran antusiasme bisnis, melainkan getaran sejarah yang berat. Hal itu menyadarkannya bahwa ia berada di era yang memiliki lapisan sejarah yang kelam dan politik yang dalam. Ia harus belajar memahami realitas sosial ini jika ingin bertahan dan berpengaruh, bukan sekadar mencari berita ringan.

Valaria menyadari bahwa di balik setiap tanggal dan perayaan, ada struktur masyarakat yang memiliki kebutuhan. Radio dan surat kabar adalah kunci utamanya. Mereka adalah jembatan yang menghubungkan idealisme sastranya dengan realitas ekonomi.

Valaria bangkit berdiri, menyeka keringat yang menetes di dahinya. Ruangan itu kini mulai terlihat lebih lapang. Meskipun masih banyak yang harus dikerjakan, ia sudah memiliki tujuan yang jelas di tengah kekacauan tersebut.

Cahaya matahari di dalam kamar telah bergeser posisi, membuat debu yang melayang di udara tampak seperti permata-permata kecil. Ia menatap koran terakhir di tangannya dengan tekad yang semakin kuat.

"Aku akan menyelesaikan bersih-bersih ini sampai tuntas, lalu aku akan mulai menulis dengan serius. Setelah itu, aku akan mencari stasiun RRI terdekat," ucapnya mantap.

Valaria kembali bekerja dengan teliti. Setiap sudut ruangan disapu, setiap barang ditata pada tempatnya. Rasa lelahnya terkalahkan oleh rasa senang yang meluap-luap. Ia yakin, melalui kata-kata dan gelombang udara, masa depannya di dunia ini akan segera cerah.

1
lin sya
ya smga aj kebaikan valaria suatu saat gk dibls air tuba sm laksmin tkutnya pas ekonomi dia dan kluarga nya terangkat krn rasa kemanusian gk bikin nimbulin sft iri lgi dimasa depan, krn perjuangan valaria buat bikin byk usaha itu proses nya panjang, smgat Thor 👍💪
Moh Rifti
next
Wanita Aries
makin seru thor
Wanita Aries
kyknya buat kentang mustofa aja valeria kn jaman itu blm byk tau😁
Wanita Aries
bukannya ria udh tau kl itu suruhan laksmin ya
Dewiendahsetiowati
semoga Laksmin cepat dapat karma
Moh Rifti
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Wanita Aries
bagus ria lawan dgn gebrakan lain ke laksmin
Lili Inggrid
semangat
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir kak
Moh Rifti
up
Wanita Aries
lhoo kok gaje harusnya dendam ke damian lah bukan ke valeria
Wanita Aries
makin seruuuu
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
semangat terus thor
Wanita Aries
wahhh makin sukses ria
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
gak bosen bacanya
Wanita Aries
suka ceritanya
Wanita Aries
keren thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!