Di Pesantren Al-Ihsaniyyah, cinta, ilmu, dan takdir keluarga Ihsani bersatu. Warisan Abah Muzzamil diuji, pilihan Inayah mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelas Akselerasi dan Telepon Tengah Malam: Ambisi, Rahasia, dan Jarak yang Memis
2 minggu lamanya setelah Ning Hana bakar bakar bareng" di asrama putri tahfidz, Ning Hana mulai masuk sekolah kembali di semester genap di kelas X ini yg kurang beberapa bulan lagi, Ning Hana itu pinter makanya ia setelah semester ganjil kemarin ia ditaruh oleh Ustadzah Nia dan Ustadzah Tia di kelas Excel(kelas percepatan) karena Ning Hana pintar dan jenius juga kelas Excel itu tdk semua bisa ikut program itu yg lulus hanya perlu waktu 2 tahun saja, keluarga ndalem semua tahu kalau Ning Hana masuk kelas bukan karena ia cucu pemilik pesantren atau anak Gus tapi ia berusaha dg giat menaikkan nilai juga karena prestasinya yg banyak sekali.
- (Di sekolah, Ustadzah Nia dan Ustadzah Tia memanggil Ning Hana ke ruang guru.)
- Ustadzah Nia: "Ning Hana, kami ingin memberikan selamat karena kamu terpilih untuk mengikuti program kelas Excel."
- Ustadzah Tia: "Kamu memang pantas mendapatkan kesempatan ini karena kecerdasan dan prestasi kamu yang luar biasa."
- Ning Hana (dengan nada terharu): "Alhamdulillah, Ustadzah. Terima kasih atas kepercayaannya."
- Ustadzah Nia: "Kami harap kamu bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya."
Malam harinya di ndalem Abi Haikal menelpon menantunya Gus Rasel yg sudah menjadi suami Ning Hana beberapa bulan yg lalu. ia menelpon mengabari kalau Hana masuk di kelas Excel dan bisa saja kelulusannya kurang dari 1tahun lebih 5 bulan karena sekarang Hana kelas x semester genap dan sebentar lagi kelas Xi juga Hana hanya mengikuti hanya sampai semester satu tidak sampai selesai karena diprogram kelas Excel itu memang seperti itu jadi mungkin saja Gus Rasel bisa kesini nya diajukan lagi dan ia juga tetep memberitahukan kalau Hana belum tahu tentang statusnya juga kelulusannya di pondok masih sama kurang 2 tahun lagi ya siapa tau Gus Rasel mau mengajar sendiri saat di kelas Diniyah istrinya nanti, setelah memberitahu Abi Haikal menutup teleponnya.
- (Di ndalem, Abi Haikal menelepon Gus Rasel.)
- Gus Haikal: "Assalamualaikum, Rasel."
- Gus Rasel: "Waalaikumsalam, Abi. Ada apa, Abi?"
- Gus Haikal: "Saya mau memberitahukan kabar gembira. Hana masuk kelas Excel."
- Gus Rasel (dengan nada senang): "Masya Allah, Abi. Alhamdulillah. Berarti Hana akan lulus lebih cepat ya?"
- Gus Haikal: "Iya, Rasel. Kemungkinan sekitar 1 tahun lebih 5 bulan lagi. Tapi, kamu harus ingat, Hana masih belum tahu tentang pernikahan kalian."
- Gus Rasel: "Iya, Abi. Saya mengerti. Saya akan tetap menunggu dan menjaga rahasia ini."
- Gus Haikal: "Terima kasih, Rasel. Saya percaya sama kamu. Oh iya, mungkin saja kamu bisa mengajar di kelas Diniyahnya Hana nanti."
- Gus Rasel (tertawa kecil): "Insya Allah, Abi. Saya akan senang sekali bisa mengajar istri saya sendiri."
- Gus Haikal: "Ya sudah, Rasel. Saya tutup teleponnya ya. Assalamualaikum."
- Gus Rasel: "Waalaikumsalam, Abi."
(Gus Rasel menutup telepon dan tersenyum bahagia. Gus Galih, kakaknya, yang sedang duduk di dekatnya merasa penasaran.)
- Gus Galih: "Siapa yang telepon, Rasel? Kok kayaknya seneng banget?"
- Gus Rasel: "Ini tadi Abi Haikal yang telepon, Gus."
- Gus Galih: "Abi Haikal? Ada kabar apa dari sana?"
- Gus Rasel (dengan nada bersemangat): "Alhamdulillah, Gus. Hana masuk kelas Excel!"
- Gus Galih (terkejut): "Masya Allah, Rasel! Selamat ya! Berarti Hana akan lulus lebih cepat dong?"
- Gus Rasel: "Iya, Gus. Abi bilang, mungkin sekitar satu tahun lebih lima bulan lagi. Saya seneng banget, Gus. Nggak sabar pengen ketemu Hana."
- Gus Galih (menepuk pundak Gus Rasel): "Sabar ya, Rasel. Semua akan indah pada waktunya. Sekarang, kamu fokus aja dulu sama persiapan kepindahanmu ke sana."
- Gus Rasel (mengangguk): "Iya, Gus. Saya akan berusaha secepat mungkin untuk bisa pindah ke sana dan mendampingi Hana."
(Gus Galih tersenyum melihat kebahagiaan terpancar dari wajah adiknya. Ia tahu betapa besar cinta Gus Rasel kepada Ning Hana.)