NovelToon NovelToon
My Little Actress

My Little Actress

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / CEO / Selingkuh / Cinta setelah menikah / Aliansi Pernikahan / Nikah Kontrak
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tiara Pratiwi

Kemungkinan ada narasi adegan nyerempet 21th+
Pembaca mohon lebih bijak dalam memilih bacaan yang sesuai usia! Cerita cuma fiksi jgn terlalu baper

Setelah mengetahui perselingkuhan tunangannya dengan saudara tirinya, Beatrice justru dipertemukan dengan Alexander, seorang CEO ganteng, kaya, dingin yang sangat menyayangi dan memanjakannya. Awalnya Alex hanya penasaran terhadap Beatrice, pasalnya penyakit alerginya terhadap wanita sama sekali tidak kambuh saat bersentuhan dengan Beatrice. Sahabat sekaligus dokter pribadinya, Harris menyuruhnya terus bersentuhan dengan Beatrice sebagai upaya terapi untuk kesembuhan alergi yang diderita Alex. Namun lama-lama sikap posesif dan cemburuan Alex terhadap Beatrice semakin menjadi, membuatnya sadar bahwa dia telah jatuh hati pada Beatrice. Alex ingin pernikahan kontrak mereka menjadi pernikahan sungguhan. Akankah hati Beatrice terbuka untuk Alex?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Akhirnya Bertemu

“Pasien atas nama Tuan Colton Brooks?” tanya Dokter itu tanpa basa-basi, melirik ke arah catatan di tangannya.

“Ya, saya. Ada apa, Dokter?” tanya Colton langsung siaga.

Tangan Beatrice yang menggenggam tangan Colton pun mengencang.

Beatrice menatap Colton dengan pandangan cemas.

“Kami akan memindahkan pasien, Colton Brooks, sekarang juga,” kata Dokter itu.

Detik itu juga, baik Colton maupun Beatrice terkejut hebat. Sebuah ketakutan yang dingin menjalari Beatrice.

“Memindahkan? Maksud Dokter apa?!” Suara Beatrice meninggi, penuh kepanikan. Ia segera teringat biaya. “Saya yakin saya sudah membayar biaya rawat inap sampai tenggat waktu yang diberikan. Saya punya buktinya!”

Melihat kepanikan Beatrice, Dokter itu tersenyum tipis, mencoba meredakan situasi.

“Tenang, Nona Brooks. Ini bukan pengusiran,” jelas Dokter itu. “Kami akan memindahkan Tuan Colton ke bangsal yang lebih baik. Kami memindahkannya ke Kamar VIP di bangunan lain”

Beatrice dan Colton saling pandang, sama-sama bingung. VIP? Mereka bahkan kesulitan membayar kamar kelas tiga.

“Kamar VIP?” ulang Beatrice, masih curiga. “Maaf, tapi itu tidak mungkin. Kami tidak meminta dan tidak mampu membayar kamar itu. Ada kesalahan?”

Dokter itu mengangguk, lalu menoleh ke arah Perawat, memberi isyarat agar mereka bersiap memindahkan Colton.

“Tidak ada kesalahan, Nona Brooks. Biaya kamar VIP Anda sudah terbayar lunas, sepenuhnya.” Dokter itu berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Ini adalah instruksi langsung dari atasan kami. Sebaiknya Nona tidak perlu khawatir soal biaya. Tapi, jika Anda benar-benar ingin mengetahui alasannya… Anda bisa menemui anak pemilik rumah sakit di kantornya. Beliau yang meminta Tuan Colton dipindahkan.”

Alis Beatrice bertaut. Anak pemilik rumah sakit? Itu berarti Bishop Group. Apa hubungannya dengan mereka?

“Bee, ada apa ini sebenarnya? Apa mereka salah orang? Aku tidak mengenal anak pemilik rumah sakit ini” bisik Colton.

“Tidak apa-apa, Colton. Mereka menyebut namamu itu artinya mereka tidak salah orang. Kamu ikuti saja suster, ya. Kamar VIP pasti lebih nyaman. Biar aku yang temui orang itu,” jawab Beatrice, berusaha tenang. Ia kemudian menatap Dokter itu lagi, tekadnya sudah bulat. “Baiklah, saya akan menemui orang yang Anda maksud.”

Setelah memastikan Colton dibawa dengan hati-hati oleh para Perawat, Beatrice segera bergegas menuju area administrasi, pikirannya dipenuhi tanda tanya.

"Siapa anak pemilik rumah sakit ini? Dan mengapa ia tiba-tiba berbaik hati membiayai Colton? Apa Zane yang melakukannya berharap aku tidak marah lagi? Hah! Mana mungkin!" batin Beatrice.

Di lantai eksekutif yang sunyi, Beatrice akhirnya tiba di depan pintu besar bertuliskan ‘Presiden Direktur’. Ia menarik napas dalam-dalam, menghela napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu kencang. Setelah sedikit merapikan pakaiannya, ia mengetuk pintu itu dengan sopan.

Terdengar suara berat dari dalam, “Masuk.”

Beatrice memutar kenop dan melangkah masuk. Ruangan itu mewah, dindingnya dihiasi panel kayu gelap, dan dari jendela kaca besar terpampang pemandangan kota di malam hari. Namun, bukan kemewahan itu yang menarik perhatiannya, melainkan dua pria tampan yang berada di dalamnya.

Salah satunya duduk di belakang meja kerja, yang satu lagi bersantai di sofa sudut ruangan, memegang gelas berisi cairan bening.

“Uhm, Tuan Bishop?” tanya Beatrice, nadanya sedikit ragu, menoleh ke pria di balik meja kerja.

Pria yang dipanggilnya, yang memiliki senyum ceria dan mata yang ramah, langsung menjawab, “Oh, itu aku!” Harris menjawab dengan nada ringan, tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Akhirnya, ia bertemu langsung dengan wanita yang berhasil merebut hati Alexander Thorne.

Sementara itu, Alex yang duduk di sofa, tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Beatrice sejak gadis itu masuk. Matanya yang gelap menatap Beatrice dengan intens.

“Apa Anda mengenal adik saya? Adik saya bernama Colton Brooks, dia tiba-tiba dipindahkan ke Ruang VIP, dan semua biaya pengobatan sudah dibayarkan,” ucap Beatrice, lugas. “Apa itu atas perintah Anda? Apa ada kesalahpahaman di sini? Kalau tidak ada kesalahan, saya ingin tahu alasannya.”

Harris melirik ke arah Alex yang duduk santai di sofa.

Namun, pandangan Alex hanya tertuju pada Beatrice. Tatapannya begitu lekat, membuat Beatrice tiba-tiba merasa panas.

Beatrice menjadi bingung dengan keheningan yang tiba-tiba ini, terutama saat Harris malah terus melirik ke arah pria lain yang duduk di sofa.

“Tuan Bishop?” panggil Beatrice lagi.

Tiba-tiba, pria di sofa itu berbicara. Suaranya rendah dan dalam, memecah keheningan ruangan.

“Apa aku tidak mengingatku?”

Beatrice menoleh ke arah sumber suara. Ia mengamati wajah pria itu dengan saksama. Garis rahang yang tegas, mata gelap yang tajam, dan fitur wajah yang nyaris sempurna.

“Rasanya familiar, tapi aku tidak ingat kapan aku bertemu dengannya. Tapi... aneh sekali, bagaimana bisa aku tidak mengingat dengan jelas wajah setampan itu,” batin Beatrice, merasakan gejolak aneh di perutnya.

Ia memiringkan kepalanya sedikit, tanda ia benar-benar tidak ingat.

Alex tiba-tiba meletakkan gelasnya dan bangkit dari sofa. Gerakannya anggun namun penuh dominasi. Ia berjalan dua langkah ke arah Beatrice, lalu, tanpa peringatan, ia merengkuh tubuh gadis itu.

"Ah! Apa yang anda lakukan?!", pekik Beatrice.

Tangan Alex melingkari pinggang Beatrice, menariknya mendekat dalam jarak yang berbahaya. Alex membungkuk sedikit, suaranya berbisik tepat di telinga Beatrice, sensual dan dalam.

“Apa kau benar-benar lupa?”

Saat tubuh mereka bersentuhan, Beatrice mencium aroma yang sangat familiar dari pria ini. Aroma mahal dari cologne yang memabukkan, campuran sandalwood dan bergamot.

“Bau ini… Aku menciumnya tadi pagi… Tepatnya bau ini tertinggal di tempat aku terbangun tadi pagi,” pikir Beatrice, ingatan semalam yang kabur di hotel mewah itu tiba-tiba menyeruak.

Beatrice membelalakkan matanya, napasnya tertahan.

Alex mundur sedikit, memberikan ruang namun masih menahan pinggang Beatrice, menatap langsung ke matanya yang membesar karena terkejut. Menurut Alex, Beatrice terlihat sangat imut saat kaget.

“Apa kau sudah ingat?”

Harris yang sedari tadi hanya menonton, merasa harus bertindak sebelum suasana semakin memanas.

“Ehem! Masih ada orang lain di sini. Baiklah, aku akan keluar, kalian bisa bicara,” potong Harris sambil tersenyum geli, segera beranjak dari kursinya.

Beatrice, yang baru saja tersadar dari keterkejutannya, berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Alex.

“Eh, tunggu! Aku ke sini untuk bicara dengan Anda, Tuan Bishop!” seru Beatrice, menatap Harris.

Harris sudah sampai di ambang pintu, berbalik sejenak. “Kau bisa memanggilku Harris saja. Soal pertanyaanmu tadi, dia bisa menjawabnya,” ucap Harris, menunjuk ke arah Alex dengan dagunya, sebelum akhirnya menutup pintu dan meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang mencekam.

Kini, Beatrice ditinggalkan berdua dengan Alexander Thorne, pria dari masa lalunya yang terlupakan sekaligus donatur misterius adiknya.

1
Danella Juanitha
maaf yah sebelumnya karena ini ada miripnya di aplikasi sebelah dan itu sepertinya aku baca sekitar 2 atau 3 tahun lalu, aku bukan mau bilang otornya gimana, aku cuma mengatakan bahwa cerita ini hampir mirip seperti yg pernah aku baca di aplikasi sebelah, maaf yah otor jgn tersinggung 🙏🙏🙏
Danella Juanitha: iya otor ceritanya kurang lebih sama walaupun ada bedanya walaupun beberapa tapi lebih banyak samanya sih menurutku sejauh ini, maaf yah otor bukan mau meruntuhkan mental atau bagaimana, aku gak maksud apa tapi siapa tau selanjutnya akan lain atau otor memang pernah nulis cerita di aplikasi sebelah f***o, soalnya aku tuh tim suka baca tapi jarang tau penulis nya🤭🤭🤣
total 2 replies
Tiara Pratiwi
lupa ngasih keterangan foto terakhir ya, yg rambut agak keriting Colton, yg rambut klimis Alex
jgn lupa subscribe, like, komen, kasih rating dan gift, gift yg free jg gpp nonton iklan aja bentar 🤣
Tiara Pratiwi
Jangan lupa subscribe, like, komen, dan share ya 😍🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!