Seyna Darma, gadis yang dianggap bodoh karena trauma kematian kedua orang tuanya, hidup dalam siksaan paman dan bibi yang kejam.
Namun di balik tatapannya yang kosong, tersimpan dendam yang membara.
Hingga suatu hari ia bertemu Kael Adikara, mafia kejam yang ditakuti banyak orang.
Seyna mendekatinya bukan karena cinta, tapi karena satu tujuan yaitu menghancurkan keluarga Darma dan membalas kematian orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 LUKA
Reni dan Dirga menatap Seyna dengan ekspresi campur aduk. Wajah Seyna begitu polos dan lugu, tidak menunjukkan sedikit pun tanda kalau baru saja menakuti Alisha.
"Eh… Seyna, diajak ke mana maksudnya?" tanya Reni dengan nada hati-hati.
Seyna berhenti di depan mereka, matanya membulat polos.
"Tadi Kak Alisha bilang mau pergi dengan pameran, masa Seyna nggak diajak lagi?" tanyanya polos sambil menatap Dirga dan Reni bergantian.
Raihan menahan tawa, menepuk dahinya.
"Lihat, Lis. Ini yang kamu takuti, yang katanya dia mau bunuh kamu, gadis bodoh ini yang ada bawa permen bukan gunting. Ada ada saja kamu ini."
"Siapa yang bawa gunting?"tanya Seyna bingung.
"Itu kata Alisha kamu bawa gunting," ucap Raihan sambil mencoba untuk menghentikan tawanya.
"Seyna ga punya gunting, Seyna ga suka gunting. Seyna punya permen saja," ucap Seyna sambil bingung.
Alisha yang duduk di sofa gemetaran, hanya bisa menatap Seyna dengan mata melebar. Mulutnya ingin bicara, tapi tak ada suara yang keluar. Setiap kali ia melihat senyum polos itu, ia kembali teringat tatapan gila dan gunting di tangan Seyna tadi di kamarnya.
Seyna lalu menatap Alisha sambil tersenyum manis.
"Kak Alisha, kenapa wajahmu pucat? Kakak takut? Seyna nggak jahat kok, Seyna cuma mau main…"
Nada lembutnya justru terdengar seperti ejekan terselubung. Reni yang peka terhadap perubahan ekspresi Alisha segera menggenggam tangan putrinya itu.
"Sudah lah kamu ini kebanyakan nonton drama korea yang psikopat jadi berhalusinasi," ucap Reni.
"Tapi ma..aku berkata jujur," ucap Seyna sambil memakan permennya.
Suasana diruangan itu hening sejenak, Reni masih mencoba menenangkan Alisha. Sedangkan Seyna masih fokus dengan permen ditangannya dan sesekali tersenyum sinis saat Alisha menoleh. Hingga tiba tiba dua orang pria datang masuk ke dalam rumah itu.
"Apakah kalian sudah mau berangkat?" tanya Amar sambil menyalami Dirga dan Reni.
Sedangkan di belakang Amar ada Kael yang langsung berdiri di samping Seyna.
"Sebentar lagi kitaa berangkat, tinggal nunggu Alisha saja," ucap Dirga yang meminta untuk Amar duduk di sebelah Alisha.
Alisha yang melihat Amar segera memeluknya, mencoba mencari ketenangan di dalam pelukan tunangannya itu.
"Tuan Kael, silahkan duduk jangan berdiri," pinta Dirga.
Kael hanya menatap Dirga datar lalu segera mengajak Seyna untuk ikutan duduk, tetappi Seyna menggeleng dan berkata pelan hanya bisa di dengar oleh Kael.
"Kakak..Seyna ga boleh duduk kalau belum diminta sama paman atau bibi," ucapnya polos.
Mendengar ucapan dari gadis itu, entah kenapa Kael merasa kesal. Ia merasa bahwa Seyna mungkin diperlakukan tidak adil oleh keluarga ini.
"Sudah tidak apa apa, tidak ada yang bisa melarangku dan aku akan membelamu," ucap Kael lembut lalu segera menarik tangan Seyna untuk duduk disebelahnya.
Sebelum Seyna duduk, tiba tiba Alisha berdiri dan mengajak semuanya untuk pergi menuju ke pameran lukisannya.
"Ayo semuanya, aku udah tenangan kita langsung ke pameran aja," ajak Alisha sambil menarik tangan Amar lalu menatap sekilas ke arah Seyna.
Seyna yang ditatap hanya menunjukan ekspresi datar dan segera berjalan mengikuti langkah semua orang menuju keluar ruangan. Saat sampai di parkiran, Seyna tiba tiba ditarik dengan kasar oleh Reni untuk segera masuk ke dalam mobil mereka.
"Tante aku mau ikut kakak ini," ucap Seyna sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Reni dari tangannya.
Reni tidak peduli dengan Seyna yang berontak dan malah memperkuat genggaman tangan Seyna hingga Seyna merintih kesakitan.
"Kakak...tolong Seyna," ucap Seyna sambil menggengam tangan Kael.
Kael yang melihat wajah Seyna kesakitan segera mendorong tubuh Reni agar melepas genggaman tangannya dari tangan Seyna.
"Seyna biar sama saya aja," ucap Kael datar tanpa menunggu jawaban segera menggenggam tangan Seyna untuk menuju ke arah mobilnya.
Sedangkan Reni dan Dirga hanya saling berpandangan, mereka takut jika Kael melihat luka luka ditubuh Seyna.
"Bagaimana ini?" gumam Reni sambil menatap suaminya itu.
"Sudah lah, nanti kalau sudah dirumah kita kasih pelajaran agar dia selalu nurut sama kita," ucap Dirga lalu segera mengajak istrinya untuk masuk mobil dan berangkat menuju ke pameran itu.
Seyna duduk manis di kursi penumpang, matanya hanya menatap kosong ke arah luar jendela mobil. Suara deru mesin dan semilir angin yang masuk lewat celah kaca membuat suasana di dalam mobil itu terasa sunyi dan dingin. Kael, yang duduk di sampingnya, sejak tadi hanya fokus pada tab di tangannya, mencoba menahan rasa penasarannya terhadap gadis di sebelahnya itu.
Namun, dalam diam itu, Seyna tiba-tiba merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebungkus permen berwarna pastel. Tangannya yang kecil dan halus tampak bergetar sedikit saat berusaha membuka bungkus plastik itu, tapi permen itu terlalu keras dibuka. Ia mencoba menggigit ujung bungkusnya, lalu tertawa kecil karena gagal.
Kael, yang dari ekor matanya memperhatikan gerak-gerik gadis itu, mendengus pelan. Ia menutup tab nya dan menoleh sedikit, menatap Seyna yang tampak kebingungan dengan bungkus permen yang belum juga terbuka.
"Berikan ke sini," ucap Kael datar.
Seyna menatapnya dengan mata bulat, ragu untuk menyerahkan bungkus itu. Tapi saat Kael meraih tangannya, matanya langsung menangkap sesuatu yang membuat ia sangat terkejut sebuah lebam ungu kebiruan di sekitar pergelangan tangan Seyna.
Alis Kael seketika berkerut. Tangannya yang semula hanya berniat mengambil bungkus permen, kini malah menahan jemari Seyna dengan lembut.
"Seyna…" ucapnya pelan.
"Dari mana kau dapat luka ini?"
Seyna spontan menarik tangannya cepat-cepat, lalu memeluk tasnya erat-erat, seperti anak kecil yang menyembunyikan sesuatu.
"Gak… gak apa-apa, Kak," jawabnya dengan nada pelan.
Kael menatapnya tajam ke arah Seyna.
"Tidak apa-apa bagaimana? Ini jelas lebam parah, Seyna. Siapa yang melakukannya?"
Seyna menunduk. Bibirnya bergetar, tapi tidak ada kata yang keluar. Kael semakin heran ia bukan tipe orang yang mencampuri urusan orang lain, tapi entah kenapa, melihat gadis itu menyembunyikan luka-luka seperti itu membuat dadanya terasa sesak.
Ia menarik napas panjang, mencondongkan tubuhnya sedikit mendekat ke arah gadis itu.
"Katakan saja padaku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi."
Seyna masih diam. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia tidak menangis. Ia hanya menatap tangan Kael yang tadi menyentuh pergelangannya, lalu perlahan berkata pelan begitu pelan sampai Kael harus menajamkan pendengarannya.
"Bibi Reni… bilang… Seyna gak boleh cerita ke siapa-siapa…"
Suara itu seperti pisau yang menggores halus dada Kael. Seketika, pikirannya langsung berputar cepat. Ia mengingat kembali sikap Reni yang tadi menarik Seyna dengan kasar, juga cara keluarga itu memperlakukan Seyna seolah ia beban yang harus disembunyikan.
"Ada yang salah. Sangat salah," gumam Kael.
Kael mengepalkan tangannya di pangkuan, matanya menatap lurus ke depan dengan ekspresi dingin yang berubah menjadi tajam.
"Kalau begitu, aku akan cari tahu sendiri," gumamnya rendah, hampir seperti janji yang keluar dari mulutnya yang terkatup rapat.
Seyna menatapnya dengan bingung.
"Kakak marah ya?" tanyanya polos, lalu memiringkan kepalanya sambil menatap ke arah Kael.
....
MOHON DUKUNGANNYA JANGAN LUPA VOTE,LIKE,KOMEN SEBANYAK BANYAKNYA TERIMAKASIHH
Jangan lupa follow buat tau kalau ada cerita baru dari othorrr!!