Raska adalah siswa paling tampan sekaligus pangeran sekolah yang disukai banyak gadis. Tapi bagi Elvara, gadis gendut yang cuek dan hanya fokus belajar, Raska bukan siapa-siapa. Justru karena sikap Elvara itu, teman-teman Raska meledek bahwa “gelar pangeran sekolah” miliknya tidak berarti apa-apa jika masih ada satu siswi yang tidak mengaguminya. Raska terjebak taruhan: ia harus membuat Elvara jatuh hati.
Awalnya semua terasa hanya permainan, sampai perhatian Raska pada Elvara berubah menjadi nyata. Saat Elvara diledek sebagai “putri kodok”, Raska berdiri membelanya.
Namun di malam kelulusan, sebuah insiden yang dipicu adik tiri Raska mengubah segalanya. Raska dan Elvara kehilangan kendali, dan hubungan itu meninggalkan luka yang tidak pernah mereka inginkan.
Bagaimana hubungan mereka setelah malam itu?
Yuk, ikuti ceritanya! Happy reading! 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Nembak
Elvara menatap Raska sesaat. Tak ada rona malu. Tak ada panik. Hanya alis yang terangkat tipis.
"Lo aneh," katanya akhirnya, datar seperti biasa.
Raska tersenyum tipis. Hampir tak terlihat.
Dan trio komentator tahu satu hal pasti saat itu-
Ini bukan sekadar belajar bareng lagi. Bukan pula soal taruhan.
Bella mengepalkan tangannya sampai buku-bukunya bergetar. Dadanya naik turun, panas menjalar ke wajahnya.
"Bagaimana bisa...Raska yang dingin, yang nyaris tak pernah menyentuh siapa pun, melakukan itu?"
Tatapan itu. Gerakan itu.
Ia menatap Elvara, gadis yang seharusnya tidak layak diperhitungkan.
Dan untuk pertama kalinya, Bella merasakan sesuatu yang asing dan pahit.
Takut. Takut kalah.
Dan di bawah pohon itu, belajar masih berlanjut.
Tapi garis tak kasatmata sudah bergeser.
---
Roy dan Bian masih berdiri di balik deretan pohon flamboyan, cukup jauh untuk tak terdengar, tapi cukup dekat untuk melihat dengan jelas.
Tatapan mereka terkunci pada satu titik.
Raska. Dan Elvara.
Bian menyipitkan mata, seolah memastikan apa yang baru saja ia lihat itu nyata.
“Bro…” suaranya turun setengah oktaf, nyaris berbisik.
“Lo masih yakin Gasekil gak bakal takluk sama abang lo?”
Roy tak langsung menjawab.
Ia berdiri santai, tangan di saku celana, bahu rileks. Tapi kalau diperhatikan lebih teliti, rahangnya mengeras. Senyumnya tipis, terlalu terkontrol.
Pandangan Roy mengikuti arah mata Bian. Raska yang masih terlalu dekat. Elvara yang duduk tanpa menjauh.
Dan momen barusan, yang terlalu… intim untuk sekadar belajar.
Roy akhirnya tersenyum kecil. “Lo lihat ekspresi Gasekil?” katanya ringan. “Dia gak baper. Sama sekali.”
Bian mendengus, sudut bibirnya terangkat geli. “Justru itu.”
Ia mencondongkan badan sedikit ke depan. “Lo tahu sendiri, Gasekil paling jago pasang muka datar. Itu senjatanya.”
Bian melirik Roy. “Lo yakin… hatinya gak bergetar?”
Untuk sepersekian detik, hanya sepersekian, mata Roy berkilat.
Bukan marah. Bukan takut. Tapi sesuatu yang lebih berbahaya: ragu yang ditekan dalam-dalam.
Namun Roy tertawa pendek, nyaris meremehkan.
“Humph…
Waktunya udah dekat.”
Ia menatap jam di pergelangan tangannya, lalu kembali ke arah Raska. “Dan sampai sekarang,” lanjutnya dengan nada yakin, “Gasekil belum pernah nunjukin dia suka.”
Bian mengangguk pelan, lalu menoleh serius. “Taruhan ini… Sampai kapan pastinya?”
Roy menjawab tanpa berpikir lama. “Sampai terima ijazah.”
Nada suaranya mantap. Terlalu mantap. Padahal di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang mulai merayap perlahan di dadanya, rasa tidak nyaman yang tak mau ia akui.
Karena untuk pertama kalinya… yang ia lihat barusan tidak sepenuhnya sesuai perhitungannya.
Dan Roy benci satu hal itu:
Ketika situasi mulai keluar dari kendali.
***
Elvara merebahkan tubuhnya di ranjang, menatap langit-langit kamar yang temaram. Bahunya terasa berat, bukan hanya karena seharian belajar, tapi karena pikirannya tak juga berhenti berputar.
Getaran pendek di nakas membuatnya menoleh. Ponselnya. Nama itu muncul di layar.
Raska 💬
Gue mau bicara. Penting. Bisa kita ketemu di taman kota?
Elvara tak langsung membalas. Ia menatap layar beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, lalu duduk setengah bangkit. Jempolnya mengetik singkat.
Elvara 💬
Oke. Di mana?
Balasan Raska datang cepat, lokasi dan waktu. Spesifik. Tegas. Seperti dirinya.
Elvara meletakkan ponsel kembali ke nakas dan menghembuskan napas panjang. Dadanya naik turun pelan. Bayangan siang tadi menyusup tanpa permisi.
Tangan Raska yang mengusap sudut bibirnya. Tatapan itu, tegang, fokus, terlalu serius untuk sesuatu yang sepele.
Dan lebih dari itu… wajah Raska saat ia sadar di tepi kolam.
Ketakutan yang telanjangg. Bukan panik biasa. Bukan reaksi orang yang sekadar khawatir. Itu ketakutan, orang yang takut kehilangan.
Elvara menutup mata sesaat.
"Aku lihat ketulusan di matanya," batinnya pelan. "Dan kejujuran."
Tapi keningnya kembali berkerut.
"Tapi itu bukan cinta… 'kan?"
Ia terlalu rasional untuk melompat pada kesimpulan semudah itu. Reaksi seperti itu tidak lahir dari ketertarikan biasa.
Elvara membuka mata, menatap langit-langit lagi. Potongan-potongan kecil mulai tersusun rapi di kepalanya, seperti soal logika yang akhirnya menemukan pola.
Raska tidak mudah dekat dengan siapa pun. Lingkarannya kecil. Ia menjaga jarak.
Dan yang bisa menembusnya hanya tiga cowok absurd itu… dan dirinya. Dan anehnya, mereka semua sama. Tidak caper. Tidak drama. Apa adanya.
"Kenapa?"
Elvara menggigit bibir bawahnya pelan.
"Mungkin karena orang-orang kayak kami… gak menuntut apa-apa darinya."
Satu kemungkinan muncul. Pelan, tapi mengusik.
"Apa dia punya trauma?"
Dadanya terasa sedikit sesak. Dan jika itu benar—
"Apa aku jadi pemicunya?"
Elvara menoleh ke arah ponsel di nakas. Pertemuan di taman kota nanti jelas bukan sekadar obrolan biasa.
Ia menarik napas dalam-dalam. Apa pun yang akan Raska katakan nanti…
Elvara tahu satu hal. Ia siap mendengarkan.
***
Sore di taman kota terasa tenang, hampir menipu. Elvara melihat Raska lebih dulu.
Pemuda itu duduk di bangku panjang di bawah pohon flamboyan, punggung tegak, tangan bertaut di pangkuan.
Ketika mata mereka bertemu, Raska tersenyum. Bukan senyum pangeran sekolah yang bisa dilihat semua orang. Senyum kecil, canggung, seolah ia sendiri tak yakin pantas memakainya.
Elvara mendekat. Tas disampirkan di bahu, langkahnya santai. “Lama nunggu?” tanyanya datar.
“Baru aja,” jawab Raska cepat, lalu menepuk sisi bangku.
Elvara duduk, menyisakan jarak wajar di antara mereka. Hening sejenak. Angin menggerakkan daun. Suara anak-anak kecil berlarian samar di kejauhan.
Elvara menghela napas pendek. “Lo bilang penting. Langsung aja.”
Raska menelan ludah. Untuk pertama kalinya, ia terlihat ragu. Bukan ragu soal jawaban, tapi ragu soal keberanian.
“Gue suka sama lo, Vara.”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa bunga. Tanpa pengantar.
Hening.
Elvara menoleh. Bibirnya melengkung sedikit, senyum tipis yang nyaris tak pernah ia berikan pada siapa pun. Senyum yang membuat Raska terdiam, jantungnya berdetak terlalu cepat.
“Lo serius?” tanya Elvara ringan. “Atau mata lo lagi rabun? Salah minum obat?”
Raska mengernyit. “Gue serius.”
Elvara bersandar ke bangku, menatap langit sesaat. “Raska… lo pangeran kampus. Dari keluarga berada. Banyak yang ngejar lo. Sementara gue?”
Ia menoleh lagi. “Cuma anak biasa. Otak encer, rangking satu, badan obesitas. Gak masuk akal lo suka gue.”
“Gue gak nyari yang masuk akal,” potong Raska pelan. “Gue nyari yang bikin gue nyaman.”
Nada suaranya tenang, tapi ada sesuatu di baliknya, kejujuran yang nyaris mentah.
“Gue suka lo apa adanya.”
Elvara menatapnya lama. Terlalu lama. Seolah sedang menguji, bukan kata-katanya, tapi dirinya sendiri.
Lalu ia menggeleng pelan. “Kita jangan bahas ini sekarang,” katanya akhirnya. “Fokus ujian dulu. Biar lo juga bisa ngerti perasaan lo sendiri.”
Kata-kata itu membuat dada Raska terasa turun. Wajahnya tak berubah, tapi matanya kehilangan sedikit cahaya, seperti seseorang yang baru sadar, kenyataan tak semudah bayangan.
Elvara bukan gadis yang akan tersipu, memerah, lalu berkata iya hanya karena ditembak pangeran sekolah.
Ia terlalu sadar. Terlalu cerdas. Terlalu tenang.
Raska menarik napas. “Jadi… kita tetap kayak biasa?”
Elvara berdiri. Menghadapi Raska, wajahnya datar, tapi sorot matanya serius.
“Iya,” katanya. “Tapi tolong satu hal.”
Raska ikut berdiri. “Apa?”
“Jangan berubah karena lo barusan nembak gue.” Suaranya datar, tapi ada nada permohonan yang tipis, hampir tak terdengar.
“Gue gak butuh perlakuan aneh. Gak butuh drama.”
Raska mengangguk cepat. “Gue janji.”
Elvara menatapnya beberapa detik, memastikan. Lalu ia mengangguk kecil. “Gue juga gak bakal berubah,” katanya. “Selama ini gak terlalu ganggu gue.”
Ia berbalik pergi.
Raska tetap berdiri di sana, menatap punggungnya menjauh. Ada lega yang tak utuh di dadanya, dan perasaan lain yang lebih berat, lebih dalam.
Karena untuk pertama kalinya, ia sadar. Elvara bukan hanya gadis yang ia suka.
Ia adalah seseorang yang tak bisa ia taklukkan dengan perasaan setengah-setengah.
...🌸❤️🌸...
To be continued
makasih kan nana atas karya-karya lanjut ke sesok 2...💪💪💪