Anna tanpa sengaja menghabiskan malam panas dengan mantan suaminya, Liam. Akibat pil pe-rang-sang membuatnya menghabiskan malam bersama dengan Liam setelah satu tahun mereka bercerai. Anna menganggap jika semua hanya kecelakaan saja begitu pula Liam mencoba menganggap hal yang sama.
Tapi, semua itu hilang disaat mendapati fakta jika Anna hamil setelah satu bulan berlalu. Liam sangat yakin jika anak yang dikandung oleh Anna adalah darah dagingnya. Hingga memaksa untuk menanggung jawabi benih tersebut meskipun Anna sendiri enggan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haasaanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Dan kini Anna sudah berada di ruangan rawat inap kelas tinggi, yang mana semua serba privasi. Liam juga memastikan jika Anna selalu nyaman tanpa ada gangguan siapapun, sengaja mencari ruangan terbaik untuk Anna. Ruangan yang cukup luas hanya ada Anna sendiri di ruangan tersebut, tidak ada satupun orang yang menemani.
Berulang-ulang kali Anna terus membuang napas secara kasar, ia merasa sedikit sebal dengan semua takdir buruk yang terjadi. Tidak ada satupun hal yang memihak Anna, ditambah karena malam panas itu membuat dirinya semakin terikat dengan Liam. Seseorang yang seharusnya Anna hindari sepanjang hidupnya bukan malah semakin terikat seperti ini.
Tiba-tiba saja Anna teringat dengan Nora, pastinya sahabatnya itu sudah menunggu di Boutique. Pandangan mata Anna tertuju pada ponselnya tergeletak di nakas dekat tiang infus, ia meraih ponsel tersebut untuk menghubungi satu-satunya sahabat yang Anna miliki.
"Tapi, tunggu... Apa yang akan aku katakan pada Nora? aku hamil anak mantan suami begitu?"
Justru Anna merasa hal itu sangat memalukan, pastinya Nora akan terus menertawakan dirinya. Mengingat selama ini kehamilan ini yang ditakutkan oleh Nora, karena hubungan satu malam itu. Tapi, tidak mengabari sahabatnya itu malah membuat keadaan semakin kacau. Pada akhirnya Anna memilih untuk mengirim pesan singkat saja dimana lokasinya.
"Aku akan mengatakan semuanya secara langsung saja.." Anna meletakkan ponselnya kembali setelah berhasil mengirim pesan.
"Permisi, Nona.." Seorang perawat memasuki ruangan dengan membawa berbagai barang-barang yang sangat banyak.
"Apa yang Anda bawa, Sus?" Anna sampai terpelongo, padahal menginap hanya dua hari saja untuk memulihkan tenaga tapi kenapa barang-barang itu seolah mau menginap selamanya.
"Barang-barang anda selama menginap, Tuan Liam yang menyuruh kami untuk membawanya, Nona." Jelas perawat tersebut, setelah memastikan semuanya dalam keadaan aman dan sesuai keinginan seorang Liam maka perawat tersebut langsung pergi.
Sementara Anna masih duduk ternganga melihat semua barang-barang tersebut tergeletak di sofa. Terlalu berlebihan menurut Anna, dan apa semua isi dari tas tas besar itu. Anna turun dari bed pasien, membawa tiang infus setiap langkahnya.
"Astaga, dia kira menginap sampai satu tahun apa gimana? Liam benar-benar tidak pernah berubah sedari dulu, selalu berlebihan." Anna terus mengeluh dengan sikap Liam kali ini.
Ternyata berbagai makanan manis dan pakaian ganti, hanya itu saja tapi dalam jumlah yang cukup banyak dan tentunya berlebihan. Padahal Anna tidak bisa makan apapun karena terus mual, tapi melihat buah Strawberry ada di salah satu tas tersebut membuat perut Anna terasa lapar.
"Aku mau itu.." Tangan Anna ingin meraih buah tersebut, tapi disaat ingin menyentuh mala mendengar seseorang yang masuk.
"Jangan bereskan semua itu, An.. istirahat saja, kau tidak boleh lelah." Liam berjalan cepat menuju Anna seolah sangat khawatir Anna merapikan semua barang-barang yang ada.
"Aku bukan mau merapikan barang itu, tapi mau ambil strawberry." Anna cemberut disaat Liam memaksanya untuk duduk disofa, sedikit kesal karena Liam ternyata cukup berlebihan.
Liam mengambil buah Strawberry itu, ia sengaja membeli banyak tadi karna sedikit ingat jika Anna menyukai buah tersebut.
"Aku cuci dulu.." Liam pergi menuju toilet, Anna menunggu dengan penuh tidak sabar jadinya. Rasa masam dan manis telah ia bayangkan, Anna sudah sangat tidak sabar sebenarnya.
Tidak berapa lama Liam datang dengan membawa Strawberry yang sudah bersih dan terjamin untuk Anna makan. Memberikan semuanya kepada Anna yang menatap buah tersebut penuh kelaparan.
"Bagaimana, kau bisa memutuskan semuanya?" Tanya Liam yang kini berdiri berhadapan dengan Anna.
Anna mendongak sedikit untuk menatap pria jangkung di hadapannya, mencoba mengabaikan dengan fokus pada buah Strawberry di tangannya.
"An, aku ingin tahu apa jawabanmu.."
"Tentu saja aku harus mempertahankan anakmu ini, karna itu yang kau inginkan. Memangnya ada pilihan lain yang bisa aku ambil?" Tanya Anna balik, seolah memang mempertahankan adalah pilihan yang mau tidak mau harus Anna ambil.
Liam menghela napas panjang saja, ia berbalik badan tidak mau menatap Anna yang kesal. Banyak hal yang dipikirkan oleh Liam saat ini, tentang apa yang akan terjadi seterusnya.
"Hanya saja.." Tangan Anna terus membolak-balikan Strawberry tersebut, menahan kesedihannya. "Rahasiakan semua ini dari Keluargamu, sampai anakmu lahir. Setelah itu aku akan menghilang dari kalian berdua, terserah kau mau mengatakan apa kepada orang tuamu."
Tubuh Liam sedikit terperanjat dengan syarat yang dikatakan Anna, tapi ia tidak mampu menyangkalnya. "Kalau kau bisa janji hal itu padaku, maka aku akan melahirkan anak itu untukmu." Ucap Anna lagi, itulah yang sangat ia inginkan untuk keamanan hidupnya sendiri.
Liam sedikit melirik Anna yang berada di belakangnya meskipun tidak berbalik badan.
"Baiklah, persyaratan itu aku terima. Dan ada satu hal lagi, An.."
"Apa?" Anna sudah menduga inilah intinya, Liam tidak pernah mau melakukan sesuatu hal setengah-setengah.
Liam berbalik badan hingga kini saling tatap dengan Anna, buah yang susah payah Liam cuci tadi hanya tinggal beberapa saja karena Anna sangat lahap memakannya.
"Kita akan menikah lagi, agar anakku lahir dalam sebuah hubungan yang sah."
Tanpa ragu Anna mengangguk setuju, memangnya apa lagi alasan untuk menolak. Hanya 9 bulan Anna mengandung anak mantan suaminya itu, setelah itu akan terlepas dari semua beban yang ada. Apapun persyaratan selama 9 bulan dari Liam pastinya akan Anna setujui.
"Lakukan saja apa yang terbaik untuk anakmu ini, yang terpenting aku tidak menginginkan dia sama sekali." Jawaban Anna cukup menyakitkan bagi Liam.
Liam menghela napas saja, ia berlalu kembali merapikan barang-barang yang ia bawa tadi khusus untuk Anna. Sementara Anna asyik makan berbagai buah yang Liam bawa, sebelum makan yang berat berat nanti.
Pandangan mata Anna sesekali tertuju pada liam, pria itu sangat telaten mengurus semuanya. Tiba-tiba Anna teringat dengan wanita yang bersama dengan Liam siang tadi. Apa yang terjadi jika kekasih Liam itu tahu semuanya. Pastinya tidak akan pernah mengampuni Anna, atau bahkan membunuh Anna pada saat itu juga.
"Aku ingin bertanya sesuatu hal padamu," Ucap Anna dengan penuh hati-hati, ini masalah privasi Anna takut menganggu. Karena Liam menatapnya sangat serius membuat Anna menjadi ragu untuk bertanya. "Sadarlah, An. Kau tidak mau diganggu mengenai privasi maka seharusnya Liam juga menerapkan aturan yang sama." Gumam Anna di dalam hati.
"Bertanya apa?"
Anna bingung mau menjawab malah ada seseorang yang terus mengetuk pintu ruangan. Sudah pasti orang tersebut adalah Nora, dewa penyelamat Anna telah datang.
"Siapa?" Liam bangkit untuk membuka pintu, padahal ia berharap tidak ada satupun orang yang menganggu malam ini.