Maharaya, sosok gadis yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya.
Tiap hari dia diharuskan mengalah pada Mira, adiknya. Hanya karena statusnya sebagai seorang kakak.
Bahkan ketika kekasihnya direbut oleh Mira dia tetap diam.
Arga, adalah pria yang telah dicampakkan oleh Mira, karena profesinya yang hanya seorang tukang ojek online. Arga mendekati Maharaya, dan keduanya pun menjalin hubungan.
Akan tetapi tanpa di sadarinya dia memiliki satu
rahasia yang bahkan dia sendiri pun tidak mengetahuinya. Dan tanpa diketahui siapapun, ternyata Arga juga menyimpan satu rahasia.
Rahasia apa yang sebenarnya dimiliki oleh MAHARAYA dan Arga. Dan apakah akhirnya keduanya benar-benar bersatu. Bagaimana reaksi Mira ketika rahasia mereka akhirnya terungkap?
Ikuti kelanjutan kisahnya dalam
Hanya Karena Aku Anak Pertama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apapun Milikmu Pasti Jadi Millikku
POV Mira
Namaku Mira, wajahku cantik, kulitku sawo matang, rambutku lurus hitam tergerai, badanku tinggi semampai.
Aku punya seorang kakak bernama Maharaya. Dulunya... waktu aku masih kecil, aku sangat menyayangi kakakku. Itu karena kakakku juga sangat menyayangiku. Kakak selalu mengalah padaku, kakak selalu memberikan apapun yang aku minta, apalagi memang Ibu lebih mengutamakan aku daripada kakakku. Karena menurut Ibu, seorang kakak memang selayaknya harus mengalah pada adiknya.
Tapi seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia kami, dan kini kami menginjak dewasa, aku mulai merasa tidak menyukai kakakku. Sebenarnya bukan karena tidak menyukai, hanya saja aku selalu merasa iri dengan kakakku.
Ibu memang lebih menyayangiku, tapi Ayah lebih menyayangi kakakku. Entah kenapa aku merasa ada perbedaan antara aku dan kakakku. Kulitku sawo matang, tapi kenapa kulit kakakku berwarna putih bersih? Bukankah kami lahir dari rahim yang sama? Rambutku berwarna hitam, kenapa rambut kakakku berwarna agak pirang? Hingga terkadang aku merasa bahwa dia bukan kakakku.
Apalagi jika aku melihat warna matanya, dia sama sekali tidak tampak seperti saudaraku. Bahkan dia tampak seperti seorang bule yang nyasar di kampung. Dan kecantikan kakakku itu semakin hari semakin bertambah, padahal dia tidak pernah melakukan perawatan di salon, ataupun menggunakan produk kecantikan apapun. Tinggi badan kakak juga lebih tinggi dariku.
Ya, walaupun memang selayaknya seorang kakak lebih tinggi dari adiknya, tapi tetap saja aku merasa tidak terima.
Apalagi semenjak kakak duduk di bangku SMA, kecerdasan kakak di atas rata-rata. Aku selalu saja kalah. Usia kakak yang lebih tua 2 tahun dariku, kakak duduk di bangku kelas 3 dan aku duduk di bangku kelas 1.
Hari itu adalah hari penerimaan rapor semester kedua. Seperti biasanya, kakak selalu mendapatkan ranking pertama, sedangkan aku yang saat ini masih di kelas 1, aku mendapatkan ranking ke-12. Sangat jauh sekali perbedaan di antara kami. Banyak sekali teman-teman laki-laki kakak yang memberikan ucapan selamat, sedangkan temanku satupun tak ada memberikan ucapan selamat. Jangankan memberikan ucapan selamat, mendekat padaku saja pun tidak.
Memangnya ucapan selamat seperti apa yang aku harapkan, karena memang nilai aku jauh dari kata ranking.
Rasa iriku pada kakak lebih meledak lagi ketika kami sampai di rumah.
Ayah membandingkan prestasiku dengan prestasi kakak sewaktu masih duduk di kelas 1. Memang sejak masih kelas 1, kakak selalu ranking, bahkan itu terjadi sejak kakak masih duduk di bangku SD. Nilaiku dan nilai kakak selalu sekali jauh berbeda.
"Sebenarnya apa yang tiap hari kau pelajari, Mira? Bapak dan Ibu sudah memberikan semuanya padamu, mendahulukan kamu daripada kakakmu, tapi kau kenapa tidak sedikit pun bisa membanggakan kami...!" ucap Bapak. Pada waktu itu aku hanya bisa menangis tergugu di pelukan Ibu.
Apa yang diucapkan Bapak tadi memang benar, bahwa aku memang selalu didahulukan. Aku memiliki tas baru, kakak hanya memakai tas bekas ku. Aku mempunyai laptop untuk belajar, sedangkan kakakku setiap hari harus pergi ke warnet, karena aku tak mau meminjamkan laptopku padanya. Tapi memangnya apa yang bisa aku lakukan? Aku sudah belajar semampu yang aku bisa, tapi nilaiku tetap saja seperti itu. Ini bukan kemauanku.
Sebenarnya bukan bentakan Bapak itu yang membuatku merasa iri dengan kakak. Yang lebih membuatku iri adalah, karena kakakku memiliki begitu banyak teman laki-laki. Tidak ada seorang pun laki-laki di sekolah kami yang tidak menyukai kakakku, termasuk bahkan teman lelaki yang sekelas denganku pun, tak ada yang luput membicarakan kecerdasan dan kecantikan kakakku.
Bahkan ada juga sebagian dari mereka yang membandingkan aku dengan kakakku itu. Bahkan pernah beberapa orang teman laki-laki yang mendekatiku, ternyata dia hanya ingin menitipkan salam untuk kakakku, dan itu semakin membuat rasa benciku meluap-luap.
Raya... Raya... Raya... selalu itu saja yang orang sebut. Selalu nama Raya. Aku membenci nama itu.
Maharaya. Kenapa orang tuaku memberinya nama itu? Kenapa orang tuaku memberikan nama sebagus itu untuk kakakku? Kenapa nama itu tidak diberikan padaku?
Terserah jika orang berpikir bahwa kebencianku ini tidak berdasar. Tetapi entah kenapa aku selalu saja merasa bahwa keberuntungan kakakku itu tidak terlepas dari nama itu, nama Maharaya. Bahkan terkadang aku merasa bahwa nama itu memiliki aura yang berbeda.
Dan dari situlah kebencianku terukir untuk kakak, dan dari situlah awal mulanya aku bertekad untuk mengambil dan memiliki semua yang telah menjadi milik kakak, termasuk pacar kakakku.
Pernah suatu waktu kakakku dekat dengan seorang pria. Aku merasa terbakar dengan rasa iri, karena cowok itu sangat tampan, namanya Reno. Kulihat dari penampilannya juga sepertinya dia orang yang cukup berada. Dia sering bermain ke rumah, walaupun hanya sekadar untuk mengantar pulang kakak.
Pernah suatu waktu Reno datang ke rumah, dan saat itu kakak tidak ada karena ikut dengan Bapak dan Ibu yang pergi ke tempat hajatan saudara. Hanya aku saja di rumah.
Aku menggunakan kesempatan itu untuk meraih simpati dari Reno. Aku mengatakan kalau kakakku itu memang suka sekali bepergian, dan aku tak tahu ke mana perginya.
Dan satu kebetulan yang sangat bagus, aku yang saat itu berkeringat karena kepedasan sehabis makan seblak, aku mengatakan padanya bahwa aku berkeringat karena kelelahan membereskan rumah. Dan sepertinya umpanku berhasil, dia benar-benar mempercayai ucapanku, bahkan dia tampak sangat kasihan padaku. Kami pun ngobrol banyak, aku tambahkan banyak bumbu agar semakin mantap.
Dan puncaknya adalah ketika dia hendak berpamitan pulang, aku berhasil mendapatkan kontaknya, dengan alasan agar aku bisa menghubunginya saat Kak Raya pulang. Dan sejak saat itu aku jadi sering berhubungan dengannya lewat ponsel. Aku berusaha menjatuhkan citra Kak Raya dengan mengatakan segala hal yang jelek tentangnya, yang tentu saja itu adalah hanya karya fiksiku saja. Hingga akhirnya hubungan Kak Raya dan Reno pun putus.
Aku benar-benar merasa puas saat melihat Kak Raya merasa sedih dan kecewa, saat tahu bahwa Reno memilihku. Dan lebih kecewa lagi dia ketika mengetahui memang akulah yang merayu Reno, tapi dia bisa apa selain harus mengalah, seperti semua barang miliknya yang berhasil kurebut, dan kali ini pacarnya pun juga. Dan tetap saja dia tak bisa berkutik melawan kalimat sakti dari Ibu, yang selalu mengharuskannya mengalah.
Lihatlah, Kak, tak selamanya aku kalah olehmu. Kau memang menang cantik dan cerdas, tapi aku menang akal, walau mungkin menurut orang itu adalah akal licik, aku tidak peduli. Yang aku pedulikan adalah saat ini aku menang, dan akan selalu menang. Aku akan pastikan bahwa apa pun yang kamu miliki, akan berakhir menjadi milikku.