Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2: Ko Ethan
Ko Ethan turun tanpa tergesa.
Setiap langkahnya di tangga marmer terdengar jelas, rapi, dingin, seperti ketukan palu kecil di ruang sidang. Tidak ada yang berani berbisik lagi. Bahkan perempuan yang sejak tadi paling percaya diri kini menunduk sambil merapikan map di dadanya.
Keira tetap berdiri di tempatnya.
Dari jarak beberapa meter, ia bisa melihat pria itu lebih jelas. Wajahnya tidak setajam kemarahan, tetapi lebih menakutkan karena tidak menunjukkan apa pun. Matanya menyapu aula, bukan seperti melihat manusia, melainkan seperti membaca laporan kerugian.
"Ko Ethan," sapa Bi Sari sambil menunduk.
Pria itu berhenti di depan meja seleksi. "Berapa yang lolos berkas?"
"Seratus dua belas, Ko."
"Terlalu banyak."
Hanya dua kata, tetapi beberapa pelamar langsung pucat.
Bi Sari tidak membantah. "Tes praktik akan dimulai setelah ini."
"Tidak perlu menunggu." Ethan mengambil satu map teratas, membuka sekilas, lalu menutupnya kembali. "Aku wawancara langsung."
Kali ini, kegugupan di aula berubah menjadi sesuatu yang nyaris bisa disentuh.
Keira mendengar seseorang di belakangnya menggumam lirih, "Ya Tuhan."
Ethan mengangkat wajah. "Pertanyaan pertama. Kenapa kalian datang ke Kediaman Ciu?"
Beberapa pelamar saling pandang, seakan kalimat itu perangkap yang bentuknya terlalu sederhana.
Seorang perempuan maju lebih dulu. "Saya mencintai anak-anak, Ko Ethan. Saya ingin mengabdikan kemampuan saya untuk keluarga Ciu."
Ethan tidak bereaksi. "Jawaban hafalan. Mundur."
Wajah perempuan itu langsung merah.
Pelamar kedua mencoba lebih berani. "Saya punya pengalaman tujuh tahun di keluarga ekspatriat. Saya yakin bisa memberi standar terbaik."
"Aku tidak bertanya pengalamanmu."
Perempuan itu terdiam.
Pelamar ketiga menjawab terlalu cepat, "Saya butuh pekerjaan, Ko. Gajinya besar dan saya bisa bekerja keras."
Ethan menatap Bi Sari. "Coret."
Suara pena Bi Sari di kertas terdengar halus, tetapi bagi perempuan itu seperti pintu yang ditutup.
"Ko Ethan, saya hanya jujur," protesnya lirih.
"Kami tidak membutuhkan orang yang melihat bayi keluarga ini sebagai angka di slip gaji."
Tidak ada yang berani membela.
Keira merasakan kalimat itu mengenai dirinya juga. Beberapa pelamar yang mendengar jawabannya kepada Bi Sari tadi mulai meliriknya, ada yang diam-diam tersenyum puas, seolah giliran Keira tinggal menunggu.
Pertanyaan itu berlanjut dari satu orang ke orang lain.
Yang terlalu manis dianggap palsu. Yang terlalu ambisius dianggap berbahaya. Yang terlalu takut langsung disuruh mundur. Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, separuh barisan sudah kehilangan warna dari wajahnya.
Lalu staf membawa sebuah boneka bayi latihan.
Boneka itu diletakkan di meja kecil, lengkap dengan selimut, botol kosong, dan monitor simulasi. Dari pengeras suara kecil di dalamnya, tangis bayi mendadak pecah, melengking dan berulang.
Beberapa pelamar tersentak.
"Pertanyaan kedua," kata Ethan. "Bayi menangis terus-menerus setelah minum. Suhu normal. Popok bersih. Apa yang kalian lakukan?"
Satu demi satu pelamar maju. Ada yang langsung mengangkat boneka terlalu tinggi. Ada yang menepuk punggung terlalu keras. Ada yang panik mencari dot. Ada yang sibuk menjelaskan teori tanpa menyentuh bayi sama sekali.
Ethan menonton tanpa ekspresi.
"Bayi bukan presentasi PowerPoint," ucapnya saat seorang pelamar membaca catatan dari ponsel. "Mundur."
Keira menahan napas.
Ketika gilirannya hampir tiba, ia memperhatikan boneka itu, posisi selimut, sudut kepala, dan bunyi tangis yang diputar berulang. Ini simulasi sederhana, tetapi tangan yang panik bisa membuat kesalahan yang nyata.
"Nomor seratus delapan puluh tujuh," panggil Bi Sari.
Keira maju.
Ia tidak langsung menggendong boneka. Pertama, ia mencuci tangan dengan hand sanitizer yang disediakan. Kedua, ia menyentuh bagian leher boneka seolah memeriksa suhu. Ketiga, ia mengangkatnya perlahan, menopang kepala dan punggung, lalu memiringkan tubuh kecil itu di bahunya.
Tangis simulasi masih terdengar.
"Jelaskan," kata Ethan.
"Kalau suhu normal, popok bersih, dan baru selesai minum, saya cek kemungkinan masuk angin, reflux ringan, atau bayi butuh sendawa," jawab Keira. Tangannya menepuk pelan, ritmenya terukur. "Untuk bayi di bawah enam bulan, saya tidak akan memberi air. Hanya ASI atau susu formula sesuai instruksi dokter. Saya juga tidak mengguncang dan tidak memaksa bayi diam. Tangis bukan musuh. Itu informasi."
Untuk pertama kalinya, suara tangis boneka terasa lebih kecil daripada keheningan aula.
Ethan menatap tangannya.
"Kau yakin dengan ritme itu?"
"Untuk bayi baru lahir, tekanan harus lebih ringan dari orang dewasa. Punggungnya bukan pintu yang harus diketuk keras."
Ada yang menahan tawa, tetapi cepat bungkam saat Ethan melirik.
"Cukup."
Keira meletakkan boneka kembali dengan posisi kepala aman. Ia mundur satu langkah.
Ethan tidak memuji. Namun ia juga tidak berkata mundur.
Tes berlanjut.
Pertanyaan ketiga lebih kejam.
Ethan memberi isyarat kepada seorang staf. Layar besar di sisi aula menyala, menampilkan daftar singkat hasil verifikasi. Nama beberapa pelamar muncul dengan catatan merah.
Pernah menyembunyikan riwayat penyakit menular.
Memalsukan lama pengalaman kerja.
Rekomendasi tidak valid.
Suasana langsung pecah dalam bisik tertahan.
"Yang namanya ada di layar, keluar," kata Ethan.
"Ko, itu salah paham," seorang perempuan mencoba maju. "Saya cuma lupa mencantumkan..."
"Keluar."
Satu kata itu cukup.
Satpam di dekat pintu bergerak. Tidak kasar, tetapi jelas tidak memberi ruang tawar.
Keira melihat satu demi satu pelamar meninggalkan aula. Ada yang menangis. Ada yang marah. Ada yang menatap lantai seperti semua masa depannya jatuh di sana.
Namanya tidak muncul di layar.
Namun Ethan tiba-tiba mengambil map plastik bening miliknya.
"Keira Lo."
Dada Keira mengeras. "Ya, Ko Ethan."
"Lulusan panti asuhan berbasis gereja. Tidak punya orang tua. Pernah bekerja di klinik bersalin kecil di Klaten, lalu mengambil sertifikat baby care. Tidak ada keluarga inti yang tercatat, kecuali satu saudari kembar."
Keira tidak bergerak.
Kiara.
Nama itu tidak diucapkan Ethan, tetapi rasanya tetap seperti seseorang menyentuh luka yang belum kering.
"Dalam berkas kesehatanmu, ada bekas luka bakar di tangan kanan." Ethan mengangkat matanya. "Dari mana?"
Semua tatapan kembali menempel pada Keira.
Ia bisa berbohong. Bisa bilang kecelakaan dapur, air panas, setrika. Semua alasan itu aman. Tidak ada yang peduli cukup lama untuk membuktikan.
Tapi mata Ethan terlalu dingin untuk diberi cerita yang mudah.
Keira diam tiga detik.
"Kehidupan yang meninggalkannya," jawabnya.
Beberapa orang tampak bingung. Bi Sari menoleh sedikit.
Ethan tidak.
Ia justru menatap Keira lebih lama daripada pelamar lain. Bukan iba. Bukan tertarik. Lebih seperti seseorang menemukan angka yang tidak cocok dalam laporan yang seharusnya rapi.
"Jawaban yang tidak menjawab."
"Ada hal yang tidak mengganggu pekerjaan, Ko Ethan. Jadi tidak perlu saya jual sebagai cerita sedih."
Udara kembali menipis.
Bi Sari menahan napas pelan. Staf di belakang meja berhenti menulis. Di antara puluhan orang yang tersisa, tidak ada yang berani memandang Ethan terlalu lama.
Ethan menutup map Keira.
"Sisa sepuluh orang."
Bi Sari segera membaca daftar. Nama demi nama jatuh seperti keputusan hakim. Keira mendengar nomor enam puluh dua, empat belas, sembilan puluh, seratus lima. Bukan namanya.
Jarinya meremas ujung map.
Kalau ia gagal di sini, ia harus pulang ke Sriwedari dengan uang sisa yang bahkan tidak cukup untuk satu kali konsultasi Kiara. Ia bisa mencari pekerjaan lain, tentu. Tapi pekerjaan lain tidak membayar lima puluh juta. Pekerjaan lain tidak membuka pintu rumah sakit yang selama ini hanya bisa ia lihat dari brosur.
"Nomor seratus delapan puluh tujuh."
Keira nyaris tidak bernapas.
Bi Sari meliriknya. "Keira Lo."
Beberapa pelamar langsung menoleh. Perempuan yang tadi mengejeknya tampak tidak percaya.
Keira belum sempat merasa lega ketika suara Ethan memotong udara.
"Tiga hari masa percobaan."
Ia menatap Keira, datar.
"Satu kesalahan, kau pergi sendiri ke Bi Sari untuk mengambil uang pesangon. Aku tidak mengulang kesempatan kedua."
Tidak ada ucapan selamat. Tidak ada tanda diterima.
Nada suaranya seperti sedang mengumumkan sebuah eksperimen yang sejak awal ia yakini akan gagal.