NovelToon NovelToon
Bukan Ibu Tiri Biasa

Bukan Ibu Tiri Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: Papa

"Aku antar."

Mereka memang pergi ke RS Pondok Indah setelah itu.

Namun malamnya, Ning pulang ke Menteng Enclave.

Dokter mengizinkan rawat jalan dengan syarat ketat: kaki kiri tidak boleh menapak, gips harus tetap kering, obat diminum tepat waktu, kontrol rutin, dan perawat pribadi berjaga di rumah. Kevin menerima semua instruksi seperti menerima kontrak bernilai triliunan.

Kian berdiri di samping kursi roda Ning saat mereka masuk rumah.

"Pelan," katanya untuk ketiga kalinya.

Ning menatapnya. "Kian, kursi rodanya didorong Pak Liu, bukan kamu."

"Aku cuma memastikan."

"Mama belum pecah."

"Jangan bercanda soal itu."

Ning langsung diam.

Kevin yang berjalan di belakang mereka melihat perubahan kecil itu. Kian tidak membentak. Ning juga tidak memaksa ceria. Mereka berdua sedang belajar hidup di sekitar luka yang masih baru.

Makan malam di ruang keluarga, bukan ruang makan besar. Bi Ruan menyiapkan meja rendah agar Ning bisa duduk di sofa dengan kaki ditopang bantal. Kevin memotong lauk kecil-kecil. Kian menggeser gelas supaya tidak terlalu jauh dari tangan Ning.

Setelah makan, Ning meletakkan sendok dan menatap dua laki-laki di depannya.

"Aku punya hukuman."

Kian langsung waspada. "Hukuman apa?"

Kevin menatapnya dengan tenang, tetapi mata itu jelas berkata ia siap menerima apa pun selama Ning tidak kesakitan.

"Kalian berdua bersekongkol menyembunyikan identitasku," kata Ning. "Jadi malam ini kalian tidur satu kamar."

Sendok Kian hampir jatuh.

Kevin juga diam.

"Apa?" tanya Kian.

"Tidur satu kamar. Di kamar tamu sebelah kamarku. Aku mau tahu dua orang yang pintar menyimpan rahasia bisa bertahan satu malam tanpa kabur."

"Mama."

"Tidak ada protes."

Kian menunjuk Kevin, masih canggung. "Dengan Pak Kevin?"

"Iya."

"Aku sudah enam belas tahun tidak tidur sekamar dengan dia."

"Bagus. Berarti ini pengalaman baru."

Kevin batuk kecil. "Ning, dia mungkin tidak nyaman."

Ning menatap Kevin.

"Kamu juga dihukum."

Kevin langsung diam.

Kian melihat itu dan untuk pertama kalinya sejak makan malam, sudut bibirnya bergerak sedikit.

Pukul sepuluh malam, hukuman itu benar-benar berjalan.

Kamar tamu besar di lantai dua sudah disiapkan. Ada ranjang king size, dua selimut, dua bantal tambahan, dan suasana yang begitu canggung sampai lampu tidur pun terasa ikut tidak enak.

Kian berdiri di sisi kiri ranjang.

Kevin berdiri di sisi kanan.

Mereka sama-sama melihat tempat tidur seperti melihat meja negosiasi.

"Aku bisa tidur di sofa," kata Kian.

"Ning akan tahu."

"Pak Kevin takut?"

"Aku menghormati hukuman."

Kian mendengus, tetapi akhirnya naik ke ranjang. Ia berbaring kaku, menghadap sisi luar. Kevin mematikan lampu utama, lalu berbaring di sisi lain dengan jarak hampir satu meter di antara mereka.

Gelap turun.

Lima menit berlalu.

Sepuluh menit.

"Sekolah bagaimana?" tanya Kevin.

Kian membuka mata.

"Baik."

"Tugas?"

"Ada."

"Sulit?"

"Lumayan."

Kevin diam. Lalu bertanya lagi, "Felix masih banyak bicara?"

Kian menoleh sedikit ke langit-langit. "Selalu."

"Dia tahu kamu di rumah sakit?"

"Tahu. Dia kirim voice note dua menit isinya panik sendiri."

Kevin tidak sengaja tersenyum. "Dia mirip Yenni."

"Lebih parah."

Untuk pertama kalinya, jawaban Kian tidak hanya satu kata.

Kevin menangkap celah itu, tetapi tidak menerobos terlalu cepat.

"Kamu masih main game yang kamu buat?"

"Kadang."

"Dulu Ning mengajariku main game."

Kian menoleh.

"Mama?"

"Waktu kuliah. Aku terlalu serius, dia bilang orang yang tidak bisa main game akan cepat tua."

"Dia benar."

"Aku kalah terus."

"Masuk akal."

"Dia marah?"

"Tidak. Dia tertawa."

Kevin menatap langit-langit, dan dalam gelap, ingatan itu terasa sangat dekat. Ning duduk bersila di lantai apartemen kecil mereka dulu, perut hamilnya sudah besar, controller di tangannya, rambut diikat asal. Ia memarahi Kevin karena menekan tombol terlalu kaku.

Waktu itu Kevin baru pulang dari kantor hampir tengah malam. Ia masih memakai kemeja kerja. Ning memaksanya duduk dan berkata, "Kalau anak kita nanti suka game, jangan sampai kamu kalah dari anak umur lima tahun."

"Dia bilang begitu?" tanya Kian.

"Ya."

"Terus?"

"Aku kalah dari karakter level satu."

Kian menutup mulutnya dengan selimut.

Kevin mendengar suara kecil yang hampir seperti tawa.

"Jangan tertawa."

"Aku tidak tertawa."

"Kamu tertawa."

"Sedikit."

Kevin membiarkannya.

Tawa kecil itu lebih berharga daripada semua jawaban panjang yang selama ini tidak pernah ia dapat.

Kevin menghela napas kecil. "Komentarmu tajam."

"Turunan."

Kata itu keluar begitu saja.

Kian sendiri terdiam setelah mengucapkannya. Kevin juga tidak menjawab beberapa detik.

Lalu Kevin berkata pelan, "Saat kamu empat tahun, kamu pernah mengajariku main Super Mario."

Kian mengerutkan kening. "Aku ingat samar."

"Aku pulang lewat tengah malam. Kamu menunggu di ruang keluarga, memegang controller, tapi tertidur di sofa. Bi Ruan bilang kamu menunggu sejak jam delapan."

Kian tidak bergerak.

"Hari itu kamu demam ringan," lanjut Kevin. "Aku baru tahu setelah pulang. Bi Ruan bilang kamu tetap menolak tidur di kamar karena ingin menunjukkan level baru. Aku marah pada Bi Ruan karena tidak memaksamu tidur, padahal orang yang paling pantas dimarahi adalah aku."

"Aku ingat lampu ruang keluarga."

"Kamu pakai piyama biru tua."

"Yang ada roketnya?"

"Ya."

"Aku suka itu."

"Aku tahu. Kamu menolak pakai piyama lain hampir sebulan."

Kian diam lagi, tetapi kali ini diamnya tidak tajam.

"Aku pikir kamu akan marah kalau dibangunkan. Jadi aku hanya mengambil selimut. Tapi kamu bangun setengah sadar, memaksaku duduk, lalu bilang aku harus lompat sebelum jatuh ke lubang."

"Pak Kevin jatuh terus."

"Aku tidak berbakat."

"Sangat tidak."

Kevin menatap langit-langit dalam gelap. "Malam itu kamu tertidur lagi sebelum game selesai. Saat aku menggendongmu ke kamar, kamu memeluk leherku dan memanggilku Papa."

Kamar itu mendadak sunyi.

Napas Kian terdengar lebih berat.

"Itu pertama kalinya," lanjut Kevin. "Sebelumnya kamu hanya memanggilku dengan suara bayi yang tidak jelas. Malam itu jelas sekali."

"Kenapa Pak Kevin ingat?"

"Karena setelah Ning pergi, itu salah satu dari sedikit hal yang membuatku merasa aku masih punya alasan pulang."

Kian memejamkan mata.

"Aku berhenti manggil begitu karena setiap kali aku bilang, Pak Kevin kelihatan sakit."

Kevin menoleh dalam gelap.

"Aku pikir suaraku bikin Pak Kevin ingat Mama."

Kevin tidak bisa bernapas sesaat.

"Bukan salahmu."

"Aku masih kecil. Aku gak tahu harus panggil apa. Kalau panggil Papa, Pak Kevin diam. Kalau panggil Pak Kevin, semua orang kaget, tapi Pak Kevin jawab."

Selimut di tangan Kevin tertarik makin kencang.

"Jadi aku terus pakai itu."

"Kian."

"Jangan minta maaf lagi. Nanti murah."

Kevin menutup matanya.

"Baik."

Di kamar sebelah, Ning berbaring dengan pintu penghubung tertutup tipis. Ia tidak tidur. Sejak awal ia menahan napas, mendengar percakapan yang kadang jelas, kadang tenggelam oleh suara pendingin ruangan.

Ketika Kevin menyebut kata itu, air mata Ning langsung mengalir ke bantal.

Di kamar tamu, Kian sangat lama tidak bicara.

Kevin tidak memaksanya.

Jarak satu meter di atas ranjang tetap ada, tetapi rasanya tidak sedingin tadi.

Akhirnya, suara Kian terdengar sangat pelan.

"Papa."

Kevin tidak bergerak.

Tubuhnya bahkan tampak seperti berhenti bernapas.

Dalam gelap, tangannya mencengkeram ujung selimut.

Kian menelan ludah.

Kali ini suaranya lebih kecil, tetapi lebih yakin.

"Selamat malam, Papa."

Kevin menutup mata.

Selama beberapa detik, ia tidak bisa mengeluarkan suara. Semua rapat, semua angka, semua perang keluarga yang pernah ia menangkan terasa tidak berarti dibanding dua kata itu.

"Selamat malam," jawabnya akhirnya.

Suaranya bergetar.

Kevin tidak berani berbalik. Ia takut kalau ia melihat Kian saat itu, seluruh ketenangan yang ia bangun selama enam belas tahun akan runtuh di depan anaknya.

Tangannya masih gemetar halus.

Kian tidak langsung menjawab.

Gelap membuat mereka sama-sama lebih berani. Tidak ada wajah yang harus dijaga, tidak ada mata yang harus dihindari.

"Jangan aneh besok pagi," kata Kian pelan.

Kevin menelan sesuatu yang berat di tenggorokannya. "Aneh bagaimana?"

"Jangan tiba-tiba jadi cerewet."

"Aku akan mencoba."

"Jangan cerita ke semua orang."

"Aku tidak akan."

"Mama boleh tahu."

Kevin menoleh dalam gelap.

Kian masih menghadap dinding, tetapi telinganya merah.

"Dia pasti senang."

Kevin hampir menjawab bahwa Ning mungkin sudah mendengar, tetapi ia menahan diri. Ini bukan rahasianya untuk dibongkar.

"Iya," katanya. "Dia pasti senang."

Jarak satu meter di antara mereka tetap ada. Namun tangan Kian yang tadi menggenggam selimut kini terbuka di atas kasur. Kevin melihatnya lama, lalu meletakkan tangannya sendiri di atas seprai, tidak menyentuh, hanya berada cukup dekat.

Kian tidak menarik tangannya menjauh.

Di kamar sebelah, Ning menutup mulut dengan kedua tangan agar tangisnya tidak terdengar. Dadanya sakit, tetapi kali ini sakit yang penuh.

Ia mengambil ponsel di samping bantal dengan tangan gemetar dan mengirim pesan ke Yenni.

Dia memanggil Papa.

Tiga detik kemudian, layar ponsel menyala berkali-kali.

Yenni mengirim deretan stiker menangis, lalu satu pesan suara pendek yang sengaja Ning tidak putar karena pasti berisik.

Pesan teks menyusul.

Aku sekarang juga mau ke sana dan peluk kalian semua.

Ning menatap layar itu sambil menangis tanpa suara.

Di balik dinding, Kevin dan Kian tidak bicara lagi.

Tetapi untuk pertama kalinya, keheningan mereka tidak terasa seperti jarak.

1
Siti Hawa
ceritanya bagus, ku kasih Bintang 5 thoor..
Siti Hawa
lanjut thoor.. mawar untuk mu
Anbu Hasna
sementang aku juga punya pr essay Bahasa, aku disuru tunggu juga. sama kayak Kian... 🤣🤣🤣
neng ade
sukaa banget dengan interaksi keluarga kecil ini .. ❤️
neng ade
akhirnya Ning menemukan kebahagiaan nya bersama anak dan suami nya ❤️
neng ade
😭😭 selamatkan Ning
neng ade
nyesek ..🥹
neng ade
sedikit demi sedikit mulai ada titik terang
neng ade
syukurlah mereka semua nya baik-baik aja
neng ade
semoga Ning bisa selalu dekat dengan Kian dan Kevin ❤️
neng ade
semoga suatu saat nanti Kian bisa menerima kehadiran Ning
Anbu Hasna
hal yang sama yg aku ucapin tiap Mama ketemu bestinya... "setengah bulan lagi kujemput, aku mau tidur". 🤣🤣
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya
Anbu Hasna
Kian mulai ogah punya bapak kulkas
End Shara
sukaa ceritanya,beda dr yg lain...semangat k up yg banyak
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!