Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.
Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.
Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Keesokan paginya, suasana mansion megah itu terasa tenang dan elegan.
Sinar matahari pagi perlahan menyelinap di antara awan mendung sisa hujan semalam. Tetes-tetes air masih menggantung di daun tanaman yang memenuhi taman luas mansion tersebut.
Rumput hijau terlihat basah berkilau terkena cahaya pagi. Air mancur besar di tengah halaman kembali menyala pelan, menambah suasana mewah dan damai di rumah itu. Beberapa pelayan terlihat sibuk menjalankan pekerjaan masing-masing sejak pagi.
Ada yang membersihkan lantai marmer mengilap di ruang utama. Ada yang menyiapkan sarapan di dapur besar. Dan ada pula dua pelayan wanita yang berjaga di depan kamar tempat Annisa beristirahat sejak tadi malam.
Suasana rumah begitu tertata rapi. Sangat berbeda dengan rumah kecil penuh teriakan yang baru saja ditinggalkan Annisa semalam.
Di dapur utama, aroma bubur hangat mulai tercium. Salah satu koki pribadi mansion tampak sangat berhati-hati menyiapkan sarapan sesuai perintah tuannya.
“Ingat,” ujar kepala pelayan mengingatkan pelan, “Tuan bilang jangan terlalu banyak bumbu. Kondisi lambung Nona Annisa sedang buruk.”
“Baik.”
Semua orang bekerja dengan penuh hati-hati. Karena seluruh mansion tahu, wanita yang berada di lantai atas itu sangat penting bagi tuan mereka. Sementara itu di lantai dua, pintu ruang kerja perlahan terbuka. Emran Richard keluar dengan pakaian rapi dan wajah tenang seperti biasa.
Namun, matanya terlihat sedikit lelah. Semalaman pria itu hampir tidak tidur. Tatapannya langsung menuju koridor kamar Annisa.
“Dia sudah bangun?” tanyanya datar.
Dua pelayan yang berjaga langsung menunduk hormat.
“Belum, Tuan.”
Emran terdiam sesaat. Lalu perlahan melangkah menuju pintu kamar tersebut. Dua pelayan yang berjaga langsung menunduk gugup saat pria itu mendekat.
“Tadi kalian bilang dia belum bangun,” ucap Emran dingin.
Kedua pelayan langsung pucat.
“Maaf, Tuan ... kami benar-benar belum mendengar suara apa pun dari dalam.”
Emran tidak menanggapi lagi. Tangannya langsung membuka pintu kamar perlahan. Begitu pintu terbuka, langkah pria itu langsung terhenti sesaat.
Annisa ternyata sudah bangun. Wanita itu duduk di atas ranjang besar dengan rambut sedikit berantakan dan wajah pucat penuh kebingungan. Matanya perlahan menatap sekeliling kamar yang asing baginya. Langit-langit tinggi dan interior mewah. Suasana hangat yang jauh berbeda dari tempat terakhir yang ia ingat.
Annisa terlihat linglung. Bahkan ,saat melihat Emran masuk, tatapannya masih penuh kebingungan dan kewaspadaan. Sementara itu, Emran berdiri di ambang pintu dengan wajah datar. Tatapannya tajam dan dingin saat melirik sekilas ke arah dua pelayan di luar.
“Kalian bilang dia belum bangun.” Seketika kedua pelayan itu menunduk lebih dalam.
“Maaf, Tuan!”
Emran tidak melanjutkan tegurannya. Perhatian pria itu kembali tertuju pada wanita itu. Annisa menatap pria tinggi berwibawa di depannya dengan sedikit takut. Karena dirinya sama sekali tidak mengenali tempat maupun orang ini.
“Siapa...” suara Annisa serak dan pelan, “Anda siapa?”
Pertanyaan itu membuat Emran terdiam sejenak. Tatapannya perlahan melembut tipis, meski wajahnya tetap terlihat dingin seperti biasa. Lalu pria itu berjalan masuk mendekati ranjang.
“Kamu tidak perlu takut.” Suaranya rendah dan tenang.
“Kamu aman di sini.”
Annisa menatap pria di depannya dengan sedikit gugup. Meski aura pria itu terasa dingin dan menekan, entah kenapa dirinya tidak merasakan bahaya sedikit pun.
“Terima kasih...” ucap Annisa lirih. Suaranya masih serak karena kondisi tubuhnya yang lemah. Wanita itu lalu menunduk pelan sebelum kembali bertanya dengan hati-hati,
“Bolehkah ... saya tahu nama Anda?”
Pertanyaan itu membuat Emran Richard mengernyit tipis. Tatapannya meneliti wajah Annisa beberapa detik. Lalu, pria itu menarik sebuah kursi ke sisi ranjang dan duduk dengan tenang.
Emran menyandarkan tubuhnya perlahan sambil tetap menatap Annisa lurus-lurus.
“Apa sebegitu bencinya kamu pada saya...” suaranya terdengar rendah dan dingin, “sampai wajah saya pun tidak kamu kenal?”
Kening Annisa langsung berkerut bingung. Tatapannya semakin penuh tanda tanya. Melihat reaksi itu, Emran akhirnya berkata pelan,
“Saya Emran Richard.”
Nama itu menghantam Annisa begitu saja. Mata wanita itu langsung membesar. Tubuhnya membeku di atas ranjang. Kedua tangannya refleks menggenggam erat seprei yang menutupi tubuhnya sebagian.
“E-Emran ... Richard?” Suara Annisa terdengar pelan dan tidak percaya.
Kini dirinya benar-benar mengingat, pria yang dulu dijodohkan dengannya. Pria yang menunggu dirinya sukses. Pria yang ia tolak mentah-mentah demi memilih Haikal lima tahun lalu. Dan sekarang, pria itu duduk tepat di hadapannya. Annisa masih membeku di atas ranjang. Tatapannya belum lepas dari wajah Emran Richard yang duduk tenang di sampingnya. Dirinya tidak pernah membayangkan akan bertemu pria ini lagi dalam keadaan sehancur sekarang.
Sementara, Emran memperhatikan perubahan ekspresi Annisa tanpa banyak bicara. Lalu pria itu mengembuskan napas pelan dan bersandar santai di kursinya.
“Jangan terlalu memikirkan ucapan saya tadi,” katanya datar. “Kita bukan sedang memerankan drama novel.”
Annisa menatapnya bingung.
Emran melanjutkan dengan nada tenang,
“Tidak ada musik penuh ketegangan atau adegan penuh drama di sini.”
Kalimat itu terdengar dingin, tetapi entah kenapa justru membuat suasana sedikit lebih ringan. Tatapan Emran kemudian berubah serius.
“Jadi sekarang katakan pada saya.”
Annisa perlahan menunduk.
“Di mana suamimu?” Pertanyaan itu langsung membuat jari-jari Annisa mengerat pada seprei. Dan sebelum wanita itu sempat menjawab, Emran kembali berkata pelan,
“Dan kenapa kamu bisa seperti ini?”
Suasana kamar mendadak terasa sunyi. Tatapan pria itu lurus menatap Annisa tanpa berkedip.
“Kamu tahu kenapa saya bertanya?”
Annisa menggigit bibirnya pelan.
Emran tidak memberi kesempatan untuk menghindar.
“Karena saya ingin tahu...” suaranya perlahan berubah lebih rendah, “kenapa Nona muda keluarga Erlangga ... Putri tunggal keluarga Erlangga...” sorot matanya menajam, “bisa hidup semenyedihkan ini."
Annisa menunduk dalam. Jemarinya masih menggenggam erat seprei di atas pangkuannya. Dadanya terasa sesak mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Emran Richard. Kalimat tadi bukan sekadar pertanyaan biasa, ada sindiran halus di dalamnya.
Sindiran dari pria yang pernah ia tolak mentah-mentah lima tahun lalu demi memilih Haikal. Annisa menelan ludah pelan, tenggorokannya terasa kering.
Rasa malu perlahan memenuhi dirinya saat menyadari kondisi menyedihkan yang kini dilihat langsung oleh Emran. Dirinya begitu yakin memilih Haikal adalah keputusan paling benar. Bahkan, demi pria itu, Annisa rela meninggalkan keluarganya sendiri. Namun, sekarang dirinya justru ditemukan berjalan tanpa alas kaki di tengah hujan seperti wanita terlantar.
Emran tidak mendesak. Pria itu hanya duduk tenang sambil memperhatikan perubahan ekspresi Annisa.Tatapannya tetap dingin, tetapi tidak menghina. Justru terlalu tenang hingga membuat Annisa semakin tidak nyaman.
“Aku...” suara Annisa akhirnya terdengar pelan dan serak. “Sudah bercerai...”
Tatapan Emran langsung berubah tajam sedikit.
“Semalam...” Air mata kembali jatuh di pipi Annisa.
Wanita itu buru-buru menghapusnya, namun semakin dihapus justru semakin banyak yang keluar.
“Aku diusir dari rumah...”
Tak ada suara selain napas pelan Annisa yang mulai tidak stabil. Sementara, di hadapannya, tangan Emran perlahan mengepal di atas lututnya.
Wanita itu masih menunduk dengan mata merah dan napas tidak teratur, sementara Emran Richard duduk diam di samping ranjang dengan wajah sulit ditebak.
Ketukan pintu terdengar pelan dari luar kamar. Emran mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
“Masuk,"
Pintu terbuka perlahan.
Han muncul sambil membawa setumpuk map dan beberapa berkas tebal di tangannya. Wajah asistennya terlihat serius, seolah baru saja menyelesaikan sesuatu yang penting. Namun, begitu melihat Annisa sudah sadar dan duduk di atas ranjang, langkah Han langsung terhenti.
“Nona Annisa...” gumamnya pelan.
Annisa menoleh sekilas dan hanya mengangguk kecil dengan wajah canggung. Han segera tersadar lalu sedikit membungkuk hormat.
“Maaf mengganggu, Tuan.” Tatapannya sempat bertemu dengan Emran beberapa detik. Dan tanpa perlu banyak bicara Emran langsung mengerti. Itu pasti data tentang Haikal dan keluarganya.
Han lalu berkata hati-hati,
“Saya akan kembali nanti.”
Emran hanya memberi anggukan tipis. Han pun segera menutup pintu kembali dan pergi meninggalkan kamar.
Beberapa menit setelah Han pergi, pintu kamar kembali diketuk pelan. Dua pelayan wanita masuk sambil mendorong troli besar berisi berbagai macam sarapan hangat.
Aroma bubur ayam, sup hangat, roti panggang, hingga teh herbal langsung memenuhi kamar. Annisa sedikit terdiam melihat begitu banyak makanan di hadapannya. Sudah lama dirinya tidak melihat sarapan sebanyak ini. Bahkan, selama tinggal bersama Haikal, dirinya sering kali hanya makan sisa makanan atau bahkan tidak makan sama sekali.
Kedua pelayan itu segera menata makanan di meja dekat ranjang dengan sangat hati-hati.
“Taruh di sini,” ucap Emran Richard tenang.
“Baik, Tuan.”
Setelah semuanya selesai, kedua pelayan langsung membungkuk hormat lalu keluar dari kamar. Kini hanya tersisa Emran dan Annisa lagi. Tatapan Annisa perlahan berpindah ke arah bubur hangat yang masih mengepul pelan. Perutnya tiba-tiba terasa perih, tubuhnya memang lapar.
Namun, entah kenapa dirinya merasa canggung berada di sana. Emran yang melihat perubahan ekspresi itu akhirnya berdiri dari kursinya.
“Makan saja dulu.” Suaranya tetap datar seperti biasa.
Annisa perlahan mengangkat wajahnya.
“Kamu butuh tenaga.” Pria itu lalu merapikan lengan jasnya sebentar sebelum kembali berkata, “Saya akan kembali nanti.”
Annisa hanya mampu mengangguk kecil. Sementara itu, Emran berjalan menuju pintu kamar dengan langkah tenang.
Namun begitu pintu hampir tertutup, sorot mata pria itu perlahan berubah dingin. Dirinya ingin melihat hasil yang dibawa Han sesegera mungkin.