NovelToon NovelToon
Mama yang Terlupakan

Mama yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 029

Keira tidak tahu bahwa satu garis waktu lama sedang mengejarnya dari belakang.

Yang ia tahu hanya Genki jatuh di TK hari ini. Lututnya lecet sedikit, tetapi begitu sampai di Vila Biru, anak itu duduk di sofa sambil memeluk bantal dinosaurus kecil dan mengumumkan dengan sangat serius bahwa ia "tidak bisa jalan jauh dulu".

"Jauh itu seberapa?" tanya Keira sambil membuka plester bergambar bintang.

Genki mengangkat satu jari. "Dari sofa ke meja makan."

"Itu jauh sekali?"

"Jauh buat lutut Genki."

Keira menahan tawa. Ia duduk bersila di karpet, membersihkan luka kecil itu dengan kapas basah. Genki mendesis berlebihan, lalu diam-diam mengintip wajahnya.

"Kak Kei takut?"

"Takut apa?"

"Takut Genki sakit."

Pertanyaan itu membuat gerakan Keira berhenti sesaat.

Di ambang pintu ruang keluarga, Rayhan juga berhenti. Ia baru turun dari ruang kerja, masih mengenakan kemeja yang lengannya dilipat. Gio berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan tablet di tangan, tetapi melihat adegan itu, ia menunduk dan mundur tanpa suara.

Keira tidak menyadari Rayhan datang.

Ia menempelkan plester pelan di lutut Genki. "Kak Kei tentu khawatir kalau Genki sakit. Tapi sakit kecil begini bukan salah siapa-siapa. Genki jatuh karena lari terlalu cepat, kan?"

Genki mengangguk.

"Jadi kita rawat, lalu besok lebih hati-hati. Tidak perlu takut Kak Kei marah."

Rayhan memandang punggung Keira.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi setelah semua yang ia dengar dari Bu Sari dan Pak Darto, Rayhan tahu kalimat itu mungkin pernah sangat ingin didengar Keira kecil. Bahwa sakitnya Kiara bukan salahnya. Bahwa demam seseorang tidak boleh dijadikan rantai di leher anak lain.

Genki menyentuh plester bintangnya. "Kalau Papa sakit, salah siapa?"

Keira akhirnya tertawa. "Kalau Papa sakit karena tidak tidur, salah Papa sendiri."

"Papa dengar," kata Rayhan dari pintu.

Genki langsung menoleh. "Papa! Lutut Genki rusak."

"Rusak?" Rayhan berjalan mendekat dan berlutut di samping sofa. "Kalau rusak, Papa panggil teknisi."

"Genki bukan mobil."

"Oh, maaf. Papa lupa."

Keira tersenyum, tetapi matanya segera menangkap garis lelah di wajah Rayhan. "Kamu belum tidur cukup lagi?"

"Aku tidur."

"Berapa jam?"

Rayhan diam.

Keira mengangkat alis.

Genki ikut mengangkat alis dengan ekspresi meniru. "Papa jawab."

Rayhan menatap dua pasang mata yang sama-sama menuntut itu. Untuk satu detik, rumah terasa terlalu hangat. Hampir membuatnya lupa bahwa di tablet Gio, ada catatan baru dari penyelidik: setelah Keira kembali dari penculikan, Meilan menyuruh semua staf tidak membicarakan kejadian itu, tetapi setiap kali Kiara sakit, Keira wajib berada di rumah.

"Tiga jam," jawab Rayhan akhirnya.

Keira menghela napas. "Ray."

Panggilan pendek itu membuat Rayhan menoleh kepadanya.

Ia menyukai cara Keira memanggil namanya sekarang. Tidak lagi ragu-ragu, tidak lagi terlalu sopan. Ada teguran kecil di sana, ada hak yang pelan-pelan mulai ia ambil. Rayhan ingin membiarkan hak itu tumbuh tanpa bayang-bayang arsip gelap yang belum siap ia letakkan di tangan Keira.

"Aku akan tidur siang nanti," katanya.

"Janji?"

"Janji."

Genki menyodorkan jari kelingking. "Pakai kelingking. Kalau bohong, Papa tidur di sofa."

"Siapa yang ajari aturan itu?"

"Kak Kei."

Keira pura-pura sibuk merapikan kotak obat.

Rayhan mengaitkan kelingkingnya dengan Genki, lalu tanpa pikir panjang menoleh ke Keira. "Kamu juga."

"Aku?"

"Kamu saksi."

Keira mengulurkan kelingkingnya. Jari mereka bertiga saling terkait sebentar, kecil dan aneh, tetapi cukup untuk membuat dada Rayhan nyeri. Tiga orang di ruang keluarga, satu janji tidur siang, satu luka kecil, satu plester bintang. Hal-hal yang seharusnya menjadi keluarga.

"Kak Kei juga janji," kata Genki tiba-tiba.

"Janji apa?"

"Kalau Genki sakit, Kak Kei tidak pergi."

Keira menatap wajah kecil itu. Senyumnya masih ada, tetapi ujungnya melunak. "Kak Kei tidak pergi karena Genki sakit. Tapi Kak Kei juga mau Genki tahu, orang sakit tidak boleh menahan orang lain dengan rasa takut."

Genki berpikir keras, keningnya berkerut. "Berarti kalau Genki demam, Kak Kei boleh minum dulu?"

"Boleh. Kak Kei minum, makan, tidur. Setelah itu Kak Kei bisa jaga Genki lebih baik."

Rayhan menyimpan kalimat itu dalam diam.

Keira sedang mengajari Genki hal yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepadanya: mencintai seseorang tidak berarti menghapus kebutuhan sendiri.

Setelah Genki dibujuk tidur di kamar dengan kaki ditinggikan di atas bantal kecil, Keira turun ke dapur untuk mengambil air madu. Rayhan mengikutinya.

"Ada sesuatu?" tanya Keira sambil menuang air hangat.

"Kenapa?"

"Kamu melihatku seperti sedang menyimpan kalimat besar."

Rayhan bersandar di meja dapur. "Mungkin aku hanya lelah."

Keira menatapnya lama. "Kalau ada yang berat, kamu boleh bilang kamu sedang berat. Tidak harus langsung cerita semuanya."

Rayhan terdiam.

Kalimat itu menusuk lebih halus daripada tuduhan apa pun. Keira yang seluruh masa kecilnya dipaksa memikul berat orang lain, sekarang justru memberi ruang agar orang lain tidak perlu berpura-pura kuat.

Ia mengambil gelas dari tangan Keira dan meletakkannya di meja. "Aku sedang menemukan hal-hal buruk tentang masa lalu keluarga Yanto."

Wajah Keira berubah sedikit. Bukan kaget besar, melainkan tubuh yang otomatis bersiap menahan pukulan lama. Bahunya menegang, ibu jarinya mengusap sisi gelas.

"Tentang aku?"

Rayhan ingin berkata tidak. Ingin menunda seluruh dunia.

Tetapi ia tidak mau membangun perlindungan dari kebohongan.

"Tentang bagaimana mereka memperlakukanmu," jawabnya. "Belum semuanya jelas. Aku tidak mau memberimu potongan yang bisa melukaimu tanpa arah."

Keira menunduk. "Aku selalu tahu ada yang tidak beres di rumah itu."

"Kei."

"Tapi kalau aku mencoba mengingat, kepalaku seperti penuh kabut." Ia tersenyum tipis, gagal terlihat santai. "Kadang aku pikir mungkin aku memang terlalu sensitif."

Rayhan melangkah mendekat. "Tidak. Jangan gunakan kata-kata mereka untuk menilai dirimu."

Mata Keira naik perlahan.

"Apa pun yang mereka katakan dulu, sakit Kiara bukan salahmu. Hidup Kiara bukan tanggung jawabmu. Kamu bukan alat untuk membuat keluarga itu utuh."

Warna wajah Keira memudar.

Rayhan langsung sadar kalimatnya terlalu dekat dengan inti luka, tetapi Keira tidak mundur. Ia hanya menatapnya, napasnya lebih pendek.

"Mereka bilang begitu?" tanyanya pelan.

Rayhan mengulurkan tangan, berhenti di udara, memberi pilihan. Keira melihat tangan itu, lalu meletakkan jarinya di telapak Rayhan.

"Aku belum akan memaksamu mengingat," kata Rayhan. "Aku hanya ingin kamu tahu, kalau suatu hari kabut itu terbuka, kamu tidak akan berdiri sendirian."

Keira menggenggam tangannya.

Di lantai atas, suara Genki terdengar memanggil lirih, "Kak Kei, air madu..."

Keira menarik napas, menghapus sudut matanya sebelum air mata jatuh. "Aku naik dulu."

"Aku ikut."

"Rayhan."

"Aku janji tidur siang setelah Genki minum."

Keira akhirnya mengangguk.

Saat mereka berjalan ke tangga, ponsel Rayhan bergetar di saku. Pesan dari Gio masuk.

Gio: Tim menemukan satu catatan lama. Setelah Keira kembali, Kiara demam turun malam itu juga. Ada ucapan keluarga yang sering diulang staf: ada Keira, baru ada Kiara.

Rayhan membaca pesan itu tanpa berhenti melangkah.

Di depannya, Keira membawa segelas air madu untuk anak kecil yang memanggilnya dengan percaya.

Di belakangnya, masa lalu membuka mulut, mengulang kutukan yang pernah mengikat hidupnya.

1
Diana Silaen
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!